Perempuan Harus Move On dan Berani Hidup Sendiri


Menonton "Indonesian Idol" di salah satu televisi membuat saya mengamati artis, Maia Estianty. Mendapat kekerasan, kehilangan anak dan harus meninggalkan rumah adalah situasi yang pernah dihadapi Maia dan banyak perempuan di Indonesia.

*Muhammad Rizky- www.Konde.co

Konde.co- Menjalin hubungan yang didasari cinta dalam waktu yang tidak singkat memang selalu punya cerita sendiri. Kemungkinan besar menjadi sejarah bagi yang menjalaninya.

Tapi ketika keadaan yang memaksa kedua pasangan berpisah, juga tidak dapat dihindari. Ada yang sepihak memutuskan dan ada juga keputusan bersama untuk tidak bersama lagi.

Putus hubungan? Kuatkah untuk melangkah ke bab kehidupan selanjutnya? Bab ‘kesendirian’ misalnya.

Melupakan bahkan meninggalkan jejak dengan pasangan memang tidak bisa mudah. Dulu, menjalani waktu selalu bersama. Kebersamaan memang diakhiri, tapi lantaskah kehidupan yang begitu berwarna juga harus diakhiri? Padahal hidup harus tetap berjalan bagaimanapun kondisi kita.

Move on adalah frasa bahasa Inggris yang selalu digunakan ketika seseorang berproses setelah putus cinta. Beberapa orang mengalami kesusahan untuk move on. Ya, memang susah menghapus jejak percintaan kamu dengannya. Apalagi, jika sudah memakan waktu yang bertahun-tahun. Tapi, apakah kamu akan bertahan terus di bab ‘tidak bisa move on’ yang menyakitkan ini?

Pasti sudah banyak yang tahu tentang Maia Estianty dan kisah perjalanan hidupnya. Maia Estianty adalah musisi perempuan asal Surabaya, kota yang sama yang saya tinggali sekarang.

Begitu berat, awal perjalanan ibu tiga anak ini untuk memutuskan keluar dari rumah yang telah ditinggalinya bersama selama kurang lebih sepuluh tahun. Bisa dibilang, Maia dan suaminya bersama lebih dari 10 tahun. Dhani bertemu Maia pada saat Maia duduk di bangku Sekolah Menengah Pertama.

Proses move on Maiapun begitu berat. Berpisah dengan suami yang punya pasangan lagi dan berpisah dengan ketiga anaknya.

Karir dan semua yang pernah ia miliki di rumah itupun hilang dalam waktu sekejap mata. Sampai perempuan ini tidak bisa mengekspresikan emosinya seperti tidak bisa meneteskan air mata. Dibantulah dia oleh sahabatnya dengan dibawa ke hypnotherapy untuk membereskan segala beban dalam jiwa dan hatinya. Setelah beberapa terapi, Maiapun bisa meneteskan air matanya. Begitu beratnya menjadi perempuan.

Poin yang harus dilakukan adalah jika mendapatkan kekerasan, maka memiliki keinginan yang begitu besar untuk melangkah ke bab kehidupan selanjutnya adalah yang paling penting untuk dilakukan. Keadaan sering mengharuskan banyak perempuan agar bisa cepat bisa move on dari bayang-bayang suaminya.

Karena masih ada pekerjaan rumah buat perempuan jika berpisah dengan suaminya, apalagi jika mereka punya anak. Yaitu, mengurus anak secara bersama-sama. Jika perempuan adalah korban kekerasan dalam rumah tangga, tentu ini situasi yang lebih sulit karena ia mesti mengurus hidupnya dan hidup anak-anaknya.

Bagi pelaku, pasti ini sesuatu yang lebih mudah karena segala yang terjadi ini pasti sudah ia rencanakan sebelumnya. Tapi bagi korban? Ini adalah situasi terberi yang tak pernah ia bayangkan sebelumnya.

Maia juga pernah menyatakan trauma untuk melangah ke bab pernikahan lagi. Hidup memang penuh ujian, bab per bab kehidupan. Maia tidak mau terlalu asyik di bab tidak bisa move on dan trauma dengan pernikahan.

Meneruskan hidup dengan sesuatu yang baru adalah frasa hidup yang tak pernah mudah. Banyak yang menghindari perceraian karena tak siap menghadapi sanksi sosial dan pertanyaan-pertanyaan seperti ini:

”Kamu sekarang janda ya?.”

“Sekarang kamu sendiri ya, kehilangan apa saja, anak dan suami ya?.”

Pertanyaan ini sering memberatkan perempuan. Belum lagi stigma yang diberikan pada perempuan janda atau perempuan yang hidup sendiri.

Namun buat saya, akan lebih sulit lagi jika kita tak segera keluar dari situasi rumit ini: mempertahankan perkawinan yang kita tahu itu sulit bagi kita. Akan ada banyak kebohongan dan ini perlu segera diakhiri.

Karena hidup terlalu mahal untuk diserahkan pada kebohongan dan hal-hal yang menyakitkan. 


*Muhammad Rizky, penulis dan aktivis gender