Apakah itu serikat pekerja? Bagaimana kiprah serikat pekerja media yang hadir diantara problem sejumlah pekerja media, seperti adanya pemecatan pekerja, persoalan pekerja media perempuan yang minim hak maternitas?

Media di Indonesia mengalami lonjakan jumlah yang signifikan di masa reformasi. Data Dewan Pers menunjukkan ada sekitar 67.000 jumlah media di Indonesia, belum lagi blog, vlog, website yang dikelola perusahaan, lembaga atau individu. Indonesia berada dalam air bah Informasi. Ditaksir, ada lebih dari 1 juta media di Indonesia saat ini.

Namun dari jumlah 67.000 media, hanya ada kurang lebih 15 serikat pekerja media yang berdiri dan aktif secara organisasi.

Dalam waktu 5 tahun ini, ada penambahan jumlah serikat dengan berdirinya serikat pekerja media Viva yang sedang bermasalah soal ketenagakerjaan dengan perusahaan, dan berdirinya Serikat Pekerja Media dan Industri Kreatif untuk Demokrasi (SINDIKASI) yang anggotanya adalah para pekerja media dan pekerja industri kreatif.

Sejumlah alasan para pekerja termasuk jurnalis yang tidak berserikat menambah penyebab soal minimnya pekerja media yang berserikat. Beberapa jurnalis mengatakan, bukannya tidak mau berserikat, namun karena besarnya tekanan dari perusahaan pada pekerja yang mendirikan serikat. Banyak pengurus serikat yang di PHK, tidak disukai kehadirannya oleh perusahaan karena mengurus serikat. Padahal serikat pekerja adalah organisasi yang legal di Indonesia sebagaimana diatur dalam UU 21/2000

Aliansi Jurnalis Independen pernah menginventarisir sejumlah persoalan di sekitar serikat pekerja yang sulit untuk berdiri, antaralain: besarnya tekanan dari perusahaan, pekerja media umumnya berasal dari kelas menengah yang belum mau berorganisasi, selain itu banyak jurnalis yang percaya jika tak betah di satu kantor, maka mereka akan lebih mudah untuk mendapatkan pekerjaan di media lainnya.

Hal lain, umumnya jika serikat pekerja sudah berdiri, hanya ada beberapa orang saja yang aktif dan ini ditumpukan kerjanya pada para jurnalis, sedangkan jurnalis sering hanya mempunyai sedikit waktu untuk beraktivitas karena beban kerja yang panjang.

Hal lainnya yang dipetakan Konde.co, sejumlah serikat pekerja media berdiri di tengah konflik yang sedang memanas antara pekerja dan perusahaannya, jadi serikat pekerja media mempunyai kecenderungan berdiri ketika sedang berkonflik.

Data-data ini semakin menunjukkan sulitnya serikat pekerja media untuk berdiri, ini bisa dilihat dari sisi kuantitas dan kualitas persoalan.

Dengan kondisi ini, Konde.co di hari buruh 1 Mei akan mengadakan diskusi Jurnalis Perempuan Bicara “Ngobrol Asik tentang Serikat Pekerja Media” bersama jurnalis perempuan yang selama ini aktif di serikat pekerja.

Diskusi ini untuk mengetahui pengalaman berserikat di media dan pengalaman memimpin serikat pekerja dan berorganisasi bersama lintas sektor pekerja media. Diskusi asik ngobrolin May Day dan Serikat Pekerja Media program “#JurnalisPerempuanBicara” yang merupakan program setiap bulan di tahun 2020, akan diadakan pada:

Hari/ Tanggal: Jumat, 1 Mei 2020

Jam: 19.00 WIB

Medium: Instagram @Kondedotco

Acara: Diskusi “Jurnalis Perempuan Bicara: Ngobrol Asik soal Serikat Pekerja Media”

Pembicara: Iriene Natalia (Ketua Serikat Pekerja Kantor Berita Radio dan Sekjend Federasi Serikat Pekerja Media Independen)

Moderator: Meera Malik/ Managing Editor www.Konde.co



Lagu "Perempuan Mati di Bawah Jembatan" diciptakan bagi para korban kekerasan seksual. Lagu dan video yang dibuat mencoba merepresentasikan salah satu respons fisik dan mental perempuan setelah mengalami kekerasan seksual

*Poedjiati Tan- www.Konde.co

Peristiwa ini tak pernah lepas dari ingatan Yab Sarpote. Pada suatu pagi, di Bulan Mei 2015, E.M., seorang perempuan penjual angkringan yang juga seorang mahasiwa Universitas Gajah Mada, ditemukan sudah tak bernyawa di bawah Jembatan Janti, Jogjakarta.

Puluhan orang hadir dalam acara yang diadakan untuk mengecam perampokan, pembunuhan dan pemerkosaan terhadap E.M, termasuk Yab Sarpote, seorang penyanyi dan pengarang lagu

E.M. adalah korban kekerasan seksual yang dilakukan oleh salah satu pelanggan angkringannya, RMZ. Pelaku merampas uang dan kemudian memerkosa E.M. Yab Sarpote kemudian menciptakan sebuah lagu kekerasan seksual bagi E.M.

Pada 28 April 2020, lagu berjudul “Perempuan Mati di Bawah Jembatan” yang diciptakannya kemudian dirilis ulang setelah dinyanyikan dalam panggung solidaritas untuk E.M. pada 10 Mei 2015 di Jogja

“Lagu ini dinyanyikan pertama kali di panggung solidaritas untuk para perempuan korban dan penyintas kekerasan seksual pada 10 Mei 2015 di Titik Nol Jogja,” kata Yab Sarpote kepada konde.co, 28 April 2020

Sebagai pelaku, RMZ kemudian dihukum penjara, namun nyawa E.M. tak pernah kembali. Yab menuliskan lagu sebagai bagian dari keprihatinannya pada nasib E.M. dan banyak perempuan lain yang terus terjadi.

Paralel dengan kejadian perkosaan dan pembunuhan tersebut, video klip lagu “Perempuan Mati di Bawah Jembatan”yang dirilis ulang ini juga mencoba menvisualkan trauma, depresi, gangguan mental, keterasingan, dan tendensi bunuh diri yang dialami oleh perempuan yang jadi korban kekerasan.

“Video ini mencoba merepresentasikan salah satu respons fisik dan mental perempuan setelah mengalami kekerasan seksual,” kata Yab Sarpote.

Lagu “Perempuan Mati di Bawah Jembatan” juga menjadi latar film dokumenter More Than Work (2019) karya Konde Production/ Konde.co bersama Ford Foundation dan Wikimedia Indonesia, sebuah film tentang eksploitasi tubuh perempuan di media

Lagu ini selalu mengingatkan Yab Sarpote pada kasus-kasus kekerasan terhadap perempuan yang diperparah dengan cara pandang dan perlakuan mayoritas masyarakat yang bias gender terhadap korban dan penyintas kekerasan, khususnya kekerasan seksual.

“Para perempuan yang menjadi korban dan penyintas seringkali bukannya memperoleh pembelaan, perlindungan, dan dukungan, tetapi tuduhan dan pengambinghitaman atau victim blaming. Para korban dan penyintas kekerasan seksual seringkali dipandang tidak dapat menjaga diri, tidak dapat berpakaian yang ‘sewajarnya’, dan tidak dapat memenuhi ekspetasi masyarakat dalam berperilaku.”

Kekerasan terhadap perempuan seringkali dimaklumi dan dicap bersumber dari kesalahan perempuan sendiri.

Dalam dunia yang mengancam seperti ini, perempuan, khususnya yang jadi korban dan penyintas kekerasan, harus berjuang sendiri untuk tetap bertahan. Korban dan penyintas kekerasan tidak hanya menghadapi trauma kekerasan dari pelaku, tetapi juga trauma kekerasan dari masyarakat. Maka, tak jarang para korban dan penyintas kekerasan mengalami depresi dan gangguan mental, bahkan memiliki tendensi bunuh diri.

Lewat lirik, nada, dan komposisinya, lagu ‘Perempuan Mati di Bawah Jembatan’ Yab Sarpote mencoba menafsirkan dan merepresentasikan ketertekanan dan ketertindasan perempuan dalam dunia yang menormalkan kekerasan berbasis gender ini.

Selama rentang 2015-2019, hanya ada versi live “Perempuan Mati di Bawah Jembatan”, versi yang dijadikan lagu latar film dokumenter yang telah disebutkan sebelumnya. Baru pada akhir 2019.

Yab Sarpote memutuskan untuk merekam lagu ini secara serius dengan merangkul Rarya Lakshito (Cello) dan Sheila Maildha (Keyboard) untuk memperkaya lagu yang biasanya dibawakan hanya dengan gitar akustik ini. Hasilnya adalah rilis audio resmi saat ini.

Proses rekaman, mixing, dan mastering “Perempuan Mati di Bawah Jembatan” dilakukan di Studio Jogja Audio School oleh salah satu engineer studio tersebut, yaitu Eta. Karya visual lagu ini didesain oleh desainer grafis asal Bulgaria, yaitu Davey David, sementara seluruh produksi dan pascaproduksi video klipnya digarap secara mandiri oleh Yab Sarpote.

Audio lagu ini dapat disimak di iTunes, Spotify, dan platform digital lainnya. Sementara itu, video klipnya dapat ditonton di Youtube dengan mengeklik: https://youtu.be/hXGjHgw1Cok


Yab Sarpote adalah penyanyi solo dan pengarang lagu bergenre pop, folk, balada, dan akustik.

Dia memulai debut solonya pada April 2015 dengan merilis single ciptaannya “Jangan Diam, Papua” versi akustik trio. Lagu ini turut dirilis dalam album kompilasi “Papua Itu Kita” (2015), sebuah album solidaritas untuk Papua Barat, bersama musisi-musisi lain seperti Iksan Skuter, Sisir Tanah, Last Scientist, Simponi, Siksa Kubur feat. Morgue Vanguard. Album ini dirilis dalam sebuah konser pada Juni 2015 di Taman Ismail Marzuki, Jakarta.

Pada 16 Oktober 2016, dia merilis single keduanya “Benih” lagu persembahan untuk Munir, Marsinah, Wiji Thukul, Udin, Salim Kancil, korban tragedi ’98 dan orang-orang yang hilang atau dibunuh dalam perjuangannya demi keadilan dan kemerdekan di Indonesia. Single dan video klip "Benih" menjadi salah satu pemenang dan dikurasi di Museum Hak Asasi Manusia, Omah Munir, Malang, pada Juni 2019.


Pada 2017, Yab merilis singlenya yang lain yaitu ‘Sudah Tak Ada Lagi Pulang’ yang banyak berkisah tentang bagaimana pembangunan dan modernisasi menggusur ruang hidup masyarakat pedesaan, khususnya para petani.

Pada April 2020, Yab merilis single dan video klip ‘Perempuan Mati di Bawah Jembatan’, lagu yang telah diproduksi pada 2015 dalam bentuk audio live, dan pada 2019 digunakan sebagai lagu latar film dokumenter More Than Work (2019) karya Konde Institute bersama Ford Foundation dan Wikimedia Indonesia, sebuah film tentang eksploitasi tubuh perempuan dalam media.

Kini Yab menghabiskan waktu penulisan lagunya selama malam-malam singkat selepas kerja.

Lagu-lagu karyanya bisa dinikmati melalui Homepage: www.yabsarpote.com

Spotify: https://open.spotify.com/artist/2Ij462nyQ3J1lyqpvsSTCg?autoplay=true&v=A

Facebook dan YouTube: Yab Sarpote dan Instagram: @yab.sarpote

*Poedjiati Tan, psikolog, aktivis perempuan dan manager sosial media www.Konde.co. Pernah menjadi representative ILGA ASIA dan ILGA World Board. Penulis buku “Mengenal Perbedaan Orientasi Seksual Remaja Putri.”

Dalam kenangan sejumlah aktivis perempuan, Kartono Mohamad merupakan orang yang selalu memperjuangkan kesehatan reproduksi perempuan. Tak hanya pada perempuan, Kartono juga memperjuangkan kesehatan reproduksi seksual bagi semua kalangan. Hal-hal yang tak banyak dibicarakan orang di kala itu, tapi Pak Kartono sudah melakukannya


*Luviana- www.Konde.co

Di tangan Kartono Mohamad, persoalan kesehatan perempuan kemudian menjadi persoalan kesehatan yang dianggap penting oleh banyak orang.

Maka tak heran jika laman sosial media aktivis perempuan dibanjiri ucapan duka atas meninggalnya Kartono Mohamad. Dokter kelahiran Batang, Jawa Tengah 13 Juli 1939 meninggal pada 28 April 2020 dalam usianya yang ke 81 tahun.

Dalam sebuah diskusi yang ditulis Kompas.com 28 Agustus 2008, ketika persoalan aborsi menjadi kontroversi di kala itu, Kartono kemudian mengingatkan semua orang, bahwa kehamilan termasuk keputusan aborsi merupakan urusan perempuan. Bagaimana jika yang melakukan aborsi adalah korban perkosaan? Biarkan perempuan yang memilih karena itu merupakan rahim perempuan

Kartono yang merupakan kakak dari penulis dan tokoh pers, Goenawan Mohamad, juga menulis secara tajam persoalan kesehatan perempuan. Kompas pernah menuliskan Kartono Mohamad sebagai dokter yang mempunyai pemikiran luas dan tajam, ini juga terlihat dari tulisan-tulisannya.

Isi tulisannya seperti ditulis Kompas, banyak menyangkut persoalan kesehatan dalam arti luas. Selain persoalan kebijakan kesehatan, pelayanan kesehatan, medis, dan obat-obatan, profesi dokter, etika kedokteran dan layanan rumah sakit juga diulasnya. Kartono mampu menjelaskan kepada pembaca tentang duduk persoalan dari suatu peristiwa secara jernih. Persoalan yang rumit, bisa dipaparkan secara sederhana sehingga mudah dimengerti pembaca

Evie Permatasari, salah satu aktivis perempuan sudah lama mengenal Kartono Mohamad sebagai pejuang kesehatan reproduksi perempuan. Tulisan-tulisan Kartono sangat jelas keberpihakannya pada perempuan.

“Terakhir bertemu Pak Kartono ketika sama-sama bekerja di isu pengendalian tembakau. Pak Kartono selalu berjuang untuk perempuan, tak pernah pelit ilmu. Pak Kartono juga konsentrasi pada isu kampanye merokok yang tidak baik bagi kesehatan perempuan,” kata Evie Permatasari kepada Konde.co pada 28 April 2020

Orang kadang hanya memanggilnya: Pak KM atau Dokter KM, dari kependekan namanya: Kartono Mohamad. Bagi banyak orang yang mengenalnya, Pak KM merupakan teman diskusi yang menyenangkan, hal yang sulit jika dibicarakan dengan pak KM menjadi mudah, ini terlihat dari komentar dalam ucapan duka para aktivis di sosial media

Pada ulangtahun Kartono Muhammad beberapa tahun lalu, Evie sempat datang ke rumahnya, ketika itu Pak Kartono sudah mulai sakit, kondisi kesehatannya ternyata terus menurun. Ia berada di kursi rodanya pasca menderita stroke.

Dengan meninggalnya pak Kartono, Evie Permatasari berharap tulisan-tulisan tentang isu kesehatan perempuan menjadi sangat penting untuk diterbitkan kembali sebagai pengingat pemikiran dan perjuangan pak Kartono.

Perkumpulan Keluarga Berencana Indonesia (PKBI) melalui Direktur Eksekutifnya, Eko Maryadi menyatakan sangat berduka atas meninggalnya Kartono Mohamad. Di PKBI, Kartono Mohamad pernah menjadi Ketua Umum pada periode 1990-1994 dan 1994-1997, dan selanjutnya menjadi Ketua Umum Ikatan Dokter Indonesia/ IDI periode 1985-1988.

“Pak Ton adalah figur ahli kesehatan yang paripurna. Selain sebagai seorang dokter ahli bedah lulusan Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, almarhum juga dokter militer (Mayor) Angkatan Laut, ahli manajemen kesehatan, jurnalis dan penulis, dan pernah jadi anggota Majelis Permusyawaratan Rakyat dari Utusan Golongan di tahun 1987-1992. Sebagai dokter dan ahli kesehatan masyarakat, dokter KM dikenal rajin menulis di berbagai media,” kata Eko Maryadi pada Konde.co, 28 April 2020

PKBI mencatat, Dokter Kartono Mohamad dikenal kritis terhadap kebijakan kesehatan pemerintah di masa Orde Baru, terutama dalam hal manajemen dan dalam persaingan antara rumah sakit swasta dengan rumah sakit pemerintah.

Kritik lain almarhum ialah soal produksi dan harga obat yang tidak bisa diatur oleh pemerintah, tapi diserahkan kepada mekanisme pasar, sehingga tidak semua jenis obat terjangkau oleh masyarakat miskin.

Ketika menjadi Ketua di PKBI, Kartono Mohamad gencar mempromosikan pendidikan bagi orangtua agar menjadi orangtua yang yang sadar akan kesehatan reproduksi. Selain itu Pak KM juga mengkampanyekan layanan kesehatan reproduksi seksual bagi semua kalangan, bukan hanya kepada perempuan.

“PKBI kehilangan tokoh dan ahli kesehatan yang masyarakat yang progresif dan berwawasan luas,” pungkas Eko Maryadi

*Luviana, setelah menjadi jurnalis di media mainstream selama 20 tahun, kini menjadi chief editor www.Konde.co dan menjadi dosen pengajar ilmu komunikasi di sejumlah universitas di Jakarta. Pedagoginya dalam penulisan isu media, perempuan dan minoritas


(Foto: Facebook)

Referensi:
https://surabaya.kompas.com/read/2008/08/28/17522234/aturan.soal.aborsi.harus.akomodasi.hak.perempuan

https://nasional.kompas.com/read/2009/06/25/05371343/kartono.muhammad.tak.lelah.berteriak

Setiap tanggal 26 April diperingati sebagai hari visibilitas lesbian sedunia atau Lesbian Day of Visibility, dimana di setiap tanggal tersebut banyak orang mengkampanyekan untuk menuntut hak-hak setara bagi para lesbian. Sejauh ini, lesbian dan LGBT secara umum masih mendapatkan stereotype sebagai manusia yang dilaknat oleh Tuhan, termasuk ketika berelasi dengan pasangan mereka. Padahal sebagaimana pasangan heteroseksual, Lesbian dan LGBT juga manusia yang memiliki cita-cita ke depan untuk membangun suatu hubungan yang penuh komitmen, cinta, kejujuran, ketulusan, kepercayaan dan suportif


*Vioranda- www.Konde.co

“Hallo, Selamat Hari Visibilitas Lesbian ya.”

Sejumlah sosial media ramai mengucapkan Lesbian Day of Visibility atau hari visibilitas bagi lesbian pada 26 April 2020.

Lesbian Day of Visibility ini awalnya lahir dari gerakan Lesbian, gay, Biseksual dan Transgender atau LGBT di Spanyol, sebagai bagian dari aktivitas-aktivitas mereka yang terlihat, berdasarkan posisi lesbian di masyarakat dan ruang publik.

Seiring berjalannya waktu, setiap Lesbian Day of Visibility kemudian mendesak institusi pemerintah untuk mempromosikan kesetaraan dan menghentikan diskriminasi terhadap perempuan dan lesbian. Hal ini dilakukan dengan cara mendukung lesbian untuk berani menampilkan jati diri sehingga kecurigaan dan stereotipe buruk yang selama ini dilekatkan terhadap mereka akan runtuh

Di luar desakan agar pemerintah memberikan jaminan non diskriminasi dan non stereotype pada lesbian dan LGBT, hingga hari ini, stigma terhadap hubungan lesbian dan LGBT secara umum masih terjadi. Kelompok LGBT dianggap tidak punya hubungan yang bermasa depan, dan sejumlah stigma lainnya. Orientasi hubungan LGBT juga dianggap hanya berorientasi atas seksual saja.

Padahal sebagaimana pasangan heteroseksual, pasangan LGBT juga manusia yang memiliki cita-cita ke depan untuk membangun suatu hubungan yang berorientasi pada komitmen, cinta, kejujuran, ketulusan, kepercayaan dan suportif

Namun yang terjadi tidak seperti pasangan heteroseksual yang bisa melenggang bebas ketika menjalin hubungan romantis, kelompok Lesbian, Gay, Biseksual dan Transgender (LGBT) harus menyembunyikan hubungan mereka jika tidak mau dicap sebagai manusia yang dilaknat oleh Tuhan, karena sebagian orang masih menganggap begitu, atau bahkan jika tak mau mendapatkan hukuman fisik di beberapa daerah.

Ini karena anggapan bahwa LGBT tak boleh punya hubungan spesial dan tak boleh punya rasa romantis.

Ada beberapa stigma yang dilekatkan pada kelompok LGBTQ yang berkaitan dengan hubungan romantis mereka:

1. Tidak Sesuai dengan Norma yang Berlaku.

Banyak orang yang beranggapan bahwa orientasi seksual selain heteroseksual, ekspresi dan identitas gender selain biner adalah hal yang tidak sesuai dengan norma yang ada. Hal ini juga sering menjadi anggapan di kalangan kelompok LGBT sendiri. Jadi ketika mereka menjalankan relasi romantis, maka persepsi tentang hubungan sesama jenis juga menjadi salah.

2. Bukan Hubungan yang Serius Karena Tidak Bisa Menikah

Banyak orang beranggapan bahwa hubungan sesama jenis hanya akan membuang-buang waktu saja karena tidak akan bisa menikah. Dalam kondisi ini, sebagian LGBT kadang ada yang masih beranggapan kalau hubungan romantis mereka bukanlah sesuatu yang patut untuk diseriusi karena nantinya akan putus begitu saja dan mereka akan menikah dengan lawan jenis sebagai tuntutan dari masyarakat. Karena masyarakat Indonesia mayoritas masih memandang bahwa pernikahan adalah tujuan akhir dalam hidup. Padahal di negara-negara yang telah melegalkan pernikahan sesama jenis, banyak pasangan LGBT telah menikah bahkan hingga puluhan tahun.

3. Tidak Bisa Setia atau Monogami

Anggapan ini berkaitan dengan poin sebelumnya, karena mereka menganggap hubungan sesama jenis bukan lah hubungan yang harus serius maka mereka akan dengan cepat menemukan pasangan baru. Ditambah lagi dengan beberapa orang yang memang tidak bisa atau tidak cocok dengan hubungan monogami atau dikenal dengan istilah open relationship. Sebenarnya, open relationship ini bukan hanya terjadi pada pasangan LGBTQ saja tetapi pada pasangan heteroseksual juga terjadi.

4. Hanya Berorientasi pada Seks

Banyak juga yang beranggapan seperti ini, LGBT memulai suatu hubungan romantis hanya untuk memuaskan kebutuhan seksualnya saja. Padahal sebagaimana pasangan heteroseksual, pasangan LGBTQ juga manusia yang memiliki cita-cita ke depan untuk membangun suatu hubungan yang berorientasi pada komitmen, cinta, kejujuran, ketulusan, kepercayaan dan suportif.

5. Peran laki-laki dan perempuan

Konstruksi sosial di masyarakat beranggapan bahwa orang yang berpasangan itu selalu laki-laki dan perempuan. Sebagian LGBTQ juga kadang masih beranggapan bahwa siapa yang akan menjadi laki-laki dan siapa yang akan menjadi perempuan. Hal ini tentu dipengaruhi oleh sistem heteronormatif yang masih dianut oleh masyarakat. Jadi ketika mereka menjalani suatu hubungan romantis maka harus ada yang menjadi laki-laki dan yang menjadi perempuan. Hal ini bukan pada aktivitas seksual saja tetapi juga pada aktifitas sehari-hari lainnya. Peran laki-laki yang tegas dan bijak sedangkan peran perempuan adalah lemah lembut dan mengayomi. Padahal jika ditelaah lagi, ketika sudah menjalin hubungan non-heteroseksual, maka bisa dikatakan sudah “keluar” dari budaya heteronormatif. Jadi ketika menjadi pasangan non-heteroseksual maka peran laki-laki dan perempuan bisa dilakukan siapa saja tidak hanya dari salah satu pihak.

Dari stigma yang muncul diatas, semakin memudarkan eksistensi dari relasi romantis kelompok LGBT. Sebagian orang dari kelompok LGBT masih mempercayai bahwa hubungan selain heteroseksual adalah sesuatu yang salah dan ini dipengaruhi oleh masyarakat itu sendiri.

Tetapi untuk sebagian lainnya yang masih bertanya tentang eksistensi relasi romantis hubungan sesama jenis, percayalah bahwa kita semua bisa mendapatkan apa yang pasangan heteroseksual dapatkan meskipun dengan usaha lebih.

Tetapi yang namanya menjalankan suatu relasi romantis bukan kah lebih indah jika harus mengeluarkan usaha lebih? Bukan kah lebih bermakna jika hubungan kalian harus dijalankan dengan semangat untuk berjuang bersama?

Referensi: http://perempuanberbagi.org/hari-visibilitas-lesbian-internasional-kenapa-itu-penting/

(Foto/ Ilustrasi: Pixabay)

*Vioranda, senang menulis isu sosial terutama gender dan seksualitas diwaktu senggangnya





Creativa Images/Shutterstock.com



Niia Nikolova, University of Strathclyde

Kehidupan yang tidak ditelaah tidak layak dijalani, filsuf Yunani Socrates berkata. Dia merenungkan ungkapan “Kenali Dirimu Sendiri"–sebuah pepatah yang tertulis di kuil Apollo di Delphi dan salah satu pencapaian tertinggi di Yunani kuno.


Saat kita menjalani hidup dengan berbagai kesuksesan dan kegagalan di dalamnya, tak jarang muncul perasaan yang mengganggu: bahwa kita tidak benar-benar mengenal diri kita sendiri.


Mengapa kita punya perilaku yang khas dan merasakan hal-hal yang kita rasakan? Kita mungkin punya ide tentang siapa kita, tapi pemahaman kita tentang diri sendiri seringkali tidak lengkap dan tidak konsisten.


Apakah mengenali diri adalah sesuatu yang harus kita upayakan atau apakah kita lebih baik hidup dalam ketidaktahuan yang menenangkan? Mari kita periksa riset-riset mengenai hal ini.


Mengenal diri sendiri menurut psikolog berarti memiliki pemahaman tentang perasaan, motivasi, pola pikir, dan kecenderungan kita. Hal-hal tersebut memberikan pemahaman yang stabil mengenai harga diri kita dan nilai-nilai serta motivasi kita. Tanpa pemahaman ini kita tidak dapat mengukur nilai kita sendiri.


Hal ini membuat kita rentan untuk menerima opini orang lain tentang kita sebagai sebuah kebenaran. Jika rekan kerja kita berpendapat (dan bertindak seolah-olah) kita tidak berharga, kita mungkin menelan mentah-mentah vonis mereka sebagai suatu kebenaran. Untuk tahu apa yang seharusnya kita rasakan, pikirkan, dan inginkan, kita akan lebih mencari keluar daripada melihat ke dalam diri sendiri.





Delphi, Yunani.
Edward Knapczyk/wikipedia, CC BY-SA



Kemampuan mengenali diri merupakan keuntungan. Rasa sedih yang kita alami, misalnya, bisa jadi diakibatkan oleh berita buruk, tapi bisa juga disebabkan oleh kecenderungan untuk merasa sedih akibat trauma masa kecil atau bahkan akibat bakteri di usus kita.


Mengenali emosi dapat membantu kita melakukan intervensi setelah merasakan perasaan tertentu dan sebelum melakukan tindakan reaktif–mengetahui emosi Anda adalah langkah pertama untuk mengendalikannya dan menghancurkan pola pikir negatif. Memahami emosi dan pola pikir juga dapat membantu kita untuk berempati pada orang lain.


Kesadaran diri juga memungkinkan kita untuk mengambil keputusan yang lebih baik. Dalam suatu riset, para siswa yang mendapat skor tinggi dalam "kesadaran metakognitif”, yaitu kemampuan untuk melakukan refleksi atas pikiran, perasaan, sikap dan keyakinan pribadi–cenderung membuat keputusan yang lebih efektif ketika mereka memainkan game komputer di mana mereka harus mendiagnosis dan merawat pasien virtual untuk menyembuhkan mereka. Para peneliti studi tersebut berpendapat bahwa hal ini terjadi karena anak-anak tersebut dapat menetapkan tujuan dengan lebih jelas dan mengambil tindakan yang strategis.


Mengenali diri sendiri


Jadi bagaimana cara kita bisa belajar mengenali perasaan kita? Orang-orang memiliki cara berpikir yang berbeda-beda tentang diri mereka sendiri. Kita dapat berpikir tentang sejarah kita, dan bagaimana pengalaman masa lalu menjadikan siapa kita sekarang. Tapi kita juga bisa terus menerus mempermasalahkan skenario-skenario negatif yang terjadi di masa lalu atau yang kita bayangkan akan terjadi di masa depan.


Beberapa cara kita berpikir soal diri sendiri lebih baik bagi daripada yang lain. Sayangnya, banyak dari kita cenderung merenungkan hal negatif dan khawatir berlebihan. Artinya, kita fokus pada ketakutan dan kekurangan kita, dan akibatnya kita menjadi cemas atau tertekan.


Cara terbaik untuk memulai mengenali diri sendiri adalah berbicara dengan teman berwawasan atau terapis terlatih. Pilihan yang kedua ini sangat penting dalam kasus-kasus saat kurangnya pengetahuan diri telah mengganggu kesehatan mental kita. Membahasakan perasaan dan menjawab pertanyaan-pertanyaan lanjutan dapat membantu kita memahami siapa diri kita. Membaca tentang cara-cara berpikir yang baik juga dapat membantu kita menavigasi kehidupan kita dengan lebih baik.


Selain itu, terdapat beberapa tradisi dalam sejarah yang telah mempelajari cara-cara mengenal diri. Filsafat Stoisisme dan tradisi Buddha menjunjung pengetahuan diri dan mengembangkan praktik-praktik–contohnya–meditasi–untuk memelihara kesadaran mengenai kondisi-kondisi mental.


Saat ini, mindfulness meditation–latihan mental yang melibatkan pemusatan pikiran pada pengalaman seperti emosi, pikiran, dan sensasi atas diri, tubuh dan dunia sekitar yang sedang dirasakan–menjadi sebuah daya tarik dalam bidang psikologi, kedokteran, dan ilmu saraf. Latihan meditasi dan pengaturan emosi dapat mengurangi perasaan negatif dan kecemasan.


Pelatihan ini juga dapat meningkatkan emosi positif, menambah kemampuan mengenali emosi orang lain, serta melindungi kita dari tekanan sosial. Terapi yang mengintegrasikan perhatian penuh atas diri tersebut telah terbukti andal dalam membantu meningkatkan kesehatan mental, khususnya dalam kasus depresi, stres, dan kecemasan.


Bayangkan Anda duduk di tepi jalanan yang padat, dengan kendaraan yang berlalu-lalang merepresentasikan pikiran dan perasaan Anda. Dengan hanya duduk sebentar dan mengamati pikiran dan perasaan kita dari kejauhan, sebagaimana saat kita duduk di pinggir jalan dan menonton mobil lewat, kita bisa mengenal diri kita lebih baik. Hal tersebut membantu kita melatih keterampilan untuk tidak memikirkan masa lalu atau masa depan, dan berada di masa sekarang.


Kita dapat belajar mengenali perasaan yang dipicu oleh peristiwa dan emosi tertentu dalam diri kita saat ini, dan menciptakan ruang berpikir di mana kita dapat memutuskan bagaimana kita harus bertindak (karena beberapa respons lebih konstruktif daripada yang lain).


Bayangkan, misalnya, Anda memiliki rencana untuk pergi bersepeda bersama seorang teman besok dan Anda sangat menantikan hal ini. Di pagi hari, teman Anda membatalkan rencana tersebut. Pada sore harinya, seorang kolega meminta bantuan pada Anda karena suatu masalah, dan Anda merasa jengkel dan membentaknya dan menyatakan Anda tidak punya waktu untuk membantu dia.


Mungkin Anda merasa kesal dengan kolega itu, tapi alasan sebenarnya adalah bahwa Anda merasa kecewa dengan teman Anda, dan Anda sekarang merasa bahwa Anda mungkin tidak penting bagi mereka selayaknya mereka penting bagi Anda. Jika kita lebih memahami diri kita sendiri, kita mungkin memiliki kesempatan untuk berhenti sejenak dan menyadari mengapa kita merasakan apa yang kita rasakan. Daripada marah-marah pada kolega kita, kita kemudian dapat menyadari bahwa kita bereaksi berlebihan atau setidaknya dapat mengidentifikasi apakah ada masalah dalam hubungan kita dengan teman kita.


Sangat menarik bahwa hampir 2.500 tahun sejak pembangunan kuil Apollo, pencarian untuk mengenal diri kita sendiri masih sama pentingnya.


Artikel ini diterjemahan dari bahasa Inggris oleh Ariza Muthia.The Conversation


Niia Nikolova, Postdoctoral Researcher of Psychology, University of Strathclyde


Artikel ini terbit pertama kali di The Conversation. Baca artikel sumber.


Semua tak menyangka Ratih Purwarini pergi dengan cepat. Beberapa hari sebelumnya ada yang masih berkirim pesan di Whats App, namun setelah itu Ratih tak pernah kembali karena Covid-19. Ratih Purwani tak hanya seorang dokter, namun ia adalah aktivis perempuan yang selama ini ikut memperjuangkan stop kekerasan seksual terhadap perempuan

*Aprelia Amanda- www.Konde.co

Sedih lalu menangis sendiri adalah sesuatu yang dirasakan salah satu relawan Komnas Perempuan, Nike ketika tahu dr. Ratih Purwarini meninggal dunia.

Nike dan Ratih pernah sama-sama menjadi relawan di Komnas Perempuan di tahun 2014-2017.

Bahkan beberapa hari sebelumnya, mereka masih saling mengirim pesan melalui Whats App. dr. Ratih adalah sosok yang senang berbagi kabar dengan teman-temannya. Ketika dinyatakan positif Covid-19 ia juga mengabarkannya lewat grup whats App. Namun tiba-tiba ada kabar masuk tentang kondisi dr. Ratih, namun kali ini bukan dr. Ratih sendiri yang mengabarkannya. dr. Ratih sudah meninggal dunia pada saat pesan itu sampai.

“Aku sedih dan hopeless. Padahal kita sama-sama tinggal di Serpong, tapi aku gak bisa dateng. Aku gak bisa peluk. Aku terpukul karena itu,” gumam Nike ketika mendapat kabar bahwa Dr. Ratih Purwarini meninggal karena Covid-19. Nike hanya bisa menangis.

Ratih Purwarini adalah salah satu dokter yang gugur di garis terdepan saat melawan Covid-19. Tidak hanya kiprahnya sebagai dokter yang berani menghadapi wabah global, namun juga dedikasinya bagi perempuan korban kekerasan.

Ratih menjadi relawan di Unit Pengaduan untuk Rujukan (UPR) Komnas Perempuan sejak 2014 sampai 2017. Kemudian ia mendirikan Akara Perempuan, sebuah lembaga layanan bagi para perempuan korban kekerasan. Dedikasinya bagi Komnas Perempuan menumbuhkan rasa kehilangan yang dalam bagi rekannya, seperti yang dirasakan Nike dan Winda.

Nike mengenang pertemuannya pertamannya dengan dr. Ratih Purwarini saat manjadi relawan di Komnas Perempuan. Pertemuannya bermula ketika dr. Ratih mendaftar menjadi relawan Komnas Perempuan pada tahun 2014.

Melewati hari demi hari bersama menjadi relawan Komnas Perempuan dan kuliah di Kajian Gender Universitas Indonesia membuat Nike punya banyak kenangan bersama Dr. Ratih. Mami Ratih, sapaan hangat Nike untuk dr. Ratih.

Bagi Nike, dr.Ratih adalah orang yang bisa membuat semua orang dekat dengannya. Ia hebat dalam membangun relasi personal dan ia juga lucu.

Sama-sama memiliki lembaga layanan yang bergerak di isu perempuan membuat Nike dan dr. Ratih sering bertukar pikiran. Nike mambangun HelpNona, sebuah platform yang memberikan informasi tentang kekerasan dalam relasi romantis dan tempat sharing bagi para penyintas.

“Di HelpNona, Mami Ratih bantu bikin artikel. Karena dia dokter, dia sering bikin artikel tentang apa sih yang harus dilakukan ketika mengalami kekerasan fisik dan gimana bikin rekam medisnya. Kalau ada kasus yang masuk ke HelpNona aku juga sering diskusi sama dia”, ujar Nike.

Mendapat kabar itu Nike bingung dan tidak tahu harus berbuat apa.

“Aku sedih dan hopeless. Padahal kita sama-sama tinggal di BSD tapi aku gak bisa dateng. Aku gak bisa peluk. Aku terpukul karena itu,” gumamnya.

Winda Junita Ilyas, Koordinator Unit Pengaduan untuk Rujukan, Komnas Perempuan turut berbagi cerita tentang kenangannya bersama dr. Ratih ketika di Komnas Perempuan.

Winda ingat saat acara Caring for Caregivers tahun 2017, dr. Ratih duduk di sebelahnya dan mereka saling membelai punggung masing-masing untuk merasakan apa yang satu sama lain alami. Caring for Caregivers adalah agenda rutin yang diadakan Komnas Perempuan setiap tahunnya untuk mempererat hubungan antar sesama dan healing dari banyaknya laporan kasus kekerasan yang diterima Komnas Perempuan.

Di mata Winda, dr. Ratih merupakan sosok yang periang, penuh semangat, pembelajar, dan mampu memberikan energi positif di sekitarnya.

“Kayaknya energinya ada terus gitu. Setiap ketemu, dia pasti selalu menebar senyum, ketawa, dan canda. Jadi siapa pun yang ketemu dia pasti merasa dekat. Dia dokter yang luar biasa”, ujar Winda.

Winda pun kaget dan gemetar ketika mendapat kabar dr. Ratih meninggal. Ia berusaha mengonfirmasi kabar tersebut kemana-mana. Menanyakan apakah kabar itu benar atau tidak. Dan akhirnya ia dapat jawaban bahwa dr. Ratih benar-benar meninggal dunia.

”Aku nangis dan lihat lagi chat whatsapp ku sama dia tepat seminggu sebelumnya. Aku tanya soal rujukan, dia masih balas. Namun saat itu kondisinya sudah sakit dan batuk parah,”ujar Winda.

“Aku sempat chat dia lagi tangal 27 Maret untuk tanya kabar. Tapi udah gak dibalas. Sampai sekarang kalo aku ingat dia aku masih nangis”, tambah Winda.

Dr. Ratih tidak hanya meninggalkan kenangan indah bersama Nike dan Winda, tapi juga kepada seluruh orang di Komnas Perempuan. Banyak kontribusi yang telah dilakukan dr. Ratih bagi Komnas Perempuan.

Nike yang merupakan teman sesama relawan melihat dr. Ratih sudah menjadi sosok yang mencapai tujuan utama relawan UPR Komnas Perempuan dengan mendirikan Akara Perempuan. Sedangkan bagi Winda, dr. Ratih bukan hanya berkontribusi ketika masih di Komnas Perempuan saja tapi juga setelahnya. Banyak kasus-kasus kekerasan terhadap perempuan yang dirujuk Komnas Perempuan ke Akara Perempuan.

“Salut, karena Mbak Ratih mendedikasikan dirinya untuk perempuan korban kekerasan di tengah kesibukannya sebagai dokter bahkan kepala rumah sakit. Seingat aku, Mbak Ratih belum pernah menolak kasus yang kami rujuk ke Akara Perempuan. Bagiku Mbak Ratih bukan hanya pahlawan dalam melawan Covid-19, dia juga Women's Human Rights Defender (WHRD)”, tutup Winda.

Saat ini terdapat 44 tenaga medis Indonesia yang terdiri dari 32 dokter dan 12 perawat yang meninggal karena Pandemi Covid-19. Beberapa meninggal karena minimnya Alat Pelindung Diri (APD) yang kurang memadai.

Banyak pekerja medis yang kemudian berkampanye melalui sosial media agar masyarakat berada di rumah, karena jika berada di luar, akan semakin banyak masyarakat yang sakit, kondisi rumah sakit penuh dan pekerja medis harus merawat pasien yang jumlahnya lebih banyak lagi.

Pekerja medis ini, ada yang sudah 1 bulan tak pulang, bahkan ada yang hampir 2 bulan. Semua menghabiskan waktu bekerja di rumah sakit untuk merawat pasien.

(Foto: Facebook Ratih Purwarini)

*Aprelia Amanda, biasa dipanggil Manda. Menyelesaikan studi Ilmu Politik di IISIP Jakarta tahun 2019. Pernah aktif menjadi penulis di Majalah Anak (Malfora) dan kabarburuh.com. Suka membaca dan minum kopi, Manda kini menjadi penulis dan pengelola www.Konde.co


*Ega Melindo- www.Konde.co

Kamu tahu khan jika tanggal 22 April kemarin kita memperingati hari bumi. Setiap peringatan hari bumi, saya selalu teringat akan pentingnya menjaga kelestarian dan keberlanjutan bumi.

Apa saja yang saya catat di hari bumi 2020 ini, merupakan refleksi yang dikeluarkan lembaga Solidaritas Perempuan dimana saya bekerja saat ini:

1. Krisis Iklim dan Aktivitas Industri yang Merusak Bumi

Krisis iklim yang terjadi saat ini diperparah oleh aktivitas industri yang merusak bumi, yang di Indonesia sendiri dibarengi dengan massifnya investasi terutama di industri-industri ekstraktif seperti pertambangan dan perkebunan skala besar. Tak hanya berdampak pada krisis iklim dan penghancuran bumi, proyek-proyek tersebut juga disertai konflik agraria dan pelanggaran hak asasi manusia serta hak asasi perempuan.

2. Perempuan Kehilangan Lahan dan Tanah


Perempuan dan komunitas merupakan penjaga kelestarian bumi terdepan. Pengelolaan hutan, tanah, air, dan sumber-sumber kehidupan lainnya dilakukan dengan mempertimbangkan keberlanjutan. Perjuangan perempuan di berbagai wilayah untuk menolak dan melawan proyek-proyek investasi, tidak hanya untuk mempertahankan tanah mereka, tetapi dilakukan untuk menjaga kelestarian alam dan keberlanjutan lingkungan. Penghancuran bumi adalah penghancuran hidup dan sumber kehidupan perempuan. Akibatnya, Perempuan petani kehilangan lahannya, perempuan pesisir kesulitan mengolah dan menjual hasil laut karena wilayah tangkapnya tercemar, akibat dari berbagai proyek investasi dan pencemaran lingkungan yang dihasilkan. Sementara itu, perempuan di sekitar hutan tidak lagi dapat mengakses hutan akibat dari proyek yang mengatasnamakan mitigasi perubahan iklim. Perusakan bumi maupun perampasan lahan, dan wilayah kelola perempuan yang menyertai berbagai proyek investasi juga memberikan dampak lebih lanjut bagi perempuan.

3. Tak Punya Tanah, Perempuan Bermigrasi Menjadi PRT dan Buruh Migran ke Luar Negeri

Beban berlapis, alih profesi, hingga memaksa mereka bermigrasi ke luar negeri untuk bekerja sebagai buruh migran, yang mayoritas bekerja sebagai Pekerja Rumah Tangga (PRT). Dalam situasi ini, perempuan kembali menjadi mengalami ketidakadilan gender dan mengalami tindak kekerasan akibat lemahnya perlindungan negara.

4. Covid-19 Memperburuk Situasi Perempuan


Di tengah perusakan bumi yang terus terjadi, penyebaran virus Corona atau Covid-19 juga semakin memperburuk situasi perempuan. Karena peran gender perempuan yang dianggap sebagai “perawat keluarga” menempatkan mereka di garda terdepan berinteraksi dengan orang untuk belanja makanan sehari-hari di masa pembatasan interaksi sosial yang diterapkan oleh pemerintah. Selain itu, dalam situasi sulitnya perekonomian akibat kebijakan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) yang dikeluarkan pemerintah untuk menghentikan penyebaran COVID 19, perempuan harus berpikir dan bekerja lebih berat demi memastikan makanan dan air tersedia setiap harinya, serta semua kebutuhan rumah tangga dan keluarga terpenuhi.

5. DPR Mengeluarkan Kebijakan yang Merusak Bumi


Sementara, di tataran kebijakan, para legislator di DPR justru tengah menyiapkan polusi dan perusakan bumi yang lebih masif. Sejak sidang pertama tanggal 30 Maret 2020 lalu, mereka terus membahas kebijakan yang berorientasi pada kemudahan investasi ke Indonesia, dengan mengorbankan standar hak dan perlindungan masyarakat. RUU Cipta Kerja yang sudah sejak awal perumusannya mengalami penolakan dari berbagai masyarakat marjinal, seperti buruh, petani, nelayan, dan perempuan, justru menjadi prioritas DPR untuk terus saja dibahas. Begitu juga RUU Minerba yang pembahasannya terus berjalan. Pembatasan Sosial dan Fisik justru dimanfaatkan oleh DPR untuk membatasi perlawanan terhadap kebijakan-kebijakan ini, mengingat situasi pandemi yang membatasi pertemuan langsung maupun kesempatan protes dan demonstrasi yang sesuai dengan nilai-nilai demokrasi.

6. Negara Tidak Melakukan Tindakan Tegas

Melihat dampak besar yang akan dialami perempuan akibat perusakan bumi oleh investor, maka sudah seharusnya DPR maupun pemerintah tidak mengesahkan kebijakan tersebut. Negara seharusnya tidak menambah beban masyarakat di tengah pandemi, serta melakukan tindakan tegas untuk mengentikan penggusuran maupun kriminalisasi warga untuk tujuan investasi. Negara juga harus fokus pada penangan COVID 19, dengan memprioritaskan urgensi pemenuhan hak-hak dan perlindungan masyrakat di tengah bencana COVID 19, baik terkait kesehatan, pemulihan ekonomi warga, maupun mencegah dampak ‘kerusakan kolateral’ terhadap masyarakat terlebih perempuan.

(Foto/ Ilustrasi: Pixabay)

*Ega Melindo, staf divisi kampanye Sekretariat Nasional Solidaritas Perempuan. Refleksi ini disarikan dari pers release Solidaritas Perempuan di Hari Bumi 2020



Asep Muizudin Muhamad Darmini, University of Warwick

Tagar #KamiTidakTakut adalah tagar yang sempat populer di media sosial pasca serangan teroris terjadi di Jakarta pada Januari 2016.


Tagar tersebut bertujuan untuk menunjukkan keberanian dan semangat, serta mengagalkan upaya teroris menimbulkan ketakutan di masyarakat. Sebagian keberanian tersebut diwujudkan dalam beberapa swafoto di tempat kejadian, lengkap dengan para pedagang asongan yang berjualan di lokasi yang mendadak menjadi tempat wisata.


Sebagai negara yang berlokasi di Cincin Api, masyarakat Indonesia juga akrab dengan berbagai bencana alam: gempa, tsunami, dan gunung meletus. Namun, berbeda dengan serangan teroris, berita soal bencana alam umumnya dibarengi dengan kewaspadaan dan solidaritas warga.


Sayangnya, narasi publik ketika menghadapi wabah COVID-19 cenderung mengikuti narasi #KamiTidakTakut, alih-alih mengikuti narasi bencana.


Hingga Maret, kegiatan yang mengumpulkan massa dalam jumlah banyak, seperti pernikahan dan peribadatan, masih lazim dilakukan oleh masyarakat Indonesia.


Padahal, pandemi ini bencana yang mengacaukan tatanan kehidupan masyarakat di seluruh dunia, bukan serangan teroris yang dapat diidentifikasi pelakunya dan dipatahkan serangannya sesederhana dengan tagar #KamiTidakTakut.


Kesalahan persepsi ini sebagian disebabkan oleh kegagalan pemerintah melakukan komunikasi efektif.


Sebagai negara dan bangsa yang memiliki sentimen keagamaan kuat, Indonesia bisa mengandalkan tokoh agama untuk berperan lebih dalam komunikasi di tengah krisis.





Baca juga:
Bagaimana agama dan kepercayaan membentuk gerakan peduli lingkungan hidup di Indonesia




2>Peran institusi agama

Di Indonesia, pemimpin keagamaan memiliki potensi membangun narasi publik.


Sentimen keagamaan masyarakat Indonesia masih sangat kuat, terutama dalam preferensi politik .


Data dari Pew Research Center pada 2018 menunjukkan bahwa 83% populasi di Indonesia berpendapat bahwa agama memiliki peran yang lebih besar saat ini dibanding 20 tahun yang lalu.


Pemimpin keagamaan juga memiliki peranan penting untuk meningkatkan kesadaran publik mengenai isu kesehatan di level lokal.


Pemuka agama lokal Indonesia, misalnya, terbukti berperan penting dalam program vaksinasi rubella antara 2017 dan 2018.


Salah satu kesulitan dalam meningkatkan kesadaran publik di Indonesia adalah persepsi bahwa COVID-19 adalah penyakit global yang jauh dari konteks lokal.


Pesan-pesan untuk diam di rumah, menghindari kerumunan, isolasi mandiri, dan menjaga sanitasi akan lebih mudah dipahami oleh masyarakat di level akar rumput jika disampaikan oleh tokoh keagamaan.


Kegiatan keagamaan seringkali melibatkan massa dalam jumlah yang banyak. Kesadaran tokoh keagamaan untuk menyesuaikan aktivitas keagamaan dengan kondisi wabah akan sangat berpengaruh pada potensi penyebaran wabah.


Di Italia, Paus Fransiskus memutuskan untuk mengadakan Misa Paskah di Vatikan tanpa kehadiran umat. Di Arab Saudi, Masjidil Haram ditutup.


Beberapa negara seperti Inggris sudah menutup segala kegiatan keagamaan sejak pertengahan Maret.


Di Indonesia, Majelis Ulama Indonesia (MUI), misalnya, sudah mengeluarkan fatwa yang membolehkan untuk tidak melaksanakan salat Jumat selama kondisi wabah masih membahayakan umat. Anjuran ini belum dilaksanakan dan ditaati dengan sama dan seragam oleh umat Islam di seluruh Indonesia.


Keuskupan Agung Jakarta (KAJ) menetapkan bahwa gereja-gereja Katolik tidak menggelar ibadah harian, mingguan atau ibadah lain yang melibatkan umat datang ke gereja terkait situasi wabah.


Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI) juga telah menerbitkan surat edaran mengenai pedoman pemulasaraan jenazah yang menyesuaikan dengan kondisi wabah.





Baca juga:
Pentingnya riset tentang keseharian anak muda dalam memahami tingkat konservatisme di antara mereka




Dakwah wabah


Per 30 Maret, sudah ada 1.414 kasus positif di Indonesia, meningkat hampir dua kali lipat dibanding 4 hari sebelumnya, dengan total 122 pasien yang meninggal.


Peneliti sudah memprediksi bahwa pada akhir bulan April jumlah kasus COVID yang positif di Indonesia bisa menyentuh angka 71.000 orang. Pemerintah juga memperkirakan bahwa 600.000-700.000 orang di Indonesia berisiko terinfeksi.


Pemerintah sendiri sejak awal gagal membangun narasi publik yang waspada, malah cenderung menciptakan citra Indonesia sebagai negara yang aman dari virus.


Pada saat yang sama, pilihan awal untuk menyelamatkan ekonomi, ditambahkan tidak adanya koordinasi dan transparansi informasi dengan pemerintah daerah, menciptakan beragam narasi di publik yang membingungkan.





Baca juga:
Apa dampak politisasi fatwa MUI bagi Indonesia?




Indonesia juga memiliki tantangan besar dalam media dan sistem komunikasi. Televisi nasional cenderung tidak memiliki agenda publik yang terstruktur, sementara media sosial diperkeruh oleh misinformasi.


Dalam kondisi genting saat ini, kesehatan dan keselamatan umat perlu dijadikan prioritas yang utama.


Tokoh keagamaan harus berada di garda terdepan dalam memberikan pencerahan dan menaruh kepercayaan pada bukti-bukti ilmiah.


Dalam kondisi saat perkumpulan publik harus dihindari dan penetrasi media sosial semakin meningkat, peran tokoh keagamaan di media sosial perlu semakin ditingkatkan.


Sementara sistem komunikasi, sistem kesehatan, dan kepemimpinan di level nasional belum bisa diandalkan, narasi keagamaan yang menekankan akan keseimbangan antara harapan dan kewaspadaan sangat penting untuk menghindari pemahaman masyarakat yang keliru terhadap krisis.


Aisha Amelia Yasmin berkontribusi pada penerbitan artikel ini.




Ikuti perkembangan terbaru seputar isu politik dan masyarakat selama sepekan terakhir. Daftarkan email Anda di sini.The Conversation


Asep Muizudin Muhamad Darmini, PhD Student in Media and Communication, University of Warwick


(Foto/ Ilustrasi: Pixabay)

Artikel ini terbit pertama kali di The Conversation. Baca artikel sumber.


Cerita ini kutulis untuk Jannah, Fitri dan anak perempuan lainnya di pulau kami yang sudah menikah sejak masih usia anak

*Irwan- www.Konde.co

Kodingareng adalah sebuah pulau yang berjarak 18 kilometer di barat kota Makassar. Begitu dekat terdengar di telinga orang yang mendengarnya tapi bagi kami itu sangat jauh, ini karena dibutuhkan tenaga ekstra untuk bisa sampai disana. Orang harus menaiki perahu untuk sampai kesana.

Untuk pulang kembali di hari itu juga susah, kita harus menunggu kapal yang bisa membawa kita keesokan harinya.

10.45 Wita, aku berjalan menyusuri parkiran motor ditengah banyaknya orang berlalu lalang yang membuat aku sedikit sulit menuju perahu itu. Aku duduk di deretan ketiga bangku kayu permanen warna biru tua.

Suara besar perahu menutup semua suara yang ada disekitarku. Terlihat beberapa orang merapikan belanjaan, ngobrol, main handphone dan tidur.

Kurangnya akses informasi dan pendidikan di pulau itu membuat stigma dan doktrin masyarakat yang menyatakan bahwa menempuh pendidikan itu tak begitu penting, apalagi bagi perempuan. Tak jarang aku dengar omongan itu dari tetanggaku

“Teamako sekola tinggi-tinggi paling sudahko bersuami tinggal dirumah jako yang penting bisa mako membaca (tidak usah sekolah tinggi, mentok-mentok jadi ibu rumah tangga, yang penting bisa baca).”

Fenomena perkawinan anak sangat marak kami jumpai di pulau Kodingareng, ada beberapa yang membuat anak-anak perempuan terpaksa putus sekolah, ini karena persoalan ekonomi dan budaya di tempat kami tinggal.

Jannah adalah seorang anak nelayan yang mestinya masih duduk di kelas XI. Ia tinggal bersama orangtuanya dan terpaksa putus sekolah demi memenuhi keinginan orangtuanya untuk dinikahkan oleh laki-laki pilihan bapaknya.

Kapalku sudah berlabuh di dermaga. Aku melihat seorang ibu paruh baya yang asyik berkaraoke dengan speaker Bluetooth-nya, sangat jelas terdengar ditelinga, ada seorang ibu menyanyikan lagu “Chicken Det-Det”.

Sesekali aku menyapa orang yang kutemui di jalan yang aku kenal sekedar bertanya kabar. Di pinggir dermaga aku duduk menikmati pemandangan. Dari jauh aku lihat Jannah sedang ngobrol bersama bapaknya dengan begitu serius.

“Bapak, Jannah belum mau menikah, masih mau sekolah,” kata Jannah pada bapaknya.

Namun kata itu seakan tak berarti bagi bapaknya, sesekali si bapak menoleh pada Jannah sambil merajut jaring penangkap ikan yang sudah robek

“Ini khan untuk kebaikanmu juga, nak.”

Mereka duduk diatas pasir putih. Seakan putus asa pada mimpinya untuk melajutkan sekolah, Jannah kembali mengubur dalam-dalam keinginannya untuk masuk sekolah. Ia banyak di rumah dan hanya menunggu perkawinannya dilangsungkan.

Wajah murung Jannah sangat jelas terlihat, terdengar suara dari balik pintu.

“ Jannah, Jannah,” teriak seorang perempuan balik pintu.

“Siapa?,” sambut Jannah, ia berjalan mendekati pintu dengan wajah cemas.

“ Saya fitri," balasnya.

“ Ooo kau, Fitri dari Manaki? Aku ingat kau,” ujar Jannah.

Mereka duduk di teras depan sambil memandang ke arah laut lepas dengan secangkir teh manis.

“ Jadi Jannah gimana rencanamu sekarang?,” kata Fitri.

“ Yah, beginilah aku sekarang, aku mau dinikahkan,” Jannah menjawab dengan nada pasrah.

Nasib Fitri tak jauh beda. Ia juga tak punya kekuatan untuk melawan keinginan bapaknya, ia pun menikah dengan laki-laki yang bernama Amran, seorang awak kapal penumpang di pulau itu.

Awal pernikahan mereka tak ada masalah. Namun pada tahun kedua dalam keluarga kecil itu mulai ada riuk-riuk pertengkaran dikarenakan Amran yang tak mau bertanggung jawab. Akhirnya pasangan ini resmi bercerai di tahun kedua pernikahan mereka.

Kisah Jannah dan Fitri adalah satu dari sekian banyak pernikahan anak yang harus bubar di tengah jalan.

Sebut saja Ira(16 tahun), Riski, Rina(17 tahun), Mita(13 tahun) adalah beberapa kasus anak perempuan yang menikah di bawah umur dan berpisah dengan suami dikarenakan saling lempar tanggung, dan akhirnya saling memilih untuk pisah.

Beberapa orangtua menikahkan anak perempuannya, yang kemudian menyebabkan anaknya harus putus sekolah. Mereka memilihkan menikahkan anaknya lebih cepat, anggapan beberapa orangtua menikahkan anaknya jika lebih cepat lebih baik daripada lama-lama akan menjadi perawan tua, ini yang masih menjadi budaya kami.

Melihat kasus ini orang tua seakan ingin melepaskan tanggungjawabnya sebagai orangtua dan menyerahkan anak perempuannya pada laki-laki lain.

Selain itu faktor ekonomi, budaya bahkan kurangnya kontrol dari keluarga menjadi faktor terjadinya perwakinan anak di daerah itu. Ini kondisi yang menyedihkan, anak perempuan telah kehilangan masanya bertumbuh, sekolah dan bermain seperti anak-anak lainnya, namun harus kehilangan semua ini.

Untuk Jannah, Fitri dan anak-anak perempuan lainnya di Pulau ini.

*Irwan, sehari-hari bekerja di LBH APIK Makassar, Pulau Kodingareng, Sulawesi Selatan



Ghozian Aulia Pradhana, Universitas Diponegoro

Di tengah perjuangan pekerja medis dan derita pasien menghadapi COVID-19, sebagian masyarakat menolak kehadiran mereka. Di Banyumas, dan Semarang, Jawa Tengah, serta Gowa, Sulawesi Selatan, beberapa warga bahkan menolak pemakaman korban wabah di wilayah mereka.


Banjir informasi di media mengenai wabah COVID-19 memiliki andil membentuk persepsi masyarakat terhadap mereka yang bersentuhan dengan wabah.


Pada saat yang sama media bisa berperan besar mencegah proses pemberian stigma dengan menyampaikan informasi yang mendorong masyarakat berempati di tengah pandemi.





Baca juga:
Analisis: pentingnya literasi digital yang kritis di tengah gempuran misinformasi pandemi





Terbentuknya stigma


Studi menjelaskan pemberitaan mengenai COVID-19 lebih kuat ketimbang Ebola di tahun 2018. Media berbondong-bondong memberitakan wabah.


Semakin intensnya pemberitaan membuat masyarakat memantau perkembangan terkait COVID-19 melalui berbagai media seperti televisi dan media online.


Hasil riset Nielsen Television Audience Measurement (TAM) di 11 kota di Indonesia, misalnya, menunjukkan rata-rata kepemirsaan TV meningkat dari rata-rata rating 12% di 11 Maret menjadi 13,8% di tanggal 18 Maret atau setara dengan penambahan sekitar 1 juta pemirsa TV.


Riset yang dilakukan Asosiasi Penyelenggara Jaringan Internet Indonesia (APJII) mencatat adanya peningkatan 15-20% traffic internet di masa pandemi COVID-19.


Sayangnya, media tidak luput dari informasi menyesatkan juga meresahkan.


Beredarnya berita salah atau bohong di awal-awal pandemi berlangsung, seperti soal iklim tropis, konsumsi jamu, hingga kelakar soal nasi kucing, membuat masyarakat abai pada masa awal wabah di Indonesia.


Ketika wabah ini semakin menyebar dan memakan korban, masyarakat tampak terkejut, tidak siap, lalu melakukan langkah-langkah pencegahan dengan sembrono.


Misalnya, setelah pemerintah mengumumkan kasus pertama pada 2 Maret, sebagian masyarakat berbondong-bondong membeli dan menimbun barang (panic buying).


Masyarakat juga terdorong membuat hand sanitizer sendiri yang tidak jarang tidak sesuai saran Organisasi Kesehatan Dunia (WHO).


Namun, masyarakat juga memberi cap negatif pada korban COVID-19 dan pekerja medis, menyisihkan mereka secara sosial - seperti yang terjadi di Banyumas, Semarang, dan Gowa.


Pemberian stigma ini didorong oleh kekhawatiran, ketakutan, dan kegelisahan diakibatkan rendahnya pemahaman dan sikap kritis terhadap informasi yang diterima lewat media, media sosial, dan juga intimidasi para provokator.





Baca juga:
Skor siswa Indonesia dalam penilaian global PISA melorot, kualitas guru dan disparitas mutu penyebab utama





Peran media


Dalam situasi pandemi, media wajib melakukan kontrol secara ketat pemberitaan yang akan dipublikasi.


Para pekerja media perlu mengikuti kode etik jurnalistik untuk memutuskan mana yang perlu dan pantas diungkap ke publik terkait wabah.


Misalnya, media tidak mempublikasikan identitas tanpa seizin dan sepertujuan pasien untuk melindungi privasi mereka.


Pemberitaan yang mengungkap data angka kasus dan jumlah kematian yang mencemaskan dapat diimbangi dengan mengangkat kisah kerja keras tenaga medis dan perjuangan pasien melawan COVID-19. Hal ini dapat meningkatkan empati masyarakat.


Media juga bisa mengedukasi publik dengan menjelaskan prosedur pemakaman korban wabah, sehingga masyarakat alih-alih takut dan sinis, masyarakat menjadi berdaya ketika misalnya terdapat korban yang akan dimakamkan di wilayah mereka.


Komunikasi krisis pemerintah selama pandemi ini masih buruk. Lembaga Penelitian, Pendidikan dan Penerangan Ekonomi, dan Sosial (LP3ES) mencatat sedikitnya 37 pernyataan salah pemerintah terkait COVID-19.


Media dalam hal ini perlu menjalankan fungsi kontrol sosial dengan mengkritik, memilah dan memberi informasi yang jelas pada pemirsa. Informasi pemerintah yang ada berbeda-beda dan tumpang tindih membuat masyarakat tidak memiliki rujukan pasti menghadapi wabah.





Baca juga:
Melawan persebaran disinformasi di Indonesia





Membangun pemikiran kritis


Banyak media di Indonesia yang sebenarnya telah melakukan pemberitaan berimbang dan edukasi masyarakat. Harian Tempo, misalnya, menurunkan beberapa liputan soal tenaga medis yang bertaruh nyawa menangani pasien wabah; atau Kompas yang menulis soal prosedur pemakaman jenazah pasien wabah.


Namun, masyarakat masih perlu didorong untuk meningkatkan literasi dan berpikir kritis agar mampu mengolah informasi. Pendidikan literasi media kritis bisa dimulai pada sekolah dasar dan kemampuan literasi bisa digunakan anak jauh sesudah pelajaran usai.


Beberapa komunitas di masyarakat telah berinisiatif melakukan kampanye-kampanye kreatif bertema “stop stigmatisasi”. Salah satunya dilakukan oleh Jaringan Pegiat Literasi Digital (JAPELIDI).



Media seharusnya menyajikan lebih banyak konten bermuatan edukasi dan mendorong masyarakat terlibat langsung. Melalui media sosial, media juga dapat berinteraksi sembari mengedukasi masyarakat terkait pandemi.


Selain memanfaatkan media sosial untuk penyebaran pesan dan respons singkat seperti retweet, like, love, share, hingga emoji, interaksi dua arah dapat dimaksimalkan melalui fitur live di Facebook atau Instagram.



Media online Kumparan misalnya, kerap memberikan informasi interaktif dan edukatif terkait COVID-19 bersama narasumber live di media sosial. Tentu ini membuka sebagai kesempatan engagement sekaligus ruang diskusi bagi pemirsa/followers.


Berada di antara pemerintah dan publik, media sebagai medium informasi bagi masyarakat berperan dalam pembentukan persepsi dan keputusan publik.


Media memiliki andil dalam menyampaikan informasi dan mendorong masyarakat berempati di tengah pandemi.




Ikuti perkembangan terbaru seputar isu politik dan masyarakat selama sepekan terakhir. Daftarkan email Anda di sini.The Conversation


Ghozian Aulia Pradhana, Ph.D. Student in Media and Communication Studies, University of Malaya, Junior Lecturer, Universitas Diponegoro


(Foto/ Ilustrasi: Pixabay)

Artikel ini terbit pertama kali di The Conversation. Baca artikel sumber.


Film “Mona Lisa Smile” mengingatkan saya pada gambaran seorang dosen feminis, yang memperjuangkan agar mahasiswinya keluar dari cara berpikir feodal yang kadang tak membuat mereka bahagia

*Fitria Rizka Nabelia- www.Konde.co

Film yang diputar di tahun 2003 ini telah saya tonton berulangkali, karena kuatnya gambaran perjuangan disana, dialog yang sangat personal diantara perempuan dosen dan mahasiswinya, serta dinamisasi cerita dalam film. Film ini sangat kuat diantara minimnya film feminis di masa itu.

Pada kenyataannya perempuan akan selalu dalam berada dalam “kerugian,” paling tidak inilah gambaran saya mengenai Film “Mona Lisa Smile.” Karena budaya dan negara yang patriarkis. Begitulah konsep patriarkisme menurut Sylvia Walby. Patriarki akan selalu ditopang dan dipelihara. Meskipun perempuan telah diberi kesempatan mengenyam hak pendidikan yang setara.

Tampaknya, semua konsep itu tergambar di film Mona Lisa Smile. Film garapan sutradara Mike Newell ini begitu gamblang menggambarkan kondisi patriarki yang terus mengalami evolusi.

Kisah ini terjadi dalam kehidupan perempuan dosen sejarah seni bernama Katherine  Ann Willis (Julia Roberts) di kota Wellesley bersama para mahasiswinya, Betty (diperankan Dunst), Joan (Stiles), Giselle (Maggie Gyllenhaal), Connie (Ginnifer Goodwin) dan Amanda yang diperankan Juliet Stevenson di Wellesley College pada tahun 195, tahun dimana terjadinya Perang Dunia ke-2 disana.

Wellesley College yang didirikan untuk memberi kesempatan perempuan di bidang akademis, pada kenyataannya sama sekali tidak memberi ruang yang setara bagi perempuan untuk melanjutkan sekolah atau bekerja di publik selayaknya laki-laki. Justru mereka selama masa pendidikan diajarkan untuk menjadi istri dan ibu yang baik agar bisa mendampingi suami mereka.

Pada tahun 1953 masa depan perempuan di Amerika, terutama para perempuan di Wellesley College memang belum identik dengan pergulatan keilmuan. Bahkan, tidak heran jika terdapat mata kuliah tata krama (poise and body languae) untuk mendidik para calon istri orang-orang penting. Kebanyakan mereka adalah mahasiswi dari kumpulan orang-orang terkemuka di zaman itu.

Berawal dari kisah perjuangan seorang pengajar bernama Katherine dalam mempertahankan independensinya di tengah tradisi kampus yang konservatif. Dia adalah pengajar baru kesenian di Wellesley College, lulusan Universitas Berkeley. Katherine sebagai perempuan bohemian dan modern mencoba menanamkan pola pikir baru kepada para mahasiswinya.


Saat pertama kali mengajar, Katherine begitu tercengang dengan kecerdasan para mahasiswi di kelasnya. Bahkan, awalnya dia tampak tidak percaya diri karena semua pertanyaan yang diajukan dapat di jawab dengan mudah oleh setiap mahasiswi. Ia kemudian mencoba menerapkan metode belajar yang berbeda diluar silabus untuk mencuri perhatian mereka.

Kesulitan besar yang dihadapi Katherine adalah ia harus menghadapi pola pikir mahasiswinya yang terkungkung tradisi kuno seperti pemikiran bahwa perempuan akan menjadi istri ketika lulus, tak boleh terlalu kritis karena akan keluar dari tradisi adalah sesuatu yang dihadapi Katherine setiap harinya.

Ketika Katherine mengajarkan tentang feminisme, bahwa perempuan berhak memilih, perempuan berhak melakukan sesuatu yang ia inginkan, ia kemudian harus menghadapi kecaman dari para dewan perguruan tinggi di kampus itu

Beberapa kali Katherine mendapat teguran agar tetap mengajar sesuai silabus kampus. Bahkan kepala kampus mengatakan jika tradisi lama harus terus dirawat, karena di satu sisi perempuan yang boleh sekolah kala itu sudah menunjukkan kemajuan di Whellesley. 

Sementara itu, di ruang kelas pun, Katherine terus mendapat kritikan keras dari salah satu mahasiswi paling pintar dan berpengaruh di kelasnya bernama Betty. Betty merupakan mahasiswi yang selalu menjunjung tinggi nilai tradisi di kampusnya. Katherine sendiri tetap pada pendiriannya, bahwa perempuan bisa berkarir layaknya laki-laki dan berhak memilih pilihan hidup yang mereka sukai.

Hal ini juga yang membuat Joan Brandwyn, mahasiswi yang memiliki cita-cita terpendam untuk melanjutkan sekolah hukum ke Yale University, tertarik dengan pemikiran katherine. Selanjutnya Katherine yang mengetahui keinginan Joan, kemudian membantu mengusahakan supaya mahasiswinya itu bisa melanjutkan pendidikan ke Yale.

Namun, usahanya membantu Joan berujung sia-sia. Karena Joan memilih melanjutkan pernikahan dengan pacarnya. Kekecewaan Katherine adalah, ketika Joan mengatakan melanjutkan study ke Yale menghambat dirinya menjadi istri dan ibu yang baik bagi suami dan anak-anaknya. Joan menganggap bahwa pilihannya benar, sedangkan pola pikir Katherinelah yang salah.

Hal ini tampak berbeda dengan tokoh Betty yang awalnya sangat anti dengan pola pikir Katherine. Setelah mengetahui suaminya berselingkuh, Betty mulai mengerti maksud Katherine kenapa dia tidak pernah mencoba menikah. Dari kejadian itu Betty menjadi lebih terbuka dengan konsep baru tentang pernikahan yang selama ini dipakai oleh Katherine.

Film Mona lisa Smile ini buat saya sangat inspiratif.  Tak banyak yang mau menempuh jalan seperti Katherine, yang "sendirian" mendobrak tabu. Keberanian, dedikasi Katherine adalah hal yang tak banyak ditempuh orang lain disana. Disinilah kekuatan Katherine sebagai seorang perempuan dosen dan menjadi kekuatan Mona Lisa Smile, menularkan keberanian di tengah arus yang tak berpihak padanya.

Film ini juga begitu tampak realistis dalam menggambarkan kehidupan perempuan di Amerika pada saat itu. Sejauh perempuan di Whellesley College mendapatkan akses pendidikan yang sama, namun nyatanya dalam kehidupan sejari-hari mereka masih belum mencapai posisinya setara.

Jika dilihat melalui kacamata aliran feminisme liberal, Katherine adalah simbol perjuangan kesetaraan. Ketika patriarki tumbuh subur sebagai akronisme pada masanya, dia berani mendobrak batasan-batasan tradisi yang mengungkung perempuan.

Di sisi lain perjuangannya, bagi saya Katherine secara tidak langsung juga telah memberi kehidupan baru kepada perempuan.

Film Mona lisa Smile memperlihatkan bahwa upaya merekontruksi identitas perempuan adalah proses panjang. Sehingga, jika sebuah konsep baru ditanamkan dalam struktur masyarakat, ini bisa menjadi pengetahuan baru bagi masyarakat.

(Foto: Info film dan wikipedia)


*Fitria Rizka Nabelia, tertarik pada isu-isu perempuan lokal dan tradisi. Sekarang, tengah berproses dalam aktivitas menulis dan membaca di Institute For Javanese Islam Research (IJIR)


Perempuan mengerjakan pekerjaan rumah apa saja, lebih sering keluar rumah untuk memenuhi kebutuhan pangan keluarga, dibandingkan anggota keluarga lainnya. Maka tak heran jika perempuan rentan posisinya selama masa Pandemi Corona atau Covid-19.

Terhitung sejak tanggal Tanggal 16 Maret 2020, ketika Presiden RI Jokowi Widodo menerapkan Physical Distancing untuk mengatasi wabah Covid-19 sampai 19 April 2020, dalam pernyataan sikapnya yang diterima www.Konde.co, LBH APIK Jakarta menyebutkan telah menerima 97 pengaduan kasus kekerasan terhadap perempuan Selama masa pandemic ini.

Pengaduan ini diterima LBH APIK Jakarta melalui hotline dan email. Jumlah ini cukup besar dimana hanya dalam waktu satu bulan saja, jumlah pengaduan meningkat drastis dibandingkan pengaduan langsung.

Dari 97 kasus, jumlah yang paling besar dilaporkan adalah kasus Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT) yaitu 33 kasus, menyusul Kekerasan Gender Berbasis Online (KBGO) 30 kasus, pelecehan seksual 8 kasus, Kekerasan Dalam Pacaran (KDP) 7 kasus, Pidana Umum 6 kasus, Perkosaan 3 kasus, kasus diluar Kekerasan berbasis Gender 3 kasus, Perdata keluarga 2 kasus, Pinjol 2 kasus, waris, pemaksaan orientasi seksual serta kasus permohonan informasi layanan masing-masing 1 kasus.

Direktur LBH APIK, Siti Mazuma menyebutkan, pengaduan kasus KDRT masih  paling tinggi sama seperti yang disampaikan dalam catahu 2019 LBH APIK Jakarta.

Hal ini menjadi bukti bahwa rumah belum tentu menjadi tempat aman bagi perempuan, apalagi dalam masa pandemi Covid-19 ini perempuan menjadi lebih rentan bukan saja rentan tertular virus tetapi juga rentan menjadi korban kekerasan.

“Struktur sosial masyarakat patriarki juga mengharuskan perempuan berperan sebagai pengasuh, pendidik, memastikan kesehatan keluarga, menyiapkan makanan, beban akan bertambah apabila perempuan tersebut juga bekerja diluar rumah dan harus menerapkan Work From Home,” kata Siti Mazuma.

Kebijakan phsyical distancing yang membuat segala kegiatan dilakukan dirumah membuat beban domestik semakin besar.

“Ketika perempuan dianggap tidak mampu menjalankan fungsi domestiknya maka kekerasan dianggap hal yang wajar untuk diterima, sehingga dari pengaduan KDRT yang diterima LBH APIK Jakarta KDRT bukan hanya kekerasan fisik, tetapi juga kekerasan psikis, seksual bahkan penelantaran ekonomi.”

Pemetaan yang dilakukan LBH APIK menyebutkan, dalam penerapan phsyical distancing kebergantungan manusia terhadap internet cukup tinggi, bukan hanya komunikasi, hiburan, belajar, bekerja dan lainya dilakukan dengan internet.

Hal ini juga memiliki keterkaitan dengan KBGO menjadi kasus nomor dua tertinggi yang dilaporkan ke LBH APIK Jakarta. Bentuk KBGO yang dilaporkan adalah pelecehan seksual secara online, ancaman penyebaran konten intim dengan motif eksploitasi seksual hinggal pemerasan.

“Dalam proses penanganan kasus kekerasan, perempuan korban kerap menghadapi kendala mulai dari tingkat pelaporan, penyidikan sampai proses pemeriksaan di Pengadilan. Apalagi dalam masa pandemi Covid-19 ini, perempuan lebih sulit keluar rumah untuk melaporkan kasusnya. Penerapan bekerja dari rumah membuat pelaku dapat selalu memantau aktivitas korban,” ungkap pengacara LBH APIK Jakarta, Uli Pangaribuan

Dari 97 kasus keseluruhannya laporan menggunakan media online, masih ada kemungkinan kasus-kasus yang tidak dilaporkan lebih besar.

Berdasarkan situasi darurat ini, LBH APIK Jakarta menuntut kepada pemerintah, DPR RI, Aparat Penegak Hukum serta pihak yang memiliki wewenang untuk menerapkan kebijakan penanganan Covid 19 yang mempertimbangkan keadilan dan kesetaraan gender serta memperhatikan kelompok rentan.

Lalu penerapan kebijakan Physical Distancing harus disertai dengan sosialisasi dan peningkatan kesadaran baik di media cetak maupun elektronik agar sampai ke setiap keluarga di Indonesia tentang pentingnya berbagi peran dalam rumah tangga dan pencegahan terjadinya kekerasan.

“Kami menolak dibahasnya RUU Ketahanan Keluarga karena RUU ini justru akan semakin mempertajam ketimpangan antara posisi perempuan dan laki-laki dalam rumah tangga. Pada pasal 25 RUU Ketahanan Keluarga lebih banyak memberikan beban kepada istri sekaligus mengekalkan stereotipe peran gender sehingga perempuan menjadi lebih rentan mengalami kdrt. RUU ini jelas  melanggar   UU RI No 7 Tahun 1984 Tentang Pengesahan Konvensi Mengenai Penghapusan Segala Bentuk Diskriminasi Terhadap Wanita serta UU HAM,” kata Uli Pangaribuan.

Tingginya kasus KDRT baik pada masa Physical Distancing ini maupun sebelumnya,  membuktikan bahwa struktur keluarga dengan relasi gender yang timpang tsb sudah harus direkonstruksi. UU Perkawinan saat ini masih membakukan peran gender perempuan dan laki-laki dalam pasal 31 dan 34. Ketentuan ini juga harus diamandemen, bukan justru  direproduksi melalui RUU Ketahanan Keluarga yang tentunya akan semakin memperburuk situasi keluarga, terutama bagi  perempuan dan anak.

“ Kami meminta pemerintah segera membahas dan mengesahkan RUU Penghapusan Kekerasan Seksual, dan RUU Perlindungan Pekerja Rumah Tangga. Segera merevisi UU ITE yang banyak memakan korban dan sering digunakan pelaku dalam upaya pembungkaman terhadap korban. Menegakkan implementasi UU PKDRT, UU TPPO serta aturan dan kebijakan positif lainnya secara maksimal untuk kepentingan korban. Dan memberlakukan Sistem Peradilan Pidana Terpadu untuk Penanganan Kasus Kekerasan terhadap Perempuan dan Anak, termasuk layanan visum gratis dan rumah aman yang mudah diakses oleh korban,” ungkap Uli Pangaribuan.

(Foto/ Ilustrasi: Pixabay)


*Guruh Riyanto- www.Konde.co

Dian Septi Trisnanti, Sekjen Federasi Buruh Lintas Pabrik (FBLP) menahan geram. Sekitar 800 pekerja pabrik yang hampir semuanya perempuan, yang selama ini bekerja di PT. Amos Indah Indonesia dirumahkan. Perusahaan ini berhenti produksi secara tiba-tiba.

Mereka yang dirumahkan adalah para perempuan pekerja garmen yang aktif di FBLP dimana Dian Septi menjadi pengurusnya. Kondisi pandemi Corona mengakibatkan ribuan buruh perempuan mengalami ketidakpastian akan nasib dan masa depan mereka.


Penelitian yang dilakukan Radio Komunitas Marsinah FM tentang kondisi buruh di Jabodetabek, Karawang dan Jawa Tengah juga menyebutkan kondisi ini. Sebanyak 67,81% buruh diminta untuk tetap berangkat kerja selama pandemi Corona tanpa mendapatkan fasilitas pencegahan Corona.


Namun kini, tiba-tiba saja sebanyak 28,8% buruh dirumahkan, 65,85% tidak dibayarkan upahnya sama sekali. Lalu 19,51% buruh dibayar upah dengan potongan, lalu 7,32% buruh di PHK dan hanya 7,32% buruh dibayar penuh.


Hingga saat ini sebanyak 73,29% merasakan kerawanan masa depan atas pekerjaan karena ketakutan PHK massal tanpa kompensasi, kuatir upah tidak dibayarkan dan tidak tahu masa depan pekerjaan mereka.

Ketua Umum Konfederasi Persatuan Buruh Indonesia, KPBI, Ilhamsyah menyatakan situasi ketenagakerjaan ini semakin memperburuk akibat pandemi.

Sebelumnya, sebagaimana dilansir berbagai media, Direktur Jenderal Pembinaan Pelatihan dan Produktivitas Kementerian Ketenagakerjaan, Bambang Satrio Lelono, menyatakan lebih dari 2,8 juta pekerja terkena Pemutusan Hubungan Kerja/ PHK atau dirumahkan selama pandemi Corona

Angka tersebut tampaknya belum akan berhenti, seiring laju pandemi yang tidak menunjukkan tanda-tanda akan segera berakhir.

Kini kehidupan publik seolah dipertontonkan adu pacu antara peningkatan pasien Corona dan korban PHK. Keduanya adalah berita menyedihkan yang menguras air mata.

“2,8 juta pekerja di-PHK dan dirumahkan. Apa yang anda bisa lihat dibalik statistik ini? Jutaan orang dilempar ke parit kemiskinan yang anyir, dipecahkan periuk nasinya, dirobek seragam sekolah anak-anaknya. 2,8 juta itu bukan angka bisu. Disana ada kepedihan. Ada pelanggaran hak-hak pekerja. Pada angka 2,8 juta itu pula kita bisa menyimak kenyataan, bahwa selain menyajikan data, Kemenaker tidak tampak efektif bekerja,” kata Ilhamsyah

Pemberlakuan Work From Home untuk pencegahan penyebaran Corona tentu bisa dibenarkan. Namun meneliti sektor mana saja yang mesti tetap harus bekerja maksimum di tengah situasi pelik, juga wajib dinilai secara tepat.

“Pendekatan pemerintah tidak sinkron. Ada gap besar antara laju masalah dengan kinerja lembaga yang harusnya bekerja untuk menangani masalah. Pemerintah harusnya melakukan evaluasi serius pemberlakuan Work From Home di Kemenaker. Ada kedaruratan ketenagakerjaan yang memaksa.”

Pandemi Covid-19 dengan cepat mendorong masalah serius di sektor kesehatan publik dan ketenagakerjaan. Sementara di sektor ketenagakerjaan kondisi sama pelik dan runyam terus menggelinding, makin hari makin kencang.

“Bagaimana dengan krisis yang menganga di sektor ketenagakerjaan? Buruh disunat upahnya atau tak digaji sama sekali. Yang lain di-PHK tanpa pesangon. Ada fungsi pengawasan yang tidak berjalan. Pelanggaran ketenagakerjaan tidak bisa diadukan dengan proses yang bisa ditagih. Anda tidak bisa menjawabnya dengan Kartu Pra Kerja. Ini soal pemenuhan hak yang diatur oleh Republik ini melalui Undang-Undang-nya. Kemenaker harus ada di lapangan. Kerja Dari Rumah untuk Kemenaker tidaklah relevan. Segera akhiri!”

Tindakan PHK dan dirumahkan tanpa pemenuhan hak yang sedang meluas, juga dialami anggota-anggota KPBI. PT. Amos Indah Indonesia yang berlokasi di Kantor Berikat Nusantara (KBN) Cakung, Jakarta, dimana Dian Septi melakukan advokasi disana, Pt. Amos melakukan stop produksi. Sebanyak 800 buruh PT. Amos lantas dirumahkan tanpa dibayar.

Di Semarang, buruh-buruh PT. Jaykay File Indonesia mengalami PHK. Sejumlah 368 orang diputus hubungan kerjanya tanpa memperoleh pesangon. Di Jakarta Barat, buruh-buruh PT. Elite dirumahkan hanya dengan menerima separuh upah. Peristiwa-peristiwa seperti ini juga terjadi di banyak daerah.

Posko online KPBI sudah menerima ratusan pengaduan terkait masalah serupa. Sekjen KPBI, Damar Panca, membeberkan temuan posko online,

“Umumnya mereka yang mengalami PHK sewenang-wenang atau dirumahkan tanpa kompensasi yaitu buruh-buruh yang tidak memiliki serikat buruh. Sektor pariwisata merupakan salah satu yang paling rentan. Kami menghimpun data itu selama beberapa waktu belakangan.”

*Guruh Riyanto, jurnalis dan aktivis perburuhan. Tulisan ini merupakan kerjasama www.Buruh.co dan Konde.co dan disarikan sesuai kebutuhan