Hari Pendidikan Nasional, Kenapa Ngobrol Seksualitas dan Kesehatan Reproduksi Masih Dianggap Tabu?


*Tika Adriana- www.Konde.co

Alvian punya pengalaman menarik ketika membicarakan tentang seksualitas dan kesehatan reproduksi bersama teman-temannya.

Membicarakan vagina sedikit saja, semua langsung tertawa. Membicarakan fungsi penis, semua langsung malu dan kabur. Ada yang menganggap tabu, namun ada yang menganggap ini sebagai hal yang sangat privasi dan tak pantas dibicarakan atau diobrolkan.

Padahal vagina dan penis adalah bagian yang melekat pada tubuh kita yang kita gunakan setiap hari.

Di Hari Pendidikan Nasional yang kita peringati setiap 2 Mei, tak hanya pendidikan formal, tapi juga pendidikan seksualitas dan kesehatan reproduksi, hal-hal yang sering luput dari perbincangan kehidupan kita sehari-hari, padahal sangat penting.

Alvian, 17 tahun, mengakui bahwa sampai sekarang akses untuk kesehatan reproduksi, khususnya bagi remaja, masih sangat minim dan sebagian besar dari kawannya tak tahu ke mana mereka bisa mendapatkan informasi tentang kesehatan seksual dan reproduksi. Akibatnya, di antara mereka pun banyak yang belum paham betul mengenai fungsi organ tubuh mereka, termasuk hal dasar seperti menjaga atau membersihkan organ reproduksi.

Masalahnya bukan itu saja, di lingkungan tempat Alvian tinggal, pendidikan seksual dan reproduksi masih dianggap sebagai hal tabu dan seringkali dikaitkan dengan moralitas dan agama.

“Membahas organ reproduksi dan seksual itu kan menarik bagi remaja, jadi ada beberapa yang merespon, tapi juga ada yang merasa risih gitu, merasa enggak nyaman dengan teman yang kerap membahas isu ini karena kita dianggap bicara jorok. Padahal ini menyangkut masa depan kita, toh ini juga organ kita juga. Kita juga bicaranya berpenis, bervagina, pakai bahasa ilmiah dan bukan untuk melecehkan,” tutur remaja yang tinggal di Pati, Jawa Tengah ini kepada Konde.co (5/4/2020).

Sayangnya,informasi tentang kesehatan reproduksi yang benar juga tak mereka dapatkan di sekolah.

“Misalnya ada yang tanya soal sel sperma bertemu sel telur, soal pembuahan, itu ya mereka malah ketawa, terus guruku juga malah ketawa dan responnya, ‘halah nanti kamu juga tahu sendiri’, enggak dijelasin. Lalu pernah juga dibilang, ‘nanti ya kamu akan merasakan itu seiring berjalannya waktu’. Padahal kita kan ingin dapat informasi lebih, misalnya cara untuk menghindari penyakitnya,” ungkap Alvian.

Terkadang, murid-murid di sekolahnya memang masih mendapatkan informasi dari dinas kesehatan setempat atau lembaga kesehatan yang sedang melakukan sosialisasi di sekolah. Namun, sekolah mereka tak punya kurikulum khusus mengenai kesehatan reproduksi selain di pelajaran Biologi.

Respons serupa juga ia dapat ketika bertanya kepada orang tuanya, sehingga ia tak bisa mendapatkan informasi yang detail.

Remaja yang paham kesehatan reproduksi dan seksualitas dianggap tak bermoral

Jika Alvian cerita tentang sulitnya mendapat akses informasi tentang kesehatan seksual dan reproduksi, Rosalina, 23 tahun, Fasilitator Aliansi Remaja Independen (ARI), justru menceritakan tentang berbagai tantangan ketika akan memberi informasi tentang hal tersebut.

Remaja yang kerap dipanggil Ocha ini menceritakan tentang pengalamannya ketika memberikan edukasi ke pesantren. Sebelum memberikan edukasi, ia pun sempat beberapa kali diperingatkan guru untuk tidak menunjukkan gambar aslinya.

“Aku akhirnya pakai animasi, tapi detail, tapi ya terus ditegur sama mereka, ‘kenapa harus pakai kayak gitu?’, tapi ya aku jelasin kalau enggak detail, mereka enggak tahu detail lokasi penyakitnya,” kata Ocha kepada Konde.co (28/2/2020).

Bukan itu saja, pada suatu kesempatan, Ocha pun pernah diminta oleh seorang guru untuk memisah kelas untuk laki-laki dan perempuan saat sosialisasi karena mereka khawatir muridnya menjadi tak bermoral.

Padahal respon para peserta sosialisasi yang rata-rata berisi remaja dan mahasiswa justru kurang menyenangkan. Mereka seringkali tertawa ketika ia menunjukkan gambar tentang organ reproduksi. Padahal, ketika ia bertanya tentang testis, remaja-remaja itu tak bisa menjawab dengan tepat.

“Aku sampai tanya alasan mereka ketawa, karena kan pasti sebelum aku memberi tahu penyakitnya aku harus menunjukkan gambarnya. Nah ini mereka malah tertawa terbahak-bahak dan menganggapnya satu lelucon yang sebenarnya pelecehannya bukan ke aku, tapi justru mereka saling melecehkan dengan berkata, ‘eh itu punya lo tuh, itu punya lo’,” kata Ocha kepada Konde.co.

Sosialisasi yang ia lakukan juga tak serta merta mendapat sambutan baik dari orangtua murid. Ocha mengatakan bahwa dirinya pernah didatangi dan kena marah oleh orangtua salah satu anak didiknya.

“Pernah dapat komentar saat bawa kondom, sebenarnya aku sih enggak paham penjelasan anaknya sebelumnya seperti apa, tapi orangtuanya marah dan bilang, ‘kamu itu wanita, tapi kamu itu enggak punya malu sampai bawa-bawa kondom seperti itu. Kamu kalau mau ngajarin anak-anak kecil ini enggak benar, jangan di sini, cari tempat lain, mbak. Solanya saya risik melihat orang-orang seperti kamu dengan santainya memberi tahu cara penggunaan kondom ke anak-anak saya’,” ujar Ocha menceritakan pengalamannya itu.

Saat itu, ia dan orangtua murid itu sempat berdebat, hingga ibu tersebut memahami maksud sosialisasi yang diberikan Ocha.

“Saya balikin lagi, ketika anak-anak itu tidak pernah diberika seperti itu dan mereka justru mendapat dari lingkungan yang tidak dikenal, mereka justru akan takut untuk menceritakan ke orangtuanya karena mereka tidak pernah diajarkan itu,” tutur Ocha.

Kesulitan lain juga didapatkan Ocha ketika hendak membeli kondom di apotek atau minimarket. Ia justru mendapatkan stigma dari para petugasnya.

“Kalau waktu aku beli kondom, orang apotek minta ID Card aku karena merasa saya masih anak-anak, jadi belum boleh beli kondom. Meski aku bilang untuk presentasi dan sudah aku jelaskan isi presentasinya, dia minta bukti ID Card kalau aku memang mahasiswa yang membutuhkan kondom untuk presentasi,” ungkapnya.

Pembahasan mengenai alat kontrasepsi juga seringkali dianggap hanya sekadar lelucon di kalangan remaja seusianya. Padahal bukan perkara jenis kondom saja yang mereka tak tahu, tapi ihwal pemasangan yang benar pun mereka tak paham, padahal bagian dari pendidikan yang seharusnya tidak tabu untuk diketahui.

“Kalau di tempatku membahas soal alat kontrasepsi itu ketawa terus bawaanya, seperti kondom misalnya. Aku pernah tanya tentang kondom untuk cowok itu pemasangannya seperti apa, terus mereka jawab, ‘Alvian ini, pemasangan kondom pakai ditanya lagi, kan tinggal dibuka dipasang, terus kita tinggal melakukan hubungan’,” ujar Alvian.

Padahal seharusnya ada informasi lain, seperti memasang kondom harus hati-hati, bagian kondom itu kan rawan robek, dan ini bisa rawan kehamilan buat ceweknya juga.

“Dan ketika sperma keluar di kondom itu kan harus langsung di tali, enggak boleh langsung dibuang dan dibuangnya pun harus langsung ke tempat sampah, enggak boleh sembarangan. Mereka terus malah bingung karena harus diikat itu,” tambahnya.

Pada tahun 2018, Balai Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN), Badan Pusat Statistik (BPS), dan Kementerian Kesehatan mengeluarkan sebuah Survei Demografi dan Kesehatan: Kesehatan Reproduksi Remaja Tahun 2017. Dalam survei tersebut mereka menemukan fakta bahwa hanya 12 persen perempuan dan enam persen pria yang mengetahui tempat diskusi atau informasi mengenai kesehatan reproduksi.

Angka ini tentu sangat jauh dari sempurna, sebab dalam Pasal 72 (a) Undang-Undang Nomor 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan, jelas tertulis bahwa kehidupan reproduksi dan kehidupan seksual yang sehat, aman, serta bebas dari paksaan dan/atau kekerasan dengan pasangan yang sah merupakan hak dari setiap orang.

Selain itu, pada huruf (d), juga menegaskan tentang hak setiap orang untuk memperoleh informasi, edukasi, dan konseling mengenai kesehatan reproduksi yang benar dan dapat dipertanggungjawabkan.

“Kalau petugas minimarket, waktu itu aku memang beli dengan temanku berdua dan kebetulan cowok. Mereka malah bilang, ‘kamu mau pakai berdua ya, ati-ati nanti ditangkap sama kamtib’,” ujar Ocha sambil menirukan ucapan pegawai minimarket itu.

Melihat kesulitan-kesulitan tersebut, Ocha semakin kecewa ketika Sitty Hikmawaty, yang saat itu masih menjabat sebagai Komisioner Komisi Penyiaran Anak Indonesia/ KPAI memberikan pernyataan tentang hamil di kolam renang.

“Aku justru enggak kaget ketika orang awam yang mengeluarkan pernyataan itu, tapi ketika Bu Sitty yang mengeluarkan seperti itu, apalagi beliau anggota KPAI yang khusus di bidang kesehatan dan menurut saya harusnya bisa menyaring kata-katanya sebagai informasi untuk orang awam, itu justru miris,” kata Ocha.

Saat itu, Ocha pun langsung mencari riset yang dimaksud oleh Sitty dan bertanya kepada dokter spesialis obstetri dan ginekologi (obgyn) yang ia kenal.

“Baru aku yakin aku enggak kurang update,” tuturnya.

Ocha tentu ingin agar akses kesehatan reproduksi dan seksualitas bagi anak dan remaja menjadi perhatian, sebab hal ini bisa menjadikan anak lebih berani jujur kepada orang tuanya ketika mendapatkan masalah tentang hal ini.

(Foto/ Ilustrasi: Pixabay)

*Tika Adriana, jurnalis perempuan yang sedang berjuang. Saat ini managing editor Konde.co