Perempuan Lajang Mendapat Tekanan Saat Work From Home



Ini adalah pengalaman beberapa kawan perempuan lajang ketika bekerja dari rumah atau Work From Home (WFH). Teman saya yang memutuskan pulang kampung ketika kantornya memberlakukan WFH, di saat di rumah, malah banyak ditanya oleh saudara-saudaranya: kenapa pulang kampung? gak ada yang mengurus ya disana karena tidak punya pacar?. Pertanyaan menyusul lainnya sudah bisa ditebak: jadi kapan menikah?


*Fitria Rizka Nabelia- www.Konde.co

Serba salah. Ini pengalaman teman saya yang lain. Karena seringnya ketemu tetangga sejak WFH, berjemur di pagi hari bukan lagi aktivitas yang mengasyikkan, karena beberapakali ada saja yang tanya: kenapa memutuskan tinggal sendirian? belum punya pasangan?

Benar saja, personal is political. Apa yang menjadi keputusan kita seolah harus diputuskan oleh orang lain.

Work From Home (WFH) bagi perempuan lajang menjadi tidak mudah. Sebab di alam semesta patriarki ini, perempuan lajang di rumah sama halnya menyiapkan diri untuk mendapatkan teror.

Teror ini berupa pertanyaan keluarga dan tetangga, tentu saja berkaitan dengan keberadaan pasangan atau kapan rencana akan menikah. Sehingga sangat disarankan bagi para perempuan lajang untuk tebal telinga selama bekerja di rumah. Jika tidak, keadaan seperti ini akan merugikan diri mereka sendiri. Sebab bisa menurunkan imunitas tubuh, karena kecapekan menjawab pertanyaan orang sekitar.

Menjadi perempuan lajang dalam masyarakat yang masih tinggi unsur budaya patriarki seperti ini merupakan hal yang tabu. Sebab budaya patriarki menempatkan perempuan pada wilayah domestik, mengurus segala pekerjaan rumah tangga. Sehingga perempuan akan dipandang aneh dan tidak normal jika hidup sendirian terlalu lama

Dalam konteks WFH, orang akan risih ketika melihat perempuan sendirian di rumah, bekerja sendirian di rumah. Padahal, kerja dari rumah adalah situasi yang paling mengasyikkan dibandingkan harus kerja dari pagi dan pulang petang di kantor

Keharusan untuk menikah inilah yang juga membuat perempuan tertekan. Ini karena menjadi perempuan berarti harus memenuhi standar nilai-nilai keperempuanan yang berlaku di masyarakat. Selain itu, masyarakat akan memandang rendah perempuan yang belum menikah.

Perempuan yang tinggal dalam masyarakat seperti ini biasanya cenderung merasa terus terancam. Sebab keberadaan dirinya seolah olah terus menerus diawasi orang-orang sekitar. Tak jarang perempuan lajang lebih memilih berdiam diri di rumah, untuk menghindari pertanyaan yang mengusik privasi mereka. Akhirnya, WFH menjadi begitu menakutkan bagi para perempuan lajang.

Mungkin, menutup pintu rapat-rapat memang lebih baik untuk para perempuan lajang saat WFH. Namun pada kenyataannya, menutup pintu bukan satu-satunya solusi. Perempuan lajang masih harus menghadapi tekanan lain, dari keluarga mereka sendiri. Misalnya, ketika orang tua atau saudara bertanya seputar pernikahan.

“Sudah usia dua puluh lebih kok masih jomblo aja, kamu kapan rencana mau menikah? nanti keburu tua loh.”

Bayangkan saja jika pertanyaan itu didengar setiap hari ketika kondisi WFH ini. Hal itu bisa membuat perempuan lajang yang bekerja di rumah menjadi tidak nyaman serta dapat mempengaruhi kondisi mental mereka. Sehingga, berpengaruh kepada kerja-kerja di rumah. Padahal, seorang perempuan yang bekerja dari rumah, bisa segera menuntaskan segala pekerjaanya, namun pikiran malah harus terfokus kepada pertanyaan yang mengganggu secara psikis.

Hal ini bisa saja diperparah, jika seorang perempuan memiliki saudara. Keberadaan saudara ini, entah laki-laki atau perempuan, bakal menjadi pembanding keberadaan si perempuan. Apalagi tetangga akan memperbandingkan si perempuan dengan perempuan lain yang sudah menikah. Bila hanya tetangga yang memperbandingkan tentu hal yang bisa dimaklumi, tapi jika orang tuanya sendiri ikut-ikutan, tentu hal tersebut menambah beban psikis perempuan.

Khususnya bagi banyak orang tua. Keberadaan anak perempuan menjadi semacam standar moral. Bila seorang anak perempuan lama melajang, keberadaanya bisa menjadi semacam aib bagi orang tua. Sehingga pernikahan menjadi semacam jalan untuk tetap menjaga nama baik keluarga. Tentu ini tidak se-ekstrem keberadaan anak laki-laki.

Bila lama melajang, orang tua akan merasa gagal. Anak perempuan merupakan tanggungan untuk tidak menyebutnya sebagai beban bagi orang tua. Sehingga orang tua merasa perlu untuk menyerahkan tanggungan tersebut ke orang lain, berharap sang anak perempuan memperoleh kebahagiaan. Sehingga, jika anak perempuan lama tidak menikah, kebanyakan orang tua akan merasa gagal, terhadap anak perempuannya. Istilahnya perawan tua, label bagi seorang perempuan yang sudah matang tapi belum menikah.

Salah satunya di Jawa, baik perempuan atau laki-laki dianggap menjadi manusia (wong) ketika mereka bisa hidup mandiri. Terutama bagi perempuan, mereka tidak lagi menjadi beban tanggung jawab orang tua saat mereka sudah menikah.

Ketika WFH ini diberlakukan, buat teman saya ini adalah penderitaan. Sehingga dirinya memilih untuk tak pulang kampung, meski kota tempatnya bekerja masuk dalam zona merah Virus Covid-19. Menurutnya, tetap tinggal di kota menjadi satu-satunya cara untuk tetap membuat dirinya aman sebagai perempuan yang belum menikah. Sekaligus sebagai upaya agar tetap fokus menjalankan pekerjaan.

Kebijakan WFH memang mulanya diperuntukkan banyak pekerja. Namun, hal berbeda dapat dialami oleh perempuan lajang. Tentu kebijakan ini tidak membuat nyaman siapapun, tapi bagi perempuan lajang, ketidaknyaman tersebut bertambah berkali-kali lipat.

Jadi, selain pandemi, tekanan masyarakat ini menambah beban ganda saat #Work From Home bagi perempuan.

(Foto/ Ilustrasi: Pixabay)


*Fitria Rizka Nabelia,
tertarik pada isu perempuan lokal dan tradisi. Sekarang, tengah berproses dalam aktivitas menulis dan membaca di Institute For Javanese Islam Research (IJIR)