Dianggap Tak Bisa Memimpin Organisasi di Kampus Hanya Karena Perempuan


Pacar saya, sebut saja namanya Tira, tak bisa menjadi pemimpin organisasi di kampusnya hanya karena ia adalah seorang perempuan. Tira dikalahkan oleh anggapan bahwa pemimpin yang baik seharusnya laki-laki yang bisa mengayomi orang lain, sedangkan perempuan dianggap tidak bisa melakukannya

*Arvenda Denada Randy Saputra- www.Konde.co

Tira, Umurnya 21 tahun dan saat itu tercatat sebagai mahasiswa salah satu perguruan tinggi di kota Solo.

Sejak awal masuk kuliah, Tira aktif dalam kegiatan organisasi intra kampus. Tercatat, hingga saat ini ia menjadi pengurus di dua organisasi yang berbeda. Menjadi sekretaris umum di Persekutuan Mahasiswa Kristen (PMK) tingkat fakultas dan menjadi wakil ketua di Himpunan Mahasiswa Jurusan (HMJ).

Ada cerita menarik yang ingin saya bagikan terkait dengan perjalanan Tira di himpunan mahasiswa.

Jadi ceritanya, Desember beberapa tahun lalu melalui sebuah musyawarah besar yang berlangsung selama 2 hari , Tira bersama dengan Ari (laki-laki) yang merupakan kawan satu angkatannya terpilih sebagai calon ketua himpunan mahasiswa untuk periode selanjutnya.

Menurut Anggaran Dasar atau Anggaran Rumah Tangga (AD/ART) organisasi, musyawarah besar hanya akan digunakan sebagai sarana untuk memilih calon ketua, sedangkan selanjutnya akan dilaksanakan pemilihan umum untuk menentukan siapa yang akhirnya menjadi ketua dari 2 calon tersebut.

Dan perlu diketahui bahwa Tira adalah perempuan pertama yang menjadi calon ketua sejak organisasi tersebut berdiri 10 tahun yang lalu. Suatu hal yang patut untuk dibanggakan.

Kemudian panitia pemilihan umum memberikan waktu 2 minggu kepada para calon untuk mempersiapkan segalanya. Mulai dari pembentukan tim sukses, pembahasan visi misi serta program, hingga pelaksanaan kampanye dan debat antara calon.

Berbekal dengan semangat dan dukungan dari teman-teman seangkatan yang memang lebih condong akan menjatukan pilihan pada Tira -Ia merupakan angkatan 2014- , Tira dan tim suksesnya mulai bekerja mempersiapkan segala hal yang dibutuhkan agar memperoleh dukungan.

Suatu hari pada saat rapat terakhir dengan tim sukses, Tira meminta masing-masing anggotanya untuk memberikan laporan terkait dengan kecenderungan suara para pemilih. Dari laporan tersebut diketahui bahwa suara Tira dan Ari masih sama sama kuat.

Tetapi yang menarik perhatian saya adalah menurut penuturan salah satu tim sukses Tira kebanyakan dari mahasiswa yang mendukung Ari, mendukung bukan karena visi misi atau programnya lebih baik tetapi, mereka lebih memilih Ari karena Ari seorang laki-laki.

Karena Tira adalah seorang perempuan dan Ari adalah laki-laki maka yang lebih dianggap pantas untuk mengemban jabatan ketua adalah Ari.

Mereka beranggapan bahwa laki-laki lebih mampu untuk mengayomi sedangkan perempuan lebih baik memposisikan diri dibelakang lelaki karena kodratnya memang sudah seperti itu. Intinya perempuan tidak pantas jika menduduki posisi ketua.

Dan pada akhirnya Tira kalah, ia kalah dengan selisih 10 suara. Tira memperoleh 47 suara sedangkan Ari memperoleh 57 suara. Saya tidak menyebut bahwa diskriminasi gender adalah faktor utama dari kekalahan Tira. Tapi paling tidak disini kita bisa melihat bahwa diskriminasi gender yang Tira alami juga berperan dalam kekalahan tersebut.

Melihat dari kejadian yang dialami Tira kita bisa melihat bahwa budaya patriarki masih mengakar sedemikian kuat bahkan di kampus sekalipun, yang seharusnya menjadi tempat dimana ide dan gagasan bebas untuk dibahas dan diwujudnyatakan tanpa adanya diskriminasi gender.

Tidak peduli laki-laki atau perempuan jika ide dan gagasannya bagus maka harus didukung penuh. Selain itu budaya patriarki juga seringkali merugikan bagi perempuan. Pada contoh diatas, Tira mengalami kerugian karena ia kehilangan suara yang disebabkan hanya karena ia perempuan dan dianggap tidak pantas menjadi ketua, terlepas dari bagus atau tidaknya visi misi serta program yang sudah ia paparkan.

Anggapan-anggapan miring seperti tidak pantasnya perempuan menjadi pemimpin sudah seharusnya hilang sama sekali. Karena baik perempuan maupun laki-laki sama-sama mempunyai potensi.

Lagipula sekarang sudah sangat banyak perempuan-perempuan yang sukses dan berprestasi ketika ia mengemban jabatan pemimpin. 2 diantaranya adalah Sri Mulyani dan Susi Pudjiastuti.

Saya tentu tidak bisa membandingkan kedua perempuan tersebut dengan pacar saya. Karena memang organisasi, tanggung jawab dan jabatan yang mereka emban bisa berbeda.

Tetapi bukan itu persoalan yang ingin saya tekankan. Yang ingin saya tekankan adalah bahwa kemampuan perempuan dalam hal memimpin tidak kalah dengan laki-laki, bahkan lebih baik.

Perempuan tidak diciptakan sebagai mahluk yang lemah, sehingga laki-laki harus kuat untuk mereka dan berdiri di depan mereka. Perempuan diciptakan memiliki potensi kecerdasan dan keberanian yang sama baik dengan laki-laki.

(Foto/ Ilustrasi: Pixabay)


*Arvenda Denada Randy Saputra,
sehari-hari bekerja sebagai buruh pabrik di Sukoharjo, Jawa Tengah