Ambiguitas dan Kesubversifan Kartini

Edisi Kartini: khusus untuk edisi minggu ini (18-23 April 2016), kami akan menuliskan ide-ide perjuangan Kartini dan perjuangan yang dilakukan para perempuan di masa sekarang. Kami melakukan wawancara terhadap sejumlah perempuan yang selama ini jauh dari hingar-bingar, tidak terendus media dan memilih dekat dengan masyarakat marjinal. Kami juga menuliskan soal ide-ide dan perjuangan Kartini di masa sekarang, diskriminasi,kekerasan, stereotype yang dialami perempuan dan  perjuangan mereka di masa kini. (Redaksi)

Kartini dan Sekolah Putri yang didirikannya

*Donny Danardono – www.konde.co

Kartini mulai menulis
surat ke teman-teman Belanda dan Pemerintah Hindia-Belandayang kemudian
disunting dan dibukukan oleh H.J. Abendanon sebagai Door Duisternis tot
Licht
―di usia ke-20, empat tahun setelah ia bebas dari pingitan.Bila gadis priyayi Jawa
dipingit di sekitar usia ke-12, saat pertama kali datang bulan, dan baru bebas
saat diperistri pria yang belum mereka kenal, Kartini ‘hanya’ dipingit sampai
usia 16 tahun. Dan bila dalam pemingitan itu mereka harus belajar tata krama
perempuan dan istri priyayi, Kartini justru membaca buku, majalah, koran,
jurnal ilmiah, bersurat-suratan dengan teman-temannya di Europese Lagere
School
(ELS), melukis, dan bergaul dengan para pejabat Belanda tamu ayahnya
(surat ke Stella Zeehandelaar, 25 Mei 1899 dan 6 November 1899).

Adalah ayahnya, R.M
Adipati Ario Sosroningrat, seorang Bupati Jepara yang memungkinkan itu. Ia
adalah seorang dari empat bupati Jawa yang berpendidikan Eropa. Lumrah, ia
kirim ke-11 anaknya ke sekolah Eropa. Ayahnya juga pernah menyurati Pemerintah
tentang perlunya pendidikan pribumi (surat ke Stella Zeehandelaar, 12
Januari 1900).

Sebagai priyayi, ayahnya
berpoligami. Kartini adalah anak selirnya: Ngasirah. Kartini tak pernah secara
langsung menceritakan ibu kandungnya itu di surat-suratnya. Tetapi ia tahu
penderitaannya sebagai selir: “Tetapi hal ini tidak berarti bahwa mereka
tidak sangat menderita karenanya. Hampir tiap perempuan yang saya kenal di sini
mengutuk hak laki-laki itu
” (surat ke Stella Zeehandelaar, 23
Agustus 1900).

Maka, bagi Kartini,
ayahnya adalah representasi tradisionalisme Jawa yang ia tentang. Tetapi
ayahnya juga merupakan representasi modernitas Barat yang ia dambakan, yang
memberinya ilmu, ide kesetaraan manusia dan skalar untuk menakar
tradisionalisme Jawa itu.

Liberalisme
dan Politik Etis


Bila saya tak salah
hitung, sejak tahun 1899, di usianya yang ke-20, sampai wafatnya di tahun 1904,
Kartini telah menulis 149 surat. Surat-surat yang jarang pendek dan berbahasa
Belanda itu bertutur tentang berbagai buku, jurnal ilmiah, koran dan majalah yang
ia baca, nasib pribumi dan perempuan pribumi, kisah “Tiga Serangkai” (Kartini,
Roekmini dan Kardinah), modernitas dan kesetaraan manusia Barat.

Beberapa tulisan Kartini pernah diterbitkan di koran De LOCOMOTIEF yang terbit di Semarang

Di usia ke-16 ia mulai
menulis untuk koran De Locomotief (Semarang), majalah De Gids, De
Echo
, dan majalah perempuan De Hollandsche Lelie yang terbit
di Belanda. Tulisan-tulisannya merentang dari sejarah batik Hindia-Belanda,
perlunya sekolah bagi perempuan pribumi sampai emansipasi perempuan.

Iapun membaca sastra,
sejarah, feminisme dan tata pemerintahan. Kisah Joan of Arc, wanita yang
membebaskan Prancis dari Inggris, membuatnya berpikir mengapa banyak pejuang
mati muda; Max Havelaar, karya Multatuli, membuatnya tahu bagaimana
pejabat kolonial dan pribumi menindas rakyat pribumi; Hilda van Suylenburg
dan Moderne Vrouwen―tentang emansipasi wanita Baratmemperkenalkannya
pada istilah emansipasi wanita. Bahkan Pramoedya Ananta Toer memperkirakan
Kartini, seperti remaja feodal lain kala itu, juga membaca Centhini, Wulangreh,
hikayat wayang dan hikayat panji (Pramoedya Ananta Toer, Panggil Aku
Kartini Saja
, 1997: 74).

Bacaan dan pergaulannya
yang luas dan kemampuannya menulis mencerminkan kecerdasannya. Semua itu tak
lepas dari peran ayahnya, para liberalis (Ovink-Soer, suami-istri Abendanon,
dan van Kol) dan Politik Etis.

Kemenangan kelompok
Liberal di Belanda pada 1860-an turut mengubah pola penjajahan Hindia-Belanda. Cultuurstelsel
bertahap dihapuskan, dan kolonialisme dijalankan oleh para kapitalis swasta
bersama pemerintah. Berbagai perkebunan dan pabrik dibuka. Sawah-sawah
dialihfungsikan menjadi perkebunan tebu dan tanaman ekspor lainnya selama 75
tahun (Agrarische Wet 1870). Hutan-hutan dijadikan perkebunan teh, kopi
dan kawasan jati. Para petani dan pribumi dijadikan buruh perkebunan dan
pabrik. Kelas feodal dijadikan pegawai negeri, yang di antaranya adalah kakek
dan ayah Kartini. Itu sebabnya Kartini sekeluarga akrab dengan para pejabat
Belanda, sekolah di sekolah Eropa, dan memperoleh jalan ke bacaan-bacaan
berbahasa Belanda. Maka, Politik Etis―yang dimulai pada 1901 saat Ratu
Wilhelmina berpidato di Parlemen tentang ‘kewajiban moral’ pemerintah
menyejahterakan pribumihanya meluaskan aksesnya ke modernisme.

Kadipaten
Jepara sebagai Heterotopia: Ambiguitas dan Kesubversifan Kartini


Saya memetakan
surat-surat Kartini sebagai surat-surat yang membahas tradisionalisme Jawa dan
modernisme Barat. Ia memuji batik, gamelan dan ukiran Jepara. Bahkan bersama
Abendanon―Direktur Kementerian “Pengajaran, Ibadah dan Kerajinan” itu―ia
memasarkan ukiran itu ke Eropa. Namun, ia juga mengidentikkan tradisionalisme Jawa
itu dengan poligami, pemingitan wanita dan unggah-ungguh hirarkis.

Ia tak pernah secara
langsung membahas poligami ayahnya. Tetapi ia melawannya: “Satu-satunya yang
boleh kami mimpikan ialah: hari ini atau besok menjadi isteri yang kesekian
bagi salah seorang laki-laki. Saya menantang mereka yang dapat menunjukkan
ketidakbenaran hal in
i” (surat ke Stella Zeehandelaar, 23 Agustus
1900).

Baginya pemingitan adalah
pengurungan dalam kotak dan pemutusan dari dunia luar: “Pada umur 12 tahun
saya harus tinggal di rumah. Saya harus masuk ‘kotak’
… Empat tahun yang
berlangsung sangat lama itu saya habiskan di antara empat dinding tebal, tanpa
pernah melihat sesuatu pun dari dunia luar
” (surat ke Stella
Zeehandelaar
, 25 Mei 1899). Namun, ia tak sungguh terasing. Ia jadikan
berbagai bacaan Belandanya sebagai jalan ke dunia luar.

Kartini pun sebal pada unggah-ungguh
Jawa: “Sungguh keterlaluan adat sopan-santun pada kami .. Adik saya baik
laki-laki atau perempuan tidak boleh beraku-engkau kepada saya dan hanya dalam
bahasa Jawa kromo mereka boleh menegur saya; dan setelah kalimat selesai mereka
ucapkan, mereka harus menyembah kepada saya
” (surat ke Stella
Zeehandelaar
, 18 Agustus 1899).

Kartini menyadari
keburukan kolonialisme. Tetapi, baginya, pengetahuan dan modernitas Barat yang
dibawa oleh Kolonialis Belanda itulah yang bisa menghapuskan tradisionalisme
Jawa dan membebaskan wanita Jawa: “Orang menganggap penuh ‘omong-kosong’
terhadap buku-buku yang datang dari Barat .. Pendapat orang tadi tidak
seluruhnya betul. Bukan hanya buku-buku yang membuat anak gadis itu .. benci
akan keadaan yang sejak zaman dahulu kala telah ada dan merupakan azab bagi
semua kaum yang bernama perempuan. Keinginan terhadap kebebasan, berdiri
sendiri dan kemerdekaan, bukan baru-baru saja .. Keadaan dalam lingkungan yang
langsung dan tidak langsunglah yang menumbuhkannya
” (surat ke ny.
Abendanon
, Agustus 1900).

Maka, Kartini menghidupi
dua ruang. Dalam banyak waktu, rumahnya, Kadipaten itu, adalah ruang dengan
relasi-relasi kuasa tradisional Jawa (unggah-ungguh hirarkis dan
poligami). Kedua hal itu, setidaknya, telah mendisiplinkan pikiran, tuturan dan
tindakannya. Tetapi, beranda dan ruang makan, saat ayahnya menerima dan menjamu
para pejabat Belanda, berubah menjadi ruang yang kritis terhadap
tradisionalisme Jawa. Sebab saat itu ia bisa bertukar pikir dengan mereka.
Bahkan kamar tidurnya yang sempit juga merupakan ruang yang kritis. Di situ ia
bisa membaca berbagai buku atau majalah Barat, dan juga menulis surat-surat
yang mempersoalkan tradisionalisme priyayi Jawa sambil sekaligus memuji
modernitas Barat.

Maka, dengan mengutip
Michael Foucault, saya menganggap Kadipaten, bagi Kartini, adalah sebuah heterotopia
(ruang lain), yakni sebuah ruang yang menghidupi dua narasi yang bertentangan:
tradisionalisme Jawa yang menindas perempuan dan modernitas Barat yang
menjanjikan emansipasi perempuan dan manusia. Ia rawat narasi-narasi tentang
Kadipaten itu dalam surat-suratnya.

Itu sebabnya Kartini
senantiasa hidup dalam ambiguitas. Ia ambigu karena di satu sisi ia mengagumi
berbagai karya seni adiluhung (seni yang penuh dengan nilai-nilai keutamaan)
Jawa (batik, wayang, gamelan dan ukiran), tetapi di sisi lain ia juga geram
pada tata krama adiluhung Jawa yang menindas perempuan. Ia pun memandang
ayahnya secara ambigu, yaitu sebagai representasi tradisionalisme Jawa yang
menindas dan sekaligus sebagai pemberi orientasi pada modernitas dan emansipasi
manusia.

Maka dalam suratnya
kepada Stella ia menulis, bahwa ia tak akan mampu melawan seandainya ayahnya
memintanya untuk menikah: “Kamu selalu mempertentangkan ‘harus’ dengan ‘saya
mau’. Terhadap orang lain, saya pasti akan berbuat demikian juga, tetapi
terhadap Ayah, saya tidak akan sanggup, lebih-lebih sekarang. Apa yang harus
saya lakukan tidak saya pandang sebagai suatu ‘keharusan’, tetapi sebagai
sesuatu yang dengan sukarela saya tanggung untuk ‘beliau’. Saya mengarang,
melukis dan mengerjakan semuanya, karena Ayah menyenangi hal seperti itu. …
Kasih sayang saya pada Ayah tak terkatakan! Saya akan teramat susah, kalau
sekiranya Ayah menahan cita-cita saya untuk bebas. Tetapi akan lebih tak
terhingga lagi sedih hati saya, jika keinginan saya yang sungguh-sungguh
dipenuhi, tetapi saya harus kehilangan cinta kasih Ayah
” (surat ke Stella
Zeehandelaar
, 23 Agustus 1900).

Berbagai bentuk relasi
kuasa di ruang-ruang itu mendisiplinkan pikiran dan strateginya saat melawan
tradisionalisme Jawa. Perlawanannya menjadi tak konfrontatif, tetapi subversif
(merongrong). Ia menerima keberatan ayahnya, lewat Abendanon, untuk membatalkan
rencana studinya di Belanda. Ia menerima lamaran Bupati Rembang yang berselir
tiga itu. Namun, semuanya dengan syarat ia boleh mendirikan sekolah perempuan,
tak melakukan bentuk-bentuk tertentu di upacara pernikahannya, dan suaminya tak
akan menikah lagi. Ambiguitas dan kesubversifan ini, saya kira, salah satu
sumbangan terbesarnya bagi gerakan perempuan. Pada akhirnya Kartini kalah, tapi
ia telah secara radikal dan subversif melawan.

Maka, saya setuju
Goenawan Mohamad yang mengajak kita untuk tidak melihat heroisme Kartini.
Karena Kartini memang melawan dalam ambiguitasnya. Tapi saya tak setuju dengan
Goenawan Mohamad yang cenderung tak mengakui perlawanannya selain kekalahan
tragisnya atas berbagai harapan yang ia lontarkan dalam surat-suratnya:

Maka,
kisah Kartini jadi penting bukan karena heroismenya, melainkan karena
kegagalannya: dialah perempuan yang mencoba menunggang gelombang―khas suara
generasi muda―tapi terjebak dalam palung ke-tua-an. Dalam masyarakatnya,
panutan adalah ingatan. Yang membentuk adalah pengulangan khasanah yang disusun
generasi tua. Tradisi menentukan hampir segalanya. … Pandangan bahwa “tua itu
baik” itu bahkan berlanjut sampai hari ini. Dalam nyanyian nasional yang
memujanya, Kartini dipanggil “Ibu kita”, bukan “sang pelopor”. Citranya tak
lagi sebagai bagian dari sebuah pergerakan progresif, melainkan sebagai
pengayom struktur yang konservatif. Tak mengherankan bila Hari Kartini adalah
hari ketika para perempuan berpakaian adat, bukan berpakaian pilot atau atlit
angkat besi. … Jika kita ingin mengenang Kartini dengan baik, kita harus
mengenang tragedinya (Catatan Pinggir, Tempo, Edisi. 44/XXXV/25 – 31
Desember

Penulis adalah Dosen di Fakultas Hukum Universitas Katolik Soegijapranata Semarang

*] tulisan ini pernah
disampaikan oleh penulis di seminar “Relevansi Gagasan, Pemikiran dan Perjuangan Kartini”
di PSW Unika Soegijapranata pada 19 April 2013.

Tim Konde.co

Tim Konde.co

Konde.co lahir pada 8 Maret 2016 untuk mengelola ruang publik dari sudut pandang perempuan dan minoritas sebagai bagian dari kesadaran dan daya kritis, menghadirkan penerbitan artikel di website, produksi video/ film, dan informasi/ pengetahuan publik. Kini dikelola oleh individu-individu yang mempunyai kesamaan dalam memandang perempuan dan minoritas.

Let's share!

Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin
Share on whatsapp
Share on email