Kartini Sang Penyebar Obor Keberanian

Edisi Kartini: khusus untuk edisi minggu ini (18-23 April 2016), kami akan menuliskan ide-ide perjuangan Kartini dan perjuangan yang dilakukan para perempuan di masa sekarang. Kami melakukan wawancara terhadap sejumlah perempuan yang selama ini jauh dari hingar-bingar, tidak terendus media dan memilih dekat dengan masyarakat marjinal. Kami juga menuliskan soal ide-ide dan perjuangan Kartini di masa sekarang, diskriminasi,kekerasan, stereotype yang dialami perempuan dan  perjuangan mereka di masa kini. (Redaksi)



Potret studio R.A. Kartini kecil dengan orangtua dan saudara-saudaranya. (foto 1890-an).

*Edy Susanto – www.konde.co

Bangsa Indonesia bangsa yang besar
dan kaya, dengan kelimpahan aneka kekayaan alam yang terkandung di dalamnya. Tetapi
meruah juga beragam produk peradaban, seni budaya dan juga kisah juang anak
bangsanya. Tidak kurang dan selalu ada teladannya tersendiri yang agung dan
cemerlang mengisi ruang, terutama bagi kaum perempuan.

Kaum yang terpinggirkan eksistensinya
bahkan terkesan di belakangkan sehingga menjadi terbelakang. Hanya karena konstruksi
budaya menganggapnya lemah dan penghibur kehidupan domestik. Pemuliaan terhadap
kecantikan dan keanggunannya menjadikannya seolah-olah bagaikan burung yang
hidup di dalam sangkar. Puja – pujian bak dewi atau bidadari hanyalah kamuflase
karena sebenarnya perempuan tidak diperkenankan memiliki otoritas atas dirinya sendiri.

Demikian pula Perdebatan tentang Kartini
terus berhembus, termasuk peringatan hari kelahirannya setiap tahunnya. Sebab
beberapa pihak menganggap ini menjadi bagian hal yang diskriminatif bagi
pejuang perempuan lainnya. Lalu kita membanding-bandingkan besarnya perjuangan
itu dari ukuran heroism yang berdarah, mengukur posisinya di dalam kekuasaan,
serta melihat seberapa besar dobrakan yang telah dilakukan oleh perempuan
seperti laiknya yang telah dilakukan oleh laki – laki . Ini menunjukkan bahwa kita
terjebak pada bias kelaki – lakian, karena kita hanya melihat kulit luarnya
saja tanpa memahami lebih dalam.

Apabila bicara tentang kekuasaan sebelum
kolonialisme Belanda bercokol di tanah air, kita telah merekam baik-baik bagaimana
peran dari seorang Ratu Kalinyamat. Ia tidak saja menuntut keadilan atas
kematian suaminya ,Arya Penangsang, tetapi juga penyusun strategi kekuatan
untuk menggempur penjajah Portugis. Ratu Kalinyamat memiliki posisi dan jaringan
kekuasaan luar biasa. Portugis telah menjulukinya sebagai
De Kranige Dame, seorang perempuan pemberani.

Kartini bersama suaminya, R.M.A.A.Singgih Djojo Adhiningrat (1903).

Lalu bagaimana dengan Kartini?
Kartini adalah anak perempuan yang terlahir dari selir dan menjadi selir dari suaminya.
Namun kondisi keterbatasan itu tidak menghentikan kegelisahannya untuk terus  berpikir agar tidak tidak terjebak di dalam tembok
saja.

Seorang perempuan dengan pengetahuan
dan kecerdasan di atas rata-rata kaumnya saat itu yang terjebak dalam kuatnya
budaya patriarki dan kuatnya kultur feodalisme. Bahkan kepada kakaknya
sekalipun komunikasi harus diatur dengan menggunakan Bahasa
krama inggil (jawa halus).  Dirinya pun terjebak dalam pernikahan poligami
yang telah meluluhkan cita-citanya untuk melanjutkan sekolah.

Tapi kedewasaan berpikir baru saja
bersumber dari sana. Ia tidak patah semangat. Surat-surat yang dikirimkan pada
sahabat-sahabatnya di Eropa sebagai transkrip pemikiran. Sedangkan upayanya
membujuk suami untuk mendirikan sekolah bagi kaumnya adalah siasat paling
cerdik, untuk mendobrak pengekangan itu dari dalam. Kartini bukan bom yang
merusak dan menghamburkan benda-benda di luar dirinya. Tapi ia menguatkan yang
di dalam untuk setara dengan yang di luar. Dengan keyakinan, kelak di luar
jamannya, kesetaraan itu tidak lagi menjadi mimpi belaka.

Sekolah Kartini (Kartinischool) di Buitenzorg, 1918

Kita patut berterima kasih pada
Abendanon, sebagai Menteri Kebudayaan, Agama, dan Kerajinan Hindia Belanda,
yang telah membukukan surat-surat Kartini. Kumpulan surat itu diberi nama
dengan metafora gagah,
Door Duisternis
tot Licht
(dari kegelapan menuju cahaya). Abendanon menitipkan harapan di
dalamnya,  bahwa ini bentuk upaya yang
telah dilakukan oleh seorang perempuan pribumi bernama Kartini. Buku itu (sama
seperti ketetapan Soekarno soal Hari Kartini) terus diperdebatkan. Sebuah
kebiasaan konyol seperti yang dikatakan oleh Tan Malaka sebagai Demogogis,
senang berbantah-bantah.

Upaya kartini itu, oleh sebagian orang
yang terperangkap pemikiran dogmatis (tanpa menyelami kekartinian) dikatakan
berbahaya, ketika dalam salah satu suratnya pada nyonya Abendanon dikatakan,
”Sepanjang hemat kami, agama yang paling indah dan paling suci ialah kasih
sayang. Dan untuk dapat hidup menurut perintah luhur ini, haruskah seorang
mutlak menjadi Kristen? Orang Buddha, Brahma, Yahudi, Islam, bahkan orang kafir
pun dapat hidup dengan kasih sayang yang murni.” Pemikiran semacam ini dinilai
terlalu kritis, ketika dulu maupun sekarang orang-orang sedang bergulat dengan
pemurnian agama. Ini harusnya menjadi teladan bagi kita saat ini dan
menggetarkan hati kita.

Perempuan pingitan itu memiliki
pemikiran yang telah melampaui jamannya. Ia obor yang terperangkap dalam tembok
saat kegelapan merajalela. Seperti ketika ia memberikan masukan pada Haji Soleh,
guru ngajinya, perihal penafsiran Quran dalam Bahasa Jawa. Orang saleh bernama
Soleh itu tertegun dan hanya bisa mengucapkan tasbih karena takjub. Setelah itu
ia mulai bekerja keras menafsirkannya, ayat demi ayat, juz demi juz, persis
seperti yang diminta oleh Kartini.

Kita berhutang begitu besar pada
sosok seperti Kartini. Jika kemudian hal itu dikaitkan dengan idiologi
feminismenya akibat kesediaannya dipoligami, itu lain persoalan. Dan ini
menyulut perdebatan konyol lain yang melupakan konteks kesejarahan saat itu.
Jangankan untuk menolak pernikahan, untuk sejajar dengan saudara laki-lakinya saja
dengan menggunakan bahasa
Jawa Ngoko
saja, sudah dianggap
amoral. Apakah
mungkin Kartini meniru Ratu Kalinyamat saat posisinya begitu lemah? Ia bisa
saja menjadi bom, meledakkan diri sendiri dan segala sesuatu di sekitarnya, sehingga
meluluh lantahkan apa yang menjadi cita-cita luhurnya.

Inilah pentingnya memaknai peran
Kartini dari dalam. Saat terjebak pada budaya patriarki yang kokoh, Kartini
mencari celah. Ia mungkin sudah tak bisa diselamatkan, ia masuk dan tunduk pada
 dibawah dominasi laki-laki. Tetapi Kartini
tetap memikirkan kaumnya, para perempuan yang jauh lebih menderita. Maka dengan
segala daya yang dimiliki oleh seorang selir. Kartini mendirikan sekolah perempuan
dengan membagikan obor yang selama ini tersimpan di dalam tembok. Dan ia tidak
memiliki kepentingan apa-apa untuk dirinya selain untuk kemajuan perempuan.

Maka pemaknaan teladan Kartini memang
sanggat penting untuk era potmodernisme saat ini, yang mana diskriminasi
terhadap perempuan harusnya sudah tidak terjadi lagi saat ini. Sebab perempuan
juga berperan dalam perubahan bangsa ini untuk lebih maju.

*) penulis adalah mahasiswa Pasca Fakultas Hukum Universitas Gajah Mada Yogyakarta



(sumber foto : https://id.wikipedia.org/wiki/Kartini)

Tim Konde.co

Tim Konde.co

Konde.co lahir pada 8 Maret 2016 untuk mengelola ruang publik dari sudut pandang perempuan dan minoritas sebagai bagian dari kesadaran dan daya kritis, menghadirkan penerbitan artikel di website, produksi video/ film, dan informasi/ pengetahuan publik. Kini dikelola oleh individu-individu yang mempunyai kesamaan dalam memandang perempuan dan minoritas.

Let's share!

Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin
Share on whatsapp
Share on email