Perempuan Wirausaha bisa berburu modal secara online

Sica Harum  -www.konde.co-

Di kalangan pebisnis, ada ungkapan “cash flow is the king”. Artinya, sebesar apapun nilai pendapatan
tak akan bisa memutar roda bisnis apabila belum terbayar. Shinta Vidhyawati,
pemilik jasa desain grafis tahu betul bagaimana ia harus lincah mengatur cash flow demi menghidupi dan
mengembangkan bisnisnya.

Soft Launching Investree di Jakarta, Selasa (30/5) menghadirkan Peneliti Eksekutif Senior Departemen Pengembangan Kebijakan Strategis OJK Hendrik Passagi (kiri), Deputi Akses Permodalan non Bank Badan ekonomi Kreatif Hanifah  dan Adrian Asharyanto Gunadi, Co-founder dan Chairman Investree. 

Bisnis utama Shinta menyediakan jasa pembuatan laporan
tahunan (annual report). Pasarnya
ialah perusahaan-perusahaan perusahaan publik (tbk) yang memang punya kewajiban
tersebut. Menurut Shinta, ia sibuk memasarkan jasa sekitar Oktober –November.

 “Biasanya
kita sudah dapat pesanan sekitar bulan Januari. Nah bulan Februari-April lah
bulan-bulan butuh modal banyak,” cerita Shinta di Jakarta, Selasa (30/5).  

Shinta bertanggungjawab atas lima karyawan tetap. Saat
proyek berdatangan ia bekerja sama dengan sejumlah freelancer. Totalnya bisa
lebih dari 10 orang. Semakin banyak pekerjaan yang ia dapat, semakin bertambah
pekerja yang harus digaji.

“Saat mengerjakan project, butuh modal tidak
sedikit. Kita harus bayar gaji, bayar operasional termasuk ongkos meeting ke
sana ke mari, kan. Itu besar.”

Sementara, perusahaan yang menjadi klien Shinta punya
mekanisme pembayaran yang berbeda-beda. Ada yang 100% lunas setelah pekerjaan
selesai. Ada yang mau membayar uang muka 20-30%.

Padahal proyek pengerjaan
buku laporan tahunan perusahaan itu tidak sebentar. Bisa memakan waktu lebih dari satu bulan.

“Dulu-dulu saya cari pinjaman ke kenalan, ke saudara, ke kakak ipar,
demi memodali project,” katanya lalu tertawa.

Meminjam ke teman atau kerabat memang jadi solusi cepat saat kepepet. Tapi biasanya tidak bisa
sekaligus mendapatkan jumlah yang besar sesuai kebutuhan. Artinya, pebisnis
bisa menghabiskan waktu panjang demi mendapatkan modal dan mengganggu
konsentrasi pekerjaan. Pun biasanya, term-in pembayaran juga tidak bisa dicicil.

Sementara untuk meminjam ke bank yang menawarkan jumlah lebih
banyak dan program cicilan tidaklah mudah. Terutama bagi mereka yang berbisnis
jasa di bidang ekonomi kreatif. Desainer grafis atau penulis, misalnya,
bermodalkan laptop dan bisa bekerja di ruang kecil di rumah kontrakan. Tak ada
yang bisa diagunkan ke bank meski sudah pegang kontrak project dari perusahaan
ternama.

Hanifah, Deputi Akses Permodalan non Bank Badan Ekonomi Kreatif
membenarkan hal tersebut.

“Ada animator Indonesia yang sudah pegang kontrak
kerja dengan perusahaan di Hollywood dan Korea. Tapi mereka enggak bisa pakai
itu untuk pinjaman di Bank. Enggak laku. Sebab bank minta aset fisik sebagai
agunan. Sementara aset mereka itu ya di sini,” katanya sambil menunjuk kepala
sendiri.

Menurut Hanifah, ada 16 sektor ekonomi kreatif yang belum
semuanya mendapat akses pemodalan. Lalu apa solusinya?


Keuangan inklusif

Hendrikus Passagi, Peneliti Eksekutif Senior Departemen
Pengembangan Kebijakan Strategis OJK menyebutkan, dari sekitar 60 juta UMKM di
Indonesia, baru 11 juta yang mendapatan akses pemodalan konvensional melalui
gelontoran kredit bank. Itupun, 60% diantaranya berada di Pulau Jawa.

“Makanya kami dorong terus keuangan inklusif agar lebih
banyak lagi yang mendapatkan modal,”katanya pada soft launching Investree, di
Jakarta, Selasa (30/5).

Investree yang merupakan pionir layanan pinjam-meminjam
online di Indonesia, disebut Hendrikus, dapat mendorong keuangan inklusif yang
dibutuhkan.

Kebijakan keuangan inklusif, secara sederhana bisa
dijelaskan sebagai layanan keuangan yang ditujukan kepada mereka yang tidak
bank-able (seperti pebisnis dengan asset kreativitas/non fisik), dan utamanya ialah
kepada kelompok masyarakat “in the bottom of the pyramid” seperti masyarakat
yang berpenghasilan rendah dan tidak teratur, tinggal di daerah terpencil,
orang cacat, buruh yang tidak punya dokumentasi identitas legal serta
masyarakat pinggiran yang umumnya unbanked.

Grameen Bank yang didirikan Muhammad Yunus merupakan contoh fenomenal penerapan
keuangan inklusif.

Umumnya, keuangan inklusif melibatkan aspek lain untuk
membangun ekosistem wirausaha yang lebih sehat. Selain diberikan modal,
kapasitas si peminjam juga ikut ditingkatkan. Misalnya dengan memberikan
pelatihan keterampilan, manajemen bisnis sederhana, hingga dibantu
pemasarannya.

Apabila ini berhasil, maka ketimpangan pendapatan masyarakat
bisa diatasi. Gap antara si kaya dan si miskin tidak lagi terlalu jauh. Saat
ini, geni ratio di Indonesia, utamanya di kota besar mencapai 0,47. Artinya,
kekayaan 1 orang di tempat itu sama dengan total kekayaan 47 orang di tempat
yang sama.

Keuangan inklusif, lanjut Hendrikus, berkontribusi pada
upaya menurunkan kesenjangan tersebut. Pendekatan teknologi bisa menjadi salah
satu alat mendorong keuangan inklusif lebih cepat.

“Secara tegas saya sampaikan
belum ada aturan hukum yang mengatur pendekatan semacam ini. Tapi OJK memang
mendorong keuangan inklusif dan akan terus mengawasi dengan memperhatikan
hal-hal seperti sistem yang make sense, publik betul-betul paham, serta
aplikasi yang sederhana,” lanjut Hendrikus.

Peer to Peer Lending
(P2PL)

Dengan tagline “Semua Tumbuh Bersama”, Investree dimaksudkan
dapat menjadi wadah (marketplace) tempat bertemunya peminjam (borrower) dan
pemodal (lender), sehingga keduanya bisa tumbuh bersama. Borrower yang meminjam
modal bisa tumbuh bisnisnya, dan lender yang meminjamkan bisa tumbuh uangnya.  

Dengan skema peer to peer lending (P2PL),  Investree memang semata mempertemukan borrower
dan lender.

 “Kami ingin investree bisa jadi solusi untuk pendanaan yang lebih
praktis, cepat sekaligus terpercaya,” kata Adrian Asharyanto Gunadi, Co-Founder dan
Chairman Investree.

Bagi borrower yang membutuhkan modal bisnis, syaratnya
relatif mudah. Tidak perlu aset fisik sebagai agunan, tapi bisa mengandalkan
invoice yang sudah diterbitkan dan diajukan ke klien.

“Karena kalau sudah ada invoice,
berarti pekerjaan sudah selesai dan memang sudah akan dibayar,” jelas Adrian.

Biasanya pembayaran invoice dilakukan oleh klien dalam tempo 14 -30
hari kalender. Jika belum ada pembayaran pada tanggal-tanggal pebisnis harus menggaji
karyawan, maka pebisnis bisa kelimpungan karena mungkin sudah kehabisan modal. Sementara,
jika invoice itu dijadikan “agunan” melalui Investree, pebisnis berkemungkinan dapat
memperoleh dana segar yang bisa digunakan lebih dahulu.

Pada platform Investree yang saat ini bisa diakses di
investree.id, pebisnis dapat menuliskan project apa yang sudah ia kerjakan dan dalam tahap menagih invoice, sehingga keterangan itu dapat dibaca oleh calon lender.
 Sebelum dipublikasikan di website, pihak Investree yang akan menganalisis kebenaran dan tingkat risiko pembiayaan. “Tentu
saja kami yang akan melakukan verifikasi, bahkan survey dan tatap muka. Pihak
kami juga akan melalukan pengecekan diam-diam untuk memastikan bahwa invoice
yang diajukan sebagai jaminan memang benar dan belum digunakan sebagai agunan
di tempat lain (double financing).
Dalam kontrak, kami mencantumkan hal-hal terkait double financing tersebut untuk memastikan keamaan para lender,”
jelas Adrian.

Ia menambahkan, invoice yang diterima sebagai agunan ialah
invoice pekerjaan dengan klien perusahaan ternama dan BUMN. Sementara untuk
borrower disyaratkan berbadan hukum (PT).

“Tapi sebetulnya, terbuka kemungkinan
untuk bisnis yang masih CV asalkan memang ia punya project dengan perusahaan
besar dan terpercaya,” lanjut Adrian.

Adapun jenis bisnis yang bisa didanai sangat beragam, mulai
dari pekerjaan konstruksi hingga pekerjaan jasa desain dan distribusi film.

Selanjutnya, jika permohonan peminjam modal sudah
diverifikasi Investree, maka penawaran borrower
bisa dibaca para calon lender di
website. Bahkan, jika sebelumnya borrower
pernah mencari modal di Investree dan telat membayar, maka lender bisa mengetahuinya.

Nah,  apabila lender berminat memodali, maka ia bisa
meminjamkan modal sesuai paket yang ada, misalnya Rp5 juta atau Rp10 juta, atau
lebih. Jadi, bisa saja kebutuhan pebisnis dimodali oleh lebih dari 10 lender, misalnya.
 Dana itu umumnya dapat dikembalikan
dalam waktu 40-50 hari kalender.

Untuk lender, bagi
hasil yang dijanjikan mulai dari 14-20% per tahun, sesuai dengan tingkat
risiko. Semakin risikonya tinggi, semakin besar bagi hasil yang dijanjikan. Dari
sisi bagi hasil yang dijanjikan, ini dapat menjadi pilihan investasi lebih
menarik ketimbang deposito, misalnya.

Selain dapat meminjamkan dana kepada pebisnis, lender juga dapat
meminjamkan dana kepada karyawan perusahaan melalui program employee loan.  

Sampai saat ini, setelah 6 bulan beroperasi, Investree sudah
menjadi wadah bagi terdanainya 26 pinjaman dengan nilai total Rp6,5 milyar dengan
dana tersedia relatif cepat,  rata-rata dalam
waktu 5 hari. Sejauh ini, 13 pinjaman sudah lunas terbayar dengan total Rp2,9
milyar. “Alhamdulillah tidak ada yang gagal bayar,” tegas Adrian. 

Tim Konde.co

Tim Konde.co

Konde.co lahir pada 8 Maret 2016 untuk mengelola ruang publik dari sudut pandang perempuan dan minoritas sebagai bagian dari kesadaran dan daya kritis, menghadirkan penerbitan artikel di website, produksi video/ film, dan informasi/ pengetahuan publik. Kini dikelola oleh individu-individu yang mempunyai kesamaan dalam memandang perempuan dan minoritas.

Let's share!

Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin
Share on whatsapp
Share on email