Perempuan, Kutunjukkan Padamu tentang Sebuah Kota yang Dihuni Para Pemuja, Membabi Buta!

*Khamid Istakhoiri-
www.konde.co

Saya berada di tempat yang sangat jauh, sehingga tertinggal
berita tentang bagaimana buldozer dan alat berat itu menghajar
pemukiman-pemukiman manusia di Jakarta. Pemukiman yang dihuni ratusan atau
ribuan manusia bertahun lamanya, beranak pinak dan berkehidupan sebagai
manusia. Ada banyak perempuan dan anak-anak disana, yang menderita karena
hantaman buldozer itu. Lari tunggang langggang kemana-mana, mendirikan tenda, mencari
rumah baru untuk berteduh.

Saya, hari ini ingin menuliskan satu kata tentang mereka
dengan kata hebat : MANUSIA DAN PEREMPUAN MISKIN YANG HIDUP TERTINDAS!

Potongan-potongan puzzle itu, berkelabatan begitu saja dalam hitungan menit
bahkan detik berkelebatan dengan ribuan slide. Potongan pertama yang muncul dan
muncul berulang-ulang adalah protes sekumpulan kelas menengah muda. Yang saya
dapatkan di kereta, di obrolan di kedai kopi, di sepanjang jalan. Anak-anak
muda ini belum terlalu kaya, atau sebenarnya miskin juga. 

Dalam tayangan berkali-kali, saya memperhatikan betapa mulut
mereka comel tak karuan ketika hak mereka menaiki kereta cepat terganggu. Sebut
saja kereta macet karena gangguan arus listrik, atau kereta terpaksa berhenti
karena diujung rel sana di sebuah stasiun ada yang longsor, atau sebut saja
tumpukan antrian kereta di Manggarai berlebih sehingga keretanya tertahan di
Stasiun Cawang. Atau yang terakhir, mandek berhenti sejenak karena adanya
penggusuran yang membuat lalu lintas jadi tertahan.

Mulut mereka comelnya minta ampun. Sembarang hal mereka caci maki. Ribuan
bahkan jutaan hastag, tanda pagar mereka kumandangkan. Cuit-cuitan marah mereka
unjukkan, komen-komen pedas mereka unggahkan di beranda fesbuk mereka. Lalu,
petisi dan sosial media yang mereka kuasai dalam hitungan detik. 

Saya, akhirnya berkesimpulan bahwa kemarahan itu, kemarahan
mereka, kegelisahan mereka dan luapan caci maki mereka bukan karena peristiwa
atau kasus-kasus yang terjadi. Kesimpulan saya saat ini, dan ini mendekati
final: kemarahan mereka, para kelas menengah ini yang terutama karena
kepentingan dan “hak” mereka terganggu. Terampas. Terjagal. Kenyamanan mereka
hilang. Itu saja. Entah peduli setan siapa penyebabnya, mereka gak mau tahu!

Kembali ke Bukit Duri, sebuah kawasan yang saya sangat akrabi. Kisaran beberapa
tahun sangat lampau,saya rajin mengunjungi tempat itu karena urusan kerjaan
–lebih tepatnya jadi kuli—yang membuat saya banyak berinteraksi dengan warga
disana. Ada banyak dimensi disana yang muncul menghiasi seliweran berita tak
berimbang di media-media.

Dimensi pertama adalah apa yang dimunculkan berita media bahwa Ahok, Sang
Gubernur yang ambisius ini, mewakili para majikan dan kaum pemodal,
berkali-kali menyatakan bahwa Jakarta harus bebas banjir-banjir-banjir!

Entah apapun alasannya, maka caranya cuma satu : gusur
rumah-rumah si miskin di bantaran kali. Gusur perempuan dan anak-anak tak
berdaya. Gusur mereka semua. Tak peduli berapapun harganya, tak peduli siapapun
korbannya, tak peduli siapapun penantangnya, tak peduli bagaimana anak-anak disana
akan sekolah. Yang penting cuma satu : banjir, maka harus digusur.

Bukankah status hukum belum jelas?. Proses di Pengadilan juga belum usai? TAK
PEDULI. Sebab para majikan tak bisa menunggu. Para pemodal tak mau terlalu lama
kena delay. Gusur! Ini, persis dengan cara-cara Soeharto menghadapi para
pengkritiknya. Sikat duluan, bunuh duluan, gebuk duluan, urusan belakangan!
Demikian Ahok telah menjelma menjadi Soeharto Kecil. Seolah muncul sebagai
pahlawan bagi kelas menengah yang sibuk berkicau tentang banjir di tagar-tagar
sosial media. Seolah menjawab bahwa komunikasi politik ini hanya ditujukan
untuk memenuhi kebutuhan kelas menengah penghuni sosial media. Cara baru dalam
melakukan diplomasi politik kelas menengah. Bahaya. Inilah pembodohan politik
yang luar biasa.

Dimensi kedua yang lainnya, tak banyak muncul ke permukaan media mainstream
sebab –kita tahu—itu menganggu para bos media, para owner televisi swasta, para
pemegang saham-saham media prestisius. Padahal, di lokasi penggusuran, puluhan
kamera, mobil satelit awak media, berjajar disana. Puluhan orang mereka
wawancarai. Tapi tetap saja, tayangan dan persepktif media hanya mengikuti
selera para makelar. Sering, berkali-kali dan terlalu sering kita mendengar
keluhan wartawan muda nan idealis itu curhat mengenai kelakuan para bos mereka!
Men-sensor semua berita kritis dengan perspektif tajam. Hanya menampilkan
berita yang disukai bos pemilik partai politik dan penyokong gubernur sang
penggusur.

Kesimpulan mereka hanya satu : Penggusuran harus dilegalkan, dan media adalah
ujung tombak propaganda. Ini nyambung, sebab kemudian dalam tataran media
sosial, penguasaan dimiliki kelas menengah para pemuja gelap mata atas nama
ilusi pembangunan, Jakarta tidak banjir, Jakarta tidak macet. Para penghuni
rumah gusuran di bantaran kali, anak-anak SD yang nangis, perempuan yang
meratap karena rumahnya hilang, mana sempat mereka bermain #hastag tanda pagar.
Hidup sudah terlalu berat buat mereka untuk sekedar bercuit-cuitan!

Ah, akhirnya…..Saya harus menerima saran berpuluh kawan untuk “bersabar”.
Kembali kepada akar masalah. Kembali pada sebuah keyakinan bahwa untuk melawan
–sekali lagi melawan—kelaliman penguasa itu, kita harus menurunkan ego
kemarahan kita.

Kata kuncinya adalah : mendidik kembali mereka yang tergusur. Mendidik kembali
mereka yang terhina. Menguatkan kembali anak-anak dan perempuan yang lapar
dengan sebaik-sebaiknya pemahaman. Tanpa itu, niscaya kegagalan kita sudah
tampak didepan mata. Tanpa mengajarkan kembali sebaik-baiknya perlawanan yang
berbasiskan pada kekuatan si tertindas, adalah pengingkaran atas hakikat
perlawanan itu sendiri.

Sebab, perlawanan sejati adalah yang digerakkan oleh para
korban, para perempuan yang berjuang, anak-anak yang harus memahami keadaan
secara cepat, kuli-kuli bangunan yang tak boleh meratap. Bukan oleh para
peneliti, para pelaku survey, anak-anak muda pemangku hastag, para pemilik
media dan gubernur sang penggusur.

Lalu bagaimana dengan kaum muda kelas menengah nan ngehek itu?. Cepat atau
lambat, mereka akan sampai pada titik tertentu ketika mereka kelak menjadi
korban dan terampas haknya. … entah dimana mereka akan terampas haknya.
Meskipun, kita tak sepenuhnya berharap mereka akan berubah menjadi ada dipihak
kita sebab teraniaya. Kecuali sebagian kecil saja yang rela bunuh diri dalam
kelasnya.

Bagi para pemuja, membabi buta adalah pasal wajib yang harus mereka lakukan
demi sebuah kota yang “indah” meskipun itu berdiri diatas air mata duka jutaan
orang, meskipun itu berada diatas tetesan darah kaum miskin.

Di Bukit Duri, di Kalijodo, di Kompleks Dolly Surabaya, sikap kita tetaplah
sama : menolak penggusuran dan pengusiran atas nama pembangunan. Meskipun kita
tahu, media tak pernah punya slot untuk kita!

Bukit Duri. Salamku untukmu. Untuk para perempuan dan anak-anak teraniaya disana!.
Mewakili kegundahan dan kemarahan yang amat sangat ini!. Penguasa lalim harus
tetap kita lawan, meskipun kita harus bersabar entah berapa tahun lamanya
menunggu bibit-bibit itu bertumbuh kembali.

Sebuah kota yang jauh, 30 September 2016



*Khamid Istakhoiri, aktivis buruh SERBUK di Karawang,
Jawa Barat dan pengurus Konfederasi Persatuan Buruh Indonesia (KPBI). Sudah 20
tahun ini bekerja di jaringan nasional buruh dan melakukan advokasi pada buruh
di Indonesia.

Tim Konde.co

Tim Konde.co

Konde.co lahir pada 8 Maret 2016 untuk mengelola ruang publik dari sudut pandang perempuan dan minoritas sebagai bagian dari kesadaran dan daya kritis, menghadirkan penerbitan artikel di website, produksi video/ film, dan informasi/ pengetahuan publik. Kini dikelola oleh individu-individu yang mempunyai kesamaan dalam memandang perempuan dan minoritas.

Let's share!

Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin
Share on whatsapp
Share on email