Wiji Thukul dan Sipon, Aku Ingin Kamu Selalu Ada

Istirahatlah kata kata

Jangan menyembur –
nyembur orang bisu

Kembalilah ke dalam rahim

Segala tangis dan kebusukan dalam sunyi
yang mengiris

Tempat orang orang mengingkari

Menahan ucapannya sendiri

(12 Agustus
1988)

Melly Setyawati – www.konde.co

Lahir dari
generasi yang berbeda dengan Wiji Thukul  memang berhasil menumbuhkan keingintahuan lebih
banyak, mengapa beliau harus bersembunyi? Apalagi Wiji Thukul berlatar belakang
dari kalangan rakyat biasa yang termarjinalkan, rumahnya bukan termasuk dalam
kawasan elite di Solo begitupula status sosialnya, bapaknya bekerja sebagai
seorang tukang becak. Lalu mengapa ada pihak yang ketakutan sehingga harus
menghilangkannya?

Pertanyaan –
pertanyaan itu muncul menjadi sebuah misteri yang belum berhasil terbongkar
oleh kita hingga sekarang.

Berhasil Menghadirkan kembali Wiji Thukul.

Pada 19
Januari 2017 lalu Cinema XXI telah
memutar sebuah film tentang Wiji Thukul yang berjudul Istirahatlah Kata – Kata  di
19 kota. Judul film memang diadopsi
dari judul puisi Wiji Thukul tersebut. Hingga saat ini, penontonnya telah
mencapai lebih dari 50 ribu.

Adalah Gunawan
Maryanto yang memerankan sosok Wiji Thukul. Gunawan telah berhasil menggiring
penonton untuk mengenal sosok Wiji Thukul yang senantiasa gelisah, berani, romantis
dan kocak. Kegelisahannya terlihat saat dirinya tidak bisa tidur hingga tiga
hari di rumah persembunyian. Dia hanya termenung duduk di atas kasur lantai
dalam diam.

Sebagai
manusia biasa, Wiji Thukul juga memendam kerinduan pada keluarga tercinta. Ada
keromantisan Wiji Thukul dengan cara yang unik. Yakni saat Wiji Thukul
memberikan sebuah rok mini kepada istrinya, Sipon (Marissa Anita). Dia
mendapatkannya dari pasar yang khusus menjual pakaian bekas di Pontianak. Iya,
Pontianak adalah kota persembunyiannya.

Wiji Thukul
juga memiliki kekhawatiran kalau sewaktu – waktu identitasnya bisa terbongkar
dan tempat persembunyiannya terkuak. Dia sudah mempersiapkannya dengan nama
samaran “Paul”. Bahkan kawan – kawan terdekatnya saat itu, Martin, juga siap
memberikan perlindungan.

Wiji Thukul Bukan Tokoh Dongeng tetapi
Pejuang

Sosok Wiji
Thukul memang telah melegenda. Kegigihannya melakukan perlawanan terhadap
ketidakadilan tanpa kekerasan, telah menunjukkan bahwa kata – kata juga bisa
menjadi senjata.

Kemunculan film
ini untuk mematahkan dongeng perlawanan bahwa konon ada sosok seorang Wiji Thukul
yang melawan dengan kata – kata. Iya, kita nyaris terbuai arus lupa. Dan film
ini untuk mengingatkan kita kembali.

Wiji Thukul berhasil
menakut – nakuti rezim yang berkuasa saat itu. Entah itu adalah pemerintah, pengusaha
atau militer. Ada pihak yang terganggu kemapanannya oleh kata – kata Wiji
Thukul.

Sebab Wiji
Thukul mampu merangkai kata – kata tentang kondisi yang dibutakan oleh negara,
agar kita.. iya kita… aku dan kamu – kamu saat itu merasa bahwa kondisinya
sedang baik – baik saja. Padahal telah terjadi eksploitasi buruh di pabrik
terbesar se Asia Tenggara yakni Sritex, penyerobotan lahan warga yang
mengatasnamakan pembangunan, pembunuhan dengan dalih penertiban dan masih
banyak lagi.

Wiji Thukul
itu berbahaya karena bisa membuka  mata hati
kita untuk merasakan bahwa ada ketimpangan dan ketidakadilan yang dilahirkan
oleh rezim.

Aku
Pengen Kowe Ono

Sisi manusiawi
Wiji Thukul ditunjukkan dalam film ini. Bahwa dia memendam kerinduan, rindu
bertemu dan berkumpul bersama istri serta anak-anaknya. Seperti kehidupan keluarga
pada umumnya.

Sipon juga merasakan rindu yang serupa sebab Sipon sendirian harus menghadapi tekanan lingkungan sosialnya, dengan stigma perempuan
jawa yang ditinggal pergi oleh suaminya tanpa kabar berita bersama dua orang
anak yang masih belia. Ditambah pula represi dari aparat keamanan yang setiap
hari berada di dekat rumahnya.

Saat kerinduan
itu dilepas oleh Sipon, seorang tetangganya menyebutnya “lonte”. Sebab Sipon dan
Wiji Thukul bertemu di sebuah penginapan. Tetangga tidak mengetahui kalau Wiji
Thukul datang dari pelariannya.

Tekanan –
tekanan kerinduan Sipon lebih berat sebab Sipon sendiri masih menginginkan Wiji
Thukul tetap ada bersama – sama berjuang menghadapi ketertindasan hidup dan
membesarkan anak. Ini muncul dalam adegan scene
 terakhir, aku ora pengen kowe teko nanging aku ora pengen kowe lungo, aku mung
pengen kowe ono.

Begitupula dengan
kita, ingin sekali Wiji Thukul tetap ada yang senantiasa mengingatkan kita
bahwa ketidakadilan itu masih ada. Wiji Thukul dihilangkan sebulan sebelum
Soeharto mundur. Kita masih bisa terus mengingat. Apabila ada ketidakadilan
maka satu kata, “lawan”.

Tim Konde.co

Konde.co lahir pada 8 Maret 2016 untuk mengelola ruang publik dari sudut pandang perempuan dan minoritas sebagai bagian dari kesadaran dan daya kritis, menghadirkan penerbitan artikel di website, produksi video/ film, dan informasi/ pengetahuan publik. Kini dikelola oleh individu-individu yang mempunyai kesamaan dalam memandang perempuan dan minoritas.

Let's share!

Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin
Share on whatsapp
Share on email