Perempuan, Beranilah Mengambil Keputusan

Sica Harum – www.Konde.co

Persisnya begini.

Tepat pada tanggal 8
Maret 2017,  terjadi peristiwa kecil di hidup kami. Ada yang mengambil
keputusan sangat terlambat (melewati weekend) sehingga perubahan sangat
mendadak itu membuat saya jadi super enggak enak dengan tim yang sudah dekat ke
tempat rapat. Bukan sekadar mengganti jadwal meeting, tapi malah membatalkan
project. Inilah akibat terlambat mengambil keputusan.

Lambat mengambil
keputusan hingga detik-detik terakhir membuat semua orang jadi siaga pada
posisi yang tak pas. Berapa banyak energi dan pikiran terbuang sia-sia ketika
semua baru jelas di satu jam menjelang eksekusi?

Anyway, itu curhat.

Lalu apa hubungannya
dengan Hari Perempuan Internasional 8 Maret?

Saya menyukai tema
hari perempuan internasional kemarin: #BeBoldForChange 

Berani berubah.
Berani. Berubah. Ini mengandung makna “mendobrak”, sesuatu yang bisa saja
dilakukan secara ekstrim.

Ekspresi “Berani
Berubah” bisa macam-macam. Termasuk berani ambil keputusan dengan cepat, dengan
pertimbangan sematang mungkin. Kalau yang punya bisnis sendiri, kadang-kadang
malah mengambil keputusan dengan mengandalkan intuisi saja.

Sebab saat ini, issue
sesungguhnya ialah bukan membuat keputusan benar atau salah.  Tapi cepat.
Sebab ambil keputusan dengan lambat itu pasti ada banyak konsekuensinya.

Jadi, harus sigap dan
rela salah. Mengoreksi keputusan salah yang cepat diambil,  lebih mudah
dan murah, ketimbang sebaliknya.

Lalu, apa hubungannya
Hari Perempuan Internasional dan 24 Hour Auto Approved?  Bagaimana
menerapkan kebijakan ini dalam personal life, dalam kehidupan rumah tangga,
misalnya?

Walaupun ini tidak
dialami semua orang, namun ketika saya dulu menjadi perempuan single,
sepertinya saya bisa lebih cepat ambil keputusan. Ini hanya sekedar pengalaman
saya, tidak semua mengalaminya. Saya ingat dulu, semua keputusan yang saya
ambil setelah lepas kuliah, selalu diputuskan sendiri. Ke orang tua, sifatnya
FYI.

Namun banyak juga
teman perempuan yang masih single sulit mengambil keputusan, karena apapun, harus
diputuskan bersama keluarga. Mengenal cowok harus meminta pertimbangan
keluarga, mau sekolah kemana harus meminta pertimbangan keluarga. Beda dengan
laki-laki yang yang lebih bebas memutuskan apa maunya. Mungkin inilah yang
membuat perempuan kemudian harus bertanya pada semua orang untuk meminta
pertimbangan ketika memutuskan sesuatu. Akibatnya, banyak yang sulit untuk berani
 mengambil keputusan.

Sepertinya ini beda
dengan saya yang sejak kuliah sudah tidak tinggal satu kota dengan orangtua.

Apakah semua keputusan
yang saya ambil tepat?

Tentu saja tidak semua.
Banyak yang salah dan merugikan. Tapi kesalahan-kesalahan itu pada akhirnya malah
mendewasakan.

Bagaimana dengan rumah
tangga?

Saat menikah, mungkin
ada keputusan-keputusan yang harus diputuskan bersama. Lebih rumit, harus
detail, harus menerangkan ke banyak pihak biar semua mengerti, mau
berkomunikasi. Tapi, coba pikirkan, siapa yang sebetulnya mendominasi
pengambilan keputusan?

Apakah perempuan? Atau
lelaki?

Apakah #BeBoldForChange jadi mengharuskan perempuan ambil keputusan strategis
di keluarga?

Untuk banyak
keputusan, sayalah yang mengambil keputusan.

Tapi, yang penting,
tidak ada yang merasa harus mendominasi.

Tidak harus: MENUNGGU
SI MAS..

Dan ketika keputusan
dibuat, tidak ada yang menyalahkan saat keputusan itu terasa salah di kemudian
hari.

Mungkin 24Hour Auto
Approved itu bisa diterapkan dalam kehidupan rumah tangga juga.  Dalam 24
jam enggak ada respons, harus berani ambil keputusan sendiri.  Dan tidak
boleh disalahkan. Tidak boleh diungkit-ungkit.

Begitu juga dengan
personal life.

Banyak hal tertunda
karena kita menunda mengambil keputusan. Dan keputusan-keputusan yang belum
diputuskan itu bisa menggayut memberatkan langkah kita ke depan.  Ambil
keputusan. Putus keragu-raguan.

#BeBoldForChange. Perempuan, Berani Berubah. Berani Ambil Keputusan Sendiri.

Tim Konde.co

Tim Konde.co

Konde.co lahir pada 8 Maret 2016 untuk mengelola ruang publik dari sudut pandang perempuan dan minoritas sebagai bagian dari kesadaran dan daya kritis, menghadirkan penerbitan artikel di website, produksi video/ film, dan informasi/ pengetahuan publik. Kini dikelola oleh individu-individu yang mempunyai kesamaan dalam memandang perempuan dan minoritas.

Let's share!

Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin
Share on whatsapp
Share on email