Untuk Mereka yang Mengajarkan Kami tentang Pengampunan dan Spiritualitas

*Trias Yuliana Dewi- www.Konde.co

Aku kenal seorang anak. Hobinya bermain perang-perangan. Bukan perang macam Starwars atau Starship Troopers. Bukan perang bintang yang menggunakan pedang dan sepatu lampu menyala-menyala. Bukan perang yang laju kendali kau pegang dalam sebuah ruang dingin terang yang bisa terbang ke utara atau selatan sekejapan kedip mata. Bukan. Bukan yang seperti itu. Anak itu tidak hobi perang seperti itu.

Anak itu hobi bermain perang kerusuhan, karena ia sudah dijejali soal kebencian pada agama lain sejak ia masih bayi, juga tentang agamanya yang dianggap lebih hebat dari agama lain.

Ia, sebut saja namanya: baby X. 

Sesekali ia main perang dan berperang dengan teman-teman satu pengungsian, jika mulai bosan ia menunggu kapan akan dijemput. Kadang kala ia berperan menjadi seorang yang mengaku sebagai pejuang yang memiting kepala dan ketiak temannya yang tidak satu agama. Sesekali ia mencari pelepah pisang digunakannya serupa AK 47 bertempur melawan kelompok lain agama. Mau sesekali ia serupa angkatan bersenjata.

Baby X lalu menembak mati. Kadang membunuh pura-pura. Teman satu pengungsiannya tergelepar seperti ikan sepat habis kena serok satu kali ciduk.

“Baby X..!”

Kakek memanggil. Baby X harus mandi. Badannya penuh debu lapangan setelah habis ia berguling dalam perang kerusuhan.

Selepasnya kalau malam sudah mulai datang kasih gelap kembali. Ia harus rapat-rapat meringkuk di ketiak kakek. Baby X sebenarnya ketakutan. Tempat ibadah itu gelap. Baby X takut bukan pada gelap. Tapi pada suara ketika tidak ada lagi suara. Ia terkurung dan dilarang kakek keluar tempat ibadah. Sesekali Baby X beramai keluar tempat ibadah. Berlari dengan gerombolan anak lainnya menuju pohon ketapang, menurunkan celana, dan mengencingi pohon beramai-ramai. Sebuah tanda teritori. Ini wilayah kami. Kami anak sini.

Sesekali Baby X dan gerombolannya perlu menandai wilayah. Ia tidak ingin lagi kecolongan. Ada bom diledakkan di depan rumahnya. Berkali-kali begitu. Ia kemudian harus lari dan berdiam di tempat ibadah. Bukan untuk berdoa, namun untuk bersembunyi.

Setelahnya, gerombolan dan Baby X kembali ke tempat ibadah, mereka berlari kencang. Seperti tikus harus masuk lubang.

Baby X yang cengeng juga hobi berkelahi. Ia yang manja suka menempeleng. Ia terlalu banyak menonton kekerasan. Serupa opera dalam gedung teater rakyat. Terbuka dan tanpa sensor. Tidak dipungut bayaran dan tanpa membeli karcis.

Ada yang aneh. Ada yang aneh. Ini bukan sebuah cerita pendek. Baby X adalah anak Indonesia. Dua puluh sekian banyak tahun lalu. Baby X yang anak-anak, hampir mati ketakutan. Hanya karena ia beragama minoritas. Hanya karena ia menunduk dan menutup mata menderas berdoa.

Ia hampir mati tercekik habis napas karena ada kain menyumpal mulutnya. Mulut liarnya yang menangis menjerit akan membahayakan dirinya sendiri.

Ia beragama minoritas. Ia takut diteriaki kafir.

Kalimat yang mereka teriakkan bukan lagi menjadi puja dan puji. Tapi terdengar serupa seruan ancaman. Isi semesta ketakutan.

Baby X kecil hampir mati ketakutan. Kuberitahu: masa kecilku dan masa kecil kalian terlalu indah.

Baby X kecil hampir mati ketakutan.

Ia masih hampir mati ketakutan meski dia sudah pindah pengungsian. Aku tidak akan menyalahkan Baby X, jika saat kami pertama bertemu ia melirikku sinis bahkan meludahi. Aku juga tidak akan marah jika memang perlakuan dia akan paling beda ketika aku bertamu ke tempat ibadahnya.

Perlu kalian tahu: aku tinggal dengan teman teman-temanku yang berbeda agama. Dan di lingkunganku.  Tapi mereka menyayangiku lebih dari apapun dan siapapun. Aku diantar dan dijemput jika aku ingin beribadah dan bermain. Aku selalu dimasakkan sesuatu. Mereka mengecilkan suara ketika aku beribadah. Ketika musim kering dan tidak datang hujan, mereka menyisihkan air agar aku tetap bisa berdoa meski badan kami semua bau busuk tidak mandi. Mereka menemaniku menjalankan keyakinanku.

Dimanapun dan menjadi siapapun kamu, akan selalu ada yang menghantuimu. Meneriaki tidak beriman dan salah jalan. Meneriaki paling keliru dan tidak selamat.  Selalu akan ada yang berteriak paling kencang: kalian sesat. Kalian tidak suci. Kalian tidak akan pernah selamat.

Tapi bukan mereka yang berbeda dengan kita cara merapal doanya. Atau yang berbeda mengucap salam pada semesta. Monster itu tidak terlihat. Tidak memiliki nurani dan cinta kasih. Tidak memiliki justifikasi tidak bisa dipersonifikasi. Monster itu tidak terlihat. Masuk ke dalam sel-sel dan dinding pembuluh darah. Ia menjalar seperti hemlock yang begitu cepat mematikan otak. Ia menciptakan kebencian yang menyala-nyala dan membuat merasa paling benar.

Ia seperti serupa virus. Yang mengendap dalam darah manusia dengan antibodi lemah. Yang hati nurani dan kasihnya ia hemat-hemat berikan hanya pada yang mereka pilih.

Selalu ada yang seperti virus dan monster itu.

Tapi selalu ada juga penawar bagi setiap racun. Yang menakutkan bagi monster jahat: kasih.

Tapi aku, aku sampai sekarang masih mau akan menganggap monster itu hanya legenda masa lampau. Karena aku selalu dikelilingi manusia sehat tidak terinfeksi. Yang kasih dan cintanya begitu berlimpah tidak pernah berkesudahan. Yang mungkin sama isi kepalanya denganku, yang selalu yakin: Tuhan akan berhenti senang kalau kita menghemat-hemat kasih.

Mereka orang yang berteriak “kafir…kafir…” harus sesekali pergi makan malam denganku. Hidup dalam rumah yang kutinggali. Kami berdoa makan secara bersama-sama. Hidup dalam heterogenitas tidak menjadikanku pudar apalagi tercemar. Hidup dalam perbedaan dan keberagaman justru semakin menegaskan identitasku. Keyakinanku. Bukan dan tidak pernah menegasi.

Lagi-lagi, aku yakin Tuhanku penguasa semesta tidak akan marah jika kita berbagi sedikit kasih. Apalagi banyak. Baby X selalu mengajarkan kami, para perempuan untuk mengambil kasih dalam relasi kami, untuk menyelamatkan anak-anak yang menjadi korban dari sebuah konflik yang mengikutsertakan negara, manusia, keserakahan.

(Tulisan ini untuk Baby X,  yang mengajarkanku pengampunan dan kematangan spiritualitas)

*Trias Yuliana Dewi, seorang perempuan yang terlalu rumit dan membelok isi kepalanya, oleh karenanya lah ia menulis.

Tim Konde.co

Tim Konde.co

Konde.co lahir pada 8 Maret 2016 untuk mengelola ruang publik dari sudut pandang perempuan dan minoritas sebagai bagian dari kesadaran dan daya kritis, menghadirkan penerbitan artikel di website, produksi video/ film, dan informasi/ pengetahuan publik. Kini dikelola oleh individu-individu yang mempunyai kesamaan dalam memandang perempuan dan minoritas.

Let's share!

Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin
Share on whatsapp
Share on email