Menghapus Stigma Perempuan dalam Akun Instagram (1)

Luviana- www.Konde.co

Apakah anda pernah mengikuti akun instagram @masalahkitasemua. Akun ini sangat unik, menarik dan mempunyai perspektif sangat penting bagi manusia terutama untuk perempuan.

Dengan membaca akun ini, salah satu kawan saya misalnya merasakan bahwa beban hidupnya sedikit lepas, ia bisa memindahkannya ke pundak akun instagram @masalahkitasemua.

Kawan perempuan saya yang lain merasa, bahwa pilihan hidupnya tidak salah ketika ia memilih untuk melajang. Ini setelah ia membaca akun ini.

Begitulah dahsyatnya media. Jika dikelola dan disebarkan secara high perspektif, pasti ia akan mempunyai dampak dahsyat baik orang lain.

Lincoln Dalhberg, seorang ahli digital media menyebut ini sebagai media yang dapat memperkuat suara-suara alternatif dan termarjinalisasi dalam ajang kontestasi kekuasaan dan pembentukan diskursus. Ini artinya jaringan-jaringan media komunikasi digital memungkinkan membentuk partisipasi yang inklusif dalam aktivitas-aktivitas produktif, salah satunya dengan menyebarkan perspektif untuk publik.

Mengubah stereotype di media menjadi sebuah pekerjaan besar karena ini merupakan salah satu penyebaran untuk mengubah persepsi publik, dalam hal ini perempuan.

Pemikiran soal stereotype ini juga diperjuangkan oleh feminis Inge Broverman. Broverman menuliskan tentang hal-hal yang dilekatkan yang banyak merugikan perempuan, seperti laki-laki selalu dikonotasikan lebih unggul daripada perempuan. Hal ini diyakini ketika banyak dituliskan di buku bacaan, buku sekolah anak, mulai dari kita kecil. Perempuan selalu diidentifikasi sebagai pink dan laki-laki selalu biru. Perempuan senang menangis dan laki-laki tak boleh menangis.

Stereotype ini kemudian menyebar kemana-mana, melalui jejak-jejak di media massa, jejak pergaulan, dituliskan ulang selama berabad-abad dan sampailah kepada kita hari ini.

Sejumlah tulisan berperspektif yang ditulis akun IG @masalahkitasemua merupakan problem yang salah satunya dihadapi perempuan dan bagaimana mengubah stereotype ini.

Lihat saja posting berikut ini: IG @masalahkitasemua:

1. Percakapan sehari-hari

Di kantor : “Kamu ya yang jadi penerima tamu untuk acara kantor nanti, kamu kan masih single.”

Oh iya, hari ini kamu lembur ya, bisa kan? soalnya karyawan yang lain harus urus anaknya.”

Di rumah : “Win, kamu jaga mama dong, kembali ke sini, ngga usah la kerja di luar negeri, buat apa? Kamu kan belum nikah, nggak ada tanggungan, kamu yang bisa jagain mama.

2. Di bulan September 2018 akun ini juga pernah menuliskan soal pertanyaan yang sering ditujukan pada perempuan ketika mereka berjalan sendirian, misalnya pertanyaan dari masyarakat yang banyak ditujukan untuk perempuan seperti:

Kenapa merasa aneh kalau ketemu teman yang jalan-jalan sendirian ya? Lebih tepatnya merasa kasihan. Juga kepada teman yang udah lama terlihat single.

Akun ini menuliskan: kenapa sibuk sekali memikirkan hal yang bukan menjadi masalah bagi orang lain? Kan ada saatnya bagi seseorang untuk sendiri, lebih fokus, lebih bebas. Apalagi bagi yang trauma sehabis menjalani relasi yang buruk dengan pasangan. Apakah kebahagiaan hanya bisa dirasakan oleh orang yang berpasangan saja? Kalau begitu, kenapa lebih banyak bertebaran nasehat dan tips bertahan untuk orang yang menikah dibanding untuk yang hidup sendiri?

3. Tulisan lain yaitu soal stigma yang melekat pada perempuan. Perempuan sering mendapatkan stigma sebagai perempuan nakal:

Perempuan yang keluar malam = perempuan nakal . Perempuan merokok = perempuan nakal . Perempuan bertato = perempuan nakal . Perempuan pakai baju seksi = perempuan nakal .

Pertanyaannya, manakah di antara aktifitas perempuan di atas yang merugikan atau menyakiti orang lain? Kenapa dilabeli perempuan nakal? . Ya lord, dunia ini nggak bisa direstart ya <

4. Tulisan lain soal perdagangan anak atau menikahkan anak karena orangtua ingin mendapatkan keuntungan dari anaknya:

Melahirkan dan membesarkan anak kok itung-itungan. Ada yang serius melamar baik-baik dan sudah saling mencintai, malah disuruh bayar puluhan bahkan ratusan juta untuk mahar perkawinan. Memangnya gampang mendapatkan uang sebanyak itu bagi yang baru bekerja dan berusia di bawah 30 an? Ada orangtua yang sengaja menyekolahkan putrinya tinggi-tinggi agar maharnya besar. Dan malah mendidik anak perempuannya dari kecil agar kelak ketika menikah, bisa minta dibayar mahal oleh keluarga pengantin laki-laki. Mahar tersebut akan menjadi sebuah kebanggaan bagi orangtua dan bahan perbincangan yang hangat ketika berkumpul dengan perkumpulan materialistisnya. Ada-ada saja ya. Mimin turut prihatin untuk teman-teman mimin yang batal menikah karena tidak punya uang banyak. Semoga kalian menemukan jalan untuk bersama ya

5. Tulisan lain yaitu tentang perempuan janda:

Bagaimana perasaan orangtua ketika mengetahui anak laki-lakinya yang masih lajang berpacaran dengan seorang janda? Mungkin tidak sebaik perasaan orangtua yang mengetahui anak perempuannya yang berpacaran dengan seorang duda. Sepupu mimin sendiri yang mengalami hal ini saat minta restu orangtua dan dijawab, “Apa tidak ada pilihan lain nak?” . Sepertinya seorang janda tidak pantas dicintai laki-laki lajang. “Kamu takut dengan orangtuamu mas? Mundur kamu mas, jangan buang waktuku”.

Ika Ariyani adalah perempuan yang berada di balik aku ini. Ia adalah founder sekaligus pengelola akun ini sejak awal Mei 2018 lalu.

Ika dalam wawancaranya dengan www.Konde.co menyatakan bahwa ia membuat akun ini karena selama ini merasa banyak masalah di sekitar kita semua yang mendera orang berpikir secara tidak sehat dan tidak memberikan ruang yang lain terutama untuk perempuan.

“Semua postingan dalam akun @masalahkitasemua adalah masalah-masalah yang ada di sekitar kita yang saya harap akan segera berakhir. Saya sendiri amat menyayangkan orang-orang bahkan teman-teman dekat yang saya sayangi harus stress dan menderita hanya karena mengikuti stereotype tidak penting yang menyusahkan pikirannya, seperti desakan menikah, padahal sedang asyik-asyiknya menikmati hidup, bukankah menikah adalah pilihan atau selera, bukan kewajiban manusia, misalnya. Atau hal-hal seperti sebuah rumahtangga dimana keadaannya si istrilah yang mencari uang, sementara suaminya di rumah dan mereka baik-baik saja.”

Itulah sekelumit tentang akun @masalahkitasemua. Yang dilakukan ini merupakan upaya untuk menghapus jejak stereotype yang banyak kita baca di buku bacaan anak-anak sekolah, di lingkungan kita dan dalam kepala banyak orang.

Ika memilih menggunakan instagram karena selama ini banyak orang tak lagi membaca buku-buku dan koran dengan waktu lama seperti dulu, maka ia memilih menggunakan instagram agar menjangkau publik secara meluas.

Ingin tahu seperti apa selama ini Ika Ariyani mengelola akun Instagram @masalahkitasemua dan bagaimana publik menanggapinya? Simak selengkapnya wawancara pengelola Konde.co, Poedjiati Tan bersama Ika Ariyani, Selasa 2 September 2018 besok di www.konde.co (Bersambung)


(Foto: Instagram masalahkitasemua)

Tim Konde.co

Konde.co lahir pada 8 Maret 2016 untuk mengelola ruang publik dari sudut pandang perempuan dan minoritas sebagai bagian dari kesadaran dan daya kritis, menghadirkan penerbitan artikel di website, produksi video/ film, dan informasi/ pengetahuan publik. Kini dikelola oleh individu-individu yang mempunyai kesamaan dalam memandang perempuan dan minoritas.

Let's share!

Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin
Share on whatsapp
Share on email