Gerakan Golput: Memilih untuk Menjadi Oposisi terhadap Siapapun yang Memerintah

*Melly Setyawati- www.Konde.co

Gerakan Golongan Putih (Golput) di Indonesia sebelum pelaksanaan Pemilu dianggap sebagai sesuatu yang mengkuatirkan, karena gerakan ini memutuskan untuk tidak memilih dalam Pemilu. Di sosial media, kampanye tentang Golput juga ramai menjadi pembicaraan. Bahkan ada yang menganggap bahwa siapapun yang memilih menjadi Golput artinya dianggap tidak kritis dalam memilih.

Pasca Pemilu, sejumlah anak muda yang memilih untuk Golput dan tergabung dalam gerakan #SayaGolput menawarkan sejumlah pemikiran penting.

Gerakan #SayaGolput melihat bahwa Presiden Joko Widodo selaku petahana dianggap telah mewacanakan jalur politik identitas dan politik kebencian dengan penyebaran berita bohong atau hoax dan hanya sekedar untuk mengamankan kekuasaannya, antara lain dengan memilih Ma’ruf Amin tokoh yang selama ini terlibat dalam berbagai kebijakan diskriminatif untuk menjadi Wakil Presiden (Wapres).

Salah satu juru bicara Gerakan Golput, Lini Zurlia menyatakan bahwa maka itu, bukan tidak mungkin apabila arah politik yang diambil pemerintah jilid kedua ini akan semakin meminggirkan berbagai kelompok rentan dan kelompok minoritas.

“Bisa dipastikan, selama 5 tahun ke depan, tidak akan ada perubahan yang signifikan, mengingat gagalnya Jokowi merealisasikan janjinya sendiri di periode pertamanya.”

Dengan legitimasi baru yang ia peroleh dalam pemilu 2019 ini, #SayaGolput berkeyakinan kuat bahwa kepemimpinan Jokowi jilid II akan terus memperpanjang model politik oligarki yang dalam lima tahun terakhir ini telah mengakibatkan penindasan tak berujung terhadap rakyat lewat ideologi dan jargon pembangunan serta stabilitas ekonomi.

Konflik sumber daya alam juga dianggap tidak akan surut, sementara perampasan kemerdekaan berekspresi dan berkumpul akan terus mengancam kebebasan yang jadi basis tindakan rakyat dalam kehidupan berdemokrasi.

“Jadi penghapusan impunitas kejahatan kemanusiaan masa lalu akan tetap ditunda dan rezim politik anti-rakyat akan terus menambah daftar pelanggaran hak asasi manusia baru di hari-hari kerjanya,” ujar Lini Zurlia.

#SayaGolput adalah sebuah gerakan protes terhadap carut marutnya sistem Pemilu dan produk yang dihasilkan. Gerakan protes ini akan terus dilakukan dengan mengawal 10 agenda #sayaGolput sebagaimana yang termaktub dalam kertas putih golongan putih 2019.

“Kami secara serius akan mengambil peran oposisi yang substansial dengan terus mengkritisi kinerja pemerintah dan parlemen terpilih dengan bekerja bersama warga di akar rumput untuk perubahan dari bawah. Kemenangan Joko Widodo atau Prabowo sekalipun tak lantas membuat kita bisa berlapang dada. Seperti seruan kami: Siapapun yang menang, rakyat pasti akan kalah.”

Gerakan Golput juga mengajak dan menyeru seluruh Rakyat Indonesia untuk mengawasi penggunaan politik identitas terutama agama dalam setiap produk kebijakan yang dapat mempertajam konflik antar warga negara adalah salah satu ajakannya.

Salah satu deklarator gerakan #SayaGolput, Alghifari Aqsa menyerukan bahwa jalan keluar satu-satunya dari era kegelapan ini adalah dengan membangun kekuatan politik rakyat yang terorganisir, otonom, dan siap berkonfrontasi dengan politik penghisapan oligark, demi mengembalikan kedaulatan ke tangan rakyat sesuai amanat UUD 1945.

“Pertarungan sesungguhnya baru dimulai hari ini, yaitu saatnya mentransformasi gerakan golput menjadi sebuah gerakan yang berjuang atas setiap ketidakadilan negara demi sebesar-besarnya ruang partisipasi rakyat.”

(Foto/ Ilustrasi: Pixabay)

Tim Konde.co

Tim Konde.co

Konde.co lahir pada 8 Maret 2016 untuk mengelola ruang publik dari sudut pandang perempuan dan minoritas sebagai bagian dari kesadaran dan daya kritis, menghadirkan penerbitan artikel di website, produksi video/ film, dan informasi/ pengetahuan publik. Kini dikelola oleh individu-individu yang mempunyai kesamaan dalam memandang perempuan dan minoritas.

Let's share!

Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin
Share on whatsapp
Share on email