Ruang Perjumpaan Sebagai Solusi Penerimaan Keberagaman Gender dan Seksualitas

*Muhammad Rizky- www.Konde.co

Berbicara gender, berarti tidak hanya berbicara laki – laki dan perempuan saja. Di luar dua gender tersebut, ada transgender. Transgenderpun ada dua yaitu transpuan dan translaki – laki.

Untuk lebih mudah memahami transgender langsung saja jelasnya seperti ini. Kita kerap bertemu waria atau yang sering dipanggil masyarakat dengan sebutan banci. Waria adalah sebutan lain dari transpuan. Seseorang yang dilahirkan memiliki penis tapi merasa dirinya sebagai perempuan yang sering ditunjang dengan tampilannya selayak perempuan, inilah sosok transpuan.

Translaki – laki adalah kebalikan dari transpuan. Ini masih tiga gender. Di Indonesia, ada suku Bugis yang menjunjung tinggi adanya lima gender yaitu laki – laki, perempuan, calalai, calabai dan bissu.

Calalai adalah seorang yang dilahirkan memiliki vagina tapi berperan sebagai laki – laki dan berpenampilan secara maskulin. Calabai adalah kebalikan dari calalai. Sedangkan bissu merupakan sosok yang memiliki kemampuan spiritual untuk menghubungkan manusia dengan dewa. Bissu adalah dua gender yang terkombinasi menjadi satu gender, misal ia terlahir dengan memiliki penis maka kepribadiannya sebagai perempuan. Ini merujuk pada manusia yaitu terlahir memiliki keseimbangan antara unsur laki – laki dan perempuan. Pada zaman kerajaan, bissu dipercayai untuk menjaga pusaka kerajaan (goodnewsfromindonesia.id)

Pemberitaan yang Masih Menyudutkan

Namun di beberapa tahun ini, pemberitaan yang sering negatif dan menyudutkan gender selain laki – laki dan perempuan, orientasi selain heteroseksual oleh media dapat mengiring kebencian masyarakat. Mediapun sering juga salah kaprah memandang keragaman gender. Tidak sekedar asal tulis saja tapi juga sering dibalut atas nama agama. Media yang bersifat progresif terhadap minoritas gender di Indonesia jumlahnya masih dapat dihitung dengan jari.

Tentu ini semua dapat meningkatkan kebencian masyarakat berupa stigma, diskriminasi bahkan persekusi. Pemberitaan yang negatif ini juga dipicu oleh pernyataan pejabat pemerintahan yang seharusnya melindungi semua warganya tanpa pandang bulu.

Di tahun 2016, Menristek melarang Lesbian, Gay, Biseksual dan Transgender (LGBT) di semua kampus karena tak sesuai dengan nilai kesusilaan (detik.com). Pernyataan ini adalah pernyataan awal yang dapat menjadi bibit kebencian. Dari pernyataan ini juga muncul aksi – aksi penolakan masyarakat yang mengatakan atas nama moral dan agama.

Penangkapan waria sebanyak 12 orang di Aceh oleh pihak kepolisian dinilai tak manusiawi dan tentunya melanggar hukum (nasional.kompas.com). Radar Lampung memberitakan dengan judul, “Astagfirullah! LGBT di Lampung kian eksis”.

Dapat dilihat dari judul saja, pemberitaan selalu dibalut dengan agama tentunya agama mayoritas. Daklarasi – deklarasi anti LGBT pun bermunculan oleh organisasi masyarakat yang mengatasnamakan agama.

Penolakan dan Penerimaan: Butuh Ruang Perjumpaan

Berbicara Indonesia, tak pantas hanya berbicara Jakarta saja, pulau Jawa saja atau pulau Sumatera saja. Banyaknya penolakan di beberapa wilayah di Jawa dan Sumatera. Bagaimana dengan pulau selain kedua pulau tersebut? Apakah menolak juga terhadap minoritas gender? Belum tentu, masih banyak masyarakat Indonesia yang toleran.

Berdasarkan hasil survey yang dilakukan Wahid Institute, 7% masyarakat Indonesia berpotensi radikal, hampir 90% masyarakat Indonesia menjunjung tinggi Pancasila sehingga mereka tidak akan bersedia melakukan tindakan intoleran. Survey tersebut juga menyebutkan 80% perempuan bersedia untuk toleran (mediaindonesia.com).

Saya membuktikannya sendiri bahwa masih ada penerimaan untuk keberagaman gender dan seksualitas. Saya melakukan perjalanan ke beberapa kota di Jawa Timur. Banyak yang menerima keberagaman ini tapi masih ada juga yang menolak atas nama agama dan Tuhan.

Ketika saya melakukan perjalanan ke salah satu kota di Indonesia Timur. Masyarakat disana sangat menerima keberadaan teman – teman transgender di sana. Untuk soal penerimaan keberagaman gender dan seksualitas, ketika saya berada di Jawa, saya dilihat sebagai sesuatu yang buruk, namun ketika saya berada di Indonesia bagian timur seperti melihat buah segar. Penolakan terhadap keberagaman gender dan seksualitas itu dipicu karena mereka belum pernah bersinggungan langsung dengan teman – teman minoritas gender dan seksualitas.

Ketika saya mengikuti latihan bantuan hukum, saya hadir sebagai perwakilan dari organisasi yang memperjuangkan keberagaman gender dan seksualitas. Hanya saya yang mengakui berbeda. Pesertapun terbagi antara yang menerima dan anti LGBT.

Ada juga yang penasaran, “Apakah kalian itu menular?”. Semua itu pembelajaran dan semua butuh proses. Di akhir proses ini, mayoritas dari mereka bisa menerima keberagaman ini.

Dari sini saya bisa memaparkan, di tengah banyaknya orang yang anti terhadap LGBT, saya bisa melihat masih ada kelompok, komunitas, orang-orang yang menerima keadaan LGBT. Bagi saya ini cukup melegakan karena kelompok LGBT tidak pernah sendiri dalam perjalanan ini.

Salah satu solusinya adalah mengawali, membuat ruang-ruang perjumpaan dan diskusi, sehingga ada penerimaan satu sama lain.

(Foto/ Ilustrasi: Pixabay)

*Muhammad Rizky, peneliti, aktivis Gaya Nusantara

Tim Konde.co

Tim Konde.co

Konde.co lahir pada 8 Maret 2016 untuk mengelola ruang publik dari sudut pandang perempuan dan minoritas sebagai bagian dari kesadaran dan daya kritis, menghadirkan penerbitan artikel di website, produksi video/ film, dan informasi/ pengetahuan publik. Kini dikelola oleh individu-individu yang mempunyai kesamaan dalam memandang perempuan dan minoritas.

Let's share!

Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin
Share on whatsapp
Share on email