Feminist of the Week: Ajak Mahasiswa Bicara Kekerasan terhadap Perempuan di Kampus


“Ketika kami mau menyeberang jalan, tiba-tiba ada beberapa laki-laki menggunakan seragam aparat keamanan yang membuka kaca mobil dan menggoda kami. Kami betul-betul sangat kaget dan tidak menyangka telah mendapatkan catcalling.”

*Luviana- www.Konde.co

Jakarta, Konde.co- Natasha kini lantang berbicara tentang kekerasan yang ia alami setelah banyak mahasiswa lain juga berani untuk berbicara.

Ia merasa kaget ketika ada laki-laki yang menggunakan seragam aparat yang kemudian menggodanya bersama beberapa teman perempuan yang hendak menyeberang. Semestinya jika mereka memang aparat penjaga keamanan, seharusnya melindungi perempuan dari kekerasan, batin Natasha kala itu.

Rabu 6 November 2019 lalu, Natasha berbicara tentang kekerasan yang dialaminya dalam feminist of the Week (FOW). Para mahasiswa bisa berbicara tentang kekerasan yang dilihat dan dirasakannya dalam Feminist of The Week ini.

Feminist of the Week (FOW) merupakan program mingguan yang dirintis oleh Formas Juitan Lase, salah satu dosen komunikasi dan gender di Universitas Kristen Indonesia (UKI) Jakarta. FOW merupakan bagian dari mata kuliah komunikasi dan gender ini.

Sejak dimulai Agustus 2019 lalu, Formas mencatat puluhan mahasiswa sudah bercerita tentang kekerasan dan pelecehan yang mereka lihat atau mereka alami. Acara sharing yang diadakan seminggu sekali di dalam kuliah komunikasi dan gender ini begitu diminati mahasiswa.

Mahasiswi lain yang memberikan sharing dalam FOW adalah Yohanna. Yohanna pernah merasa diikuti oleh laki-laki ketika ia sedang di dalam kereta hendak pulang ke rumahnya. Setiap hari ia harus naik kereta untuk pulang pergi ke kampus. Ketika ada seorang laki-laki yang mengikutinya, ia harus pindah tempat duduk untuk melihat reaksi laki-laki itu.

“Saya berpindah tempat duduk hanya ingin memastikan apakah laki-laki itu mengikuti saya ataukah hanya perasaan saya saja yang salah,” ujar Yohanna.

Karena sudah memastikan bahwa laki-laki itu mau mengikutinya, maka Yohanna kemudian memutuskan untuk turun sebelum stasiun rumahnya, untuk melihat apakah laki-laki tersebut masih mengikutinya.

Yohanna menjadi mengerti ketika sharing di FOW bahwa jika merasakan tidak nyaman dalam perjalanan, ia bisa teriak atau minta tolong. Jika berteriak maka akan ada yang menolongnya.

Formas Juitan mencatat bahwa rata-rata yang banyak mendapatkan pelecehan dari sharing ini adalah perempuan atau mahasiswi.

“Rata-rata memang korbannya mahasiswi, ini bisa dilihat dalam 3 bulan ini, kebanyakan yang datang dalam acara feminist of the week ini umumnya mahasiswi dan yang mereka ceritakan umumnya pelecehan yang dialami perempuan. Jadi memang data tidak bisa menipu bahwa yang banyak mendapatkan pelecehan adalah perempuan.”

Namun Formas Juitan Lase juga menggarisbawahi, selain mahasiswi, korban lainnya adalah mahasiswa yang tampil feminin. Mereka juga banyak mendapat pelecehan seperti digoda hingga dipegang pundaknya tanpa sebab.

Hal ini juga dialami salah satu mahasiswa, Sam yang dianggap terlalu banyak bicara ketika ia sedang bertugas menjadi panitya di sebuah acara.

“Cerewet banget kamu, kayak perempuan saja,” ujar Sam, menirukan seseorang yang memarahinya.

Selain menganggapnya terlalu banyak cakap, ungkapan seperti perempuan ini juga dianggap menambah mitos bahwa laki-laki tak banyak bicara, sedangkan perempuan banyak bicara.

Formas menyatakan pentingnya mahasiswa untuk berani bicara dalam FOW ini, sebagai dosen komunikasi dan gender ia merasa perlu mengajak mahasiswa tak hanya berani bicara stop kekerasan seksual mulai dari kampus, namun juga mengajak mahasiswa untuk berani menangani pelecehan atau membantu orang lain yang menjadi korban untuk menyelesaikannya.

Bagi Formas, Feminist of The Week merupakan ruang bagi mahasiswa untuk berani untuk bicara. FOW diadakan di kelas-kelas kecil, Formas kemudian mengumumkannya melalui mahasiswa di kelasnya. Yang ikut pertemuan pun lumayan banyak, sekitar 32 mahasiswa.

Formas Juitan juga mencatat, isi sharing rata-rata adalah mahasiswi yang mendapat cat calling, seperti digoda di jalan dan di alat transportasi menuju dan pulang dari kampus.

Salah satu mahasiswi, Febry mengatakan tentang pentingnya mahasiswa untuk membantu mahasiswa lain menangani kekerasan. Ia pernah membantu sahabatnya menangani kekerasan dari pacarnya. Dari FOW ini ia kemudian belajar bahwa menjadi pendamping korban harus sabar dan tidak boleh terbawa emosi melihat apa yang dilakukan pelaku terhadap korban.

Feminist of the Week juga menjadi ruang bagi mahasiswa untuk berbagi masukan, jaringan untuk menyelesaikan persoalan kekerasan. Kampus adalah salah satu tempat yang tepat untuk mengajak mahasiswa berani bicara.

(Foto/ Ilustrasi: Pixabay)