Frozen: Film Feminis, Bukan Cerita tentang Putri yang Ingin Diselamatkan Pangeran

Film "Frozen" disebut sebagai salah satu film feminis, film yang melawan penguasaan dari pangeran terhadap putri dan melawan ketamakan di masa lalu.

Darren Paul Fisher, Head of Directing, Department of Film, Screen and Creative Media, Bond University dalam Theconversation pernah menuliskan, biasanya seorang putri yang sedang dalam kondisi berbahaya dilukiskan sebagai putri yang membutuhkan seorang pangeran. Namun baik dalam film Frozen 1 dan 2 tidak menampilkan gambaran tersebut. Elsa dan Anna, 2 putri dalam film Frozen justru menunjukkan perlawanan.

Frozen juga banyak disebut sebagai salah satu film feminis keluaran Disney terpopuler, ini tak hanya karena dominasi tokoh utama perempuan di dalamnya, tetapi juga lewat tingkah laku karakter dan keputusan-keputusan yang dibuat oleh tokoh-tokoh perempuan melalui kakak beradik Elsa dan Anna ketika menyelesaikan suatu konflik.

Dalam banyak film Disney lainnya, kita bisa melihat banyak sosok putri yang harus diselamatkan oleh pangeran. Seperti film putri salju yang harus diselamatkan pangeran, juga film Cinderela yang hidupnya juga harus diselamatkan oleh pangeran.

Sampai-sampai di Amerika pernah dikenal istilah Cinderella complex, sebuah sindrom yang memitoskan bahwa perempuan tak bisa hidup tanpa laki-laki atau perempuan harus diselamatkan hidupnya oleh laki-laki.

Film Frozen memang memberikan angin segar tentang bagaimana perempuan menjadi pemimpin, tentang keputusan-keputusan perempuan, juga tentang persaudaraan, persahabatan antara dua bersaudara dalam satu keluarga. Pandangan lain yang menyatakan bahwa ini merupakan film feminis yaitu, selain bukan mengetengahkan cerita bahwa laki-laki adalah jawaban, film ini juga menceritakan tentang solidaritas perempuan dan perlawanan perempuan.

Dalam film Frozen 2 yang dirilis 22 November 2019 dikisahkan tentang Elsa yang mencari masa lalunya karena kerajaan Arendelle yang dipimpinnya terancam.

Sepeninggal kepergian ayah dan ibunya, Elsa (Idina Menzel) dan Anna (Kristen Bell) yang hidup bersama boneka salju Olaf (Josh Gad) dan Kristoff (Jonathan Groff), juga rusa kutub Sven di Istana Arendelle.

Film dibuka dengan cerita tentang ingatan masa lalu Elsa akan kenangan bersama ayah dan ibunya ketika diceritakan tentang hutan ajaib yang menghilang. Karena selalu dihantui suara dari hutan yang hilang, maka Elsa kemudian memutuskan mencari sumber suara tersebut untuk menyelamatkan Arendelle.

Anna dan Kristof serta Olaf dan Sven tak mau tertinggal. Anna berkomitmen, apa saja yang terjadi pada Elsa, sebagai adik, ia harus selalu ada di samping Elsa.

Kemudian petulanganpun dimulai yaitu mencari sumber suara dan hubungan antara Arendelle dan hutan yang hilang.

Elsa ingin mencari jawaban namun ia tak mau jika Anna membantunya karena takut Anna akan celaka. Sedangkan Anna selalu ingin menjaga Elsa dan memastikan bahwa Elsa akan baik-baik saja. Inilah yang menjadi latar belakang film Frozen 2.

Kisah persaudaraan atau sisterhood, tak mau saling meninggalkan, persahabatan antar saudara diciptakan film ini. Elsa menjadi pemimpin perempuan yang makin percaya diri, sedangkan Anna menjadi perempuan yang terbuka, riang gembira dan ingin melindungi

Ini sekaligus semakin menguatkan karakter tokoh keduanya dimana pada film 1 ada Pangeran Hans yang ingin memporak-porandakan hubungan persaudaraan Elsa dan Anna dan ingin menguasai Kerajaan Arendelle.

Film Frozen 1 membuktikan tentang karakter putri yang melawan bentuk-bentuk penguasaan Pangeran Hans yang mengelabuhi Anna dengan cintanya untuk menguasai kerajaan Arendelle, ini sekaligus membuktikan tentang karakter putri, perlawanan Anna dan Elsa, yang tidak mau diselamatkan pangeran. Dan di film kedua, 2 putri Elsa dan Anna membuktikan bahwa mereka bisa melawan ketamakan kakeknya di masa lalu, mempersatukan 2 suku yang terpisah yang berperang selama bertahun-tahun lamanya.

Dari Elsa serta Anna, 2 tokoh perempuan dalam 2 film Frozen mampu membuktikan tentang perlawanan perempuan dan sisterhood yang bisa mengalahkan penguasaan laki-laki dan ketamakan yang ingin menguasai.

Sari Mentari

Dosen dan penulis, tinggal di Jogjakarta

Let's share!

Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin
Share on whatsapp
Share on email