Namaku Nanik Indarti, Aku Perempuan Bertubuh Mini

Lahir di Bantul Yogyakarta pada 34 tahun lalu, Nanik Indarti merupakan perempuan bertubuh mini pejuang penyandang achondroplasia. Lulusan sarjana Seni Teater ISI Yogyakarta ini sejak tahun 2018 fokus mengajak teman-temannya yang bertubuh mini untuk berdaya lewat berkarya seni. Mendirikan sebuah komunitas Unique Project Teater, sebuah komunitas unik yang terdiri dari perkumpulan orang-orang bertubuh mini penyandang achondroplasia yang memiliki beragam profesi dan berasal dari berbagai kota di Indonesia. Ini adalah tulisan dan pengalaman, perjuangan Nanik Indarti:

Menjadi seorang perempuan bertubuh mini memang tak semudah dengan orang lain yang bertubuh tinggi. Memiliki tubuh tinggi sepertinya menjadi impian bagi semua orang. Mau bekerja apa saja bisa.

Sedangkan saya sebaliknya. Sebagai perempuan bertubuh mini, saya mengalami banyak hambatan dalam mendapatkan pekerjaan. Karena syarat utama lowongan pekerjaan sering harus menyertakan tinggi badan yang sesuai dengan syarat yang berlaku.

Bahkan setiap membaca syarat lowongan kerja, saya sudah enggan untuk membacanya. Karena tak satupun yang sesuai dengan kriteria yang saya miliki. Alhasil saya tidak punya pekerjaan, tergusur dari hak bekerja yang seharusnya dimiliki oleh semua orang.

Saat aku mahasiswa, saat itu, aku mendapatkan pekerjaan secara freelance sebagai pengisi suara sebuah film animasi yang diproduksi oleh salah satu perusahaan di Jakarta. Aku sangat menyenangi profesi menjadi pengisi suara. Aku merasa suaraku unik seperti anak-anak.

Karena suaraku karakternya seperti suara anak-anak, maka aku terpilih untuk terlibat. Sebagian besar pengisi suara adalah anak-anak, usia 7-13 tahun. Take suara hari pertama, aku meminta perjanjian kerja, tapi mereka tidak memberikannya.

Aku sudah punya feeling bahwa ini sepertinya akan menjadi sesuatu yang tidak sehat. Kebenaran pikiranku itu terjadi sampai hari ke 7, aku tidak meerima perjanjian kerja. Mereka membayarku sangat tidak profesional, yaitu 25 ribu per-episode/ cerita. Cerita yang diproduksi ada sekitar 30 cerita/episode.

Ukuran tubuh yang sama, sama seperti anak-anak, upah yang diterima pun sama. Kecil.

Aku menerima bayaran yang tak profesional. Bayaranku kecil, mereka menganggap bayaranku seukuran dengan tubuhku yang kecil. Aku dimanfaatkan! Aku pun berusaha protes tapi mereka tidak memberikan tanggapan yang baik. Upah yang kuterima sangat tidak manusiawi, dan aku dimanfaatkan (eksploitasi), upah yang diterima sama kecilnya dengan tubuhku yang kecil.

Sejak kejadian itu aku enggan berhubungan dengan industri hiburan.

Aku tidak menyukainya. Perlakuan orang-orang industri hiburan yang semena-mena terhadap orang-orang yang bertubuh mini sepertiku. Orang-orang sepertiku hanya dijadikan produk eksploitasi sebagai bahan lucu-lucuan untuk menghibur.

Dulu, menjadi seorang artis terkenal adalah cita-citaku dulu. Aku suka melihat akting di televisi. Aku pun pernah membayangkan masuk televisi dan ditonton oleh banyak orang. Semua yang kubayangkan terlihat indah.

Namun setelah aku mendapatkan pengalaman yang kurang baik di dunia hiburan, bagiku sudah cukup membuktikan bahwa eksploitasi terhadap orang-orang bertubuh mini tak pernah berhenti.

Sekarang aku mulai menyadari bahwa dunia hiburan tidak membuatku nyaman. Aku tidak ingin terkenal karena tubuhku. Aku ingin dikenal karena prestasiku, bukan tubuhku.

Tahun demi tahun aku bekerja keras bagaimana orang tidak memandang sebelah mata pada tubuh mungilku, aku ingin membuat orang lain menghargai dari karya-karyaku.

Di tahun 2018 aku lalu memfokuskan diri untuk melakukan pemberdayaan terhadap penyandang achondroplasia dari berbagai daerah di Indonesia. Salah satu karya tulis berjudul “Aku Perempuan Unik” merupakan catatan inspiratif para perempuan penyandang achondroplasia yang berhasil mengolah keterbatasan diri secara positif. Bagi saya pemberdayaan melalui seni teater menjadi cara yang pas untuk membicarakan persoalan-persoalan diri maupun hambatan-hambatan yang banyak dialami seperti stigma, bullying, diskriminasi, eksploitasi dll.

“Aku Perempuan Unik”, merupakan buku karya perdana yang digagas olehku dan dikerjakan bersama teman-temanku lain yang bertubuh mini. Buku ini merupakan catatan inspiratif para perempuan bertubuh mini penyandang achondroplasia yang memiliki berbagai profesi seperti dosen, guru, penari, ibu rumah tangga dan pekerja seni. Mereka telah mampu mengolah diri dengan cara positif. Buku ini diharapkan mampu memberikan motivasi bagi para tubuh mini di seluruh Indonesia yang masih minder, tidak percaya diri, untuk bangkit melawan diskriminasi.

Selain itu buku ini diharapkan mampu mengubah persepsi masyarakat terhadap penyandang achondroplasia bahwa mereka punya kesempatan hidup yang sama di masyarakat.

Tahun 2018 aku juga menerima Hibah Cipta Media Ekspresi, hibah seni budaya untuk perempuan, dari Wikimedia Indonesia.

Dan baru-baru ini di Tahun 2019, aku terpilih sebagai pemenang salah satu pembicara dalam pelaksanaan Indonesia Development Forum atau IDF 2019 yang diselenggarakan oleh Bappenas RI dan Kedubes Australia.

Pada 6 November 2019, saya kemudian menginisiasi pementasan teater teman-teman bertubuh mini di Jogja berjudul “Kahanan.” Teater ini bercerita tentang kondisi kehidupan orang-orang bertubuh mini.

Semoga banyak orang menghargai karyaku, tubuhku, juga memberiku penghargaan yang layak, gaji yang layak atas karya-karyaku.

(Foto: Facebook Nanik Indarti)

www.Konde.co bersama Feminist Festival 2019, bekerjasama dalam kampanye “Kami Ingin Kamu Tahu” sebagai medium untuk menghapus stigma masyarakat mengenai identitas seseorang terutama bagi teman-teman dari kaum marjinal. Kampanye ini juga bertujuan untuk mengapresiasi keberagaman dan memberi suara bagi mereka yang selama ini pengalamannya kurang terungkap. Tulisan yang akan dipublikasikan hingga akhir November 2019 ini merupakan salah satu bagian dari kampanye tersebut. Feminist Festival 2019 akan dilaksanakan pada 23-24 November 2019, di Wisma PKBI, Kebayoran Baru, Jakarta. Ikuti sosial media @femfestid untuk informasi lebih lanjut.

Nanik Indarti

Nanik Indarti

Lahir di Bantul Yogyakarta pada 34 tahun lalu, Nanik Indarti merupakan perempuan bertubuh mini pejuang penyandang achondroplasia. Lulusan sarjana Seni Teater ISI Yogyakarta ini sejak tahun 2018 fokus mengajak teman-temannya yang bertubuh mini untuk berdaya lewat berkarya seni. Mendirikan sebuah komunitas Unique Project Teater, sebuah komunitas unik yang terdiri dari perkumpulan orang-orang bertubuh mini penyandang achondroplasia yang memiliki beragam profesi dan berasal dari berbagai kota di Indonesia.

Let's share!

Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin
Share on whatsapp
Share on email