Perempuan Menghidupkan Pangan Lokal untuk Memutus Rantai Stunting

Memberdayakan perempuan menjadi kunci kesehatan keluarga karena perempuan memegang andil besar dalam mengelola makanan diatas meja makan. Para perempuan di Indonesia menghidupkan pangan lokal untuk meminimalisir stunting pada bayi dan anak-anak. Inilah yang kemudian ditelusuri Agustini di ujung timur Indonesia.

Papua, Konde.co – Agustini merasa heran melihat apa yang dimakan anak-anak ketika menginjakan kaki di tanah Papua.

Terlihat banyak anak yang hanya memakan sagu dan nasi saja. Tidak ada lauk-pauk maupun sayur di piring mereka. Ia juga mendapati seorang anak yang makan sagu dengan air teh. Menjadikan air teh seperti sayur yang dituang kedalam piringnya. Tidak ada yang mengerti cara memberi makan yang baik untuk anak, dan apa yang dimakan anak-anak akhirnya tidak karuan.

Situasi ini tak hanya terjadi di Papua, di sejumlah tempat lain di Indonesia juga masih mengalami kondisi ini.

Melihat kondisi kesehatan masyarakat yang buruk membawa Agustini bersama Yayasan Pembangunan Citra Insan Indonesia (YPCII) memasuki wilayah timur indonesia, yaitu Papua. Berfokus di Timika dan Sorong, ia membuat “Kelas Ibu” bagi para Mama dan Bapak, meskipun di kelas itu kebanyakan adalah perempuan.

Masyarakat Papua terbiasa makan sagu namun tidak dibarengi dengan lauk-pauk yang memadai. Di “Kelas Ibu” ia kemudian memperkenalkan pangan lokal lain sebagai sumber karbohidrat yang banyak tumbuh di sana seperti ubi dan keladi.

Agustini menunjukkan makanan yang mereka ajarkan kepada masyarakat yang mereka dampingi. Ia memberi nama makanan itu sagu gulung.

Sagu gulung adalah sagu yang dipipihkan lalu diisi sayur dan ikan kemudian digulung. Sagu gulung banyak disukai anak-anak. Ia juga mengajarkan untuk mengolah ulat sagu menjadi masakan misalnya dengan cara ditumis atau dijadikan dijadikan makanan berkuah. Ulat sagu kaya protein, baginya akan sangat sia-sia jika itu diabaikan. Semua yang ia lakukan bertujuan untuk memperbaiki gizi anak-anak Papua yang menyandang predikat sebagai salah satu provinsi dengan stunting tertinggi di Indonesia.

Mencegah stunting bukan perkara mudah. Harus ada program yang integratif, bukan hanya saat masa kehamilan tapi saat calon ibu masih remaja. Stunting berjalan seperti rantai, jika rantai stanting tidak diputus maka stunting sulit dientaskan. Remaja perlu diperkenalkan tentang kesehatan reproduksi dan gizi.

Selain itu di beberapa tempat juga masih ditemui cara membagi makan yang tidak adil bagi anak perempuan dan laki-laki. Anak perempuan diberikan makanan yang lebih sedikit dibandingkan anak laki-laki karena perempuan dianggap tidak lebih bernilai dibandingkan laki-laki.

Masalah kesetaraan gender juga menjadi persoalan yang patut diperjuangkan karena tidak mungkin memutus rantai stunting tanpa memberikan keadilan pangan bagi perempuan. Semua ini merupakan cara untuk menyiapkan diri seorang perempuan menjadi ibu yang sehat.

Di Papua banyak terjadi kehamilan usia muda. Banyak yang melakukan hubungan seksual entah itu dengan teman atau dengan saudara. Kehamilan usia muda meningkatkan resiko stunting karena anak membutuhkan banyak nutrisi untuk masa pertumbuhannya sedangkan ia mengandung bayi yang harus diberi nutrisi pula. Tentu gizi yang ada di dalam tubuh ibu yang masih berusia anak ini akan terbagi dua. Ada pola asuh, asih, dan asah yang salah yang menyebabkan tingkat stunting di Papua tinggi.

“Ketika hamil ibu perlu gizi yang lengkap. Di Papua banyak ikan, udang, dan kepiting yang biasa disebut kraka. Ikan disana besar-besar. Ibaratnya hanya meram saja bisa dapat ikan. Tapi kenapa anak-anak Papua harus kurang gizi. Kenapa angka stunting tinggi. Itu semua karna pola asah, asih asuh yang buruk”. ujarnya.

Dulu orang tua baru pergi menokok sagu ketika sudah tidak ada sagu di rumah. Anak-anak dibiarkan kelaparan menunggu orang tuanya menokok sagu.

Orang-orang Papua juga terbiasa makan sekenyang-kenyangnya dan melahap habis semua makanan saat itu juga. Mereka tidak pernah menyimpan makanan untuk besok. Food scurity atau ketahanan pangan di dalam rumah tangga sangat penting dengan cara memastikan ada pangan yang dapat diolah esok hari. Ia akhirnya memperkenalkan program management nutrisi yang sebenarnya adalah nama lain dari food scurity.

“Di Papua misalnya ada pisang satu tandan, itu habis dimakan dalam satu hari. Makanan apa saja habis dalam satu hari. Mereka makan sekenyang-kenyangnya saat itu juga jadi tidak ada saving makanan. Management nutrisi mengajarkan untuk saving makanan. Mengajarkan bagaimana mengidentifikasi makanan pokok apa saja yang ada seperti ubi kayu, sagu, pisang. Makanan itu harus ada dan bisa dimakan selang-seling”, ujarnya.

Agustini juga mengajarkan masyarakat untuk mencoba berkebun di sekitar rumahnya agar lebih mudah memperoleh bahan-bahan makanan daripada harus berjalan jauh ke kebun setiap kali panen.

“Kita ajarkan membuat kebun gizi di sekitar rumah. Di papua biasanya menanam sayur jauh jadi kalau mau panen harus naik perahu. Menanam sayur di sekitar rumah kangkung, bayam, sawi dan mencoba mengajarkan menanam umbi-umbian juga disitu”, tuturnya.

Beras masih dianggap prestisius bagi masyarakat Papua karena harganya yang lebih mahal. Namun Agustini mencoba mengembalikan pola makan masyarakat seperti leluhurnya dulu.

“Jika mereka punya sagu, ubi, dan pisang ya makan itu saja. Ditambah ikan yang banyak ditemukan disana dan sayuran, itu sudah cukup untuk memenuhi gizi mereka.Tidak harus makan beras”, ujarnya.

Padu-padan bahan pangan sangat menentukan dalam memenuhi kecukupan gizi. Suli dan Supi misalnya, mereka memasak nasi karena lebih bergizi dibandingkan tiwul, sebab mereka lebih sering menyandingkan tiwul dengan tahu dan tempe.

Sedangkan tiwul rendah protein sehingga jika terus mengonsumsinya tanpa lauk yang tinggi protein seperti ikan dan daging maka keluarga mereka akan kekurangan protein.

Fenomena lain juga ditemui Agustini di Papua. Masyarakat Papua tidak mengerti cara makan yang baik sehingga ia harus mengajarkan bagaimana memadukan makanan sehingga anak-anak terpenuhi gizinya dan lepas dari jeratan stunting.

Menurut Dr. Tan Shot Yen seorang dokter gizi, pola makan yang salah akan banyak mempengaruhi kesehatan seseorang di setiap fase kehidupan. Remaja perempuan yang memiliki pola makan yang salah akan menjadikannya seorang ibu hamil yang kekurangan gizi dan kemudian melahirkan anak yang kekurangan gizi pula.

Karena sudah kekurangan gizi sejak di dalam kandungan maka anak yang dilahirkan bertubuh pendek dan dinyatakan stunting. Siklus ini terus berlanjut dan tak terputus tanpa ada perbagikan gizi yang menyeluruh.

“Yang pasti kesehatan calon ibu dimulai sejak ia masih remaja. Perbaikan gizi dan literasi gizi menjadi hal yang sangat amat penting. Seorang perempuan tidak mungkin bisa mengasuh bayinya dengan baik dan mencegah resiko stunting jika ia sendiri belum mahir memenuhi kebutuhan gizi dirinya, ujar Dr. Tan Shot Yen.

Makan sehat bukanlah sesuatu yang sulit dan mahal untuk dijalankan. Yang terpenting sebenarnya literasi gizi yang memadai dan upaya yang dilakukan dalam memperbaiki gizi keluarga.

Semuanya dapat dimulai dengan perencanaan menggunakan panduan “Isi Piringku”. Isi Piringku membagi piring menjadi 4 bagian terdiri dari makanan pokok, sayuran, lauk-pauk, dan buah-buahan. Juga ditambah aktifitas mencuci tangan sebelum makan, minum air delapan gelas sehari, dan aktifitas fisik minimal 30 menit setiap hari.

“Jika pagi cuma makan nasi uduk dan makan siangnya mie bakso, mana bisa panduan isi piringku dijalankan. Makan sehat dan bener itu gak ribet dan sama sekali tidak mahal. Hanya butuh perencanaan”, ujarnya.

Saat ini perempuan masih menjadi sosok yang berperan penting untuk menentukan makanan apa yang akan dikonsumsi keluarga. Kebiasaan makan sehat yang dibangun perempuan di rumah akan membawa kebisaan makan sehat anggota keluargannya kemanapun mereka berada. Kebisaan ini akan berdampak baik bukan hanya pada kesehatan tapi juga pada keuangan keluarga karena sudah terbiasa makan sehat mereka lebih berhati-hati dalam memilih makanan sehingga tidak sering jajan sembarangan di luar.

“Jika terbiasa makan sehat maka seisi rumah pun akan sehat. Jika perlu suami bawa bekal ke kantor dan anak bawa bekal ke sekolah. Nanti ketika sudah besar anak-anaknya pun akhirnya tidak punya kebiasaan jajan karena sudah biasa membawa bekal. Bukan saja jadi tidak mudah sakit, lebih hemat juga sudah pasti”, ujarnya.

Makan tidak hanya sesederhana asal kenyang. Gizi di dalam makanan menjadikan aktivitas makan menjadi sangat krusial. Keragaman pangan menjadi kunci agar masyarakat tidak bergantung pada satu jenis makanan saja. Pangan pokok harus didampingi dengan lauk-pauk yang tepat agar gizi yang dibutuhkan tubuh cukup.

Memberdayakan perempuan menjadi sangat penting karena perempuan memiliki andil besar dalam menentukan menu apa yang akan dihidangkan untuk keluarganya setiap hari. Ini juga menjadi cara yang tepat untuk mengentaskan kekurangan gizi kronis (stunting) yang banyak terjadi di Indonesia.

Sepertiga anak Indonesia mengalami stunting. Stunting bukan perkara tumbuh yang pendek saja, namun yang lebih penting stunting menghambat pertumbuhan otak.

Maka jika tidak membuat perempuan berdaya, akan sulit memutus rantai stunting. Jika terus-menerus terjebak dalam jumlah stunting yang tinggi, masa depan generasi Indonesia berada di ambang bahaya.

(Foto/ Ilustrasi: Pixabay)

Aprelia Amanda

Biasa dipanggil Manda. Menyelesaikan studi Ilmu Politik di IISIP Jakarta tahun 2019. Pernah aktif menjadi penulis di Majalah Anak (Malfora) dan kabarburuh.com. Suka membaca dan minum kopi, Manda kini menjadi penulis dan pengelola www.Konde.co

Let's share!

Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin
Share on whatsapp
Share on email