Kekerasan yang Dialami Pekerja Perempuan di Rumah, Mempengaruhi Kondisi Kesehatan Mentalnya saat Bekerja

Kekerasan yang dialami pekerja perempuan di rumah, terbukti sangat mempengaruhi kondisi mentalnya saat bekerja. Tak hanya mendapatkan kekerasan psikis, pekerja korban KDRT ini juga mendapatkan luka fisik, ada yang cacat pendengaran hingga terganggu kesehatan reproduksinya.

*Aprelia Amanda- www.Konde.co

Jakarta, Konde.co- Suatu hari, ada seorang suami yang datang ke pabrik dan tiba-tiba memukuli istrinya. Orang-orang di pabrik hanya diam dan tidak berani melakukan apa-apa. Mereka bilang tidak boleh mencampuri urusan rumah tangga orang lain karena dianggap pamali.

Ini adalah realita yang dialami sejumlah perempuan pekerja pabrik.

Salah satu pekerja perempuan lain juga menyatakan hal yang sama. Jika ia sedang bertengkar dengan suaminya di rumah, ia menjadi tak semangat untuk bekerja di kantor. Hal ini juga diakui oleh beberapa perempuan yang mendapatkan Kekerasan dari suaminya di rumah.

Kekerasan yang dilakukan pasangan atau kekerasan yang terjadi di rumah, ternyata sangat berpengaruh pada kerja- kerja buruh perempuan. Hal ini yang mencoba dipotret Lembaga Perempuan Mahardhika.

Perempuan Mahardhika pada 13 Februari 2020 mempublikasikan hasil penelitiannya tentang Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT) pada buruh Perempuan.

Penelitian yang dilakukan sejak September sampai Desember 2019 ini menunjukkan bahwa KDRT yang dialami perempuan di rumah akan mempengaruhi kondisi kerja buruh perempuan.

Penelitian dilakukan dengan memilih tempat kerja yang memiliki banyak pekerja perempuan seperti di industri garmen, tekstil, dan pekerja rumahan yang tersebar di Jakarta, Jawa Barat, dan Jawa Tengah.

Ada 26 korban KDRT dan 5 orang perwakilan serikat buruh yang diwawancara untuk memperoleh data kekerasan.

Meskipun penelitian dilakukan di Jakarta, Jawa Barat, dan Jawa Tengah namun beberapa dari mereka sebenarnya berasal dari luar wilayah tersebut seperti Palembang dan Lampung. Mereka dibesarkan dengan budaya bertani dan berkebun namun lambat laun mulai mengenal bentuk kerja buruh jasa melalui migrasi. Bermigrasi adalah cara mereka untuk mendapatkan kehidupan yang lebih baik di tanah perantauan.

Penelitian ini juga menunjukkan bahwa korban-korban KDRT sebenarnya juga mengalami kekerasan saat masih anak-anak. Ada yang diperkosa oleh pamannya, ada pula yang menyaksikan sang ayah menyiksa ibunya.

Kekerasan di dalam rumah dan situasi yang menganggap mereka (perempuan) hanyalah beban keluarga akhirnya mendorong mereka untuk keluar dari situasi yang ada. Mereka ingin mengubah hidupnya menjadi lebih baik.

Seperti yang dikatakan Pratiwi, salah seorang narasumber penelitian, “saya ingin mengubah hidup saya”.

Penelitian ini dilakukan oleh peneliti Karolina L. Dalimunthe dan Vivi Widyawati dari Perempuan Mahardhika. Penelitian juga menemukan bahwa jika dilihat dari latar belakang pendidikan, dalam rentang waktu ini, terlihat ada peningkatan pendidikan dari para buruh perempuan. Jika pada rentang usia 39-46 tahun lulusan SD sebanyak 6 orang, maka pada rentang usia 25-31 tahun sudah tidak ada buruh perempuan yang lulusan SD.

“Meskipun ada peningkatan pendidikan bukan berarti buruh perempuan terbebas dari KDRT,” ujar Karolina L. Dalimunthe.

Selama ini responden mengatakan bahwa mereka menjalani kehidupan pernikahan dengan keyakinan tradisional yang diyakini banyak orang, yaitu suami bertugas mencari nafkah dan mengambil keputusan sedangkan perempuan bertugas mengasuh anak dan mengurus rumah.

Padahal kenyataanya berbeda. Para buruh perempuan inilah yang menjadi tulang punggung keluarga dalam segala aspek. Mereka juga mencari nafkah, mengasuh anak, dan mengurus rumah. Beban yang sangat berat ini akhirnya berujung pada tindak kekerasan yang mereka terima dari pasangannya.

Kekerasan yang dialami terjadi dalam berbagai bentuk ada yang secara fisik, psikologis, verbal, seksual, penelantaran ekonomi, dan ancaman.

Kekerasan terhadap mereka tidak hanya terjadi di ruang domestik yang tertutup tapi juga berlanjut di tempat kerja.

“Ketika ada suami yang datang ke pabrik dan memukuli istrinya, orang-orang di sekitar hanya diam dan tidak berani melakukan apa-apa. Mereka bilang nggak boleh mencampuri urusan rumah tangga orang lain,”ujar Karolina.

Perempuan Mahardhika juga menemukan beberapa kekerasan yang dilakukan suami di tempat kerja, ada buruh perempuan yang dibentak dan dipermalukan; dipukul, ditendang, dan dicekik; memaksa untuk pulang; dan mendapat ancaman.

Kekerasan juga dilakukan oleh mantan suami di tempat kerja seperti masih mendatangi tempat kerja; melakukan sms ancaman, melakukan rayuan seksual, dan melecehkan; memaksa mencium dan memeluk; memukul; dan mengganggu kehidupan personal.

KDRT yang dialami buruh perempuan baik di rumah ataupun di tempat kerja berdambak pada luka fisik dan mental para korbannya. Ada yang mengalami cacat pendengaran, luka-luka, dan kesehatan reproduksinya terganggu. Mereka juga menjadi tidak percaya diri dan selalu merasa resah, tidak aman, dan ketakutan berlebih.

Kekerasan yang dialami para buruh perempuan ini tidak semerta-merta membawa mereka dengan mudah keluar dari hubungan yang penuh kekerasan.

Hal yang selalu menjadi pertanyan, mengapa masih bertahan dalam hubungan yang penuh kekerasan?

“Mereka tetap berada di dalam hubungan yang penuh kekerasan dengan banyak pertimbangan. Masalah anak menjadi pertimbangan utama. Juga pandangan masyarakat yang masih menganggap janda hanya sebelah mata, punya stigma buruh, sehingga mereka takut dikucilkan,” ujar Karolina.

Hasil penelitian ini akhirnya membuat Perempuan Mahardhika merekomendasikan agar perusahaan dan serikat buruh ikut terlibat dalam melindungi buruh perempuannya dari kekerasan rumah tangga.

Perempuan Mahardika juga merekomendasikan agar pemerintah dan perusahaan meratifikasi Konvensi International Labour of Organisation (ILO) 190 tentang Kekerasan dan Pelecehan dalam Dunia Kerja.

Salah satu yang menjadi rujukan dari konvensi ini adalah mengakui KDRT sebagai kekerasan dalam dunia kerja.

*Aprelia Amanda, biasa dipanggil Manda. Menyelesaikan studi Ilmu Politik di IISIP Jakarta tahun 2019. Pernah aktif menjadi penulis di Majalah Anak (Malfora) dan kabarburuh.com. Suka membaca dan minum kopi, Manda kini menjadi penulis dan pengelola www.Konde.co

Tim Konde.co

Tim Konde.co

Konde.co lahir pada 8 Maret 2016 untuk mengelola ruang publik dari sudut pandang perempuan dan minoritas sebagai bagian dari kesadaran dan daya kritis, menghadirkan penerbitan artikel di website, produksi video/ film, dan informasi/ pengetahuan publik. Kini dikelola oleh individu-individu yang mempunyai kesamaan dalam memandang perempuan dan minoritas.

Let's share!

Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin
Share on whatsapp
Share on email