Pelecehan Seksual Menimpa Perempuan Penjual Jamu (2)

Mendapat banyak pelecehan seksual dari para pembeli, tak membuat para perempuan penjual jamu menghentikan aktivitasnya berjualan. Mereka menolak para pembeli yang melecehkan, karena berjualan jamu adalah nafas hidup bagi mereka.

*Meera Malik- www.Konde.co

Konde.co- Saya sering melihat orang-orang yang berjualan jamu dengan menggunakan beberapa alat jualan yang berbeda. Ada yang menggunakan sepeda keliling kampung, ada yang menggunakan gerobak, ada yang mendirikan warung jamu. Namun, banyak perempuan penjual jamu memilih untuk berjualan keliling dengan berjalan sambil membawa gendongannya.

Di Medan, saya bertemu dengan 2 perempuan penjual jamu keliling. Saya terinspirasi dengan semangat kerja mereka, juga cerita tentang pelecehan yang mereka alami.

Sebagai penjual jamu, Wagiyem dan Suparti punya banyak pengalaman pahit yaitu kerap mendapat pelecehan dari pembeli. Pelecehan seksual ini dilakukan ketika pembeli memegang tangan, menarik tangan, mencium dan meraba ketika mereka sedang berjualan.

Celakanya, hal ini dianggap lumrah oleh masyarakat karena stigma buruk yang dilekatkan pada para perempuan penjual jamu: mereka dianggap sebagai perempuan yang suka menggoda. Sementara, tak ada yang tahu jerih kehidupan para penjual jamu.

Kemiskinan yang membuat Wagiyem dan Suparti kemudian berpindah dari Jawa ke Medan. Di Medan, Wagiyem dan Suparti berjualan jamu.

Setiap pagi Wagiyem (43) selalu bekerja keras mempersiapkan bahan-bahan jamu untuk dimasak. Matanya terlatih memilih kencur, temulawak, kunyit, jahe, dan gula aren terbaik. Hidung jambunya terbiasa menghidu aroma bahan jamu yang kuat. Kulit jemarinya cokelat kekuning-kuningan lantaran kerap mengolah kunyit dalam jumlah banyak. Gerak-geriknya cekatan. Ia terampil memasak jamu.

Tak terasa sudah 34 tahun ia tinggal di Medan, Sumatera Utara. Perempuan yang kini tinggal di sebuah rumah sederhana di Jl. Karya Wisata 1 Kecamatan Medan Johor ini pergi jauh meninggalkan kampung halamannya, Jawa Tengah.

Wagiyem lahir di Sragen, 24 Desember 1975. Ia berasal dari keluarga miskin. Sang ibu bekerja serabutan untuk membiayai kehidupan keluarga. Wagiyem putus sekolah di tingkat dua sekolah dasar karena tidak ada biaya.

“Umur 9 tahun saya merantau ke Medan,” ujar Wagiyem yang telah yatim sejak usianya 3 bulan.

Dengan bus Liberty, ia rela menempuh perjalanan sejauh 2582 km selama 5 hari 4 malam tanpa mendapat tempat duduk. Ia menopangkan tubuh di atas tas yang diletakkan di samping kaki bibinya. Berhari-hari, Wagiyem mengalami mual, pusing, dan kaki bengkak. Namun, kondisi ini tidak menyurutkan niatnya. Erat-erat ia pegang janji bibinya. Ia bisa melanjutkan sekolah di Medan.

“Karena di sana (di Medan) dibilang sekolah, momong (jaga anak) tapi sambil sekolah,” kata Wagiyem mengenang kisahnya puluhan tahun silam.

Namun, sesampainya di Medan, bibinya ingkar janji. Wagiyem tidak kunjung disekolahkan. Ia justru harus membantu saudaranya berjualan jamu setiap pagi dan sore hari. Tidak hanya itu, ia juga harus membantu membersihkan rumah, mencuci baju, dan mengurus 3 orang anak saudaranya.

“Bayangkan, aku masih anak-anak, numbuk beras 3 kg sambil gendong anak. Ini tangan udah keras, kapalan!” ungkap Wagiyem sambil menunjukkan tangannya.

Selain Wagiyem, ada juga Suparti, penjual jamu keliling yang tinggal di Jalan Gedung Arca, Kelurahan Pasar Merah Timur, Kecamatan Medan Area. Pada umur 16 tahun, perempuan kelahiran Jawa Tengah, 15 September 1969 ini merantau ke Medan bersama 4 orang temannya. Jika Wagiyem mendapat iming-iming dari bibinya, Suparti justru mendapat iming-iming dari orang tuanya.

“Orangtua bilang, kalau mau lanjut sekolah ya sudah ikut kakak sepupumu aja. Eh sampai di sini, baru kami tahu kalau kakak sepupu ini sebenarnya cari anak buah. Yang laki-laki akan berjualan bakso, yang perempuan jual jamu,” ucap Suparti.

Saat itu, Suparti tinggal beramai-ramai bersama para perantau lainnya di rumah bos (kakak sepupunya) di Jl. Gedung Arca, Medan Area. Selain bos, suami dan 4 orang anaknya, ada sekitar 20-30 orang perantau dari Jawa yang tinggal di rumah tersebut. Ketika ditanyai mengapa banyak perantau yang mau meninggalkan kampung halamannya, Suparti mengatakan bahwa dulu itu adalah hal yang lumrah.

“Zaman dulu kan semua orang masih mau aja dibawa kemari. Medan masih sepi,” jawab Suparti dengan nada datar.

Bertahan menjadi satu-satunya jalan. Perbedaan bahasa, lingkungan, sosial dan budaya menjadi tantangan besar. Bagi Wagiyem dan Suparti, hal itu sangat tidak mudah. Mengingat, saat itu sesama anak bungsu dari 3 bersaudara ini masih anak-anak.

Setahun pertama tinggal di Medan, mereka selalu menangis merindukan kampung halaman. Benak mereka kerap terisi dengan keinginan-keinginan untuk pulang. Namun, pulang bukan sebuah pilihan karena jika berkeras pulang, maka mereka harus membayar ganti rugi ongkos transportasi Jawa-Medan sebanyak 2 kali lipat kepada bos.

“Mbak pikir-pikir, sedangkan ongkos ke sini aja mamak awak gak sanggup, apalagi ganti dua kali lipat. Ya udah terus mbak tahan-tahankanlah jadinya,” ucap Suparti.

Bertahan menjadi satu-satunya jalan. Wagiyem dan Suparti sadar kalau mereka tak punya banyak waktu untuk menolak kenyataan.

Hati Tertambat di Medan

Namun saat berjualan, mereka kerap mendapat pelecehan dari para pembeli. Perilaku para pembeli laki-laki selalu menggoda dengan panggilan nama yang merendahkan, memegang tangan, mencium pipi dan bahkan mencolek anggota tubuh sensitif. Ini menimbulkan trauma bagi Suparti, tetapi ia terpaksa terus berjualan jamu karena harus membiayai hidup keluarga.

Dengan berbagai pengalaman pahit yang mereka terima, Wagiyem dan Suparti merasa hatinya tertambat di Medan. Mereka pun sudah membangun sebuah keluarga.

Pada 1989, Suparti menikah dengan teman seperantauannya, Warijo, dan memiliki seorang anak perempuan bernama Irmawati Huwaidah. Warijo meninggal pada 2016 karena penyakit komplikasi yang diderita sejak 2013. Anaknya, Irma, kini bekerja sebagai guru sekolah dasar.

Wagiyem menikah dengan Warto, warga Karangsari, Medan Polonia, pada 1975. Ia memiliki dua orang anak, Siti Wahidah dan Fajar Imam Syafii. Anak pertamanya, Siti, sedang berjuang menyelesaikan pendidikan tinggi jurusan Bimbingan Konseling di UMN Alwashliyah. Anak bungsunya, Fajar, sedang menempuh pendidikan menengah atas di SMA Negeri 2 Medan. Sekolah anak-anaknya ini juga beberapa dibiayai dari hasil berjualan jamu.

“Aku gak menyesal merantau ke sini meski awalnya aku ditipu bibiku,” jawab Wagiyem tersenyum.

Kini, dua perempuan pejuang tersebut tekun berjualan jamu pada pagi dan sore hari. Dalam sehari, Wagiyem bisa menjual sekitar 128 gelas jamu dan membawa pulang Rp 150.000–Rp 200.000. Sementara, Suparti dapat menjual sekitar 40 gelas jamu dan menghasilkan sekitar Rp. 50.000–Rp 60.000.

Apa yang mereka lakukan tak lain untuk menghidupi keluarga dan mengejar mimpi-mimpi selanjutnya di kota yang mengikat hati mereka. Namun kita tidak boleh lupa, pelecehan seksual yang menimpa para perempuan penjual jamu ini tentu tetap menjadi persoalan serius yang harus segera dihentikan.

(Foto/ Ilustrasi: Pixabay)

*Meera Malik, jurnalis televisi yang murtad dan kini mualaf di Konde.co sebagai managing editor. Pengagum paradoks semesta, gemar membeli buku tapi lupa membaca.

Tim Konde.co

Tim Konde.co

Konde.co lahir pada 8 Maret 2016 untuk mengelola ruang publik dari sudut pandang perempuan dan minoritas sebagai bagian dari kesadaran dan daya kritis, menghadirkan penerbitan artikel di website, produksi video/ film, dan informasi/ pengetahuan publik. Kini dikelola oleh individu-individu yang mempunyai kesamaan dalam memandang perempuan dan minoritas.

Let's share!

Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin
Share on whatsapp
Share on email