Tenaga Medis di Tengah Corona: Kami Seperti Dipaksa Perang Tanpa Senjata



Di tengah merebaknya Virus Corona, pemerintah belum juga memberikan alat pelindung diri yang cukup kepada dokter dan tenaga medis. Ini seperti meminta berperang tapi tidak dibekali dengan senjata

*Fadiyah- www.Konde.co

Jakarta, Konde.co- Kote Noordhianta adalah seorang Dokter Spesialis Telinga Hidung Tenggorok Bedah Kepala Leher (THT-KL) yang sehari-hari bekerja di RSUD R. Syamsudin, Sukabumi, Jawa Barat.

Sejak merebaknya Virus Corona, ada banyak sekali perubahan dalam standar penanganan pada paisen. Ini membuat komunikasinya dengan pasien juga mengalami perubahan

“Seringkali, perasaannya campur aduk dan bingung menghadapinya,” kisah Kote.

Perubahan ini salah satunya adalah pada standar pemeriksaan pasien yang mengharuskan para tenaga medis mengikuti standar baru, yakni menggunakan Alat Pelindung Diri (APD). Dengan itu, persiapan tenaga medis pun membutuhkan waktu yang lebih lama dari biasanya.

Alur pendaftaran pasien pun berubah. Kote menjelaskan kini setiap pasien yang hendak memasuki poliklinik perlu untuk memeriksa suhu tubuh, dan menjawab sejumlah pertanyaan yang berkaitan dengan Covid-19, termasuk riwayat perjalanan ke daerah zona merah luar negeri, ataupun di Indonesia.

Selain itu, kini terdapat aturan jarak fisik antara pasien dan dokter. “Adanya physical distancing juga membuat kurang nyaman saat melakukan pemeriksaan ke pasien,” ujar Kote kepada Konde.co saat dihubungi pada Kamis (26/3/2020) malam.

Selama munculnya wabah Covid-19 di Indonesia, Kote pun mendapatkan pengalaman untuk berhadapan dengan orang dalam pemantauan (ODP), maupun pasien dalam pengawasan (PDP) virus corona atau Covid-19.

Di satu sisi, Kote perlu menjelaskan status Orang Dalam Pemantauan (ODP) atau Pasien Dalam Pemantauan (PDP) dan konsekuensinya ke pasien, maupun keluarganya.

Sebagaimana dijelaskan melalui laman dari Pemprov DKI Jakarta seputar Covid-19, ODP adalah orang yang mengalami demam lebih dari 38 derajat celcius, atau demam, atau ISPA, tanpa pneumonia, serta memiliki catatan ke wilayah terjangkit sebelum mengalami gejala tersebut, sementara PDP adalah orang yang juga mengalami gejala-gejala serupa dengan ODP, disertai dengan pneumonia ringan, hingga berat.

“Tapi di sisi lain, secara manusiawi ada rasa tidak enak, tidak nyaman, dan harus berhati-hati menjelaskannya. [Bila] merasakan bagaimana kita berada di posisi mereka, tetap ada kekhawatiran pastinya, padahal mereka tidak boleh stress supaya tidak menurunkan semangat dan imunitasnya,” ungkap Kote.

Dalam prosesnya, Kote pun kerap kali mendapatkan PDP yang sulit untuk diarahkan agar diisolasi sementara waktu, hingga keadaannya membaik. Ada pula yang memiliki banyak keinginan, sementara Kote selaku tenaga medis di sana sebetulnya sudah merasakan lelah setelah seharian bekerja dalam kondisi seperti ini.

“Misalnya, ada pasien yang tetap ingin ditengok keluarganya, ingin makan ‘ini-itu’ layaknya di hotel, protes dengan fasilitas yang ada, dan lain-lain. Itu semua membuat ‘kesal’ para dokter dan tenaga medis, karena kami pun kelelahan fisik dan mental sebetulnya”.

Sementara itu, para tenaga medis pun menghadapi tantangannya tersendiri. Kote menyampaikan salah satu kendala yang sudah muncul sejak awal, dan belum mendapatkan penanganan hingga saat ini, adalah penyediaan APD untuk tenaga medis, khususnya yang ada di daerahnya.

“Kendala di lapangan, terutama belum optimalnya support pemerintah dalam hal penyediaan fasilitas penunjang diagnostik, dan pengadaan alat pelindung diri (APD) bagi tim medis,” ungkap Kote.

Contohnya, jelas Kote, antara lain adalah penyediaan media pemeriksaan laboratorium untuk apus tenggorok yang sangat terbatas jumlahnya, penyediaan fasilitas untuk ruang isolasi di rumah sakit rujukan Covid-19 yang belum standar, hingga sulitnya mendapatkan APD ideal.

“Yang kami rasakan sebagai dokter, belum ada perubahan yang signifikan untuk memecahkan permasalahan di lapangan berkaitan dengan wabah ini,” tegas Kote.

“Kami ‘dipaksa’ untuk berperang melawan virus Covid-19, tapi tidak dipersenjatai dan diberikan fasilitas pelindung diri dengan maksimal.”

Atas sejumlah masalah tersebut, Kote pun mendesak kepada pemerintah agar bisa lebih memerhatikan masalah tersebut. Terlebih, di tengah wabah yang angkanya terus naik, serta membutuhkan keterlibatan tenaga medis dalam penanganannya.

“Dapat secara cepat membantu melengkapi fasilitas alat-alat kesehatan, penunjang diagnostik, dan APD yang standar bagi tim medis terutama di seluruh RS yang ditunjuk sebagai RS rujukan di seluruh Indonesia,” tegas Kote.

“[Serta] memberikan jaminan kesehatan dan keselamatan serta ketenangan bekerja pada seluruh dokter dan tenaga kesehatan yang berjuang dalam penanganan wabah Covid-19 di seluruh Indonesia”.

Kote pun menyampaikan sejumlah harapannya bagi masyarakat Indonesia agar bisa melibatkan diri dalam menangani wabah ini, dari langkah-langkah kecil, antara lain melakukan pembatasan fisik atau interaksi sosial secara langsung, dan berdiam di rumah.

Selain itu, juga dapat dilakukan dengan pola hidup bersih dan sehat, seperti sering cuci tangan, melakukan etika batuk yang benar, serta diet sehat agar dapat meningkatkan imunitas tubuhnya dan tidak mudah terjangkit virus Covid-19.

Kote pun meminta agar masyarakat bisa secara sadar dan jujur melaporkan diri apabila mendapatkan gejala penyakit Covid-19, atau telah bepergian dari suatu daerah yang memasuki zona merah atau terdapat orang yang positif Covid-19.

“Tidak panic buying, terutama dalam membeli APD secara berlebihan, bahkan menimbunnya, yang pada akhirnya mengurangi ketersediaan APD di pasaran, sehingga justru mempersulit tim medis di lapangan,” ujar Kote.

“Untuk para pedagang, jangan memanfaatkan kondisi wabah saat ini untuk kepentingan pribadi, terutama dalam hal penimbunan atau penjualan yang tidak wajar alat dan bahan kesehatan, serta APD,” lanjunya.

Selain itu, Kote pun mengapresiasi sejumlah gerakan yang dilangsungkan masyarakat untuk mendukung tenaga medis di Indonesia, yang sebetulnya merupakan tanggung jawab pemerintah.

“Apresiasi yang tinggi untuk partisipasi masyarakat dalam menggalang dana, atau donasi untuk membantu penyediaan APD bagi tim medis,” pungkasnya.

(Foto/ Ilustrasi: Pixabay)

*Fadiyah, Jurnalis lepas di Jakarta. Kini aktif sebagai pengurus divisi gender Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Jakarta. Di waktu kosong, kerap kali mengubah khayalannya jadi fiksi.

Tim Konde.co

Tim Konde.co

Konde.co lahir pada 8 Maret 2016 untuk mengelola ruang publik dari sudut pandang perempuan dan minoritas sebagai bagian dari kesadaran dan daya kritis, menghadirkan penerbitan artikel di website, produksi video/ film, dan informasi/ pengetahuan publik. Kini dikelola oleh individu-individu yang mempunyai kesamaan dalam memandang perempuan dan minoritas.

Let's share!

Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin
Share on whatsapp
Share on email