Film Mona Lisa Smile, Kisah Dosen Menolak Tradisi Feodal Perempuan di Kampus


Film “Mona Lisa Smile” mengingatkan saya pada gambaran seorang dosen feminis, yang memperjuangkan agar mahasiswinya keluar dari cara berpikir feodal yang kadang tak membuat mereka bahagia

*Fitria Rizka Nabelia- www.Konde.co

Film yang diputar di tahun 2003 ini telah saya tonton berulangkali, karena kuatnya gambaran perjuangan disana, dialog yang sangat personal diantara perempuan dosen dan mahasiswinya, serta dinamisasi cerita dalam film. Film ini sangat kuat diantara minimnya film feminis di masa itu.

Pada kenyataannya perempuan akan selalu dalam berada dalam “kerugian,” paling tidak inilah gambaran saya mengenai Film “Mona Lisa Smile.” Karena budaya dan negara yang patriarkis. Begitulah konsep patriarkisme menurut Sylvia Walby. Patriarki akan selalu ditopang dan dipelihara. Meskipun perempuan telah diberi kesempatan mengenyam hak pendidikan yang setara.

Tampaknya, semua konsep itu tergambar di film Mona Lisa Smile. Film garapan sutradara Mike Newell ini begitu gamblang menggambarkan kondisi patriarki yang terus mengalami evolusi.

Kisah ini terjadi dalam kehidupan perempuan dosen sejarah seni bernama Katherine  Ann Willis (Julia Roberts) di kota Wellesley bersama para mahasiswinya, Betty (diperankan Dunst), Joan (Stiles), Giselle (Maggie Gyllenhaal), Connie (Ginnifer Goodwin) dan Amanda yang diperankan Juliet Stevenson di Wellesley College pada tahun 195, tahun dimana terjadinya Perang Dunia ke-2 disana.

Wellesley College yang didirikan untuk memberi kesempatan perempuan di bidang akademis, pada kenyataannya sama sekali tidak memberi ruang yang setara bagi perempuan untuk melanjutkan sekolah atau bekerja di publik selayaknya laki-laki. Justru mereka selama masa pendidikan diajarkan untuk menjadi istri dan ibu yang baik agar bisa mendampingi suami mereka.

Pada tahun 1953 masa depan perempuan di Amerika, terutama para perempuan di Wellesley College memang belum identik dengan pergulatan keilmuan. Bahkan, tidak heran jika terdapat mata kuliah tata krama (poise and body languae) untuk mendidik para calon istri orang-orang penting. Kebanyakan mereka adalah mahasiswi dari kumpulan orang-orang terkemuka di zaman itu.

Berawal dari kisah perjuangan seorang pengajar bernama Katherine dalam mempertahankan independensinya di tengah tradisi kampus yang konservatif. Dia adalah pengajar baru kesenian di Wellesley College, lulusan Universitas Berkeley. Katherine sebagai perempuan bohemian dan modern mencoba menanamkan pola pikir baru kepada para mahasiswinya.


Saat pertama kali mengajar, Katherine begitu tercengang dengan kecerdasan para mahasiswi di kelasnya. Bahkan, awalnya dia tampak tidak percaya diri karena semua pertanyaan yang diajukan dapat di jawab dengan mudah oleh setiap mahasiswi. Ia kemudian mencoba menerapkan metode belajar yang berbeda diluar silabus untuk mencuri perhatian mereka.

Kesulitan besar yang dihadapi Katherine adalah ia harus menghadapi pola pikir mahasiswinya yang terkungkung tradisi kuno seperti pemikiran bahwa perempuan akan menjadi istri ketika lulus, tak boleh terlalu kritis karena akan keluar dari tradisi adalah sesuatu yang dihadapi Katherine setiap harinya.

Ketika Katherine mengajarkan tentang feminisme, bahwa perempuan berhak memilih, perempuan berhak melakukan sesuatu yang ia inginkan, ia kemudian harus menghadapi kecaman dari para dewan perguruan tinggi di kampus itu

Beberapa kali Katherine mendapat teguran agar tetap mengajar sesuai silabus kampus. Bahkan kepala kampus mengatakan jika tradisi lama harus terus dirawat, karena di satu sisi perempuan yang boleh sekolah kala itu sudah menunjukkan kemajuan di Whellesley. 

Sementara itu, di ruang kelas pun, Katherine terus mendapat kritikan keras dari salah satu mahasiswi paling pintar dan berpengaruh di kelasnya bernama Betty. Betty merupakan mahasiswi yang selalu menjunjung tinggi nilai tradisi di kampusnya. Katherine sendiri tetap pada pendiriannya, bahwa perempuan bisa berkarir layaknya laki-laki dan berhak memilih pilihan hidup yang mereka sukai.

Hal ini juga yang membuat Joan Brandwyn, mahasiswi yang memiliki cita-cita terpendam untuk melanjutkan sekolah hukum ke Yale University, tertarik dengan pemikiran katherine. Selanjutnya Katherine yang mengetahui keinginan Joan, kemudian membantu mengusahakan supaya mahasiswinya itu bisa melanjutkan pendidikan ke Yale.

Namun, usahanya membantu Joan berujung sia-sia. Karena Joan memilih melanjutkan pernikahan dengan pacarnya. Kekecewaan Katherine adalah, ketika Joan mengatakan melanjutkan study ke Yale menghambat dirinya menjadi istri dan ibu yang baik bagi suami dan anak-anaknya. Joan menganggap bahwa pilihannya benar, sedangkan pola pikir Katherinelah yang salah.

Hal ini tampak berbeda dengan tokoh Betty yang awalnya sangat anti dengan pola pikir Katherine. Setelah mengetahui suaminya berselingkuh, Betty mulai mengerti maksud Katherine kenapa dia tidak pernah mencoba menikah. Dari kejadian itu Betty menjadi lebih terbuka dengan konsep baru tentang pernikahan yang selama ini dipakai oleh Katherine.

Film Mona lisa Smile ini buat saya sangat inspiratif.  Tak banyak yang mau menempuh jalan seperti Katherine, yang "sendirian" mendobrak tabu. Keberanian, dedikasi Katherine adalah hal yang tak banyak ditempuh orang lain disana. Disinilah kekuatan Katherine sebagai seorang perempuan dosen dan menjadi kekuatan Mona Lisa Smile, menularkan keberanian di tengah arus yang tak berpihak padanya.

Film ini juga begitu tampak realistis dalam menggambarkan kehidupan perempuan di Amerika pada saat itu. Sejauh perempuan di Whellesley College mendapatkan akses pendidikan yang sama, namun nyatanya dalam kehidupan sejari-hari mereka masih belum mencapai posisinya setara.

Jika dilihat melalui kacamata aliran feminisme liberal, Katherine adalah simbol perjuangan kesetaraan. Ketika patriarki tumbuh subur sebagai akronisme pada masanya, dia berani mendobrak batasan-batasan tradisi yang mengungkung perempuan.

Di sisi lain perjuangannya, bagi saya Katherine secara tidak langsung juga telah memberi kehidupan baru kepada perempuan.

Film Mona lisa Smile memperlihatkan bahwa upaya merekontruksi identitas perempuan adalah proses panjang. Sehingga, jika sebuah konsep baru ditanamkan dalam struktur masyarakat, ini bisa menjadi pengetahuan baru bagi masyarakat.

(Foto: Info film dan wikipedia)


*Fitria Rizka Nabelia, tertarik pada isu-isu perempuan lokal dan tradisi. Sekarang, tengah berproses dalam aktivitas menulis dan membaca di Institute For Javanese Islam Research (IJIR)