Lesbian Day of Visibility dan Stereotype dalam Relasi LGBT


Setiap tanggal 26 April diperingati sebagai hari visibilitas lesbian sedunia atau Lesbian Day of Visibility, dimana di setiap tanggal tersebut banyak orang mengkampanyekan untuk menuntut hak-hak setara bagi para lesbian. Sejauh ini, lesbian dan LGBT secara umum masih mendapatkan stereotype sebagai manusia yang dilaknat oleh Tuhan, termasuk ketika berelasi dengan pasangan mereka. Padahal sebagaimana pasangan heteroseksual, Lesbian dan LGBT juga manusia yang memiliki cita-cita ke depan untuk membangun suatu hubungan yang penuh komitmen, cinta, kejujuran, ketulusan, kepercayaan dan suportif


*Vioranda- www.Konde.co

“Hallo, Selamat Hari Visibilitas Lesbian ya.”

Sejumlah sosial media ramai mengucapkan Lesbian Day of Visibility atau hari visibilitas bagi lesbian pada 26 April 2020.

Lesbian Day of Visibility ini awalnya lahir dari gerakan Lesbian, gay, Biseksual dan Transgender atau LGBT di Spanyol, sebagai bagian dari aktivitas-aktivitas mereka yang terlihat, berdasarkan posisi lesbian di masyarakat dan ruang publik.

Seiring berjalannya waktu, setiap Lesbian Day of Visibility kemudian mendesak institusi pemerintah untuk mempromosikan kesetaraan dan menghentikan diskriminasi terhadap perempuan dan lesbian. Hal ini dilakukan dengan cara mendukung lesbian untuk berani menampilkan jati diri sehingga kecurigaan dan stereotipe buruk yang selama ini dilekatkan terhadap mereka akan runtuh

Di luar desakan agar pemerintah memberikan jaminan non diskriminasi dan non stereotype pada lesbian dan LGBT, hingga hari ini, stigma terhadap hubungan lesbian dan LGBT secara umum masih terjadi. Kelompok LGBT dianggap tidak punya hubungan yang bermasa depan, dan sejumlah stigma lainnya. Orientasi hubungan LGBT juga dianggap hanya berorientasi atas seksual saja.

Padahal sebagaimana pasangan heteroseksual, pasangan LGBT juga manusia yang memiliki cita-cita ke depan untuk membangun suatu hubungan yang berorientasi pada komitmen, cinta, kejujuran, ketulusan, kepercayaan dan suportif

Namun yang terjadi tidak seperti pasangan heteroseksual yang bisa melenggang bebas ketika menjalin hubungan romantis, kelompok Lesbian, Gay, Biseksual dan Transgender (LGBT) harus menyembunyikan hubungan mereka jika tidak mau dicap sebagai manusia yang dilaknat oleh Tuhan, karena sebagian orang masih menganggap begitu, atau bahkan jika tak mau mendapatkan hukuman fisik di beberapa daerah.

Ini karena anggapan bahwa LGBT tak boleh punya hubungan spesial dan tak boleh punya rasa romantis.

Ada beberapa stigma yang dilekatkan pada kelompok LGBTQ yang berkaitan dengan hubungan romantis mereka:

1. Tidak Sesuai dengan Norma yang Berlaku.

Banyak orang yang beranggapan bahwa orientasi seksual selain heteroseksual, ekspresi dan identitas gender selain biner adalah hal yang tidak sesuai dengan norma yang ada. Hal ini juga sering menjadi anggapan di kalangan kelompok LGBT sendiri. Jadi ketika mereka menjalankan relasi romantis, maka persepsi tentang hubungan sesama jenis juga menjadi salah.

2. Bukan Hubungan yang Serius Karena Tidak Bisa Menikah

Banyak orang beranggapan bahwa hubungan sesama jenis hanya akan membuang-buang waktu saja karena tidak akan bisa menikah. Dalam kondisi ini, sebagian LGBT kadang ada yang masih beranggapan kalau hubungan romantis mereka bukanlah sesuatu yang patut untuk diseriusi karena nantinya akan putus begitu saja dan mereka akan menikah dengan lawan jenis sebagai tuntutan dari masyarakat. Karena masyarakat Indonesia mayoritas masih memandang bahwa pernikahan adalah tujuan akhir dalam hidup. Padahal di negara-negara yang telah melegalkan pernikahan sesama jenis, banyak pasangan LGBT telah menikah bahkan hingga puluhan tahun.

3. Tidak Bisa Setia atau Monogami

Anggapan ini berkaitan dengan poin sebelumnya, karena mereka menganggap hubungan sesama jenis bukan lah hubungan yang harus serius maka mereka akan dengan cepat menemukan pasangan baru. Ditambah lagi dengan beberapa orang yang memang tidak bisa atau tidak cocok dengan hubungan monogami atau dikenal dengan istilah open relationship. Sebenarnya, open relationship ini bukan hanya terjadi pada pasangan LGBTQ saja tetapi pada pasangan heteroseksual juga terjadi.

4. Hanya Berorientasi pada Seks

Banyak juga yang beranggapan seperti ini, LGBT memulai suatu hubungan romantis hanya untuk memuaskan kebutuhan seksualnya saja. Padahal sebagaimana pasangan heteroseksual, pasangan LGBTQ juga manusia yang memiliki cita-cita ke depan untuk membangun suatu hubungan yang berorientasi pada komitmen, cinta, kejujuran, ketulusan, kepercayaan dan suportif.

5. Peran laki-laki dan perempuan

Konstruksi sosial di masyarakat beranggapan bahwa orang yang berpasangan itu selalu laki-laki dan perempuan. Sebagian LGBTQ juga kadang masih beranggapan bahwa siapa yang akan menjadi laki-laki dan siapa yang akan menjadi perempuan. Hal ini tentu dipengaruhi oleh sistem heteronormatif yang masih dianut oleh masyarakat. Jadi ketika mereka menjalani suatu hubungan romantis maka harus ada yang menjadi laki-laki dan yang menjadi perempuan. Hal ini bukan pada aktivitas seksual saja tetapi juga pada aktifitas sehari-hari lainnya. Peran laki-laki yang tegas dan bijak sedangkan peran perempuan adalah lemah lembut dan mengayomi. Padahal jika ditelaah lagi, ketika sudah menjalin hubungan non-heteroseksual, maka bisa dikatakan sudah “keluar” dari budaya heteronormatif. Jadi ketika menjadi pasangan non-heteroseksual maka peran laki-laki dan perempuan bisa dilakukan siapa saja tidak hanya dari salah satu pihak.

Dari stigma yang muncul diatas, semakin memudarkan eksistensi dari relasi romantis kelompok LGBT. Sebagian orang dari kelompok LGBT masih mempercayai bahwa hubungan selain heteroseksual adalah sesuatu yang salah dan ini dipengaruhi oleh masyarakat itu sendiri.

Tetapi untuk sebagian lainnya yang masih bertanya tentang eksistensi relasi romantis hubungan sesama jenis, percayalah bahwa kita semua bisa mendapatkan apa yang pasangan heteroseksual dapatkan meskipun dengan usaha lebih.

Tetapi yang namanya menjalankan suatu relasi romantis bukan kah lebih indah jika harus mengeluarkan usaha lebih? Bukan kah lebih bermakna jika hubungan kalian harus dijalankan dengan semangat untuk berjuang bersama?

Referensi: http://perempuanberbagi.org/hari-visibilitas-lesbian-internasional-kenapa-itu-penting/

(Foto/ Ilustrasi: Pixabay)

*Vioranda, senang menulis isu sosial terutama gender dan seksualitas diwaktu senggangnya