Untuk Jannah, Fitri dan Anak Perempuan yang Menikah di Pulau Kami


Cerita ini kutulis untuk Jannah, Fitri dan anak perempuan lainnya di pulau kami yang sudah menikah sejak masih usia anak

*Irwan- www.Konde.co

Kodingareng adalah sebuah pulau yang berjarak 18 kilometer di barat kota Makassar. Begitu dekat terdengar di telinga orang yang mendengarnya tapi bagi kami itu sangat jauh, ini karena dibutuhkan tenaga ekstra untuk bisa sampai disana. Orang harus menaiki perahu untuk sampai kesana.

Untuk pulang kembali di hari itu juga susah, kita harus menunggu kapal yang bisa membawa kita keesokan harinya.

10.45 Wita, aku berjalan menyusuri parkiran motor ditengah banyaknya orang berlalu lalang yang membuat aku sedikit sulit menuju perahu itu. Aku duduk di deretan ketiga bangku kayu permanen warna biru tua.

Suara besar perahu menutup semua suara yang ada disekitarku. Terlihat beberapa orang merapikan belanjaan, ngobrol, main handphone dan tidur.

Kurangnya akses informasi dan pendidikan di pulau itu membuat stigma dan doktrin masyarakat yang menyatakan bahwa menempuh pendidikan itu tak begitu penting, apalagi bagi perempuan. Tak jarang aku dengar omongan itu dari tetanggaku

“Teamako sekola tinggi-tinggi paling sudahko bersuami tinggal dirumah jako yang penting bisa mako membaca (tidak usah sekolah tinggi, mentok-mentok jadi ibu rumah tangga, yang penting bisa baca).”

Fenomena perkawinan anak sangat marak kami jumpai di pulau Kodingareng, ada beberapa yang membuat anak-anak perempuan terpaksa putus sekolah, ini karena persoalan ekonomi dan budaya di tempat kami tinggal.

Jannah adalah seorang anak nelayan yang mestinya masih duduk di kelas XI. Ia tinggal bersama orangtuanya dan terpaksa putus sekolah demi memenuhi keinginan orangtuanya untuk dinikahkan oleh laki-laki pilihan bapaknya.

Kapalku sudah berlabuh di dermaga. Aku melihat seorang ibu paruh baya yang asyik berkaraoke dengan speaker Bluetooth-nya, sangat jelas terdengar ditelinga, ada seorang ibu menyanyikan lagu “Chicken Det-Det”.

Sesekali aku menyapa orang yang kutemui di jalan yang aku kenal sekedar bertanya kabar. Di pinggir dermaga aku duduk menikmati pemandangan. Dari jauh aku lihat Jannah sedang ngobrol bersama bapaknya dengan begitu serius.

“Bapak, Jannah belum mau menikah, masih mau sekolah,” kata Jannah pada bapaknya.

Namun kata itu seakan tak berarti bagi bapaknya, sesekali si bapak menoleh pada Jannah sambil merajut jaring penangkap ikan yang sudah robek

“Ini khan untuk kebaikanmu juga, nak.”

Mereka duduk diatas pasir putih. Seakan putus asa pada mimpinya untuk melajutkan sekolah, Jannah kembali mengubur dalam-dalam keinginannya untuk masuk sekolah. Ia banyak di rumah dan hanya menunggu perkawinannya dilangsungkan.

Wajah murung Jannah sangat jelas terlihat, terdengar suara dari balik pintu.

“ Jannah, Jannah,” teriak seorang perempuan balik pintu.

“Siapa?,” sambut Jannah, ia berjalan mendekati pintu dengan wajah cemas.

“ Saya fitri," balasnya.

“ Ooo kau, Fitri dari Manaki? Aku ingat kau,” ujar Jannah.

Mereka duduk di teras depan sambil memandang ke arah laut lepas dengan secangkir teh manis.

“ Jadi Jannah gimana rencanamu sekarang?,” kata Fitri.

“ Yah, beginilah aku sekarang, aku mau dinikahkan,” Jannah menjawab dengan nada pasrah.

Nasib Fitri tak jauh beda. Ia juga tak punya kekuatan untuk melawan keinginan bapaknya, ia pun menikah dengan laki-laki yang bernama Amran, seorang awak kapal penumpang di pulau itu.

Awal pernikahan mereka tak ada masalah. Namun pada tahun kedua dalam keluarga kecil itu mulai ada riuk-riuk pertengkaran dikarenakan Amran yang tak mau bertanggung jawab. Akhirnya pasangan ini resmi bercerai di tahun kedua pernikahan mereka.

Kisah Jannah dan Fitri adalah satu dari sekian banyak pernikahan anak yang harus bubar di tengah jalan.

Sebut saja Ira(16 tahun), Riski, Rina(17 tahun), Mita(13 tahun) adalah beberapa kasus anak perempuan yang menikah di bawah umur dan berpisah dengan suami dikarenakan saling lempar tanggung, dan akhirnya saling memilih untuk pisah.

Beberapa orangtua menikahkan anak perempuannya, yang kemudian menyebabkan anaknya harus putus sekolah. Mereka memilihkan menikahkan anaknya lebih cepat, anggapan beberapa orangtua menikahkan anaknya jika lebih cepat lebih baik daripada lama-lama akan menjadi perawan tua, ini yang masih menjadi budaya kami.

Melihat kasus ini orang tua seakan ingin melepaskan tanggungjawabnya sebagai orangtua dan menyerahkan anak perempuannya pada laki-laki lain.

Selain itu faktor ekonomi, budaya bahkan kurangnya kontrol dari keluarga menjadi faktor terjadinya perwakinan anak di daerah itu. Ini kondisi yang menyedihkan, anak perempuan telah kehilangan masanya bertumbuh, sekolah dan bermain seperti anak-anak lainnya, namun harus kehilangan semua ini.

Untuk Jannah, Fitri dan anak-anak perempuan lainnya di Pulau ini.

*Irwan, sehari-hari bekerja di LBH APIK Makassar, Pulau Kodingareng, Sulawesi Selatan