Pengalaman Perempuan: Dibully Karena tak Bisa Kuliah dan Sekolah Tinggi

Tidak bisa sekolah tinggi seperti orang lain pada umumnya ternyata sangat tidak menyenangkan, bahkan saya pernah dibully karena ini. Padahal seharusnya kita harus respek pada orang lain bukan karena status sosial atau status pendidikannya, tapi karena respek adalah cara kita untuk menghargai orang lain

*Ravika Alvin Puspitasari- www.Konde.co

Inilah yang saya dan beberapa kawan saya alami. Saya bisa kuliah, namun bukan berarti jika ada teman saya yang tak bisa kuliah, ia boleh dibully. Karena penghormatan pada orang lain menurut saya sifatnya universal, tidak mengenal kelas sosial

Hanya karena berasal dari keluarga miskin, saya pernah dibully karena dianggap tak bisa sekolah tinggi. Hal ini juga menimpa teman-teman perempuan saya yang tak bisa melanjutkan sekolah selepas Sekolah Menengah Atas (SMA).

Selama ini yang saya amati, banyak perempuan dari golongan masyarakat kelas menengah ke bawah atau proletar, masih banyak yang belum mendapatkan hak dalam mengakses pendidikan.

Mereka termarginalisasi akan status dan peranan sosial mereka karena berbagai bentuk stratifikasi sosial dan bayang-bayang budaya patriarki yang menghantaui mereka untuk mengakses pendidikan yang lebih tinggi.

Rata-rata yang tak bisa sekolah tinggi adalah mereka yang tak punya cukup uang, tak punya akses, tak punya kesempatan dan pilihan. Kondisi ini sering membuat perempuan kawan-kawan saya tidak bisa mengakses kesempatan, lebih-lebih kesempatan pendidikan seperti lainnya.

Banyak perempuan yang menyatakan bahwa melanjutkan kuliah bukan dianggap sebagai cita-cita penting karena harus mendahulukan saudaranya yang laki-laki untuk kuliah. Ada juga anggapan yang mengatakan, buat apa sekolah tinggi buat perempuan jika nanti menikah juga, menjadi ibu rumah tangga dan tidak dipakai ilmunya?

Hal ini lalu memunculkan asumsi di pikiran saya: bukankah hakikat dari pendidikan selama ini sendiri adalah sifatnya universal, adil, dan merata? lalu kenapa praktik-praktik diskriminasi, dan stratifikasi masih terjadi di dalam pendidikan untuk perempuan?.

Dan siapa bilang jika ilmu kita tak akan kita pakai ketika kita menjadi ibu di rumah? Karena pendidikan sejatinya adalah mengajarkan cara berpikir, memberikan contoh dalam menyelesaikan persoalan dan memberikan cara untuk menghargai orang lain. Pendidikan seperti ini akan digunakan dimanapun kita berada dan dalam menentukan pilihan-pilihan kita

Problematika semacam itu juga masih terus terjadi di masyarakat kita, misalnya ketika masyarakat masih berpikir secara irasional, dan masih berpengaruhnya hegemoni dari budaya patriarki yang melihat bahwa penghormatan pada orang lain diberikan karena strata sosialnya yang tinggi, bisa mengakses pendidikan tinggi, punya uang yang banyak agar dihormati orang lain. Akibatnya, perempuan menjadi tersingkir dari ruang-ruang ini. Perempuan menjadi terbelakang, dianggap tak pintar dan tidak mendapatkan penghormatan.

Buat saya, inilah pentingnya aksi sosial untuk membebaskan perempuan dari penindasan yang membuat mereka termarginalkan dalam mengakses pendidikan. Perempuan berhak untuk mendapatkan akses pendidikan secara luas, dan ikut berperan bukan untuk memilih dimanapun mereka berada, memilih bekerja di rumah atau di ranah publik.

Kartini sudah pernah menuliskan, bahwa perempuan harus mengenyam pendidikan setinggi-tingginya, tidak hanya perempuan dari kalangan berduit saja yang dapat sekolah tinggi namun saat ini asal ada kemauan dan semangat bagi semua perempuan dapat menempuh pendidikan setinggi-tingginya sesuai minat dan bakatnya.

Karena pendidikan akan mendorong terciptanya kesadaran kritis masyarakat yang memegang teguh nilai-nilai akan kesetaraan gender, dan secara perlahan memupus praktik diskriminasi yang timbul akibat hegemoni dari budaya patriarki yang cukup kental dalam masyarakat.

Saya mengusulkan, upaya yang bisa dilakukan antara lain adalah membuka akses sebanyak-banyaknya bagi perempuan untuk bersekolah tinggi. Untuk perempuan proletar, bisa mendapatkan beasiswa yang lebih banyak

Lalu merekonstruksi sistem pembelajaran seperti kurikulum pendidikan agar tidak terjadi bias gender, dan praktik diskriminatif terhadap perempuan di dunia pendidikan. Dalam hal ini seperti pandangan dari Paulo Freire, bahwa pendidikan haruslah bisa menjadi sarana bagi masyarakat untuk menumbuhkan kesadaran kritis dalam melepaskan diri dari berbagai belenggu praktik penindasan atas dominasi masyarakat dominan dalam ranah sosial, ekonomi, budaya, dan gender.

Pemerintah dan seluruh elemen masyarakat mestinya bersinergi untuk berperan serta dalam menciptakan sistem pendidikan yang humanis, dan memberikan kebebasan dan fasilitas kepada perempuan dalam merengkuh pendidikan tinggi sebagai kebutuhan sosial mereka utamanya bagi para perempuan dari kalangan masyarakat kelas menengah ke bawah yang memiliki keterbatasan ekonomi

(Foto/ Ilustrasi: Pixabay)

*Ravika Alvin Puspitasari, perempuan dari sebuah Kabupaten yang terkenal dengan tanah kelahiran presiden pertama Indonesia, Bung Karno. Kesibukan saat ini kuliah daring dan mengikuti berbagai diskusi online. Selain itu jika kuliah masuk seperti biasanya, Ravika aktif menulis di lembaga Institute For Javanese Islam Research dan tertarik dengan isu gender

Tim Konde.co

Konde.co lahir pada 8 Maret 2016 untuk mengelola ruang publik dari sudut pandang perempuan dan minoritas sebagai bagian dari kesadaran dan daya kritis, menghadirkan penerbitan artikel di website, produksi video/ film, dan informasi/ pengetahuan publik. Kini dikelola oleh individu-individu yang mempunyai kesamaan dalam memandang perempuan dan minoritas.

Let's share!

Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin
Share on whatsapp
Share on email