Buka Usaha Makanan Hingga kurangi Jatah Makan, Yang Dilakukan PRT Saat Corona

Tak mau menyerah, para Pekerja Rumah Tangga (PRT) berjualan selama Pandemi Covid atau Corona. Ada yang berjualan melalui online, ada yang berjualan di samping rumah, ada yang hanya makan paling banyak 2 kali saja dalam sehari agar bisa hemat makanan

Sayem- Konde.co

Ada ironi yang terjadi pada PRT, mereka buka usaha makanan agar bisa menyambung hidup, namun mereka juga mengurangi jatah makan agar bisa hemat persediaan makanan

Pandemi Covid sangat terasa dampaknya bagi 4,2 juta PRT Indonesia, apalagi ada banyak PRT yang dipecat majikan, dikurangi jam kerja karena majikan takut tertular Corona dari PRT.

Para PRT lalu mencari jalan keluar agar keluarga bisa bertahan hidup. Karena hanya menunggu janji bantuan sosial dari pemerintah bukan cara yang tepat. Banyak yang sudah didata tapi sedikit yang menerima bantuan. Entah kemana raib bantuan sosial tersebut, seperti sulap, hilang tanpa bekas.

Ini kisah kawan kami Bu Amanah, yang tengah berjuang di tengah wabah Corona di Jakarta. Sebelum dirumahkan, Bu Amanah bekerja paruh waktu sebagai Pekerja Rumah Tangga (PRT) pada majikan berkebangsaan Korea.

Dirumah kontrakannya Bu Amanah tinggal bersama dua anak perempuannya, sedangkan seorang anak laki-lakinya masih di pesantren. Suaminya seorang sopir tinggal di kampung di Jawa Barat. Karena sudah ada larangan keluar rumah, suaminya membuka kolam ikan.

Untuk menambah pemasukan, sambil bekerja Bu Amanah kemudian berjualan makanan matang yang dia promosikan pada kawan-kawannya dan ibu-ibu teman anak-anaknya. Selain itu, bu Amanah juga sering ikut berjualan kalau ada bazar di berbagai event lainnya.

Dirumahkan sebagai PRT karena Covid adalah saat buruk yang dialami Amanah dan banyak PRT lain di Indonesia. Setelah dirumahkan dan tidak bekerja lagi sebagai PRT, di tengah wabah Corona ini, usaha jualan makanannya kini menjadi tumpuan pemasukannya.

Setiap hari. Bu Amanah kini menambah menu makanan yang dijual. Selain promosi dari mulut ke mulut, ibu Amanah juga promosi melalui media sosial Facebook dan jaringan WhatApp.

Usahanya dibantu kawan-kawan dalam organisasi Pekerja Rumah Tangga (PRT) yang ikut mempromosikan dagangannya. Karena ditengah larangan keluar rumah dan semua tempat makan harus tutup.

Masakan Bu Amanah digemari pelanggan karena murah dan enak rasa rumahan, kaya bumbu khas Indonesia. Diantaranya Balado Ati Ampela, Balado Jengkol, Mustopo (Kentang Kering), dan Sambel Goreng Pete dengan harga yang merakyat berkisar Rp10 ribu-Rp15 ribu. Kecuali rendang daging yang harganya hingga Rp.70 ribu. Ditengah bulan puasa, pelanggan juga bisa memesan untuk sahur.

Hebatnya, bukan hanya masakan Indonesia, Bu Amanah juga pandai memasak makanan ala Korea. Beberapa makanan Korea yang biasa dipesan pelanggan seperti Gimbab (Shusi), Kimci (asinan sayur) dan Tupoki (lontong dicampur sayur). Harganya berkisar Rp10 ribu-Rp50 ribu. Khusus masakan Korea harus dipesan karena tidak bisa distok dan harus fresh.

Pelanggan juga tidak perlu ke pasar kalau ingin memasak sendiri. Mereka bisa menghubungi Bu Amanah yang juga menyediakan masakan siap dimasak seperti bakso beku, Nugget beku, tulangan, cireng (aci digoreng), kentang beku seharga Rp15 ribu- Rp55 ribu yang bisa.

Keuntungan bersih setiap hari yang didapat Bu Amanah sekitar Rp 30 ribu- Rp 70 ribu, ini lumayan untuk kebutuhan sehari-hari saat ini.

Pelanggan bisa pesan masakan Bu Amanah pada nomor telpon dan pesan Whatsapp. Dari rumah kontrakannya di belakang Apartemen Parama di Jalan TB Simatupang, Cilandak, Jakarta Selatan, bu Amanah memasak sampai mengantar pesanan ke rumah pelanggan.

Tak Menyerah Karena Covid

Bu Amanah adalah salah satu PRT kawan kami yang terus berjuang dengan tenaga sendiri menghadapi kehidupan di tengah wabah ini. Masakannya sederhana dijual murah agar bisa terjangkau masyarakat yang membutuhkan.

Banyak kawan-kawan PRT yang mengalami PHK (Pemutusan Hubungan Kerja) tanpa pesangon. Apa lagi wabah ini berbarengan dengan Hari Raya Idul Fitri 2020. Kebanyakan PRT dirumahkan entah sampai kapan atau dipotong gajinya karena jam kerja dikurangi. Hal ini hanya bisa diterima oleh kami PRT tanpa perlindungan hukum yang jelas. Maklum saja, sampai saat ini belum ada undang-undang yang melindungi PRT.

Padahal sudah 15 tahun lebih kami, bersama serikat-serikat Pekerja Rumah Tangga dan JALA PRT (Jaringan Nasional Pekerja Rumah Tangga) berjuang menuntut agar DPR-RI segera mengesahkan Rancangan Undang-Undang Pekerja Rumah Tangga. Apa daya, sampai wabah Corona mengoyak kehidupan PRT saat ini, negara memang tak perduli pada kami Pekerja Rumah Tangga.

Kawan-kawan yang masih bekerja pulang sore, karena wabah menyebabkan kawan-kawan tidak boleh pulang, keluar rumah apalagi libur. PRT yang bekerja di apartemen mengalami pilihan yang sulit dengan keluarganya. Majikan mengultimatum jika masih mau bekerja harus mau menginap atau kalau tidak mau silahkan berhenti bekerja, ini sungguh pilihan yang sangat sulit.

Jika tahun-tahun yang lalu gelombang PHK bagi PRT biasanya menjelang Idul Fitri dengan alasan majikan tidak bisa memberikan THR dan pesangon. Saat ini semakin banyak kasus PHK, cukup dengan alasan terdampak wabah Corona majikan bisa melakukan PHK tanpa pesangon apalagi THR.

PRT yang sudah berpuluh tahun hidup pas-pasan harus menghadapi situasi yang semakin mencekik. Apa lagi jika memiliki suami yang bekerja sebagai Ojol (ojek online) yang saat ini juga dilarang beroperasi mengambil penumpang. Setiap hari harus mengatasi biaya hidup keluarga. Pemilik kontrakan bulanan tak akan mau mengerti kondisi ini.

Untuk mengakali semua itu, makan pasti akan berusaha sehemat mungkin. Untung sekarang bulan puasa. Biasanya makan 3 kali sehari, sekarang jadi 2 kali sehari. Tapi bagi yang punya anak kecil atau Balita, tentu anak- anak ini tak mengerti apa itu pandemi Corona. Yang mereka tahu hanya minta uang untuk jajan.

Sehingga ada beberapa kawan- kawan yang mencoba bisnis online seperti Bu Amanah. Bahkan ada yang memanfaatkan teras atau samping rumah ditanami sayur dalam pot, ada yang jual kue-kue. Pokoknya segala daya dan upaya dilakukan PRT untuk melewati hidup di tengah pandemi ini.

Semoga saja pandemi Corona ini segera pergi dan berahir. Hanya doa yang yang terbaik yang bisa kita lakukan bersama-sama untuk saling menguatkan.

(Disarikan dari: Tungkumenyala.com )

(Foto: Ibu Amanah dan saya, masakan ibu Amanah)

Sayem, bekerja sebagai Pekerja Rumah Tangga dan aktif di Serikat PRT Sapu Lidi di Jakarta

Tim Konde.co

Konde.co lahir pada 8 Maret 2016 untuk mengelola ruang publik dari sudut pandang perempuan dan minoritas sebagai bagian dari kesadaran dan daya kritis, menghadirkan penerbitan artikel di website, produksi video/ film, dan informasi/ pengetahuan publik. Kini dikelola oleh individu-individu yang mempunyai kesamaan dalam memandang perempuan dan minoritas.

Let's share!

Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin
Share on whatsapp
Share on email