Di Industri Musik, Perempuan Mendapat Pelecehan dan Dipandang Sebelah Mata

Di panggung, banyak perempuan pemusik yang mendapatkan pelecehan seksual. Dengan jumlah yang sangat minim, perempuan di industri musik selalu dipandang sebelah mata. Penonton dan promotor yang menjadi penentu nasib pemusik, kadang menjadi pelaku dan membiarkan pelecehan terus terjadi

Zara Zahrina, perempuan penyanyi yang aktif di Hantu Records, sebuah produksi musik-musik Indie mengatakan, bahwa di industri musik informal yaitu industri transisi musik indie ke musisi formal, jumlah perempuan jauh lebih sedikit dibandingkan laki-laki, karena itu industri musik secara umum selalu didominasi laki-laki.

Jadi untuk masuk ke industri musikpun bukan sesuatu yang gampang bagi perempuan. Karena itu harus ada networking, karena industri ini berbasiskan koneksi. Jika secara jumlah saja masih minim, maka perempuan akan sulit masuk dan diakui di industri ini.

“Saya melihat perempuan jadi tersingkir disini karena jumlahnya sedikit, apalagi jika mereka tidak punya networking, jadi makin susah, karena networking rata-rata dikuasai laki-laki.”

Ini dikatakan Zara Zahrina dalam acara nongkrong bareng yang diselenggarakan Never Okay Project melalui daring pada 27 Juni 2020. Hadir sebagai pembicara Zara zahrina dan Fithor Fariz, musisi dari production house Kedubes Bekasi. Diskusi ini dimoderatori Firhat dan Icha dari Never Okay Project

Apa Saja Persoalan Perempuan Dalam Industri Musik?

Jadi persoalan pertama yang banyak dialami perempuan di industri musik adalah persoalan akses yang minim, lalu kedua, adanya diskriminasi, dan yang ketiga pelecehan perempuan banyak terjadi disini. Walaupun di banyak tempat wacana tentang stop pelecehan terhadap perempuan sudah menjadi wacana lama, namun di industri musik wacana ini masih menjadi informasi yang sangat baru.

Zara mengatakan bahwa industri musik dasarnya merupakan industri yang masih punya nilai-nilai patriarkal yang sangat kental dan mendasarkan pada cara pandang patriarki. Hal ini dkuatkan dengan banyaknya bacaan dan tulisan tentang musik yang semakin menguatkan kondisi tersebut.

Zara Zahrina mencontohkan, misalnya ada banyak tulisan yang menuliskan artikel sensasional tentang perempuan, seperti misalnya artikel bertuliskan: 10 pemusik cewek tercantik. Artikel seperti ini kemudian terus dibicarakan di kalangan pemusik, dibaca dan akhirnya pembaca yang berasal dari kalangan pemusik meyakini ini sebagai hal yang biasa.

“Jadi perempuan masih dinilai penampilan fisiknya, diobyektifikasi dan belum dilihat kemampuan bermusiknya.”

Fithor melihat bahwa kriteria untuk penampilan fisik perempuan di musik masih terus terjadi, misalnya untuk menaikkan rating dan share, maka pemusik atau penyanyi yang dipilih haruslah yang cantik dulu. Kondisi ini sama dengan yang terjadi di layar televisi seperti di sinetron yang banyak diproduksi selama ini.

“Jadi menjual perempuan dari fisiknya dulu, seperti sinetron sekarang, tak perlu lihat akting, yang penting menarik secara visual. Dan penonton di musik itu kebanyakan laki-laki, jadi band nya sendiri atau penyelenggara memanfaatkan daya tarik wajah perempuan lebih dulu agar band nya laris,” kata Zara

Mungkin laki-laki sebagian mengerti dan memahami bahwa ini tidak boleh, tapi untuk mengubah ini tidak mudah.

“Jadi perempuan kebanyakan memang digunakan sebagai penarik panggung, merepresentasi perempuan hanya dari wajahnya saja, perempuan sebagai obyek saja.”

Zara Zahrina memandang, di industri musik komersialpun ada pandangan yang tak jauh beda. Misalnya ada yang mengusulkan soal ide agar membuat band perempuan yang isinya perempuan semua, ini dilakukan agar menarik perhatian penonton dan promotor. Pandangan ini bias dan akhirnya cara pikir ini yang masuk ke pandangan patriarki yang sudah kental di lingkungan musik.

Penonton, Promotor: Industri Musik Yang Menentukan Nasib Perempuan

Selain cara pandang patriarkal, penonton, promotor dan lingkungan di industri musik adalah kelompok yang melanggengkan cara pandang patriarkal ini, karena ternyata merekalah yang menentukan selera. Termasuk kemudian menentukan kriteria perempuan.

Penonton masih menyukai penampilan perempuan yang cantik. Perempuan yang cantikpun bukan tanpa masalah, mereka kemudian menjadi obyek dan tetap saja menjadi bahan untuk dilecehkan.

“Dari awal seharusnya disadari bahwa inilah lingkungan musik, ada penonton, komunitas yang patriarkhi dan industri patriarkhi. Jika ini bisa diputus lingkarannya, namun ini akan sangat lama dan sulit,” kata Zara Zahrina

Bersama teman-temannya musisi dari Kedubes Bekasi, selama ini mereka tak melihat perbedaan perempuan dan laki-laki karena yang penting bagi mereka adalah sebuah karya dan menghargai karya tersebut.

“Saya sebenarnya secara pribadi melihat perempuan dan laki-laki sama saja, yang penting siapa yang tampil baik, menguasai sesuatu dan mengangkat message nya bagus dan bermusiknya bagus, namun saya harus kembali berpikir lagi dan rata-rata harus ada perempuan, saya merasa saya juga berpikir untuk masalah ini.”

Never Okay Project kemudian mengidentifikasi bahwa selama ini sejumlah perempuan pemusik menyatakan tidak nyaman berada di panggung maupun di belakang panggung, juga di lingkungan musik. Pelecehan di musik ini terjadi karena banyak yang merasa bahwa perempuan itu bisa menjadi obyektifikasi dan bukan dilihat dari tubuh yang setara, dan pandangan ini ada dimana-mana

“Teman saya pernah dilecehkan di atas panggung, padahal di atas panggung sebenarnya lebih aman karena dilihat banyak orang, namun teman saya ini dilecehkan juga,” kata Icha dari Never Okay Project.

Icha melihat, seharusnya dalam setiap kesempatan misalnya dalam pementasan musik ada yang harus selalu mengingatkan ini.

“Ini pelecehan dan harus diingatkan sebelum pentas misalnya, cowok-cowok jangan pegang-pegang cewek ya.”

Dalam diskusi juga diakui bahwa industri musik termasuk komunitas Indie adalah komunitas laki-laki yang aturannnya ditetapkan oleh boys club dan sepertinya banyak perempuan yang harus menuruti aturan boys club ini.

Maka Hantu Records kemudian membuat kampanye stop pelecehan seksual melalui twitter. Tanggapan lalu datang dari berbagai kalangan atas kampanye ini, misalnya ada yang menganggap bahwa jika mau bekerja di industri musik, memang kondisinya seperti itu, jadi semua yang berada di lingkungan pemusik seharusnya mau terima kondisi itu

“Ada omongan bahwa jika kamu ada disana ya, itu memang akan terjadi, jadi malah menyalahkan korban, bukan malah sadar bahwa itu tidak boleh. Jadi terjadinya akan begini terus akhirnya. Lalu yang terjadi adalah subordinat dan perempuan yang kerja bareng di satu project akhirnya dikuasai,” kata Zara Zahrina

Upaya Penyelesaian: Apa Saja yang Bisa Dilakukan

Fithor bersama sejumlah laki-laki dari band Indie sebenarnya sudah ikut melakukan kampanye, namun memang sosialisasi dan penyebarannya tidak mudah, jadi memang masih ada laki-laki yang masih malu-malu untuk berkampanye tentang stop kekerasan terhadap perempuan, dan ini menjadi pekerjaan rumah selanjutnya yang harus dipikirkan untuk lebih masif dalam berkampanye.

Zara melihat bahwa kondisi ini tidak mudah karena ini adalah sistem yang sudah lama terjadi di musik. Perempuan di musik juga tak semua bisa melakukan sesuatu karena rata-rata para perempuan dikuasai oleh pelaku seperti penonton dan lingkungan industri yang menentukan nasib band nya ini, ini situasi yang sangat tak mudah untuk diselesaikan

“Dan para pelaku yang melakukan ini biasanya punya kelompok pendukung atau dia berkuasa, jadi perempuan tidak bisa mengubahnya. Jadi menurutku seharusnya sistemnya yang harus diubah dan semua harus bergerak bersama seperti misalnya buka laporan online soal kekerasan yang terjadi di industri musik.”

Zara mengatakan bahwa yang harus dilakukan saat ini banyak tentunya, di industri musik harus ada upaya untuk berkampanye yang merupakan bagian dari pencegahan. Kampanye ini bisa dilakukan dimana-mana, lalu membuka hotline pengaduan pelecehan agar korban mau berbicara dan rahasianya disimpan untuk diselesaikan. Jika dua hal ini saja bisa dilakukan maka akan ada perubahan.

Dan yang ketiga, pasti perubahan kebijakan, misalnya di setiap konser penonton diberitahu bahwa tidak boleh melakukan pelecehan seksual, jika melakukan pelecehan harus keluar dari tribun pennton. Juga promotor membuat peraturan tak boleh ada pelecehan seksual selama bekerja yang tertuang dalam kontrak kerja

(Foto/ Ilustrasi: Pixabay)

Luviana

Setelah menjadi jurnalis di media mainstream selama 20 tahun, kini menjadi chief editor www.Konde.co dan menjadi dosen pengajar paruh waktu di Jakarta. Pedagoginya dalam penulisan isu media, perempuan dan minoritas

Let's share!

Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin
Share on whatsapp
Share on email