I Love You, Leave It : Cerita Para Istri Narapidana Terorisme


I love you, leave it merupakan judul penggalan diskusi tentang bagaimana para istri Napiter atau narapidana tindak pidana terorisme mengalami masa-masa sulit sesaat setelah suaminya ditangkap sebagai Napiter. Umi, bukan nama sebenarnya mengenali perubahan suaminya sejak suaminya rajin mengikuti pengajian, sikap suami cenderung lebih tertutup kepada keluarga. Sejak itu perubahan drastispun terjadi ketika suaminya tiba-tiba ditangkap di depan anak-anak mereka

Nunu Pradnya Lestari- Konde.co


Di berbagai literatur yang membahas studi terorisme dan variannya, topik mengenai dinamika peran gender selalu menarik perhatian.

Sejarah mencatat, dalam periode perang gerilya di Amerika Latin dari tahun 1970-an dan 1980-an, perempuan memegang posisi sebagai pemain kunci gerakan radikal dengan peran protagonis.

Seiring dengan perubahan dinamika politik global, persepsi publik mengenai peran perempuan dalam gerakan radikal semakin bervariasi. Ada yang memberi label negatif sejak munculnya perempuan yang melakukan pemboman bunuh diri. Sebaliknya, tak sedikit juga yang mulai mengembangkan kajian mengenai peran perempuan dalam counter terrorism, terutama dengan metode “Disengagement.”

Disengagement
sendiri diartikan sebagai “memutus ikatan” atau dalam hal ini menarik keluar pelaku dengan mengubah perilaku dari jalan penggunaan kekerasan.

Disengagement
berbeda konteks dengan deradikalisasi, meskipun sama-sama dikategorikan dalam counter terrorism. Deradikalisasi menitikberatkan pada memoderatkan pemikiran untuk tidak melakukan tindakan kekerasan. Sementara Disengagement lebih kepada mengubah perilaku agar meninggalkan jalan kekerasan.

Dalam webinar yang bertajuk “I Love You, Leave It : Kisah Para Istri Mendorong Disengagement” yang diselenggarakan Working Group On Women Countering dan Asian Muslim Action and Network/ AMAN Indonesia pada 25 Mei 2020 yang diikuti Konde.co, menghadirkan kesaksian para istri dalam mendorong disengagement dari para suami yang terjerat tindak pidana terorisme.

Umi, bukan nama sebenarnya menuturkan kisahnya sebagai istri narapidana terorisme. Ia mengenali perubahan suaminya semenjak suami Umi rajin mengikuti pengajian, sikap suami cenderung lebih tertutup kepada keluarga.

Bahkan lama kelamaan pemikiran hingga aktivitas suami Umi berubah drastis. Umi pun mulai mendesak suami untuk mempertanyakan pengajian yang sering diikuti suaminya ini.

Perubahan kondisi ini kemudian cukup berimbas terhadap keseharian keluarga Umi. Setiap hari Umi dan anak-anaknya dibayang-bayangi kecemasan karena perilaku suami yang semakin tertutup dan bahkan setelah itu menjadi buronan dengan tuduhan menyembunyikan senjata dan membantu jaringan kelompok teroris.

Puncaknya, Umi mengalami depresi berat saat sang suami ditangkap di depan anak-anaknya.

Ditengah situasi tertekan ini, Umi harus berjuang untuk menghidupi anak-anaknya sendirian. Stigma negatif dari masyarakat pun menjadi ujian berat bagi Umi dan keluarga. Bahkan saat suami dipenjara, komunitas pengajian suaminya sama sekali tidak memberikan dukungan, namun justru mereka lepas tangan, tak mau membantu.

Di balik pergolakan batin yang dialami Umi, ketabahan dan semangat pantang menyerah demi kelangsungan hidup anak-anaknya, telah menjadikan sosok Umi menjadi perempuan mandiri.

Umi pun menuturkan selama suami berada dalam tahanan, dia tidak pernah berhenti memberikan dukungan secara moril kepada suami. Selain itu, Umi secara persuasif meyakinkan suami untuk tidak lagi terlibat dalam kelompok pengajian ekstrimis maupun aktivitas-aktivitas yang mendukung tindakan terorisme selama berada dalam penjara.

Stress dan Harus Menarik Diri

Yuniyanti Chuzaifah, mantan Ketua Komnas Perempuan yang menjadi moderator dalam diskusi ini juga memberikan catatan menarik atas diskusi ini di media sosial. Yuniyanti mencatat bahwa ketika suami kritis dengan pengajian yang diikuti sementara keluarga ditelantarkan, para istrilah yang selalu mengingatkan suami untuk tidak membenci negara

Pada awal kejadian, para istri ini 4 hari tidak bisa makan minum, karena kaget tidak tahu apa-apa, tiba-tiba saja suaminya ditangkap. Lalu yang mereka lakukan adalah tetap menopang kesehatan psikis anak-anak mereka dengan mengajak jalan-jalan dan mencoba menceritakan bahwa ayahnya sedang bekerja ke luar kota

Mereka juga menceritakan ke suami tentang penderitaan anak-anak yang traumatik karena ayahnya ditangkap di depan mereka. Ada yang sampai mengigau ketika tertidur, ada yang berubah drastis menjadi pendiam sikapnya,

Bagaimana Harus Bertahan Secara Ekonomi?


Lalu bagaimana survival para istri selama suami dipenjara dan paska penangkapan suaminya? Yuniyanti Chuzaifah mencatat bahwa para istri menyatakan mereka memilih berpindah rumah untuk menghindari stigma dari komunitas tempat tinggal mereka. Lalu mereka memilih berkumpul dengan keluarga besar agar ada dukungan, karena mereka membutuhkan dukungan ekonomi dan psikis

Intinya mereka mencoba bertahan hidup di lingkungannya yang punya keyakinan bahwa ia dan anak-anak tidak bersalah, hanya suaminya saja yang bersalah

Beberapa kemudian bekerja menjadi guru TK, mengelola katering, atau menjadi buruh cuci .

Psikolog Dr. Nani Nurrachman dalam sesi tanggapan memberikan apresiasi terhadap perjuangan Umi. Nani Nurrachman menyebutkan bahwa pendekatan yang dilakukan Umi mengarah pada suatu upaya untuk merestorasi kehidupan keluarga.

“Pada suatu kehidupan yang baik, sehat, normal, dan mengembangkan kehidupan yang kondusif untuk perkembangan kehidupan anak-anak. Inilah bentuk dan peran nyata perempuan dalam mendorong disengagement,” kata Nani Nurrachman

Diakhir sesi, Umi menuturkan bahwa harapan untuk membuka lembaran baru masih terbuka lebar saat suaminya keluar dari penjara kelak

“Saya berharap ketika ini semua selesai, suami bisa kembali norma-norma kehidupan normal seperti biasanya bermasyarakat, semoga ekonomi kami pun baik lagi,” tandasnya.

(Foto/ Ilustrasi: Pixabay)

Nunu Pradnya Lestari, penulis dan aktif di jaringan nasional perburuhan. Nunu merupakan lulusan Institut Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (IISIP) Jakarta