Kehamilan Remaja dan Beratnya Resiko yang Harus Mereka Terima


Saat mengantarkan anak perempuan saya berobat di rumah sakit, saya tidak sengaja melihat seorang perempuan berusia muda memeriksakan kehamilannya. Perempuan muda itu saya perkirakan masih berusia anak. Seketika saya membayangkan berbagai risiko yang harus perempuan itu hadapi saat hamil. Perempuan yang hamil saat masih berusia anak harus menanggung berbagai risiko kesehatan hingga kematian.

Nurul Huda- Konde.co

Waktu tidur paling nikmat menurut saya adalah sekitar pukul 04.00 dini hari. Dengan kasur yang empuk dan guling kesayangan, saya biasa membaca dulu, lalu bermimpi.

Namun, pagi ini terasa beda. Anak perempuan saya yang masih berumur 3,5 tahun meraung dan menangis sembari menggaruk pergelangan tangan. Lengan atasnya lecet. Untuk menenangkannya, saya rangkul lalu gendong kemudian dibantu oleh istri mengolesi lengannya dengan minyak tawon yang jadi andalan obat oleh keluarga kami.

Ah, sepertinya silinder mata saya mulai bertambah karena melihat lambaian bantal dan guling, serta ingatan tentang betapa empuknya kasur kreditan yang baru dua bulan lagi kelar angsurannya. Namun, ketika melihat ada cairan merah walaupun tidak mengucur, tapi tetap ada bentol-bentol di beberapa bagian di tangan kiri serta dibarengi tangis anak, rasanya dada ini seperti teriris, perih. Mata saya langsung tertuju ke handphone karena teringat nanti akan ada acara yang harus saya datangi. Saya segera menitipkan pesan ke teman jika saya akan datang telat di pelatihan hari itu.

“Mas, mas, mas, yuk!,” istriku, perempuan berjilbab yang dalam kontak di handphone saya tertulis “surga jiwaku” itu membangunkan aku. Ia duduk di sofa ruang tamu sambil menggendong anak kami. Enak juga ya jadi suami, hanya bertugas menggendong anak yang sedang bermasalah di tangan kirinya. Sedangkan, istri saya sudah sejak pagi sibuk sendirian menyiapkan sarapan, cuci piring sisa semalam, serta menyiapkan perlengkapan untuk si sulung kami yang sebentar lagi bangun untuk berangkat sekolah. Tiba-tiba, aku merasa bersalah terhadap istri.

Sebelum membawa anak kedua kami pergi ke dokter, istri saya meminta tolong kepada mertua untuk mengantarkan sulung kami ke sekolah karena mungkin kami tak sempat untuk mengantarkannya. Antrean di klinik sepertinya bakal panjang. Banyak orang sakit datang ke sana karena cuaca sedang tidak bagus.

Saya menyalakan motor beat warna putih milik istri saya untuk pergi ke klinik fasilitas kesehatan 1 BPJS yang biasa kami datangi ketika keluarga kecil kami sedang tidak dalam kondisi prima.

Sesampainya di sana, ternyata ada jadwal USG sehingga banyak ibu sedang mengantre untuk bisa melihat perkembangan yang terjadi di dalam perutnya. Ruang dokter umum bersebelahan dengan ruang bidan, hanya terpisah oleh sekat tipis dan tempat tunggunya memungkinkan kita untuk bisa saling melihat. Saya kembali menggendong anak karena sewaktu di perjalanan digendong oleh ibunya yang saat ini sedang mendaftarkan nama anak ke dokter umum.

Saya mencoba menebak-nebak pasien ruangan sebelah, sembari mengobrol dengan istri untuk mengobati kebosanan dan mengurangi kepanikan ketika melihat tangan kiri anak perempuan kami.

“Bu, kayaknya itu pasangan baru dan bakal jadi anak pertamanya tuh,” kata saya sembari mengarahkan pandangan ke laki-laki bercelana pendek dan memakai smartwatch idaman serta berkaus Alucard, salah satu karakter hero di mobile legend. Sedangkan, perempuan di sebelahnya memakai pakaian longgar, tangan kanannya memegang pinggul sembari tangan kiri mengelus perut.

Karena belum datang giliran kami untuk masuk ke dalam ruangan dokter, maka saya dan istri berlanjut untuk mengobrol sembari melihat pasangan di ruangan sebelah yang mengingatkan betapa gembiranya kami ketika kehamilan istri saya dulu.

“Kayaknya itu masih anak-anak deh, mas?,” kata istriku setengah berbisik ke telinga kanan saya. Saya pun mencoba menyusuri pandangan yang dilihat oleh istri saya. Kami memperhatikan seorang perempuan muda, mungkin masih berusia belasan tahun. Dia ditemani oleh ibu yang mungkin berusia di usia pertengahan empat puluhan. Kami tidak sengaja melihat banyak pemandangan seperti ini, anak perempuan yang menikah di usia anak, kemudian hamil usia muda dan harus kehilangan kesempatan untuk bersekolah.

“Anak Kaylila,” tiba-tiba seorang perawat memanggil nama anak kami untuk segera masuk ke ruangan yang membuat kami spontan berdiri dari tempat duduk sembari membangunkan Kaylila yang saya gendong.

Kami pun masuk ke dalam ruangan dr. Agung yang piket di klinik saat itu. Dokter yang berkalung stetoskop itu tersenyum sembari menyapa.

“Adik kenapa?” ujarnya sambil menatap anakku, yang dilanjutkan oleh istri saya dengan lancarnya mengatakan perihal apa yang terjadi pada pukul 04.00 pagi ini.

Ketika tangan istri saya mencoba menggendong Kaylila yang ada dalam pelukan saya, anak kami menolaknya. /Wow/, sepertinya ini kemenangan pertama saya lawan ibunya. Kaylila tak mau jauh-jauh dari saya.

Dokter menyimpulkan, Kaylila terkena alergi debu. Itu setidaknya melegakan hati saya karena artinya Kaylila tidak menderita sesuatu hal yang fatal.

Istri saya lalu banyak bertanya pada dokter, ia mencoba memahami bahasa kedokteran. Sedangkan, saya sendiri hanya tersenyum, tetapi nantinya pasti minta penjelasan lebih kepada istri perihal apa yang terjadi pada anak kami.

Kami pun keluar ruangan. Tak sengaja secara bersamaan, saya dan istri mengarahkan pandangan kepada perempuan muda yang sedang ditemani oleh seseorang, sepertinya ibunya itu. Entah mengapa pandangan kami kompak walaupun arah tujuan kami berbeda, di mana istri saya melaporkan hasil kesimpulan si dokter ke apotek untuk mendapatkan obat dari resep dokter, sedangkan saya dan Kaylila dalam gendongan mencari tempat duduk.

“Kayaknya iya masih anak-anak ya bu,” ujar saya melanjutkan obrolan kami yang sempat terputus saat perawat mempersilakan kami untuk masuk ke ruangan dokter.

“Semoga baik baik aja dia ya bu, soalnya melahirkan di usia anak kayak begitu bahaya banget,” kataku lagi. Aku lihat istriku menatapku dengan raut wajah serius.

Istri saya terlihat penasaran, “Bahayanya gimana sih? Serius amat kayaknya?,”.

Melihat antrean kertas yang menumpuk di apotek dan resep dokter untuk anak kami yang sedang diracik, saya menduga ini akan lama. Saya pun bisa menjelaskan betapa bahayanya melahirkan di usia muda ke istri saya.

“Bahayanya itu kurangnya pengetahuan dari calon ibu, nah, bisa calon bayi sama calon ibunya nanti kurang gizi gimana, hayo? Bukan cuma kurang gizi tapi apakah dia sudah mendapat informasi yang tepat, misalnya apa yang seharusnya ibu hamil jauhi karena bisa menyebabkan masalah dengan kehamilannya, semisal tidak boleh merokok, minum alkohol.”

Saya lihat istri saya pun mengangguk dengan muka seriusnya yang penasaran mengenai kelanjutan tentang melahirkan di usia muda.

“Lainnya adalah pemicu darah tinggi pada ibu hamil karena perubahan hormon, nah, menurut penelitian ahli kesehatan perempuan yang hamil di bawah umur 20 tahun itu cenderung terkena preeklampsia lebih tinggi daripada perempuan yang hamil di usia ideal antara 21 – 35 tahun. Bayi rentan prematur dan juga berat badan bayi tidak normal loh, karena kurang gizi ataupun rahim yang belum siap atau karena berebut nutrisi dengan calon ibu yang berusia dalam masa pertumbuhan. Selain itu, sel telur perempuan yang belum berusia 20 tahun tidak sempurna untuk dibuahi dan belum kuat organ pinggulnya. Belum lagi risiko keguguran yang banyak menyebabkan kematian ibu dan anak.”

Sensus penduduk pada 2014 dan data Biro Pusat Statistik (BPS) 2016 menyebutkan bahwa kematian ibu melahirkan atau saat hamil di usia muda per tahun mencapai 3.812 orang. Namun dengan angka kematian tinggipun, masih banyak orangtua yang menikahkan anaknya sebelum umur 19 tahun. Sebelumnya, saat naik ojek online, saya juga mendengar ada istri driver ojek online yang meninggal karena melahirkan pada usia 17 tahun.

“Anak Kaylila.” Petugas apotek tiba-tiba memanggil nama anak saya. Istri saya mengambil obat, lalu kami beranjak pulang.

Sepertinya jok motor sudah mulai tipis, tak enak untuk duduk saat kami menempuh perjalanan pulang. Matahari sudah mulai nangkring di langit timur. Tetapi, kami harus segera pulang, karena saya mesti ke Bogor untuk ikut pelatihan.

(Foto/ Ilustrasi: Pixabay)

Nurul Huda, aktivis Koalisi Perempuan Indonesia (KPI) Nasional di Jakarta