Film Tilik, Gosip Dan Personifikasi Perempuan: Kocak Tapi Menyesakkan

 

Film Tilik adalah film yang kocak sekaligus menyesakkan. Akting para pemain yang memikat, seru, menggemaskan, namun membuat sesak. Lewat sosok Bu Tejo dan sejumlah perempuan dalam film “Tilik,” membuat kita perlu melihat kembali bagaimana perempuan direpresentasikan dalam media, khususnya di film.  Ada berbagai macam stereotype yang disematkan pada perempuan: sebagai biang gossip atau tukang ghibah, tidak rasional dan senang membuat simpang-siurnya informasi

Nur Aini- Konde.co

“Bu Tejo” mendadak terkenal. Ia diperbincangkan banyak orang di media mainstream maupun di media sosial sampai di WhatsApp Group keluarga. 

Banyak orang membicarakan Bu Tejo (diperankan oleh Siti Fauziah) yang suka “ngerasani” atau menggosipkan perempuan lain bernama Dian. 

“Dian” (Lully Syahkisrani) adalah perempuan muda cantik yang tinggal di desa mereka. Karena wajah cantiknya, Dian kemudian banyak disukai para suami atau laki-laki disana. 

“Yu Ning” (diperankan Briliiana Dessy) tetangga bu Tejo tak setuju jika bu Tejo bergosip tentang Dian. Ia menjadi geram dengan Bu Tejo. Adu mulut antara Yu Ning dan Bu Tejo pun pecah dan mampu menyedot hampir 11 juta penonton di Youtube dalam 7 hari penayangan. Perbedaan pendapat mengenai Dian, Bu Tejo yang suka pamer, Bu Tejo yang paling melek teknologi, secara ekonomi hidupnya lebih baik. Inilah inti dari tayangan Film “Tilik.”

Sosok Bu Tejo hadir lewat film pendek berjudul “Tilik” berbahasa Jawa. Tilik artinya “menjenguk” yang semenjak ditayangkan di Youtube pada 17 Agustus 2020, jadi viral sejak film itu diproduksi di 2018 oleh Ravacana Film dan Dinas Kebudayaan Daerah Istimewa Yogyakarta. 

Film yang disutradarai Wahyu Agung Prasetyo dan diproduseri oleh Elena Rosmeisara ini menceritakan perbincangan sejumlah perempuan yang akan menjenguk Bu Lurah di rumah sakit dengan menumpang di bak truk milik Gotrek. Perbincangan di bak truk itulah yang menjalin narasi cerita utama film berdurasi 32 menit 34 detik.

Perbincangan antara perempuan dalam film berbahasa Jawa ini kemudian mengungkap karakter masing-masing tokoh. Bu Tejo lebih dulu ditampilkan sebagai sosok utama antagonis yang sepanjang film senang bergosip, menjadikan sosial media sebagai sumber informasi dan senang membicarakan Dian. Ia juga sesekali menyinggung rencana suaminya mencalonkan diri sebagai lurah baru. 

Sosok Dian yang digambarkan oleh Bu Tejo sebagai perempuan “nakal” adalah seorang perempuan yang banyak menjadi perbincangan di desa mereka karena Dian adalah anak muda yang cukup cantik di desa.

Gosip nyinyir yang dilontarkan bu Tejo ini kemudian ditantang Yu Ning yang mencoba berpikir rasional dan tidak suka bergosip. Bagi Yu Ning, apa yang dibicarakan Bu Tejo mengenai Dian yang sumbernya adalah dari kata orang, dan dari internet belum tentu benar. 

Perempuan lain di bak truk, Yu Sam (Dyah Mulani) dan Bu Tri (Angeline Rizky) terombang-ambing dalam adu pendapat dua tokoh utama yang ditampilkan secara kocak sekaligus “menyesakkan”. 

Sosok Dian kemudian muncul menjelang akhir film untuk memelintir cerita (plot twist) yang membuat sebagian kita sebagai penonton dipaksa untuk berpikir: apa yang sebenarnya sudah dilakukan Dian?

Film Kocak Namun Menyesakkan

Buat saya, dengan akting yang sangat baik, tokoh-tokoh perempuan yang dihadirkan dalam film Tilik itu kemudian tampil “menyesakkan”,  yaitu bagaimana perempuan direpresentasikan atau digambarkan dalam film. 

Film ini memang berupaya mengangkat tema utama mengenai penyebaran berita bohong atau hoax, jadi memang bukan film tentang perempuan. Namun bagaimana perempuan kemudian dalam film ini direpresentasikan sebagai subyek yang distereotyping sebagai orang yang senang bergosip, tidak rasional dan senang mengubah informasi menjadi simpang siur. 

Stereotype lain yang disematkan pada perempuan adalah sebagai orang yang senang berantem, cepat panas, cepat ngamuk dan senang membicarakan tak berdasar fakta alias bergosip 

Meski dihujani kritik soal pesan filmnya yang “tidak sampai” karena bagian akhir tidak menggambarkan ekspektasi sebagian penonton, hal yang perlu diapresiasi hasil film Tilik adalah film ini membuka kembali diskusi kritis mengenai stereotype perempuan di media. Tilik, bagi saya adalah film yang mereproduksi stereotype perempuan dalam film, meski sudah lama film seperti ini dikritik keras oleh kritikus feminis karena menguatkan konstruksi sosial yang merendahkan perempuan.

Penggambaran atau representasi perempuan dalam film “Tilik” memperlihatkan karakter perempuan yang selama ini masih banyak kita temui dalam media, termasuk film. 

Perempuan feminin dalam media, seperti diungkap oleh akademisi feminis Myra Macdonald dalam “Representing Women, Myths of Femininity in the Popular Media” direpresentasikan dengan bahasa yang senang membicarakan mengenai hubungan personal, perasaan, belanja dan keluarga dengan menggunakan bahasa yang suportif. Hal itu berbeda dengan pembicaraan yang memperlihatkan karakter laki-laki maskulin yang lebih suka membahas soal olah raga, perempuan, politik, pekerjaan, bahasa yang kompetitif dan agresif.

Meminjam penjelasan Macdonald, pembicaraan atau bahasa yang direpresentasikan perempuan dalam film itu diproduksi oleh media populer (termasuk film) lewat penggambaran perempuan sebagai sosok penggosip, menggerutu dan suka ngomel termasuk menyerang sesama perempuan. Lalu senang menertawakan perempuan lain, bertindak lebih sopan atau menunjukkan inferior (lebih lemah), serta lebih mampu mengekspresikan perasaan dan menawarkan dukungan emosional. 

Representasi perempuan yang membawa konotasi negatif tersebut seluruhnya hadir dalam sosok-sosok perempuan di film Tilik. Bu Tejo sebagai sosok penggosip, menyerang perempuan lain, dan membuat cerita perempuan lain sebagai bahan lelucon. 

Yu Ning adalah sosok yang mampu mengekspresikan perasaan dan memberi dukungan emosional secara tidak langsung kepada Dian. Sementara, tokoh perempuan lainnya mewakili penggambaran sebagian atau keseluruhan dari karakter yang disebutkan itu. 

Sesuai dengan temanya soal penyebaran hoaks, perempuan dalam Tilik turut direpresentasikan sebagai sosok yang dengan mudah percaya pada berita bohong, mereproduksinya, dan menyebarkannya. Apalagi di akhir film (karena sudah banyak yang menonton film Tilik, bocoran cerita sedikit ya), narasi cerita menghadirkan perempuan sebagai sosok nakal seperti anggapan Bu Tejo.

Film “Tilik” hanyalah satu lagi dari bukti kedangkalan citra perempuan ditampilkan di media. Representasi perempuan yang selama ini telah dikritik, direproduksi hingga kita sendiri bingung soal film yang merepresentasikan kenyataan atau film yang mengkonstruksi kenyataan. 

Kebingungan itu berkat kita sebagai penonton permisif pada produsen media yang nol perspektif dalam keberpihakan pada perempuan. 

Absennya perspektif ini digunakan untuk lebih dalam melihat persoalan perempuan saat proses produksi media dalam hal ini film. Film ini kemudian meneguhkan status quo sistem yang menindas perempuan (patriarkal). Hasilnya, kita akan lebih nyaman untuk melihat film Tilik sebagai “emang perempuan desa kenyataannya begitu deh” tanpa mempersoalkan lagi, atau bahkan mampu mengkritisi apa yang membuat mereka begitu, bagaimana bisa begitu, dan apa yang bisa kita lakukan agar tidak begitu?.

Kita juga akan lebih nyaman jika tidak mendengar kritik dengan berkata “film khan memang tidak harus memberi solusi, namanya juga hiburan.”

Kita memang tidak bisa mengatur bagaimana maunya sutradara atau produser, tapi kalau mereka minim perspektif pada akhirnya nanti, kita akan melihat lagi perempuan dalam film sedangkal representasinya di “Tilik”, tapi masih menuntut sinetron Indonesia bisa lebih baik. 

Sehingga, bagi yang belum menonton, film “Tilik” layak untuk ditonton agar sekali-kali menjadikannya bahan diskusi soal representasi perempuan di media. 

Sementara, bagi yang sudah menonton, coba sekali lagi kita diskusikan soal daya kritisnya di-“Tilik.”

(Foto: Youtube)

Nur Aini, Lulusan Pascasarjana Kajian Gender Universitas Indonesia (UI)

Tim Konde.co

Tim Konde.co

Konde.co lahir pada 8 Maret 2016 untuk mengelola ruang publik dari sudut pandang perempuan dan minoritas sebagai bagian dari kesadaran dan daya kritis, menghadirkan penerbitan artikel di website, produksi video/ film, dan informasi/ pengetahuan publik. Kini dikelola oleh individu-individu yang mempunyai kesamaan dalam memandang perempuan dan minoritas.

Let's share!

Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin
Share on whatsapp
Share on email