Gereja Swedia Miliki Lebih Banyak Pendeta Perempuan: Keberhasilan Kesetaraan Gender

Untuk pertama kalinya, lebih banyak perempuan yang menjadi pendeta di Gereja Swedia dibandingkan laki-laki. Ini merupakan isyarat bahwa kesetaraan gender telah membuat langkah besar sejak perempuan pertama kali ditahbiskan sebagai pendeta di Swedia pada tahun 1960.

Pendeta Elisabeth Oberg Hansen telah menjadi pendeta selama lebih dari 30 tahun dan membimbing seorang pendeta muda untuk memberikan khotbah di sebuah jemaat kecil di Stockholm.

Ia mengatakan bahwa sikap seksis kini hampir hilang, dan bahwa perubahan sikap di dalam gereja merupakan cerminan perkembangan yang lebih luas dalam kehidupan masyarakat Swedia.

“Maksud saya, di dalam semua bidang kehidupan masyarakat, dan khususnya studi akademis, lebih banyak perempuan. Lebih banyak perempuan yang belajar. Jadi saya kira apa yang terjadi di dalam gereja saat ini lebih merupakan cerminan atas apa yang ada dalam masyarakat. Saya bangga menjadi bagian dari gereja di mana ada pendeta perempuan dan sebagainya.”

Dalam indeks kualitas gender Eropa tahun 2019, Eropa berada pada ranking atau peringkat pertama.

Gereja Injili Lutheran di Swedia memiliki 1.533 pendeta perempuan dan 1.527 pendeta laki-laki. Sebagian uskup agung dan uskup kini juga perempuan.

Dengan semakin banyaknya perempuan yang belajar menjadi pendeta, banyak yang sudah mempertimbangkan bakal adanya keseimbangan gender di gereja, tetapi tidak disangka jika hal itu akan terjadi dalam waktu dekat.

Pendeta Cristina Grenholm, Kepala Teologi Gereja Swedia, mengingatkan kembali diskriminasi yang dialami pendeta perempuan di era sebelumnya.

“Saya ingat pernah datang ke sebuah gereja di mana saya biasanya tidak dapat memberikan pelayanan untuk pernikahan, dan semua lemari dikunci. Saya tidak bisa masuk untuk mengenakan pakaian liturgi atau apa pun. Setelah menghadapi saat-saat seperti itu, sulit membayangkan bahwa separuh dari keseluruhan pendeta sekarang adalah perempuan,” kata Cristina.

Dengan semakin banyak perempuan yang mendaftar untuk belajar kajian teologi, keseimbangan yang ada justru bisa terbalik.

“Ketika melihat ada ketidakseimbangan, saya tidak melihat hal ini sebagai sesuatu yang seharusnya kita anggap sebagai peringatan. Tetapi tentu saja ketidakseimbangan dalam hal jumlah orang yang datang ke gereja, lebih mencolok. Kita tidak melihat adanya jumlah perempuan dan laki-laki yang sama datang ke gereja. Bahkan sejak lama kita tahu bahwa perempuan cenderung lebih sering datang ke gereja.”

Calon pendeta Anna Unghammar mengatakan Tuhan ada bagi setiap orang di semua kelas dan gender.

“Yesus membela keadilan bagi semua orang di semua kelas dan gender. Jadi saya kira ini saatnya bagi perempuan untuk lebih berperan. Tentu saja keterwakilan perempuan baik, tetapi juga keterwakilan etnis dan kelas, karena kadang-kadang kita bicara tentang gereja kelompok menengah, dan bahwa orang kelas menengah menjadi pendeta atau datang ke kebaktian pada hari Minggu. Ini juga harus dibenahi. Gereja milik setiap orang,” kata Anna. [em/lt]

(Foto/ Ilustrasi: Pixabay)

(Sumber: Voice of America/ VOA)

Tim Konde.co

Konde.co lahir pada 8 Maret 2016 untuk mengelola ruang publik dari sudut pandang perempuan dan minoritas sebagai bagian dari kesadaran dan daya kritis, menghadirkan penerbitan artikel di website, produksi video/ film, dan informasi/ pengetahuan publik. Kini dikelola oleh individu-individu yang mempunyai kesamaan dalam memandang perempuan dan minoritas.

Let's share!

Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin
Share on whatsapp
Share on email