Kekerasan Seksual di Kantor Agensi Muncul Karena Normalisasi Humor Seksis


Kekerasan seksual di dunia agensi terdiri dari beragam jenis seperti kekerasan verbal melalui humor seksisme, hingga kekerasan fisik seperti perkosaan. Kekerasan seksual tersebut muncul karena para karyawan kerap menormalisasi bercandaan seksis.

Tika Adriana www.Konde.co

“Saat ini saya magang di sebuah start up di Jakarta, rela-relain kerja meski saya dikatain terus. Pertama katanya, baju saya terlalu ketat. Kedua payudara saya terlalu kecil, saya baru mulai dan masih ada tiga bulan ke depan.”

“Suatu saat saya sedang ada pitching di luar kota dan saya menginap di sebuah hotel bersama orang-orang kantor. Saat saya tidur, ada rekan sekerja saya dan memfoto saya dengan alat vital saya. Besoknya, foto itu tersebar di grup dan saya menjadi bulan-bulanan. Saya ditelanjangi dan dilempar ke kolam renang, saya bekerja di agensi, dan saya adalah seorang pria.”

“Menuju pukul sebelas, saya diminta masuk ke ruang bos saya. Saya disuruh berhenti mengerjakan tugas dan ikut menemani dia di dalam ruangan. Pintu ruangan seketika ia kunci dan ditutup rapat. Setelahnya, saya dipaksa untuk ikut minum dengannya. Kelihatannya ia sedang mabuk. Apa daya saya yang berbadan kecil tak sanggup menahan cengkraman tangannya. Ia lalu meminta saya membuka baju. Saya berteriak, namun mulut saya ditutup, dia bilang nggak ada siapa-siapa kok. Setelah itu yang saya ingat, hanya air mata saya sudah deras menetes. sedangkan dia tidak peduli. Saya diperkosa oleh bos saya.”

Cerita di atas merupakan sebagian kecil contoh pelecehan seksual di dunia agensi yang disampaikan sebelum acara “Nongkrong Bareng Never Okay Project #4” pada 17 Juli 2020.

Dalam diskusi tersebut, Poppy R. Diharjo, seorang aktivis perempuan yang sudah 20 tahun bekerja di industri periklanan menceritakan beragam bentuk pelecehan seksual di dunia periklanan.

“Sebenarnya bentuknya banyak, tapi yang paling umum adalah bercandaan seksis Saat pertama kali aku masuk agensi itu sebagai Account Executive (AE). Kalau menurut teman-teman, itu cobaan terberat masuk agensi karena kita overly sexualize,” ungkap Poppy.

Salah satu pengalaman yang pernah terjadi pada Poppy yakni saat atasannya mengomentari baju yang ia kenakan. Kala itu, atasan Poppy bilang, Poppy terlihat seksi saat mengenakan baju tersebut. Padahal ia tahu betul, rekan kerjanya ada yang memiliki baju yang persis dengannya dan bosnya tak pernah berkomentar.

“Sebetulnya bukan masalah bajunya, tapi orangnya. Karena baju yang aku pakai sama persis dengan temanku. Namun saat itu posisiku sebagai manager, jadi aku sudah mulai berani ngomong,” tutur Poppy.

“Yang sering dialami level-level bawah [ketika mengalami pelecehan seksual dan mau bicara], mereka takut dianggap enggak asik, enggak bisa berbaur, enggak bisa masuk ke culture agensi,” tambahnya.

Ayu Meutia Azevy, seorang senior copywriter di sebuah agensi multinasional menyampaikan jawaban serupa saat ditanya jenis kekerasan seksual di agensi. Ayu mengatakan bahwa pelecehan seksual di agensi bisa berbentuk pelecehan verbal melalui bercandaan seksis, hingga pelecehan seksual fisik seperti perkosaan.

“Itu kadang susah dideteksi karena sudah dinormalisasi. Contohnya aku punya teman cowok pekerja kreatif, sebenarnya dia orangnya suka membantu, tapi dia sering nepokin pantat cewek,” ungkap Ayu.

Sayangnya, kultur seksis yang dinormalisasi itu justru membuat korban tak sadar saat ia dilecehkan. Para pelaku pun tenang-tenang dan tak berpikir tentang dampak yang timbul karena perilakunya, sehingga pelecehan seksual itu semakin sering terjadi.

“Nah kebiasaan seksis ini juga kadang dilakukan oleh sesama perempuan juga. Jadi aku punya teman, temanku ini enggak salah. Dia bisa pakai baju apa saja. Ada perempuan yang dia bekerja di departemen kreatif, dia sering mengomentari bagian tubuh teman aku, bukan mengedukasi teman-teman laki-laki. Akibatnya, temanku yang dikomentari ini dianggap sebagai cewek ‘gampang’,” kata Ayu.

Demi mewujudkan lingkungan kerja yang nyaman, Poppy mengatakan bahwa dirinya membuat inisiatif no recruit list yakni suatu formulir yang bisa diisi oleh korban kekerasan untuk mengadukan pelaku. Dalam inisiatif ini, Poppy memposisikan diri sebagai sekutu perusahaan, sehingga aduan yang masuk akan ia proses untuk disampaikan kepada perusahaan.

Muhammad Fajar Nur dari Never Okay Project menegaskan bahwa edukasi tentang pelecehan dan kekerasan seksual di lingkungan kerja harus terus dilakukan, terutama pada laki-laki, demi mewujudkan iklim kerja yang aman dan nyaman bagi semua orang.

“Pentingnya selalu menginjeksi pemahaman tentang pelecehan seksual dan kekerasan seksual. Karena terlahir sebagai laki-laki di masyarakat yang patriarkal, seberapa unprivileged nya laki-laki, kita masih diuntungkan sama sistem,” tandasnya.

(Foto/Ilustrasi: Pixabay)

Tika Adriana, jurnalis perempuan yang sedang memperjuangkan kesetaraan. Saat ini managing editor Konde.co

Tim Konde.co

Tim Konde.co

Konde.co lahir pada 8 Maret 2016 untuk mengelola ruang publik dari sudut pandang perempuan dan minoritas sebagai bagian dari kesadaran dan daya kritis, menghadirkan penerbitan artikel di website, produksi video/ film, dan informasi/ pengetahuan publik. Kini dikelola oleh individu-individu yang mempunyai kesamaan dalam memandang perempuan dan minoritas.

Let's share!

Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin
Share on whatsapp
Share on email