Menulis Kondisi Perempuan Nusa Tenggara Timur di Tangan Jurnalis Anna Djukana

Di kalangan jurnalis perempuan di Nusa Tenggara Timur (NTT), kiprah Gadrida Rosdiana Djukana yang akrab disapa Anna Djukana, sudah dikenal meluas. Ia tak hanya bekerja sebagai redaktur di media Kursor, namun ia juga gigih mengangkat topik kekerasan perempuan di NTT untuk diangkat di media. Pada Agustus 2020, melalui berbagai tulisannya yang berhasil mengubah kondisi perempuan disana, Anna Djukana mendapatkan Penghargaan SK Trimurti Award dari Aliansi Jurnalis Independen (AJI)

“Kami adalah angkatan yang harus punah, agar dari kubur kami tumbuh angkatan wanita-wanita yang lebih megah” – SK Trimurti

NTT pernah ditetapkan sebagai provinsi darurat kekerasan seksual, Ini membuktikan begitu banyaknya persoalan kekerasan perempuan disana. Ini menjadi alasan bagi Anna Djukana untuk menjadi jurnalis.

Nunu Pradya dari Konde.co mewawancarainya untuk mengetahui pilihan- pilihan Anna menjadi jurnalis di tempat dimana banyak Kekerasan terhadap Perempuan/ KTP terjadi.

Mengapa ingin menjadi jurnalis? 

Sejak muda, sekitar tahun 1992 saya aktif di National Government Organitation/ NGO Cinta Damai di kota Kupang, sebuah NGO yang concern pada persoalan sosial. Saya menjadi bagian dari tim advokasi pada waktu itu. Kemudian di akhir tahun 1994, saya melihat ada salah satu media terbesar di NTT membutuhkan jurnalis perempuan, lalu saya masuk ke sana.

Dari situlah saya sadar bahwa menjadi seorang jurnalis itu sesuai dengan jiwa saya yang suka bebas. Sama seperti aktivitas saya di NGO memperjuangkan orang-orang yang tertindas, di dalamnya ada perempuan dan anak. Jadi saya sudah menetapkan profesi jurnalis sebagai pilihan profesi yang saya suka.

Apa tantangan menjadi jurnalis di tempat yang masih banyak terdapat kekerasan terhadap perempuan?

Tantangannya itu, dulu orang menganggap wartawan itu belum sebagai sebuah profesi. Jadi ketika saya sudah memilih profesi ini setiap kali ketemu orang di sekitar saya bertanya, “kenapa nggak ikut melamar untuk jadi PNS (Pegawai Negeri Sipil) saja?.”

Mereka belum menganggap jurnalis sebagai sebuah profesi yang mulia, profesi yang sama mulia dengan yang lain yang bisa melakukan perubahan sosial. Tantangannya seperti itu. Kalau berkaitan tentang menulis isu gender, karena kita ada di masyarakat yang patriarki saat itu orang sedikit sinis. Kalau kita datang, orang celetuk “oh, gender datang. Loh,” begitu.

Apakah pernah menerima stereotype dan diskriminasi, kekerasan ketika bekerja? 

Sejak pertama saya bekerja di media Pos Kupang sampai sekarang di media Kursor, saya hampir tidak pernah mendapatkan stereotype itu. Saya tidak pernah mendapat diskriminasi dari teman-teman, dan memang kompetisinya terbuka waktu itu, dilihat dari dedikasi setiap jurnalis.

Di awal-awal menjadi jurnalis pun saya bekerja belum terlalu lama, namun saya sudah diminta menjadi redaktur program, posisi yang dianggap memiliki ritme yang keras. Di media terbesar di NTT, saya dipercaya untuk menjadi wartawan politik. Tidak hanya isu politik, juga isu soal demokrasi, hukum dsb di usia yang masih muda. Waktu itu sekitar umur 20-an tahun.

Apa saja kesulitan menjadi jurnalis disana? Apa saja persoalan perempuan di NTT yang sulit untuk ditulis?

Kesulitan kita membangun pemahaman di publik untuk tidak memojokkan korban. Cukup sulit membangun perspektif pemahaman ke pembaca atau ke publik bahwa korban yang mendapatkan kekerasan seksual, bukanlah karena kemauan korban.

Data hari ini menyebutkan bahwa perempuan atau orang-orang yang mendapatkan kekerasan seksual itu adalah mereka yang ada di dalam rumah dan yang melakukan perkosaan adalah orang-orang yang dikenal dekat. Dalam jangka waktu yang panjang untuk meyakinkan publik bahwa siapa saja bisa menjadi korban kekerasan seksual itu adalah sesuatu yang sulit. Tapi kita tidak bisa berhenti di satu waktu, jika kita berhenti di saat itu, nanti pemahaman publik akan baru lagi, jadi kita perlu melakukan edukasi di publik.

Tantangan-tantangan seperti itu yang dalam waktu yang lama benar seperti kekerasan dalam rumah tangga itu menurut saya tantangan menulis untuk publik. Tantangan bagaimana membangun opini, tantangan memberi edukasi ke publik bahwa penegakan hak-hak perempuan hari ini menjadi hal yang sangat penting.

Apakah Anna mengalami hambatan di internal redaksi dalam bekerja? 

Sepertinya tidak ada. Karena saya membangun diskusi dengan teman-teman laki-laki saya. Untuk hambatan hal yang bersifat struktur itu hampir tidak ada.

Pernah mengalami putus asa menjadi jurnalis atau mendapatkan pengalaman buruk?

Pengalaman buruk sih tidak, tapi rasa jenuh ada. Rutinitas kerja setiap hari, mengedit berita setiap hari, itu cukup melelahkan. Jiwa kita juga harus diberi makan. Saat bosan saya mengambil sekolah S2. Saya sudah mengambil sekolah S2 dari 2000-an awal tetapi waktu itu saya tidak jadi ambil. Kemudian di tahun 2014 saya baru ambil sekolah, karena jenuh dengan rutinitas. Saat ini saya cukup terbantu dengan kemajuan teknologi komunikasi, sehingga di tempat kuliah pun saya bisa mengerjakan berita dan mengedit berita. Itu cara untuk memberi makan jiwa supaya saya tidak cepat bosan.

Pernahkah tulisanmu kemudian berhasil mendorong kebijakan untuk perempuan disana?

Dulu pernah ada kasus pemerkosaan, dan memang ada aturan bahwa seorang pendamping non lawyer itu tidak diperkenankan masuk di dalam pengadilan. Kami bentuk opini melalui tulisan. Alhasil saat ini, pengadilan setempat memberikan kesempatan pendamping non lawyer untuk bisa mendampingi korban perkosaan. Menurut saya itu perubahannya.

Saat ini semakin banyak orang berani melaporkan kekerasan seksual terhadap perempuan, hal itu adalah buah dari kerja keras dalam membangun kesadaran di publik. Meskipun faktanya masih banyak kekerasan seksual sampai hari ini, tapi perubahan-perubahan yang ada berjalan secara terus-menerus. Diantaranya upaya membangun opini kesetaraan gender, hingga adanya lintas generasi di kalangan aktivis perempuan muda. Hal itu menurut saya perubahan yang tidak bisa diukur, tetapi terlihat dan nyata.

Kalau hanya satu tulisan mungkin belum bisa mendorong perubahan itu. Tapi publik melihat, saya selama ini konsisten di dunia jurnalisme mengangkat isu perempuan dan anak. Dalam rubrik Tajuk Rencana atau di pemberitaan-pemberitaan, kami menulis bertahun-tahun tentang isu perempuan sehingga ada perubahan-perubahan di tingkat kebijakan publik yang berdampak pada perempuan dan anak.

Mengapa Anna gigih menjadi jurnalis dan aktif di organisasi perempuan disana?

Kita hidup di lingkungan patriarki dimana penuh dengan keterbelakangan dan kemiskinan perempuan. Perempuan bukan properti sehingga saya sering melihat, ketika dia menikah gampang dipukul atau diperlakukan sebagai obyek. Atau karena dia anak kecil perempuan, jadi gampang orang tua melakukan kekerasan atau pemerkosaan, padahal tidak boleh seperti itu.

Kerja-kerja membangun kesadaran publik ini yang merupakan tantangan bagi profesi jurnalis, itu yang bagi saya menantang. Dan di dalam struktur wartawan bagaimana membangun kesadaran wartawan juga untuk menulis tulisan yang mempunyai perspektif perempuan dan anak, itu juga menjadi tantangan.

Kalau saya hanya belajar jurnalisme secara umum, saya tidak akan menguasai sesuatu dan suatu saat saya akan stagnan. Saya harus belajar.  Dan yang sering saya lakukan ketika saya diundang seminar atau dialog itu, saya akan mengikuti dari awal sampai akhir dan mencatat prosesnya. Jadi tidak ada proses yang terlewati. Di situlah proses belajar saya selama sekian tahun untuk menguasai isu perempuan selain membaca.

Tapi proses diskusi dan seminar-seminar itu betul-betul memperkaya saya. Saya akan berusaha membagi waktu seminar selesai jam berapa dan setelah itu saya harus mengejar narasumber jam berapa. Proses-proses seperti itulah yang membentuk saya untuk tekun dan menyukai isu perempuan.

Itu yang biasa saya tulis itu isu perempuan dan anak, selain isu demokrasi, lingkungan hidup, kelompok rentan atau disabilitas, saya kemudian jadi menguasai isu itu. Dan saya konsisten menuliskan isu perempuan dan anak ini dari isu ini belum dikenal banyak orang.

Bagaimana ceritanya bisa mendapatkan SK Trimurti Award dari AJI?

Prinsip saya bekerja itu bukan untuk mendapatkan penghargaan. Bekerja bagi saya itu untuk perubahan-perubahan sosial yang berdampak pada kehidupan perempuan.

Sejak lama teman-teman aktivis dan jaringan menginginkan saya menerima penghargaan. Mereka melihat aktivitas saya menulis dan mempejuangkan isu-isu perempuan tak henti-hentinya. Pernah mereka menghubungi saya untuk mau masuk nominasi Kartini Awards, saya tidak pernah mau.

Belum lama ini di grup AJI cukup ramai pembahasan mengenai award, Di hari terakhir penentuan penerima award, ada teman saya seorang dosen dan aktivis perempuan, meminta Curicullum Vitae/ CV saya. Dia berusaha supaya saya tidak tersinggung, mereka secara persuasif meminta saya untuk menominasikan saya sebagai penerima penghargaan SK Trimurti. Kemudian saya kasih CV saya.

Sebelum malam penganugerahan penghargaan, paginya Ketua Umum AJI menghubungi saya, namun saking sibuknya saya tidak angkat. Hari itu saya cukup sibuk dengan webinar hingga memasak untuk caffe suami saya. Akhirnya, saat malam penganugerahan dengan masih berkeringat, saya cari tempat untuk bisa pidato menerima penghargaan SK Trimurti.

Setelah mendapatkan SK Trimurti ini kira-kira harapan Anna ke depan khususnya buat jurnalis di Indonesia dan terkait isu perempuan?

Menurut saya ada sebuah kemajuan di jurnalisme di Indonesia dengan melahirkan genre-genre baru jurnalisme. Menurut saya teman-teman wartawan sudah harus mulai masuk ke genre-genre tersebut selain meliput isu umum. Kita harus benar-benar belajar dan bekerja keras untuk itu.

Dan untuk isu perempuan sendiri, saya berharap dengan teman-teman media bisa menguasai isu perempuan lebih banyak. Dari kerja-kerja jurnalistik itu bisa mendorong perubahan sosial hingga suatu waktu angka kekerasan terhadap perempuan semakin kecil, angka keterbelakangan dan kemiskinan perempuan juga bisa ditekan, dan dunia yang egaliter itu bisa tercapai. Karena memang hanya dengan upaya seperti itu saja kita bisa merealisasikannya, bahwa keadilan dan kesetaraan gender itu harus ada dalam masyarakat kita. Menurut saya tanpa edukasi yang kuat oleh teman-teman wartawan, kontrol itu sangat sulit dilakukan

Nunu Pradya Lestari

Nunu Pradya Lestari

Penulis dan aktif di jaringan nasional perburuhan. Nunu merupakan lulusan Institut Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (IISIP) Jakarta

Let's share!

Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin
Share on whatsapp
Share on email