Perlakuan Buruk Pada Perempuan Kepala Daerah: Diremehkan Dalam Memimpin


Kepala daerah perempuan di sejumlah wilayah kerap dihadapkan dengan tantangan pelik, terlebih ketika mereka bukan kader partai.

Bupati Jember, Faida, adalah salah satu perempuan yang berhasil menduduki jabatan sebagai kepala daerah di Jawa Timur. Faida yang memiliki latar belakang sebagai pengusaha dan dokter ini mengatakan tidak mudah menjadi kepala daerah perempuan. 

Dalam sebuah diskusi bertema “Perempuan sebagai Kepala Daerah: Pola Kepemimpinan dan Kebijakan”, pemimpin perempuan kerap dianggap remeh. Faida merupakan bupati perempuan pertama di Kabupaten Jember.

“Tidak mudah menjadi pemimpin perempuan kalau laki-laki tidak bermasalah soal gender. Tapi kalau perempuan selalu diremehkan. Pemimpin laki-laki yang belum membuktikan hasil kerjanya tidak pernah dilecehkan karena gendernya,” kata Faida, Selasa (25/8).

Faida yang sebelumnya tak pernah berkecimpung di dunia politik dan bukan kader partai bahkan sempat mendapat tindakan yang kurang berkenan di hatinya. Dalam sebuah rapat paripurna, dirinya pernah mendapat sindiran dari salah satu anggota DPRD Jember.

“Dalam rapat paripurna dengan terang-terangan menyindir kalimat, bahwa pejabat-pejabat perempuan yang tidak bisa memberikan pernyataan di kantor rakyat mulai besok pakai cobek dan wajan saja masak di dapur,” ungkap Faida.

Pernyataan itu, menurut Faida, sungguh menyakitkan karena dilontarkan dari tokoh masyarakat yang seharusnya menjadi panutan malah melecehkan gender. Hal tersebut yang membuat hubungan dan komunikasi antara pemerintah kabupaten dan DPRD Jember cenderung tidak harmonis.

Tidak sampai di situ, bahkan sebelum menjabat sebagai Bupati Jember, perempuan yang menang dalam Pilkada Jember 2015 ini juga pernah diremehkan oleh salah satu partai politik. Pada saat mencari rekomendasi dari partai politik, Faida mengalami tindakan pelecehan verbal.

Menurut pengakuan Faida, salah seorang petinggi partai sempat mengatakan tak bisa memberikan rekomendasi kepada dirinya untuk maju di Pilkada Jember tahun 2015. Alasannya karena banyak tokoh yang tak menginginkan adanya pemimpin perempuan di Kabupaten Jember.

“Perempuan tidak suka berkelahi. Tapi perempuan tidak mau diremehkan,” ujarnya.

Kepala Daerah Perempuan Terbukti Bisa Multi-Tasking

Sedangkan Bupati Karawang, Cellica Nurrachadiana menilai kepala daerah perempuan memiliki karakteristik multitasking. Menurutnya, kepala daerah perempuan memiliki kelebihan dibanding laki-laki.

“Kami perempuan lebih detail dan teliti untuk mengerjakan segala sesuatu tentunya memiliki jiwa keibuan, pengayom, pembimbing, serta bisa lebih menahan emosi amarah. Sehingga ketika kami berada di komunitas publik atau sosial bisa lebih diterima dibanding kepemimpinan yang mungkin cenderung memiliki karakter lebih keras,” ungkapnya.

“Dengan kepemimpinan perempuan pasti memiliki warna dan nilai tersendiri,” tambah Cellica.

Sementara itu, pakar komunikasi politik Universitas Nasional Jakarta, Lely Arrianie mengatakan panggung politik di Indonesia masih ditata secara maskulin. Kata Lely, banyak pihak yang masih menganut paham patriarki yang memperlemah posisi perempuan.

“Karena adanya relasi patron klien atau relasi patriarki yang tinggi bahwa laki-laki itu lebih hebat padahal itu cuma gender. Gender itu perbedaan peran antara laki-laki dan perempuan sebagai konstruksi sosial budaya yang bisa berubah sepanjang perkembangan zaman,” ujarnya saat dihubungi VOA. [aa/em]

(Foto/ Ilustrasi: Pixabay)

(Sumber: Voice of America/ VOA)

Tim Konde.co

Tim Konde.co

Konde.co lahir pada 8 Maret 2016 untuk mengelola ruang publik dari sudut pandang perempuan dan minoritas sebagai bagian dari kesadaran dan daya kritis, menghadirkan penerbitan artikel di website, produksi video/ film, dan informasi/ pengetahuan publik. Kini dikelola oleh individu-individu yang mempunyai kesamaan dalam memandang perempuan dan minoritas.

Let's share!

Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin
Share on whatsapp
Share on email