Takut dan Tak Bisa Teriak: Pengalaman Pelecehan di Transportasi Umum

Takut dan tak bisa teriak. Ini pengalaman pertamaku dilecehkan di transpotasi umum. Perasaanku campur aduk, aku sempat tidak mampu bergerak hingga akhirnya mengumpulkan keberanian untuk berpindah tempat. Pelecehan seksual memang bisa terjadi di mana saja. Bukan salah kita jika kita belum punya keberanian untuk melawan, walau aku sadar jika pelecehan ini suatu saat akan kuhentikan

Jihan Ranna Shafira- Konde.co

Hari itu adalah Sabtu, kira-kira di pertengahan 2017. Aku sedang di Terminal Bungurasih, Surabaya, untuk pulang menuju Ponorogo. 

Situasi terminal sangat ramai, maklum karena malam minggu. Umumnya jika malam minggu, terminal akan dipenuhi para urban yang ingin pulang ke kampung halaman. Aku lihat orang-orang berlarian untuk mencapai bus supaya segera mendapat kursi duduk. Siapa cepat dia dapat. Jika tidak kebagian kursi, maka mereka harus berdiri.

Aku bersama temanku, Lisa, pulang setelah menghadiri sebuah acara di pusat kota sejak pagi. Sebenarnya acara sudah selesai siang hari, tetapi kami memutuskan untuk berjalan-jalan sebentar di Surabaya sebelum menuju terminal.

“Eh ayo cepetan, nanti tidak dapat bus kalau terlalu malam,” ujarku sambil menggandeng tangan Lisa dan berlari agak cepat menuju jalur bus Jaya Restu yang tujuan akhirnya adalah Ponorogo.

Kami lumayan banyak beraktivitas hari itu. Dari pagi sampai petang, kami belum istirahat. Sementara kali ini harus berlari, seperti sedang ikut lomba. 

Aku sampai heran, mengapa orang-orang tidak tertib menunggu di pinggir jalur untuk naik bus. Mereka nekat melakukan hal yang bisa membahayakan diri sendiri. Namun, pada akhirnya kami juga ikut seperti mereka.

Akhirnya aku bisa naik bus. Ternyata, kondisi bus sudah penuh sesak dan aku terpaksa harus berdiri. Saking banyaknya penumpang, aku sampai terdorong hingga ke tengah bus oleh orang lain dan terpisah dengan Lisa yang ada di bagian depan dekat pintu bus. Akan tetapi, kami masih beruntung bisa mendapatkan bus walaupun harus berdiri dan berdesak-desakan daripada menunggu hingga malam. Kami takut kalau tidak ada bus lagi.

“Kamu di situ aja ya Ra, jangan jauh-jauh,” ucap Lisa agak teriak

“Iya,” jawabku.

Jarak antara Surabaya- Ponorogo biasanya kami tempuh dalam waktu 3 jam jika perjalanan lancar dan tidak macet. Namun perjalanan ini terasa lama karena terus berdesakan dan aku berdiri di tengah himpitan para penumpang 

Kami berdiri selama kurang lebih dua jam saat bus sudah memasuki Jombang. Lisa pun akhirnya mendapat kursi setelah ada beberapa penumpang yang turun, sedangkan aku masih tetap berdiri

Tiba-tiba saja aku tidak kuat berdiri. Dadaku agak sesak, kepala pusing, badan dan kakiku pegal dan sulit digerakkan. Hampir tidak ada celah sama sekali untuk bergerak. Rasanya sangat pengap dan sempit. Aku terjepit oleh kerumunan orang. Ditambah bau keringat tak sedap penumpang. Aku hanya mengangkat satu tanganku berpegangan di bagasi atas bus, bergantian dengan tanganku yang lain. Jika bus mengerem mendadak, maka tanganku yang satu harus cepat-cepat berpegangan pada kursi yang ada di samping

Saat bus berhenti lagi, akhirnya seseorang yang duduk di dekatku turun. Itu membuatku sangat lega karena tak perlu berdiri lagi sampai di Ponorogo. Saat duduk aku melebarkan jaketku untuk menutupi tubuhku bagian depan. Aku memakai jilbab dan  masker, bajuku berlengan panjang dan agak tebal, tetapi aku tetap menutupinya dengan jaket untuk melindungi diriku sendiri. Posisi dudukku kurang nyaman karena berdesakan dengan penumpang lain yang banyak berdiri di sebelahku.

Tiba-tiba saja aku merasa ada yang aneh. Pinggangku bagian kiri seperti ada yang mencolek dan menggelitik. Awalnya aku berpikir, “ah mungkin ada orang yang tidak sengaja menyenggolku”. Aku diam saja, walaupun aku tetap was-was. 

Tapi ternyata kejadian itu terulang beberapa kali terjadi. Itu sangat membuatku risih. Aku sudah berfirasat buruk bahwa ada yang sengaja melakukannya. 

Aku melihat di samping kiriku, ada seorang lelaki yang berusia sekitar 20an yang memakai baju hoodie berwarna hitam lengkap dengan tudungnya sehingga menutupi sebagian kepala hingga wajahnya. Postur tubuhnya agak kecil. Selama perjalanan ia hanya menyenderkan kepalanya di jendela dan menurutku ia mungkin tidur, entah sungguh-sungguh tidur atau tidak. Sedangkan, kedua tangannya dimasukkan ke saku jaket. Kondisi bus masih lumayan penuh.

Aku melirik cepat wajah laki-laki itu. Ia masih menyenderkan kepalanya di jendela. Wajahnya tidak begitu jelas. Ia sepertinya pura-pura tidur. 

Aku mulai menjaga jarak dengannya dengan menggeser posisi dudukku ke pinggir bahkan aku hampir saja terjatuh. Jujur saja, saat itu aku takut. Aku merasa gugup, gelisah, dan seolah-olah aku tak bisa bergerak sama sekali. 

Aku sedikit mengangkat kepalaku untuk menengok Lisa. Ia masih di sana. Sebenarnya aku ingin memanggilnya, tetapi apa daya, rasanya benar-benar seperti tak dapat bergerak. Padahal di samping kananku juga ada beberapa orang yang berdiri. Aku ingin meminta tolong, tetapi tetap saja tak bisa. Kalau saja aku bisa berteriak, mungkin satu bus akan langsung heboh dan entah kejadian apa yang bakal terjadi selanjutnya aku tidak tahu.

Dia masih tetap melakukannya. Parahnya, terkadang dia seperti ingin menyandarkan kepalanya ke pundakku. Untungnya aku masih bisa menghindar dengan menjaga jarak. 

Aku benar-benar ingin marah, perasaanku campur aduk antara marah, ingin menangis, dan takut. Tapi aku hanya bisa menahannya dalam hati. “Ya Tuhan, semoga segera ada kursi lain yang kosong supaya aku bisa pindah dari sini.” Aku berdoa.

Kira-kira ketika sampai Madiun, di saat bus sudah tidak terlalu ramai dan mulai ada banyak kursi yang kosong, lagi-lagi tubuhku masih terasa kaku rasanya sulit sekali untuk kabur dari situ. 

“Ya ampun, aku harus bagaimana ini? Mengapa orang ini tidak segera turun? Apakah tujuan dia juga ke Ponorogo? Aku tak peduli. Pokoknya aku harus segera pindah dari kursi itu.”

Aku sudah tidak kuat lagi. Aku mengumpulkan niat dan keberanian yang banyak. 

“Pokoknya aku pasti bisa.” 

Perlahan aku mulai menggerakkan sedikit tubuhku berancang-ancang untuk kabur. Sebelumnya aku sudah mengincar kursi mana yang akan kududuki. Hal yang jelas letaknya agak depan dan dekat dengan Lisa.

“Terimakasih ya Tuhan, akhirnya aku bisa kabur dari tempat duduk sebelumnya.” 

Aku bisa duduk di kursi yang kuinginkan. Rasanya aku bisa bernapas lega dan aman hingga sampai di Ponorogo. Walaupun, di sebelahku juga duduk seorang laki-laki, aku tetap menjaga jarak dengannya. Aku khawatir kalau dia juga akan berbuat hal yang sama. Tapi, ternyata tidak. Sepertinya laki-laki yang menggangguku tadi mengetahui kalau aku pergi dari tempat duduk semula karena perbuatannya.

Pelecehan ternyata bisa terjadi di mana saja termasuk di transportasi umum, saat dalam posisi apapun entah itu sedang duduk atau berdiri. Pelecehan di transportasi umum banyak terjadi pada perempuan. Umumnya pelaku menyentuh badan perempuan. 

Jika kita mengalami pelecehan, kita bisa segera memberitahu yang lain dengan berteriak atau meminta tolong. Itu menjadi salah satu cara untuk menghentikan pelecehan di transportasi umum. 

Tadi aku belum berani menegurnya karena itu pengalaman pertamaku, tapi suatu saat jika aku diperlakukan seperti itu, aku akan marah dan menegurnya. Banyak perempuan ternyata mengalami hal yang sama, pulang malam, dilecehkan dan bingung mau berbuat apa. Ini jadi pelajaran buatku, pelecehan harus dihentikan.

Jihan Ranna Shafira, sehari-hari aktif di Yayasan Kesehatan Perempuan (YKP), di Ponorogo, Jatim

Tim Konde.co

Konde.co lahir pada 8 Maret 2016 untuk mengelola ruang publik dari sudut pandang perempuan dan minoritas sebagai bagian dari kesadaran dan daya kritis, menghadirkan penerbitan artikel di website, produksi video/ film, dan informasi/ pengetahuan publik. Kini dikelola oleh individu-individu yang mempunyai kesamaan dalam memandang perempuan dan minoritas.

Let's share!

Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin
Share on whatsapp
Share on email