Adhisty Zara Ingatkan Kita: Jangan Bully Perempuan atas Tubuhnya Sendiri

Persoalan privasi seseorang kerap menjadi konsumsi publik, termasuk warganet yang riuh menjadikannya konten. Mereka memberi kritik dan tanggapan yang seolah-olah mereka lebih tahu persoalan itu dan kemudian menghakimi, membuat stres dan depresi. Pertanyaannya adalah: apakah semua orang nyaman dengan kondisi ketika persoalan pribadinya dikulik-kulik, apalagi kemudian dibagikan dan dikomentari di media?

Nur Aini- Konde.co

Adhisty Zara, mantan anggota JKT 48 tiba-tiba menjadi perbincangan ketika video dalam Instagramnya viral karena bagian tubuhnya yaitu payudara diremas oleh pacarnya beberapa waktu lalu. 

Atas kondisi itu, Zara menjadi stress. Ibunda Zara lalu mengimbau warganet untuk tidak menghujat dan menghakimi anaknya.

Ibunda Zara, yaitu Sofia Yulinar buka suara dengan menulis di Instagram Story bahwa keselamatan jiwa dan mental anaknya sangat penting. Sang ibu meminta kepada netizen untuk berhenti menghakimi Zara.

“Untuk saat ini tidak ada yang lebih penting daripada keselamatan jiwa dan mental anakku. Stop judging, please. Im with her not matter what,” tulis akun @mrssaladin pada (20/8/2020).

Insiden yang terjadi pada Zara Adista JKT 48 bisa jadi tidak akan berujung pada penghakiman negatif jika setiap orang memahami dan menghormati otonomi atas tubuh perempuan. Zara berhak untuk menentukan dan mengatur tubuhnya sendiri termasuk menyetujui siapa yang menyentuh tubuhnya. Meskipun, otonomi atas tubuh perempuan tersebut tidak dapat dilepaskan dari konteks sosialnya.  

Video yang kemudian dihapus oleh Zara menunjukkan bahwa aktris film “Dua Garis Biru” ini sepenuhnya sadar konteks sosial Indonesia yang melingkupi otonominya untuk mengatur tubuhnya sendiri. 

Jika kita kita lihat dari kacamata feminis, ada berbagai konsep yang berupaya mendefinisikan otonomi atas tubuh perempuan. Pemikir feminis, Lorraine Code mengungkap bahwa sosok ideal yang disebut sebagai manusia otonom memiliki karakter mandiri, independen, dan berkesadaran yang mengarahkan untuk mencapai tujuan personalnya. Karakter tersebut dilihat pemikir feminis lain, Diana Meyer sebagai kapasitas yang berbeda-beda untuk setiap individu. 

Diana Meyer melihat otonomi sebagai kompetensi yang terdiri atas seperangkat kemampuan dan kapasitas yang berbeda-beda dalam menemukan diri sendiri (self-discovery), mengarahkan diri, dan mendefinisikan diri sendiri. Untuk mencapai otonomi itu, Meyer menyatakan ada keterlibatan refleksi individu atas relasinya dengan lingkungan sosialnya.

Konteks sosial tidak dapat lepas dari setiap keputusan otonomi perempuan atas tubuhnya, termasuk Zara. Hal itu diyakini akademisi feminis, Catriona Mackenzie dan Natalie Stoljar yang mendefinisikan otonomi sebagai gagasan menentukan diri sendiri atau mengatur diri sendiri selalu terkait dengan konteks sosial. 

Keyakinan ini juga didasari dari gagasan bahwa setiap orang melekat secara sosial dan identitas individu terbentuk di dalam konteks hubungan sosial. Oleh karena itu, keputusan Zara (baik disengaja atau tidak) untuk memvideokan dirinya bersama pacar perlu dilihat sebagai otonomi atas tubuhnya sendiri. Hal itu karena, bagaimanapun pilihan Zara melekat pada konteks sosial yang membuatnya berefleksi atas otonomi tubuhnya sehingga dia menghapus sesaat setelah video Instagram tersebut dibagikan di Instastory. 

Meskipun, jika Zara memutuskan untuk tidak menghapus video tersebut, maka kita juga perlu memahami dan menghormati keputusannya.

Pertanyaan pentingnya adalah apakah semua orang nyaman dengan kondisi ketika persoalan pribadinya dikulik-kulik, apalagi kemudian dibagikan, dikomentari di media sosial? Apakah orang lain sudah memberikan consent atau persetujuan dengan kondisi itu? 

Jika tidak dengan persetujuan maka itu akan menjadi masalah seperti pada Zara yang menjadi stres akibat masalah personalnya dihakimi oleh publik. 

Kesadaran bahwa setiap orang memiliki otonomi atas tubuhnya sendiri bisa membuat kita seharusnya lebih menghormati keputusan orang lain. Walaupun, semua orang terutama perempuan pilihan-pilihannya secara personal kemudian selalu politis selalu diurusi orang lain. Dan ini yang kadang menyesakkan karena semua orang menjadi kepo pada urusan perempuan

Media dan Urusan Privat Perempuan

Bagaimana media melihat urusan personal? Urusan personal kerap ditampilkan sebagai konten di media, tidak hanya mengenai publik figur seperti Zara. Keputusan individu untuk memiliki pacar, putus dari pacar, tunangan, bercerai, atau membeli rumah hingga ikut arisan menjadi konsumsi publik lewat media. Informasi tersebut seolah menyeret semua orang yang harus tahu urusan personal orang lain.

Di televisi, yang frekuensinya menurut UU Penyiaran seharusnya menjadi milik publik, tetapi publik tidak punya pilihan selain disuguhi tontotan urusan personal setiap hari, salah satunya lewat acara infotainment. Akibatnya, media menarik arus dan menyatakan bahwa urusan personal memang menjadi urusan publik.

“Apakah kamu sedang pacaran dengan artis itu?”

“Katanya kamu cerai ya?”

“Kok berangkat kondangan gak barengan? Pasti ada sesuatu ya? Udah putus?.

Bahkan tayangan infotainment seperti itu di televisi, kerap ditayangkan di jam anak-anak dan jam tayang prime time. Di media online, informasi urusan personal itu juga sangat mudah kita akses. Konten yang sama pun menjamur di video youtube.

Perempuan kerap menjadi sasaran publik untuk mengulik urusan personal. Namun, begitu perempuan menjadi korban kekerasan dari pasangan atau keluarganya termasuk kekerasan dalam rumah tangga, publik kerap menyebutnya sebagai urusan privat. Itulah ironi yang terjadi, saat perempuan otonom mengatur tubuhnya sendiri, publik mengurusi sampai detail. 

Tetapi ketika otonomi perempuan dirampas lewat kekerasan, publik kerap menghindar untuk tahu cerita perempuan. Pengalaman perempuan korban kekerasan, terutama seksual bahkan ada yang masih menganggapnya sebagai hal yang tabu untuk dibicarakan. Membicarakannya berarti membincangkan persoalan orang lain, dianggap kepo dan kita tak pantas mengurus derita orang lain

Setiap permasalahan yang dialami oleh perempuan memang penting disuarakan. Seperti semboyan feminis radikal yang menyatakan personal is political atau setiap personal adalah politis yakni menganggap bahwa pengalaman pribadi perempuan yang diungkapkan bisa memberikan inspirasi dan basis politik baru. Chaterine MacKinnon menyatakan bahwa mengetahui politik perempuan berarti mengetahui kehidupan pribadi perempuan.

Akan tetapi, semestinya mengetahui kehidupan pribadi perempuan bermakna tentang keputusan perempuan atau suara perempuan merupakan suara politik perempuan. 

Sayangnya, yang terjadi, keputusan dan pilihan hidup perempuan justru menjadi momok baru bagi perempuan. Oleh karena itu, kita semestinya memahami dan menghormati setiap keputusan perempuan dan tidak selalu kepo atas urusan privatnya. lalu menanyakan pada diri sendiri, jika hak otonomi perempuan dirampas seperti pada korban kekerasan, apakah kita juga sama semangatnya untuk mengurusi urusan privat perempuan?

(Foto/ Ilustrasi: Pixabay)

Nur Aini, sehari-hari bekerja sebagai jurnalis. Lulusan Pascasarjana Kajian Gender Universitas Indonesia (UI)

Tim Konde.co

Tim Konde.co

Konde.co lahir pada 8 Maret 2016 untuk mengelola ruang publik dari sudut pandang perempuan dan minoritas sebagai bagian dari kesadaran dan daya kritis, menghadirkan penerbitan artikel di website, produksi video/ film, dan informasi/ pengetahuan publik. Kini dikelola oleh individu-individu yang mempunyai kesamaan dalam memandang perempuan dan minoritas.

Let's share!

Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin
Share on whatsapp
Share on email