Tidak Semua Perempuan Yang Menikah Harus Punya Anak: Film Kosong


Sebuah Film berjudul “KOSONG” karya Chonie Prysilia dan Hizkia Subiyantoro diluncurkan September 2020. Kosong merupakan film yang mengangkat isu perkawinan tanpa anak dan urusan kehamilan yang kemudian menjadi urusan publik tanpa mengindahkan privasi perempuan. Di Indonesia, banyak perempuan menikah yang tak punya anak dianggap tidak berguna, tidak sempurna dan bahkan diceraikan begitu saja

Tika Adriana- Konde.co

Tak hanya yang lajang yang diburu-buru untuk cepat menikah, di Indonesia, perempuan yang menikahpun juga tak punya kuasa atas tubuhnya sendiri. Begitu banyak tuntutan yang juga menuntut perempuan menikah harus menjadi ini dan itu, salah satunya kewajiban untuk punya anak.

 “Kamu belum hamil ya? Kudoakan ya biar cepat hamil.”

“Sudah belum? (sambil menunjuk perut)”

“Sabar ya, Tuhan akan memberi pada waktunya.”

“Si itu sudah hamil, masa kamu belum?.

Kalimat-kalimat itu selalu menghujani perempuan yang memilih untuk tidak memiliki anak atau belum punya anak.

Dan ini tergambar melalui kisah lima perempuan dalam film animasi dokumenter berjudul “Kosong” yang disutradarai oleh Chonie Prysilia dan Hizkia Subiyantoro, suami istri yang punya problem serupa

“Ini idenya dari saya karena banyak perempuan mengalaminya, dan dia (suami Chonie) mengalami dengan bentuk yang tidak lebih keras daripada saya. Cerita ini dekat dengan kami berdua, walaupun kami punya alasan sendiri (untuk tidak memiliki anak),” ujar Chonie.

KOSONG, adalah sebuah film animasi dokumenter yang mengurai tentang keresahan-keresahan perempuan yang menikah tetapi belum atau tidak mempunyai anak, di sebuah pulau dengan populasi terbesar di dunia, yaitu Jawa.  Chonie Prysilia dan Hizkia Subiyantoro bersama tim Hizart Studio yang didukung Cipta Media Ekspresi dari Ford Foundation dan Wikimedia merilisnya secara online pada 9 September 2020

“Kehamilan yang terjadi segera setelah pernikahan, semua pasangan suami istri menginginkan hal yang sama adalah stereotipe yang berkembang dalam masyarakat. Penundaan atau perencanaan waktu kehamilan pertama tidak populer. Setelah pernikahan, jika kehamilan tak kunjung terjadi, kehidupan pernikahan dipertanyakan,” kata Chonie

Dalam website Cipta Media Ekspresi, Chonie menuliskan bahwa urusan kehamilan kemudian menjadi urusan publik dan intens dibahas secara terbuka, tanpa mengindahkan privasi. 

“Dalam masyarakat tradisional, pembahasan lama-kelamaan berubah menjadi intimidasi, hingga pelecehan verbal. Oleh sebab itu atau bukan, banyak pasangan mencoba berbagai cara; dari yang bersifat medis, spiritual, hingga alternatif, untuk segera memiliki keturunan. Sebagaimana khasnya masyarakat patrilineal, obyek utamanya adalah perempuan (istri).”

Perempuan yang menua tanpa keturunan dianggap malang, cacat dan tak jarang, diceraikan. Setiap kita mengetahui setidaknya satu pernikahan tanpa keturunan selalu ada. 

“Jadi dapat dipastikan, dalam satu komunitas, setidaknya satu perempuan sedang menghadapi tekanan dan intimidasi sosial, juga pelecehan verbal, lalu menyerahkan tubuhnya pada resiko sejumlah eksperimen medis dan non-medis. Meski topik ini berhubungan langsung dengan tubuhnya, kehendak pribadinya tidak pernah penting, apalagi tersampaikan.”

Kita juga bisa lihat sekeliling kita yang seakan mewajibkan pasangan yang sudah menikah untuk memiliki anak atau mungkin kita sendiri pernah melakukan itu pada orang lain? 

Padahal, perkara memiliki anak adalah urusan personal tiap perempuan, sebab mereka yang menanggung semua beban: hamil sembilan bulan dengan segala macam perubahan baik selama kehamilan hingga setelah melahirkan.

Ada rupa-rupa alasan perempuan ketika memilih tidak memiliki anak atau menunda memiliki anak dan sebetulnya kita sebagai individu lain tak penting untuk tahu atau menuntut tahu alasan mereka.

“Kalau belum dikasih itu berarti belum waktunya. Aku nggak punya kekhawatiran itu, tapi kenapa itu dipupuk [menganggap punya anak setelah menikah adalah kewajiban],” tutur salah satu perempuan narasumber dalam Kosong.

“Katanya punya anak itu supaya di masa tua saya ada yang merawat. Saya enggak tahu masa tua saya itu sampai umur berapa karena saya enggak mau memikirkan hal-hal yang belum terjadi,” ungkap perempuan lain di film tersebut.

“Sering dibilang orang, banyak harta kalau enggak punya anak buat apa? Orang itu tante jawab begini: enggak punya anak malah enak, enggak urus anak,” tutur seorang perempuan lainnya.

Ada pula pasangan yang tak memiliki anak karena masalah kesehatan, khawatir tak bisa merawat dengan baik, dan berbagai alasan lainnya.

Mengapa Perempuan Seakan Wajib Memiliki Anak?

Dalam dokumenter “Kosong”, kita bisa melihat kehidupan perempuan yang seakan dipenuhi tenggat waktu oleh lingkungan sosialnya: bekerja mapan, menikah, memiliki anak. 

Ketika belum menikah, teman sang perempuan akan merekomendasikan ini-itu agar cepat menikah, menjodohkan dengan laki-laki sana-sini. Namun setelah ia menikah, tuntutan kembali hadir melalui pertanyaan “kapan punya momongan?”.

“Punya anak satu saja kok sulit. […] Enggak usah mendengarkan dokter, kita harus usaha,”

“Kamu itu kalau sudah ingin hamil, aku kasih tahu dokter yang bagus buat program,”

“Saya pernah ditelepon untuk memberi tahu pengobatan untuk punya anak, dibilang enggak nurut. Mereka enggak tahu kalau saya dan suami usaha kemana-mana, enggak pernah cerita dari dokter praktek, ke rumah sakit, ke tukang pijet,”

“Kalau yang masuk akal saya jalani, kalau enggak ya enggak. Mertua saya itu penginnya ziarah ke makam raja jawa. Orang jawa juga kan percaya sama pancingan,”

“Kamu mantunya mbok Tum kan? Yang belum punya anak itu kan? Mbok ke sini, ke sini,”

“Suami istri itu harusnya punya anak, biar tambah langgeng hubungan sama suami,”

Dalam lingkungan masyarakat pronatal, tuntutan dari lingkungan sosial seperti yang diutarakan oleh lima perempuan di film Kosong tentu sering sekali kita dengar. Saking menuntutnya, tak jarang orang repot-repot untuk mencarikan informasi kepada perempuan agar cepat hamil dengan berbagai tuduhan yang membebani para perempuan.

Noam Shpancer, seorang profesor psikologi dari Otterbein College dalam artikelnya di Psychologytoday mengatakan bahwa budaya kita memandang pengasuhan sebagai bagian penting untuk mencapai kepuasan, kebahagiaan, dan makna hidup. 

Selain itu konsep keibuan dan kesuburan yang diberikan oleh lingkungan sosial kita juga menuntut perempuan untuk memiliki anak kandung: mereka yang tidak punya anak dianggap tidak subur dan bukan perempuan baik.

Ada banyak alasan tidak memiliki anak atau perempuan memilih untuk tidak punya anak, tapi mereka yang memilih untuk itu sering juga dianggap sebagai perempuan yang egois dan kurang religius. 

Padahal memiliki anak juga bukan berarti pilihan yang egois, karena jika melahirkan anak lantas memberikan tuntutan ini-itu kepada mereka karena merasa memiliki atau menjadi orangtua toksik.

Stigma tak punya anak juga melekat pada laki-laki, meski mungkin tak berdampak terlalu signifikan

Dalam sebuah artikel di ABC, stigma ini hadir karena budaya patriarki yang mengakar seperti warisan nama. Banyak sekali budaya yang mewajibkan nama belakang keluarga ayah disematkan pada anak. Selain itu juga budaya toksik maskulin, para laki-laki dianggap tidak ‘jantan’ ketika mereka tidak memiliki anak. 

Para laki-laki yang tidak memiliki anak sering dianggap sebagai laki-laki yang tidak jantan dan menyimpang secara seksual.

Tak Memiliki Anak Juga Bisa Bahagia

Apakah pasangan lebih bahagia dengan memiliki anak? Nyatanya tak selalu. Standar kebahagiaan dan kepuasan hidup setiap pribadi berbeda-beda yang tak bisa dinilai oleh orang lain. 

Justru yang membuat mereka tak bahagia adalah desakan dari lingkungan sosial.

Tak salah jika banyak pasangan memilih untuk tidak punya anak karena alasan finansial, ketakutan tak bisa membesarkan anak dengan baik, sebab beberapa negara pun tidak ramah anak: pajak anak yang tinggi, tak ada jaminan fleksibilitas jam kerja, kebutuhan anak dan sekolah yang sangat tinggi, biaya kesehatan yang mahal. 

Dalam kondisi seperti ini, memiliki anak justru bisa menjadi beban. 

Jika memang kamu sanggup memiliki anak tak masalah, tapi bukan berarti orang lain juga sanggup. Setiap keluarga memiliki kebutuhan ekonomi yang berbeda.

Memiliki anak juga tak lantas membuat pasangan bebas dari rasa sepi dan menjamin hari tua. Nyatanya banyak perempuan yang hidup sendiri atau pasangan yang tak memiliki anak tapi hidup dengan bahagia, salah satu alasannya karena merasa lebih merdeka dalam menentukan pilihan. Tentu bukan berarti pula mereka yang punya anak ini tak bahagia, bila ini adalah pilihan mereka, tentu mereka bahagia.

Memiliki anak juga tak berarti hari tua kita akan terjamin perawatannya, sebab kita tak tahu kondisi kita dan anak di masa depan. Lalu bagaimana dengan anak yang seumur hidupnya bergantung pada orangtua? 

Di sisi lain, mengharapkan jaminan perawatan pada anak justru menjadi pilihan egois para pasangan karena sejak kecil kita sudah membebani mereka dengan kondisi finansial yang mapan dan energi yang cukup untuk kita.

Punya anak atau tidak punya anak, adalah pilihan personal perempuan karena perempuanlah yang punya rahim. Dan kita tak bisa memaksakan orang lain untuk punya pilihan yang sama dengan kita.

Tika Adriana, jurnalis perempuan yang sedang memperjuangkan kesetaraan. Saat ini managing editor Konde.co

Tim Konde.co

Tim Konde.co

Konde.co lahir pada 8 Maret 2016 untuk mengelola ruang publik dari sudut pandang perempuan dan minoritas sebagai bagian dari kesadaran dan daya kritis, menghadirkan penerbitan artikel di website, produksi video/ film, dan informasi/ pengetahuan publik. Kini dikelola oleh individu-individu yang mempunyai kesamaan dalam memandang perempuan dan minoritas.

Let's share!

Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin
Share on whatsapp
Share on email