Banyak Eksploitase Tubuh Perempuan Dalam Karya Seni, Dibutuhkan Perspektif Feminis

  

Sejumlah karya seni melakukan eksploitase pada tubuh perempuan. Lalu bagaimana cara menggarap sebuah karya seni dengan menggunakan perspektif feminis? Dimana kesulitannya, dan tahapan apa saya yang harus disiapkan agar bisa membuat sebuah karya feminis?

Ernawati- Konde.co

Bagi saya, seni dan budaya adalah salah satu ruang yang menjadi pilihan untuk menyuarakan ketidakadilan terhadap perempuan, juga untuk mendorong perubahan perempuan. 

Saya yakin dengan menggunakan seni budaya akan secara efektif mentransformasi nilai-nilai berperspektif keadilan gender ke ruang publik. 

Dalam ruang inilah muncul kebutuhan untuk memasukkan perspektif feminis di ruang penciptaan karya seni dan budaya, baik itu dalam seni lukis, patung, instalasi, musik, teater maupun film.

Saya melihat selama ini masih terjadi pengabaian terhadap perempuan dalam proses penciptaan karya seni dan budaya dengan tidak memasukkan perspektif feminis. Hasil karya seni dan budaya yang tidak memasukkan perspektif feminis cenderung mendukung budaya patriarki yang diskriminatif. Ini bisa terlinat dari adanya eksploitasi tubuh perempuan yang masih terus terjadi dalam karya-karya seni budaya. 

Padahal jika tak mau terjebak dalam eksploitase perempuan, penggunaan perspektif feminis dapat dimanifestasikan sejak dari proses awal sebuah karya seni hingga hasil akhir. 

Tulisan ini adalah rangkuman dari sejumlah artikel dan gagasan saya tentang bagaimana menggarap karya seni dengan menggunakan perspektif feminis.  Apa saja yang harus dilakukan?

Ide Awal Dengan Membuka Dialog Tentang Perempuan

Tahapan pertama yaitu bisa dimulai dari ide/ gagasan awal dengan cara membuka dialog, sebagai ruang untuk mengeksplorasi gagasan, mendapat masukan dan saling menguji gagasan

Pada tataran ide, kita akan bermain dalam gelombang dengan frekuensi yang tak terbendung, seperti pasang surut ombak, kadang menikmati frekuensi tinggi namun mendadak mati sunyi. Bayangkan seekor burung Camar yang tiba-tiba datang menemani ruang sepi itu. Adil sejak dalam pikiran dapat diartikan membuang jauh semua gagasan yang berpeluang memojokkan dan merendahkan perempuan. Gagasan bukan hanya mempertimbangkan nilai artistik dan nilai jual saja, namun juga pemaknaan karya yang bersifat adil. 

Diskusi soal seni budaya perempuan misalnya dapat digagas dengan cara yang banyak dilakukan seniman muda saat ini seperti merancang sebuah acara secara live dan talk show menggunakan berbagai perangkat media sosial. Cara ini dapat digunakan untuk mengundang partisipasi publik dalam pengayakan ide. 

Konsep Dengan Menggunakan Perspektif Perempuan 

Gagasan atau ide berkembang menjadi konsep. Selain itu konsep juga dapat digambarkan sebagai abstraksi suatu ide atau gambaran mental yang dinyatakan dalam suatu kata atau simbol, sebagai bagian dari pengetahuan yang dibangun dari berbagai macam karakteristik. 

Tema Dirancang Sesuai Pemanfaatan Karya

Dengan perspektif perempuan, konsep bisa dirancang berdasar nilai-nilai kesetaraan lalu dituangkan dalam tema. Tema berkaitan dengan karya ini mau dibawa kemana. Dalam arti tujuan dari karya tersebut. Misal tentang bagaimana kita memandang dunia atau sebaliknya, bagaimana kita ingin dunia memandang kita. Tema juga dapat disesuaikan dengan pemanfaatan karya. Misalnya menciptakan desain kursi roda atau gerobak angkringan, lalu ini untuk apa? Juga target dari penciptaan karya, bersifat sosial atau komersil

Judul Jangan Mengeskploitase Ketubuhan

Memasukkan perspektif perempuan dalam tema kemudian akan berlanjut pada pemilihan judul karya. Judul harus tetap menarik tanpa harus menggunakan mengeksploitasi ketubuhan perempuan atau menggiring sentimen terhadap minoritas tertentu. Penguasaan akan konsep dipandang penting karena seniman pembuat karya harus dapat menjelaskan apa makna dari judul dan kaitannya dengan tema. 

Kreatif: Memperhatikan Penggarapan dan Tim Kerja yang Adil

Setelah memancang konsep dan tema, kita masuk pada ruang kreatif, yaitu penggarapan. Tentu saja dimulai dari pemilihan bahan dan anggaran. Di ruang ini kita bisa saja bekerja dalam sebuah tim. Dengan kelompok ibu-ibu misalnya, atau teater perempuan. 

Pemilihan bahan dan anggaran bisa sangat idealis. Apakah akan menggunakan bahan dengan merk tertentu, harga tertentu atau mengupayakan sendiri, dari bahan alami. Terkadang ada sentimen tertentu yang tentu saja layak untuk dipertimbangkan. Terlebih saat kita berkomitmen untuk memasukkan unsur feminis didalamnya. 

Penggunaan dialog dalam teater atau film, pemilihan peran, lokasi bahkan gender tertentu. Juga dalam karya seni lukis, penggunaan bahan glitter misalnya, banyak dihindari karena didapat dengan cara mengeksploitase anak-anak perempuan, demikian juga dengan penggunaan kayu dan bulu binatang yang tak berpihak pada lingkungan

Dalam proses pengerjaan, tim juga harus berhati-hati agar tidak bersikap seksis dan diskriminatif. Misalnya dalam hal penanggungjawab dan pembagian kerja. Keadilan gender tetap harus diutamakan dengan mempertimbangkan keahlian, kemampuan dan keamanan. Pembagian kerja bukan berdasarkan dia laki-laki atau dia perempuan

Dokumentasi dan Proses Komunikasi Karya

Secara keseluruhan, penting untuk mendokumentasikan proses dan menampilkannya di media sosial. Proses ini dapat menjadi informasi awal sebelum kita memajangnya di ruang publik. Dokumentasi dapat berupa catatan, foto atau video. Hingga tiba di proses akhir ketika kita menyiapkan dokumentasi khusus untuk menampilkan karya.

Manajemen dan Kemampuan Mengelola Tahapan Kerja yang Melibatkan Perempuan

Walaupun ini sebenarnya awal dari keseluruhan adalah, satu hal yang tidak boleh dilupakan yaitu manajemen. Manajemen juga dapat dikatakan sebagai seni itu sendiri. Seni dalam manajemen mencakup kemampuan dalam menyatukan visi atau tujuan dan berbagai aspek seperti perencanaan, kepemimpinan, komunikasi, dan pengambilan keputusan berhubungan dengan unsur manusia tentang cara pendekatan manajemen seni. 

Bagaimana menjalankan manajemen dalam perspektif feminis? Yaitu dengan cara mengatur tahapan kerja, mengolah cita rasa dalam hubungan antar individu, memadukan pikiran, kerja fisik dan emosi dalam sebuah karya. Kunci penyatuan dari beragam pola berpikir, karakter, kebiasaan dan selera adalah kepekaan untuk saling menghargai, menghilangkan ego pribadi dan menghilangkan kasih sayang. 

Manajemen dengan perspektif feminis dibutuhkan untuk menghindari sikap seksis dan diskriminatif. Selanjutnya, manajemen pula yang mengatur pencatatan, pembagian kerja, anggaran, publikasi dan penawaran karya ke pihak luar. 

Diantara itu ada kurator yang bertugas menilai hasil karya kita. Manajemen juga berperan dalam pemetaan tahapan kerja seperti observasi, kolaborasi, pengembangan jaringan, analisa, evaluasi dan dokumentasi. 

Kritik Seni: Mengelola Kritik Secara Terbuka

Diluar itu adalah kritik seni. Kritik seni dapat berubah menjadi polemik. Apabila kritik diterima secara terbuka, kritik dapat dilpandang sebagai awal dari karya berikutnya. Secara ringkas itu yang kita butuhkan. Artikel ini masih belum cukup sempurna, akan selalu ada dinamika yang bisa kita tambahkan. Berbagai spektrum yang kita mainkan, justru akan membuatnya semakin menarik. Sempurna mungkin bukan kata akhir yang tepat

(Foto/ Ilustrasi: Pixabay)

Ernawati, sehari-hari aktif di Organisasi Perempuan API Kartini di Yogyakarta 

Tim Konde.co

Tim Konde.co

Konde.co lahir pada 8 Maret 2016 untuk mengelola ruang publik dari sudut pandang perempuan dan minoritas sebagai bagian dari kesadaran dan daya kritis, menghadirkan penerbitan artikel di website, produksi video/ film, dan informasi/ pengetahuan publik. Kini dikelola oleh individu-individu yang mempunyai kesamaan dalam memandang perempuan dan minoritas.

Let's share!

Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin
Share on whatsapp
Share on email