Dibutuhkan Sekolah Ayah: Untuk Mengajak Para Suami Peduli Urusan Rumah


Apa yang dilakukan jika suami tak peduli dengan urusan rumah? Dunia seperti mau kiamat. Teman-teman perempuan saya banyak yang mengalami situasi ketika mereka harus berjibaku dengan pekerjaan publik dan domestik secara bersamaan tanpa bantuan. Sampai bingung bagaimana cara mengajak suami untuk peduli agar mau mengurus rumah. Sepertinya para suami harus ikut sekolah ayah supaya bisa menjadi suami yang peduli pada urusan rumah

Kustiah- Konde.co 

Berasa meminum kopi tapi tidak ada gula. Begitulah episode hidup pahit yang terjadi. 

Lima teman perempuan saya bercerita tentang apa yang mereka alami selama beberapa bulan di masa Covid.

Teman perempuan saya yang pertama ditinggalkan suaminya yang pergi tak bertanggung jawab dan akibatnya ia lelah karena harus mengurus ekonomi untuk keluarga sendirian.

Kelimanya walaupun mengalami nasib yang tak mirip satu sama lain, namun semuanya harus menyelesaikan pekerjaan domestik dan publik secara bersama-sama. Sama saja khan? menjadi guru karena harus memastikan belajar dari rumah baik-baik saja, mencari uang dengan berjualan secara online, atau bekerja apa saja supaya dapat uang untuk makan sekeluarga. 

Di sinilah ujian teori kesetaraan gender diuji, apakah laki-laki suami mau bekerja bersama-sama istrinya di rumah menyelesaikan pekerjaan rumah, karena mereka sama-sama bekerja dari rumah atau work from home. 

Bagi yang tidak mengenal buku tentang gender atau yang tidak memahami urusan rumah tangga dengan dengan baik mungkin menganggap tak ada yang salah dari semua itu. Tetapi, bagi yang memahami urusan rumah tangga, maka yang dialami perempuan di tengah gejolak pandemi yang entah kapan berakhirnya ini, yang berjibaku menjaga keluarga supaya tidak oleng ini, adalah sebuah masalah. Ada yang tidak beres dalam kehidupan berkeluarga. 

Nur Hasyim, pendiri Aliansi Laki-laki Baru pernah menulis bahwa patriarki dan seksisme tidak hanya menciptakan ketimpangan, tetapi menimbulkan kehidupan yang tidak harmonis. Jika kesetaraan bisa dibangun dan diwujudkan maka seharusnya peran bisa dibagi dan dinegosiasikan. 

Jika istri sedang sibuk memasak maka ayah bisa melakukan perannya misal membersihkan rumah sebelum memulai bekerja.

“Dalam berkeluarga kita bisa berbagi peran dan berbagi kemenangan” ujar Boim, sapaan akrab Nur Hasyim dalam sebuah webinar bertema tentang penguatan fungsi keluarga di masa pandemi yang dilakukan Institut Pertanian Bogor/ IPB University akhir Juli 2020. 

Di Indonesia, budaya patriarki memang sudah terlanjur membentuk cara berpikir masyarakat pada umumnya. Bahwa kelaziman mencuci piring, mencuci baju, mengerjakan semua pekerjaan domestik termasuk mengasuh anak adalah satu paket menjadi pekerjaan perempuan, seorang ibu. Dan laki-laki, seorang suami hanya berkewajiban mencari nafkah di luar. Lalu bagaimana jika perempuan atau ibu juga bekerja untuk mencari nafkah di luar? 

Jadi, jika laki-laki terlihat mencuci, melakukan pekerjaan domestik di Indonesia ini, maka akan dianggap aneh. Padahal, pekerjaan rumah tangga, ruang domestik tidak berjenis kelamin dan tidak menuntut dilakukan oleh laki-laki atau perempuan, karena pekerjaan rumah bisa dikerjakan oleh siapa saja. 

Mencuci piring, tak berjenis kelamin.Memasak, tak berjenis kelamin. Membersihkan kebun, tak berjenis kelamin. Ini adalah pekerjaan yang bisa dilakukan oleh siapa saja dan bisa dipertukarkan.

Sekolah Ayah, Mengajak Suami untuk Peduli

Nur Hasyim, bersama lembaganya pernah mendirikan “sekolah ayah” di Indonesia Timur seperti di Nusa Tenggara Timur, Lombok, Papua dan beberapa daerah di sekitarnya. 

Salah satu tujuan sekolah ayah ini adalah menciptakan kesadaran pentingnya peran laki-laki dalam membangun kesetaraan. 

Karena konstruksi budaya di sana saking kuatnya, laki-laki disana harus sembunyi-sembunyi saat membantu istrinya menyelesaikan pekerjaan domestik seperti menyapu, menjemur pakaian dan saat mengasuh anak. 

Takut dicap sebagai ‘tidak laki-laki, inilah yang terjadi’. Setelah mengikuti sekolah ayah, akhirnya mereka tak melakukan pekerjaan rumah secara sembunyi-sembunyi lagi. 

Setelah itu mereka mengkampanyekan dan mengajak laki-laki, para bapak untuk berkontribusi membangun keluarga yang harmonis membangun kesalingan, saling membantu sama lain.

“Karena menjadi laki-laki tidak diukur dari kekuatan fisik, superioritas, dan dominasinya. Semakin anda sabar, setia, supportif, penuh cinta kasih, dan anti kekerasan maka Anda semakin laki-laki” ujar Nur Hasyim yang juga dosen Fakultas Ilmu Sosial dan Politik UIN Walisongo, Semarang.

Pada masa pandemi covid seperti ini, kita tidak bisa terus-terusan sendirian menghadapi masalah dengan dampaknya. Saya juga berpikir bahwa kita harus berhenti menuntut diri sempurna. Anak-anak tidak akan berubah menjadi anak yang tidak baik saat melihat rumah tak rapi. Hanya perlu katakan bahwa kita membutuhkan kerja sama mereka. 

Kita semua juga perlu sehat baik fisik maupun psikis. Fisik tidak akan sehat jika pertarungan psikis tidak pernah selesai. 

Lalu longgarkan aktivitas anak, dari yang sebelumnya hanya dibatasi menonton televisi satu jam tambahlah menjadi dua jam dengan pengawasan, atau dari yang sebelumnya sama sekali tidak boleh naik sepeda bermain dengan temannya izinkanlah untuk keluar rumah sebentar dengan catatan tetap menggunakan masker dan menjaga jarak. 

Katakan semua dengan catatan jelas dan tegaskan harus dipatuhi untuk kesehatan bersama. 

Dengan suami, di akhir pekan ajaklah ia berbicara untuk melakukan evaluasi dan merancang kerja-kerja seminggu ke depannya. 

Jika harus berbagi peran, sampaikan apa saja yang menjadi kerja suami, istri, dan anak. Bicarakan kesulitan-kesulitan yang ibu hadapi, karena jika tidak dengan suami dengan siapa lagi? Jika tidak bersuami maka bisa mendiskusikannya dengan anak-anak.

Jika tidak demikian jangan harap kita bisa menenangkan hati dan pikiran. 

Jangan lupa bermeditasi sejenak jika merasa hati tidak tenang, kalut, dan  sering menyalahkan diri sendiri. Jika rumah tidak pernah rapi janganlah berkecil hati. Semua bisa diselesaikan dengan bersama-sama, andaipun tidak bersama suami (karena suami sibuk, tidak peduli, mau seenaknya sendiri, tidak punya rasa kasihan dan kasih sayang kepada istri) maka, coba katakan sekali, dua kali, ketiga kali dan jangan lelah untuk terus menyampaikannya sambil meminta pengertian kepada anak-anak. Karena, masalah yang kita hadapi bukan masalah individu, tetapi masalah bersama. 

Jika tujuan di rumah saja adalah supaya sama-sama sehat mengapa kita tega membiarkan ibu, istri berjibaku sendirian menyelesaikan semua pekerjaan rumah sendiri. 

Saling membahu dan membangun kesalingan. Karena, saling mencintai, saling menyayangi, saling menghormati, menghargai, saling mengasihani, saling membantu yang keduanya aktif akan menciptakan relasi yang setara.

Kustiah, Mantan jurnalis detik.com, saat ini menjadi kontributor konde.co dan sedang menempuh studi pascasarjana di Institut Pertanian Bogor (IPB) University

Tim Konde.co

Tim Konde.co

Konde.co lahir pada 8 Maret 2016 untuk mengelola ruang publik dari sudut pandang perempuan dan minoritas sebagai bagian dari kesadaran dan daya kritis, menghadirkan penerbitan artikel di website, produksi video/ film, dan informasi/ pengetahuan publik. Kini dikelola oleh individu-individu yang mempunyai kesamaan dalam memandang perempuan dan minoritas.

Let's share!

Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin
Share on whatsapp
Share on email