Film Dipenuhi Kecaman, Mulan Tetap Ditampilkan Feminis dan Berani


Mulan adalah salah karakter Disney yang tak pernah saya lupakan: tomboy, percaya diri, berani menantang norma-norma yang mengekang. Buat saya, Mulan adalah sosok yang menggemaskan. Selain mendapatkan boikot dan kecaman dari para aktivis pro-demokrasi, film terbaru Mulan di tahun 2020 dengan versi live action tetap menarik walau ada penurunan kualitas cerita soal kegigihan Mulan 

Nunu Pradya Lestari- Konde.co

Beberapa minggu lalu Twitter sempat ramai dengan tagar ‘Boikot Mulan’. Ihwal seruan pemboikotan itu bermula dari pernyataan para aktor (Liu Yifei dan Donnie Yen), yang pernah memberikan dukungan kepada kepolisian Hong Kong dalam meredam demonstrasi di Hong Kong. 

“Aku juga mendukung Kepolisian Hong Kong. Kalian bisa melawanku sekarang. Sungguh memalukan bagi Hong Kong,” tulis Liu Yifei di Weibo pada bulan Agustus 2020. 

Statemen Liu Yifei itu disambut seruan boikot oleh sejumlah aktivis pro-demokrasi. 

Tak hanya itu, pada bagian ucapan terima kasih (kredit) di akhir film, secara khusus ini ditujukan kepada biro keamanan publik kota Turpan, lokasi Muslim Uighur dalam penahanan ekstra yudisial berada. 

Lokasi pembuatan film ini pun digarap di perbatasan kamp Uighur, dimana lebih dari 1 juta muslim Uighur ditahan. Oleh karena itu, semakin banyak orang yang menyerukan pemboikotan terhadap film Mulan.

Seperti Apa Film Mulan Yang Dulu dan Sekarang?

Bagi penggemar animasi generasi 90-an, pasti tak asing dengan karakter animasi Mulan. 

Berbeda dengan karakter perempuan Disney lainnya di tahun 90-an, Mulan digambarkan sebagai perempuan yang berjuang melawan ekspektasi masyarakat dan norma gender. Goresan versi animasi yang diiringi lagu Christina Aguilera 22 tahun yang lalu, membuat animasi Mulan cukup ikonik. 

Bulan September tahun 2020, Disney secara resmi merilis kembali kisah Mulan dalam format film live action. 

Para penggemar animasi Disney pun tak sabar melihat kiprah Disney menghidupkan karakter Mulan yang berani, percaya diri, memiliki tekad tak terbatas. 

Namun, tak lama setelah launching, live action Mulan justru menuai polemik di publik, hingga sempat menjadi trending topik di Twitter karena kontroversinya. 

Scene pembuka dalam live action Mulan, menampilkan masa kecil Mulan yang tumbuh sebagai gadis tomboy dan energik. 

Keluarganya percaya bahwa Mulan memiliki bakat kekuatan Chi yang biasanya dimiliki oleh ksatria. Namun hal itu justru dicemaskan oleh ibu Mulan, karena tak seharusnya anak perempuan memiliki kekuatan semacam itu. 

Mulan (diperankan oleh Liu Yifei) yang beranjak dewasa pun dididik untuk menjadi perempuan yang nantinya akan menjaga ‘kehormatan’ keluarga. Kehormatan ini salah satunya, anak perempuan harus dididik dan dipersiapkan untuk menjadi seorang istri yang terampil melayani suami. 

Tak lama kemudian, datang tentara Tiongkok utusan dari Kaisar Tiongkok (diperankan oleh Jet Li). Mereka menyampaikan pesan bahwa wilayah mereka akan diserang oleh suku Han dari Utara. Para tentara memerintahkan setiap keluarga harus menyerahkan satu lelaki untuk ikut berperang. 

Pada akhirnya, Ayah Mulan yang merupakan veteran perang kembali mengajukan dirinya untuk berperang 

Mulan yang melihat kondisi ayahnya yang cacat akibat perang, merasa harus berbuat sesuatu. 

Saat malam hari, Mulan memutuskan untuk berpakaian laki-laki agar bisa masuk ke dalam barak pelatihan para prajurit kekaisaran Tiongkok. Tujuan Mulan adalah menggantikan sang ayah berjuang di medan perang sekaligus untuk melindungi keluarganya.

Juga, daripada di rumah saja, nanti Mulan malah disuruh menikah dan menjaga kehormatan keluarga, maka Mulan memilih untuk pergi dan berperang. 

Di kamp pelatihan Mulan sebagai calon prajurit menyembunyikan identitasnya dengan memakai nama Hua Jun. Mulan juga menunjukan kegigihannya berlatih sebagai calon prajurit hingga tiba saatnya berperang. 

Kemampuan dan dedikasi Mulan selama di kamp pelatihan mendapat pengakuan dari teman-temannya juga dari mentornya, Komandan Tung (diperankan oleh Donnie Yen). 

Meskipun garis besar cerita tak jauh berbeda dengan versi animasi, ada beberapa hal berbeda di Mulan live action ini. Penataan plotnya cenderung datar dan singkat, sehingga pengembangan karakter dalam film ini justru tidak maksimal. Sangat berbeda dengan versi animasi yang alurnya mengalir dengan musikalisasi dan selipan humor ringan, sehingga cukup mudah dinikmati semua kalangan. 

Karakter Mulan dalam live action juga cenderung jauh berbeda dengan versi animasi yang mengurai secara detil kegigihan Mulan sebagai prajurit perempuan di barak tentara maupun medan perang. 

Sosok ikonik naga kecil bernama Mushu di versi animasinya digantikan oleh phoenix yang tak terlalu jelas digambarkan. Ada juga beberapa karakter lain yang digantikan, seperti peran Li Shang digantikan oleh Chen Honghui, serta burung elang milik tokoh antagonis Bori Khan menjelma menjadi sosok penyihir bernama Xian Liang (diperankan oleg Gong Li) di live action. 

Disney sepertinya punya ambisi untuk membuat remake Mulan versi live action menjadi cerita nyata yang menyajikan suasana perang sungguhan. Sayang, upaya sutradara Niki Caro untuk “menghidupkan” Mulan di dunia nyata justru banyak menurunkan kualitas cerita. 

Penggunaan dialog bahasa Inggris pun berpengaruh besar menurunkan greget cerita sang pahlawan perempuanTiongkok tersebut. 

Kendati didukung oleh setting dan sinematografi yang cukup megah, banyak sekali hal-hal esensial yang absen serta pengembangan tiap karakter yang “nanggung”. Meskipun demikian, sajian sinematografi dalam film ini tetap bisa dinikmati. 

Karakter Mulan ditulis oleh Robert D. San Souci dengan mengadaptasi roman Tiongkok tentang Hua Mulan abad ke-12. 

Selain visualisasi yang ikonik, penggambaran karakter Mulan menjadi representasi sudut pandang narasi Barat mengenai legenda tradisional Tiongkok di zaman kerajaan. Tak heran, karakter animasi Mulan besutan Disney pun mendapat banyak penggemar di seluruh dunia, serta sempat dinominasikan dalam ajang Oscar dan Golden Globes.

Sedangkan film Mulan versi live action kali ini cukup dilematis. Ada perbedaan visi dari versi animasi yang ringan dan sangat menghibur, dengan versi live action yang dramatis berdasarkan realita manusiawi. Respon dari kritikus film maupun penonton pun cukup negatif di minggu awal perilisan film ini. 

Di tengah maraknya kontroversi pemboikotan, film ini bagi saya tetap menarik karena menampilkan Mulan yang berani dan feminis walaupun ada penurunan kualitas. Live action Mulan tetap bertekad menarik hati penggemarnya. Per 4 September, penonton dapat menikmati live action Mulan melalui platform streaming Disney Plus (Disney+).

(Foto: Wikipedia)

Nunu Pradya Lestari, penulis dan aktif di jaringan nasional perburuhan. Nunu merupakan lulusan Institut Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (IISIP) Jakarta

Tim Konde.co

Konde.co lahir pada 8 Maret 2016 untuk mengelola ruang publik dari sudut pandang perempuan dan minoritas sebagai bagian dari kesadaran dan daya kritis, menghadirkan penerbitan artikel di website, produksi video/ film, dan informasi/ pengetahuan publik. Kini dikelola oleh individu-individu yang mempunyai kesamaan dalam memandang perempuan dan minoritas.

Let's share!

Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin
Share on whatsapp
Share on email