Banyak Stiker Seksis Tentang Perempuan Di Media Sosial: Jangan Diam

Candaan seksis lewat sebaran stiker di media sosial banyak bermunculan.  Candaan ini mengobyektifikasi tubuh perempuan dan tersebar sangat cepat dengan berbagai komentar, ini disebut trolling atau online harassment

Benedicta Stella- Konde.co

Dalam waktu sekejap, tubuh perempuan menjadi bulan-bulanan dalam berbagai sebaran dan komentar di media sosial. 

Banyak sekali candaan seksis yang mengincar perempuan lewat tubuh atau fisiknya. Candaan ini oleh banyak kelompok terutama laki-laki kemudian banyak dimaklumkan dan dianggap menjadi guyonan santai. 

Jika ada yang komentar dan protes, malah dianggap baper atau terlalu bawa perasaan dan sensitif

Bahkan tanpa rasa bersalah, banyak orang mengumpulkan  stiker yang mempertontonkan perempuan yang sedang memegang payudara, sambil dikomentari secara tak senonoh  

Ada juga stiker yang mempertontonkan perempuan dengan payudara  dan dikasih komentar, “cukup jangan dibesar-besarkan.”

Stiker-stiker ini diumbar menjadi bahan candaan dalam komunikasi masyarakat sekarang. 

Tubuh perempuan kerap kali menjadi bahan candaan yang sangat dinikmati oleh masyarakat. Ini semua terjadi karena pemakluman masyarakat yang menganggap bahwa mengobjektifikasi perempuan dalam ranah apapun adalah sesuatu yang normal.

Candaan seksis seperti ini juga banyak menjamur di lingkungan pekerjaan maupun pertemanan, dan termasuk dalam kategori tindakan pelecehan seksual. 

Candaan seksis kerap kali hadir sebagai bumbu yang dianggap bisa membuat serunya percakapan. Candaan seksis di WhatsApp, Facebook, Twitter, dan sebagainya juga banyak berkembang dan dimaklumkan sebagai humor. 

Lantas, mengapa stiker-stiker tersebut sering disebar untuk menjadi bahan gurauan? 

Dalam konteks candaan seksis di media sosial, tindakan tersebut merupakan salah satu jenis Kekerasan Berbasis Gender Online (KBGO) 

Dalam Rancangan Undang-Undang Penghapusan Kekerasan Seksual (RUU-PKS), tindakan pelecehan seksual merupakan salah satu dari 9 bentuk kekerasan seksual. 

Pelecehan seksual merupakan tindakan seksual lewat sentuhan fisik maupun non-fisik dengan sasaran organ seksual atau seksualitas korban apabila melihat dalam kasus stiker WhatsApp. 

Pelecehan seksual lewat dunia maya membuat korban tidak nyaman dan merasa martabatnya sebagai perempuan direndahkan lewat hadirnya stiker-stiker yang menggambarkan tubuh perempuan. 

Siapapun yang merasa tidak nyaman dengan hal ini, tindakan pelecehan seksual ini dapat melaporkan pelaku dengan melampirkan bukti stiker-stiker seksis tersebut. 

Lalu, banyak orang belum sadar bahwa candaan seksis merupakan cerminan dari suatu budaya yang mengikat turun-temurun. Candaan seksis yang beredar di masyarakat ini merupakan salah satu indikator adanya rape culture atau budaya pemerkosaan. 

Rape culture membentuk masyarakat yang cenderung misoginis dan patriarkis. Rape culture tidak hanya sebatas kekerasan seksual seperti pemerkosaan atau pelecehan seksual. 

Dalam memahami rape culture, ada piramida yang dapat membantu kita dalam mengerti tindakan-tindakan apa yang dapat membangun budaya pemerkosaan. 

Budaya pemerkosaan tidak hanya terkait tindakan pemerkosaan atau pelecehan seksual, justru tindakan-tindakan ini merupakan tingkatan paling tinggi dalam budaya pemerkosaan. 

Adanya perkosaan muncul akibat kebiasaan-kebiasaan atau pemakluman masyarakat untuk mengobjektifikasi perempuan. Mayoritas korban dari kekerasan seksual adalah perempuan, dan dalam kasus perkosaan kerap kali masyarakat menyalahkan tindakan dan pakaian perempuan sebagai pemicu. Ini menyuburkan pemikiran victim blaming. 

Adanya pemahaman dari konstruksi sosial bahwa perempuan adalah obyek dan punya karakter pasif, lemah, penakut, dan penurut membuat perempuan mendapatkan perlakuan sikap yang tidak setara. 

Tubuh perempuan pun dipertontonkan dan dieksploitasi dengan bebas di dunia maya, dan yang terakhir perempuan diobyektifikasi menjadi bahan candaan lewat platform media sosial. Seperti menyalahkan perempuan karena berpakaian ketat dan pulang malam lantas diperkosa dianggap sebagai sesuatu yang normal. 

Hal ini menjadi kebiasaan buruk dan penyakit turun-menurun sehingga banyak perempuan mendapat kekerasan seksual akibat budaya masyarakat yang memaklumi tindakan obyektifikasi perempuan.

Kita harus memberikan pemahaman kepada masyarakat untuk tidak merendahkan perempuan. Jika mendapatkan stiker seksis lagi, harus langsung ditolak, diprotes agar tak menjadi kebiasaan buruk yang dinormalkan

Benedicta Stella, penulis yang fokus menulis isu-isu perempuan

Tim Konde.co

Tim Konde.co

Konde.co lahir pada 8 Maret 2016 untuk mengelola ruang publik dari sudut pandang perempuan dan minoritas sebagai bagian dari kesadaran dan daya kritis, menghadirkan penerbitan artikel di website, produksi video/ film, dan informasi/ pengetahuan publik. Kini dikelola oleh individu-individu yang mempunyai kesamaan dalam memandang perempuan dan minoritas.

Let's share!

Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin
Share on whatsapp
Share on email