Kolaborasi Adalah Kunci Kesetaraan Gender dan Kurangi Kemiskinan Perempuan

The SMERU Research Institute (SMERU) memaparkan hasil studinya mengenai akses layanan bagi perempuan miskin di Indonesia. Hasil studi memaparkan pentingnya koloborasi antara pemerintah, masyarakat, organisasi untuk meningkatkan akses para perempuan miskin

Studi ini merupakan diseminasi dari penelitian yang dilakukan SMERU di tahun 2017-2019.

Studi longitudinal sendiri telah dilakukan sepanjang tahun 2014-2019 yang merupakan dokumentasi kontribusi kerja SMERU bersama Program Kemitraan Australia-Indonesia untuk Kesetaraan Gender dan Pemberdayaan Perempuan (MAMPU) untuk meningkatkan akses dan penghidupan perempuan miskin terhadap layanan publik di 15 desa di wilayah kerja MAMPU dan non MAMPU di 5 kabupaten di Indonesia.

Daerah itu antaralain yaitu Deli Serdang-Sumatera Utara, Cilacap-Jawa Tengah,Timor Tengah Selatan-Nusa Tenggara Timur, Kubu Raya-Kalimantan Barat, dan Pangkajene dan Kepulauan-Sulawesi Selatan. 

Studi ini mendata lebih dari 6.100 individu dari 1.732 keluarga miskin. Individu dan keluarga yang sama didatangi dalam tiap tahapan pengukuran yaitu baseline pada 2014, lalu midline 2017 dan endline pada 2019.

Dengan mensurvei responden yang sama memungkinkan untuk mengukur perubahan akses di lokasi studi. Perubahan dipotret dari dua sisi yaitu dari penyedia layanan (supply) yang dalam hal ini adalah pemerintah, dan dari sisi pengguna layanan (demand) yaitu perempuan miskin.

Perempuan miskin menjadi fokus studi SMERU karena kondisi mereka yang terbatas secara sumber daya sehingga lebih rentan untuk ditinggalkan. Upaya melihat perubahan dari dua sisi yang berbeda dan dengan metode analisis gabungan antara kualitatif dan kuantatif menghasilkan gambaran yang menyeluruh terhadap kondisi akses layanan dan interaksi antar aktor di dalamnya.

Khusus pada tahapan pengukuran endline dilakukan analisis perbandingan antara daerah yang didampingi MAMPU dan non MAMPU untuk mendapatkan temuan yang lebih spesifik atas kontribusi MAMPU terhadap perubahan yang terjadi.

Hafiz Arfyanto, Peneliti SMERU Research Institute, mengatakan ada perubahan-perubahan kondisi perempuan selama tahun 2017-2019

“Secara garis besar, data kuantitatif yang dibandingkan antar periode dapat menangkap perubahan kondisi perempuan miskin dalam mengakses layanan dasar publik pada dua tahun terakhir. Sementara itu, data kualitatif yang dikumpulkan akan mampu menjelaskan proses terjadinya perubahan pada akses tersebut.”

Salah satu rekomendasi dari studi ini adalah pentingnya kolaborasi antar pemangku kepentingan untuk mencapai tujuan pemerataan akses terhadap layanan publik.

Pemangku kepentingan yang dimaksud adalah seluruh aktor yang mempengaruhi akses layanan dari sisi penyedia layanan yaitu pemerintah maupun pengguna layanan yaitu perempuan miskin.

Organisasi masyarakat sipil sebagai salah satu mitra MAMPU juga berperan, terutama dalam upaya sosialisasi, peningkatan pemahaman dan kegiatan lain yang bertujuan untuk mengidentifikasi karakteristik ataupun kebutuhan layanan pada perempuan miskin.

Perempuan miskin memiliki tantangan ataupun kebutuhan khusus yang dapat mempengaruhi perilaku mereka dalam mengakses layanan. Oleh karena itu, diperlukan untuk memahami pereferensi perempuan miskin untuk optimalisasi penyediaan dan pemanfaatan layanan.

Namun pemahaman atas karakteristik perempuan miskin tetap harus diimbangi dengan upaya peningkatan cakupan layanan yang dibutuhkan.

Upaya peningkatan akses terhadap layanan publik tidak lepas dari adanya fakto-faktor penghambat, seperti keterbatasan pengetahuan dan pemahaman tentang layanan serta keterbatasan cakupan layanan. Faktor-faktor tersebut harus dieliminasi sehingga akses perempuan miskin terhadap layanan publik dapat lebih merata.

“Apabila faktor-faktor penghambat ini tidak dihilangkan, upaya peningkatan akses yang selama ini gencar dilakukan akan jadi sia-sia, sehingga perempuan miskin menjadi semakin sulit untuk meningkatkan kesejahteraan mereka.” lanjut Hafiz Arfyanto dari SMERU

Pemaparan SMERU ini dilakukan dalam acara Webinar bersama Program Kemitraan Australia-Indonesia untuk Kesetaraan Gender dan Pemberdayaan Perempuan (MAMPU). Kegiatan webinar ini dibuka oleh Dr. Ir. Subandi Sardjoko, M.Sc. selaku Deputi Bidang Pembangunan Manusia, Masyarakat, dan Kebudayaan, Kementerian PPN/Bappenas dan Aedan Whyatt, Counsellor for Poverty and Social Development, Australian Department of Foreign Affairs and Trade. 

Subandi menyampaikan pentingnya memahami data dan konteks kemiskinan perempuan untuk dapat merumuskan kebijakan yang tepat.

“Penting bagi kita untuk menganalisis data lebih dalam dan memahami konteks di masing-masing daerah, apa yang menjadi faktor pendorong dan penghambat akses perempuan miskin dan juga kelompok rentan lainnya. Apa yang menjadi tantangan dan peluangnya sehingga kita dapat merumuskan strategi dan intervensi yang tepat dan efektif untuk mendekatkan akses berbagai layanan kepada kelompok yang paling membutuhkan” ujarnya.

Subandi juga menekankan pentingnya kolaborasi seluruh pihak dalam melanjutkan dan memperluas praktik baik yang dihasilkan dari program MAMPU.

“Meskipun Program MAMPU akan berakhir pada akhir tahun ini, tidak berarti kegiatan yang sudah dikerjakan juga berakhir. Kami ingin mendorong seluruh pihak agar praktik baik dari Program MAMPU ini dapat dilanjutkan, diinternalisasi, dan diperluas pelaksanaanya di berbagai daerah sesuai konteksnya masing-masing,” tambahnya.

Selama delapan tahun terakhir, Program MAMPU telah mendukung pencapaian target Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) dan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (TPB) dengan meningkatkan akses perempuan miskin terhadap berbagai program pemerintah dan layanan dasar di 5 (lima) tema yaitu program perlindungan sosial, akses perempuan miskin pekerja rumahan terhadap perlindungan sosial tenaga kerja, akses perempuan buruh migran luar negeri terhadap perlindungan, peningkatan status kesehatan dan gizi perempuan, dan pengurangan kekerasan terhadap perempuan.

Stewart Norup, Senior Monitoring, Evaluation and Research Specialist, Program MAMPU menyatakan tentang sejumlah perubahan yang terjadi,

“Dari hasil studi yang dilakukan SMERU, ditemukan bahwa terjadi perubahan akses perempuan miskin pada 2017–2019 yakni pada tema perlindungan sosial dan peningkatan gizi perempuan. Selain itu aksi kolektif juga ditemukan berkontribusi terhadap peningkatan akses perempuan miskin yang ditemukan signifikan di desa-desa dampingan MAMPU. Hal ini menjadi temuan penting terutama bagi Program MAMPU yang berupaya untuk mendorong pemberdayaan perempuan dan kesetaraan gender di Indonesia. Perempuan yang aktif bersuara untuk menuntut layanan dari pemerintah memperlihatkan perempuan telah mulai berdaya. Ini menjadi langkah penting dalam agenda kesetaraan gender yang lebih luas.”

(Foto/ Ilustrasi: Pixabay)

Tim Konde.co

Tim Konde.co

Konde.co lahir pada 8 Maret 2016 untuk mengelola ruang publik dari sudut pandang perempuan dan minoritas sebagai bagian dari kesadaran dan daya kritis, menghadirkan penerbitan artikel di website, produksi video/ film, dan informasi/ pengetahuan publik. Kini dikelola oleh individu-individu yang mempunyai kesamaan dalam memandang perempuan dan minoritas.

Let's share!

Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin
Share on whatsapp
Share on email