Menikah atau Tidak Menikah: Cara LGBT Lakukan Negosiasi Atas Pilihannya

Ini adalah pengalaman saudara saya yang seorang gay, yang harus menikah dengan perempuan heteroseksual karena permintaan keluarganya. Apakah pernikahan ini merupakan suatu bentuk powerless? atau justru sebagai bentuk negosiasi atas pilihannya untuk beradaptasi dengan ketentuan norma yang masih menganggap heteroseksual adalah normal, sedangkan LGBT tak pernah normal?

Abdullah Faqih- Konde.co

Ketika identitas gender dan seksualitasnya diketahui kedua orang tuanya, saudara saya ini tidak bisa berbuat apa-apa selain menuruti apa yang dimau oleh keluarga. Maka menikahlah dia.

Ia kemudian juga diminta melakukan terapi ruqyah sebelum menikah yang diyakini untuk ‘menyembuhkan’ homoseksual yang dianggap merupakan akibat dari ketempelan setan. Tentu saja upaya itu tidak membuahkan hasil apa-apa. Kedua orang tuanya lantas memilih untuk menikahkannya dengan seorang perempuan yang heteroseksual. 

Dengan menikah secara heteroseksual, kerabat saya diharapkan bisa ‘sembuh’ dari ‘penyakit’ homoseksual yang dinilai melenceng dari norma agama, sosial, dan budaya masyarakat.

Yang dialami saudara saya itu ternyata juga dialami banyak orang. Ada banyak sekali laki-laki yang mengidentifikasi dirinya sebagai seorang gay, namun memilih menikah secara heteroseksual. Mereka terpaksa (atau dipaksa) menikah dengan perempuan heteroseksual untuk memenuhi imajinasi sebagai bagian dari masyarakat yang hidup dalam kultur heteronormatif—menganggap heteroseksual sebagai satu-satunya yang normal, sementara homoseksual dianggap sebagai abnormalitas. 

Selain itu, para lelaki gay juga merasa perlu memiliki keluarga batih (nuclear family) dalam rangka menjalankan fungsi prokreasi (keturunan). Hal itu dilakukan agar dapat terintegrasi dan diakui sebagai bagian dari warga negara (national belonging). 

Dalam pandangan negara yang meletakkan ideologi heteronormatif seperti Indonesia, hal itu hanya bisa dicapai apabila terjadi perkawinan secara heteroseksual. 

Saya jadi teringat sebuah esai berjudul “Queer Feeling” yang ditulis oleh Sara Ahmed pada tahun 2013 silam. Ahmed mengatakan bahwa kelompok queer (mereka yang memiliki identitas gender dan seksualitas nonnormatif; termasuk di dalamnya adalah kelompok gay) mengalami perasaan tidak nyaman hidup di dalam lingkungan heteronormatif. 

Perasaan tidak nyaman tersebut pada akhirnya mendorong terjadinya negosiasi, asimilasi, dan transgresi yang membuat kelompok queer harus bertahan hidup dalam norma yang berbeda dengan identitas gender dan seksualitas mereka.

Persis seperti yang dikatakan Ahmed, saya juga melihat bagaimana kerabat saya mengalami pergolakan antara kesadaran dirinya sebagai homoseksual yang berbenturan dengan kultur heternormatif. Pada posisi itu, dia selalu dihadapkan pada dua pilihan yang sebenarnya tidak adil untuk disebut sebagai pilihan. Pertama, dia harus menikah secara heteroseksual dengan konsekuensi harus mengalami pergolakan batin dan mempertaruhkan identitas gender dan seksualitasnya. Kedua, apabila dia menolak menikah, maka dia akan teralienasi dari ruang kehidupan sosial, budaya, agama, dan politik.

Pilihan lelaki gay untuk menikah, menurut saya, bukan berarti menunjukkan kelemahan dan ketidakmampuannya berhadapan dengan tekanan homofobia dan bias otoritatif orang tua. Pergolakan batin itu pasti dirasakan oleh mereka. Namun, pilihan tersebut di sisi lain justru menunjukkan adanya agensi dan resiliansi untuk dapat bernegosiasi dengan heteronormativitas. 

Agar dapat ‘bertahan hidup’, mereka merasa harus menikah secara heteroseksual dan menubuhi norma heteronormatif yang ada. Mereka bisa saja menjadi sosok suami yang bertanggung jawab untuk istrinya, juga ayah yang sempurna bagi anak-anaknya. Walaupun saya tahu rasanya berkecamuk karena merasakan juga bagaimana pasangan kita tidak tahu identitas kita. Di satu sisi kita tidak mau menyakiti pasangan, namun di sisi lain tak mau menyakiti keluarga. Akhirnya, pasrah menikah untuk menyenangkan keluarga

Jika sudah demikian, bagaimana kita bisa menjelaskan identitas gender dan seksualitas seseorang? Kita tahu ada laki-laki gay yang ternyata menikah secara heteroseksual dengan perempuan, bahkan juga punya anak. 

Selain itu, ada juga perempuan heteroseksual yang ternyata lebih senang menjalin asmara dengan laki-laki transgender atau laki-laki heteroseksual yang berhubungan intim dengan male-to-female. 

Pertanyaan-pertanyaan itu menunjukkan betapa cairnya identitas gender dan seksualitas seseorang. Sulit sekali untuk mengkotak-kotakkan atau mengkategorisasikannya ke dalam sekat-sekat yang biner.

Perihal pernikahan gay secara heteroseksual itu juga pernah diungkap oleh Tom Boelstorff di dalam tulisannya The Gay Archipelago. Menurutnya, terma dan praktik gay tidak memiliki bentuk tunggal dan tetap, terutama bila dihadapkan pada diskursus yang sedang beredar dalam tataran global dan lokal. 

Bentuk dan praktik gay di Amerika Serikat misalnya, bisa saja berlainan dengan yang terjadi di Indonesia. Kelompok gay di Amerika Serikat mungkin bisa mengekspresikan identitas gender dan seksualitasnya dengan menikah sebagai homoseksual, oleh sebab peraturan perundang-undangan di sana telah mampu mengakomodasi hal itu. Sementara di Indonesia, diskursus soal politik, agama, sosial, dan budaya yang sedang beredar belum memungkinkan pilihan itu dapat dinikmati. Setidaknya untuk saat ini. 

Dengan demikian, pernikahan seorang gay yang dilakukan secara heteroseksual, sebagaimana yang terjadi pada kerabat saya menurut saya tidak melulu menunjukan sisi powerless seorang gay. Hal itu juga bisa dibaca sebagai bagian dari resiliensi mereka untuk beradaptasi dan bernegosiasi dengan norma heteronormatif yang selama ini menjadi justifikasi atas berbagai peminggiran terhadap identitas gender dan seksualitas mereka. 

Kita juga tidak boleh lupa, ada peran negara yang membentuk imajinasi tentang kewarganegaraan yang ikut berkontribusi menggiring mereka terjebak pada pernikahan heteroseksual.

Meskipun begitu, saya tetap menaruh harapan besar agar suatu saat nanti kelompok gay dan queer lain di Indonesia dapat memiliki ruang bebas dan aman, sehingga mereka tidak perlu lagi sembunyi-sembunyi menunjukkan identitas gender dan seksualitasnya —sebagaimana yang saat ini dinikmati oleh mereka yang mengidentifikasi dirinya sebagai heteroseksual. Hal itu tentu saja bukan seperti Harry Potter yang cukup mengucap “simsalabim” lantas membuat ruang-ruang itu terbuka begitu saja. 

Memerlukan ratusan bahkan ribuan hari untuk sampai pada cita-cita itu sambil berjuang melakukan kerja-kerja advokasi dari bawah tanah seperti sekarang ini menurut saya adalah langkah paling masuk akal

(Foto/ Ilustrasi: Pixabay)

Abdullah Faqih, sedang melakukan penelitian tentang queer Muslim di Indonesia sambil diselingi nonton drama Korea. Senang mendengar, membaca, menulis, dan makan donat. 

Tulisan juga dipublikasikan di anotasi.com

Tim Konde.co

Konde.co lahir pada 8 Maret 2016 untuk mengelola ruang publik dari sudut pandang perempuan dan minoritas sebagai bagian dari kesadaran dan daya kritis, menghadirkan penerbitan artikel di website, produksi video/ film, dan informasi/ pengetahuan publik. Kini dikelola oleh individu-individu yang mempunyai kesamaan dalam memandang perempuan dan minoritas.

Let's share!

Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin
Share on whatsapp
Share on email