Oscar Lawalata: Panggil Aku Oscar atau Asha, Aku Seorang Transgender

 

Saya memilih untuk menjadi wanita seutuhnya. Oscar Lawalata, seorang perancang busana memutuskan menjadi transgender dan mengubah namanya menjadi Asha Smara Darra. Melalui Youtube The Lawalatas tepat sehari jelang ulangtahunnya pada 1 September 2020, Oscar bercerita tentang menjadi transgender, juga keputusan yang tak pernah mudah diambilnya 

Nur Aini- Konde.co

Nama baru saya Asha. Asha Smara Darra. Asha itu artinya Hope, Smara artinya cinta dan Darra itu artinya pohon yang kuat. 

Di Hari itu, tepat Oscar Lawalata atau Asha berumur 43 tahun. Ia mengumumkan perubahan namanya dalam Youtube The Lawalatas: The Untold Story of Oscar Lawalata: Panggil Aku Asha. 

Namanya kini kira-kira artinya begini: pohon kuat yang dipenuhi cinta dan harapan

“Aku bisa dipanggil apa saja, bisa Asha, bisa juga Oscar karena banyak yang telah mengenal saya sebagai Oscar. It’s only a name.”

Video itu juga bercerita bagaimana Oscar Lawalata, mengenang masa lalu. Ketika ia menyatakan keinginannya untuk menjadi perempuan, mama Oscar, Reggy Lawalata dan Mario Lawalata adiknya, tak langsung setuju. Mereka banyak bertanya mengapa harus begini, Oscar?

“Mereka banyak bertanya, mengapa harus begini, mengapa harus begitu? Dan itu lama, tahunan, sampai mereka bisa mengerti di satu titik, bahwa saya adalah seorang wanita.”

Waktu itu, dalam pikirannya dari remaja hingga berumur 35 tahun, Asha hanya berpikir bahwa ia berbeda dan unik, belum berpikir apa-apa, juga soal pilihannya

“Unik and I fell I’m more women in my heart.”

Karena kesibukan mengerjakan banyak hal, Asha kemudian tak pernah lagi memikirkan ini.

“Selama 5 tahun terakhir saya mulai berpikir, apakah itu transgender? Disitulah saya mulai tenang. Oh, this is me, transgender. Saya lalu memilih menjadi wanita seutuhnya.”

Sejak itulah Asha memilih bahwa tak harus menutup-nutupi sesuatu lagi. Lagipula banyak orang mengalami hal yang sama dengannya. Dari situlah ia kemudian mulai coming out, karena ini merupakan titik penting bagi hidupnya.

“Di usia saya sekarang ini, saya ingin menyumbangkan pikiran, pengalaman, perjalanan hidup, terutama sesuatu yang terlihat tabu ini.”

Asha menyadari, memilih menjadi transgender pasti bukan sesuatu yang mudah, karena tanpa melakukan apa-apapun, menjadi transgender sudah menjadi pusat perhatian. Untuk memakai baju yang sederhanapun, sudah pasti akan jadi pusat perhatian

“Apalagi kalau pakai baju yang sensasional, pasti diperhatikan sekali. Sebagai wanitapun, saya tidak harus memakai pakem-pakem saya harus seperti ini, perempuan seperti itu atau laki-laki seperti itu, jadi kata androgin adalah kata yang paling cocok buat saya saat ini.”

Asha juga memahami bahwa menjadi transgender tak akan mudah dalam memilih perjalanan cinta.

“Kebanyakan laki-laki yang mencintai transgender adalah laki-laki normal yang mencintai wanita yang mencintai feminine, cinta yang tumbuh, persona dan cinta itu murni. Cinta itu unik dalam perjalanan transgender, mereka merasakan lebih sensitif, merasakan sendirian, merasakan apakah ada yang bisa mencintai? Merasa terbatas. Tapi sisi positifnya, disitulah saya belajar tentang batas cinta.”

Namun, dari perjalanan dan pengalaman, ia kemudian merasakan bahwa saat ini ia banyak bertemu anak muda yang sudah mulai terbuka pikirannya untuk menerima transgender.

“Ada komen seperti ini, saya tidak setuju dengan pemikiran Oscar, tapi saya menghargai pilihan Oscar. Ini artinya ada perbedaan, tapi saling menghargai. Ini yang lebih menarik untuk saya. Ada komen yang lebih down, misalnya ada yang mengatakan, saya ini seperti Oscar tapi saya belum bisa membuka diri. Buat saya ini proses yang harus dijalani dari jati diri kita dan ini proses. Jika ada kata-kata sinis, saya hadapi dengan senyuman saja karena tak semua orang bisa mengerti apa yang kita bicarakan, dan untuk wawasanpun semua orang pasti punya batasan-batasan.”

Menjadi Transgender: Perjuangan Hadapi Norma Sosial

Apa yang dilakukan Oscar Lawalata tak pernah mudah, apalagi di Indonesia yang masih sulit menerima perbedaan pilihan gender yang begitu kuat. Banyak transgender lain di Indonesia yang mengalami diskriminasi, bahkan tak diakui.

Apakah itu transgender? Transgender mengacu pada seseorang yang memiliki identitas atau ekspresi gender yang tidak sama dengan ketika mereka lahir. 

Istilah transgender juga ada yang memahaminya dalam definisi yang lebih luas, tidak hanya lintas gender seperti laki-laki yang berekspresi sebagai perempuan atau sebaliknya tanpa perubahan tubuh dengan operasi, tetapi juga bagi mereka yang mengalami perubahan tubuh dengan medis, terapi, atau teknologi operasi dan hormon.

Seperti diceritakan Asha, menjadi transgender tidak begitu saja mudah diterima di keluarga maupun di masyarakat. Hal itu karena selama ini, ekspresi gender yang ada lebih banyak dipahami oleh masyarakat hanya dua, yaitu seseorang yang berjenis kelamin laki-laki berekspresi seperti laki-laki dan perempuan harus berekspresi seperti “umumnya perempuan. Itulah norma atau ketentuan seksualitas yang berlaku di masyarakat. 

Pemahaman itu selama ini dikenal dengan sebutan heteronormativitas.

Jika seorang anak lahir berjenis kelamin laki-laki maka seperangkat norma mengenai karakter atau sifat jenis kelaminnya (seksualitas) yaitu bersikap, berpikir, hingga berpakaian telah ditentukan oleh tatanan masyarakat. 

Aturan heteroseksualitas (laki-laki berekspresi seperti apa yang dipahami masyarakat sebagai laki-laki, begitu juga dengan perempuan) dipertahankan dan dilanggengkan di kehidupan sosial dengan mekanisme penghargaan dan sanksi. 

Contoh sederhananya, jika seseorang berjenis kelamin laki-laki bersikap macho, maka itu dianggap hal “normal”, sementara jika laki-laki menunjukkan sikap tubuh kemayu maka siap-siap menerima “sanksi” berupa pertanyaan atau bahkan hingga pengucilan.

Pemikir feminis Gayle Rubin mempercayai seksualitas adalah politis karena diatur dengan sistem kekuasaan atau dalam kata lain ada kuasa dalam masyarakat yang menentukan bagaimana seseorang harus mengekspresikan diri sesuai dengan jenis kelaminnya. 

Dengan adanya pengaturan masyarakat itulah, transgender seperti Asha, yang lahir berjenis kelamin laki-laki dengan nama Oscar Lawalata, merasa sulit berekspresi gender seperti kemauannya. Banyak pertentangan menjadi transgender. 

Pertentangan itu biasanya datang dari lingkungan yang meminta mereka untuk menjalani identitas seperti ketika mereka dilahirkan. Maka ketika mereka menyatakan bahwa identitas ini tidak sesuai dengan keinginan mereka, penolakan pertama yang datang selalu datang dari lingkungan mereka.

Penolakan transgender dalam masyarakat, juga karena pemahaman heteroseksualitas dipahami sebagai hal ilmiah dari perbedaan jenis kelamin. Padahal, seperti yang diungkapkan feminis lainnya, Adrienne Rich, heteroseksualitas itu bukan hal ilmiah tetapi sebuah pranata sosial yang dipertahankan dengan serangkaian pemicu (dorongan) dan hukuman. 

Pemicu seorang berjenis kelamin tertentu, bertindak sesuai dengan norma sosial dapat berasal dari yang bersifat material dan simbolik/ideologis. 

Contoh sederhananya seperti perempuan yang sudah menikah selama ini didorong untuk berada di rumah sebagai ibu rumah tangga yang mendapat dukungan finansial dari suami karena peran laki-laki selalu dipahami sebagai pencari nafkah keluarga. Dorongan lainnya bersifat simbolik atau ideologis, misalnya orang berjenis kelamin perempuan harus menjadi ibu dan memiliki sifat “keibuan”.

Jika ada pandangan yang berbeda dari norma tersebut, maka akan ada sanksinya. Misalnya, perempuan berkarier masih kerap disalahkan jika anak bermasalah karena tidak menjadi ibu rumah tangga yang di rumah mengurus anak. 

Sementara, laki-laki yang mengurus anak di rumah, tidak bekerja di luar, dianggap tidak bertanggung-jawab. Sanksi sosial semacam itu juga dihadapi oleh transgender, karena peran sosialnya tidak sejalan dengan ekspektasi masyarakat mengenai kesesuaian peran gender dengan jenis kelaminnya.

Dalam sejarahnya, ada berbagai perdebatan di kalangan feminis mengenai transgender yang di antaranya adalah mengenai perubahan jenis kelamin. 

Namun dalam perjalanannya ketika transgender banyak mengalami diskriminasi dan subordinasi, perjuanganpun lalu berubah. Banyak kalangan feminis memperjuangkan transgender sebagai sebuah identitas seksual yang juga tak boleh mendapatkan diskriminasi.

(Foto: Youtube)

Nur Aini, Jurnalis dan Lulusan Pascasarjana Kajian Gender Universitas Indonesia (UI)

Tim Konde.co

Tim Konde.co

Konde.co lahir pada 8 Maret 2016 untuk mengelola ruang publik dari sudut pandang perempuan dan minoritas sebagai bagian dari kesadaran dan daya kritis, menghadirkan penerbitan artikel di website, produksi video/ film, dan informasi/ pengetahuan publik. Kini dikelola oleh individu-individu yang mempunyai kesamaan dalam memandang perempuan dan minoritas.

Let's share!

Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin
Share on whatsapp
Share on email