Ruth Bader Ginsburg Mengingatkan Kita Pada Pentingnya Peran Hakim Feminis

 

Hakim Mahkamah Agung Amerika, Ruth Bader Ginsburg meninggal dalam usia 87 tahun pada 18 September 2020. Ginsburg adalah hakim feminis yang konsisten memberikan suara progresif pada isu-isu sosial yang paling memecah belah warga Amerika saat ini, termasuk hak aborsi, pernikahan sesama jenis, hak suara, imigrasi, perawatan kesehatan dan tindakan afirmatif

Ruth Bader Ginsburg meninggal karena komplikasi kanker pankreas metastatik, demikian diumumkan oleh Mahkamah Agung AS. 

Sebelum meninggal, Ruth Bader Ginsburg yang juga populer disebut dengan “RBG” atau ‘Notorious RBG’, adalah Hakim Agung paling senior dalam Mahkamah Agung Amerika yang terdiri dari sembilan orang Hakim Agung.

Ginsburg mulai menjabat sebagai Hakim Agung pada tahun 1993 setelah ditunjuk oleh Presiden Bill Clinton dan dalam beberapa tahun terakhir merupakan anggota paling senior dari sayap liberal pengadilan yang secara konsisten memberikan suara progresif pada isu-isu sosial yang paling memecah belah warga AS saat ini, termasuk hak aborsi, pernikahan sesama jenis, hak suara, imigrasi, perawatan kesehatan dan tindakan afirmatif.

RBG sering memberikan pidato di seluruh AS, dan di hadapan khalayak liberal kerap disambut dengan tepuk tangan meriah (standing ovation) saat berbicara mengenai pandangan-pandangannya tentang hukum, rutinitas olahraganya yang terkenal dan perbedaan pendapatnya yang sering berapi-api.

Dalam beberapa tahun terakhir, RBG telah mengalami lima serangan kanker. Serangan kanker pankreas metastatiknya kambuh lagi pada awal tahun 2020 ketika biopsi menunjukkan luka pada livernya. 

Dalam sebuah pernyataan, RBG mengatakan bahwa perawatan dengan kemoterapi telah memberikan “hasil yang positif” dan dia mampu mempertahankan rutinitas harian yang aktif.

Ginsburg meninggalkan seorang putri dan seorang putra dari suaminya yang lebih dahulu meninggal, Martin D. Ginsburg (meninggal tahun 2010), serta dua orang cucu. 

“Bangsa kita telah kehilangan seorang tokoh keadilan dengan reputasi bersejarah,” kata Ketua Mahkamah Agung John Roberts dalam sebuah pernyataan.

Ginsburg adalah pendukung hak-hak perempuan dan telah menjabat Hakim Agung sejak 1993. Ia meninggal karena komplikasi kanker pankreas metastatik, sebut pernyataan Mahkamah Agung.

Meninggalnya Ginsburg memberi Presiden Donald Trump peluang untuk menambah mayoritas konservatif dengan menunjuk Hakim Agung di Mahkamah Agung (yang ketiga dalam masa jabatan Trump), menjelang pemilihan presiden November mendatang.

National Public Radio melaporkan hanya beberapa hari sebelum kematiannya, Ginsburg mendiktekan pernyataan kepada cucunya Clara Spera: 

“Harapan terbesar saya adalah saya tidak akan digantikan sampai presiden baru dilantik.”

Presiden AS Donald Trump telah diberitahu tentang meninggalnya Hakim Agung Ruth Bader Ginsburg oleh wartawan yang bepergian bersamanya di Minnesota.

Trump menyebut Hakim Ginsburg sebagai “perempuan luar biasa,” namun tidak menyinggung soal pengisian kursi Mahkamah Agung yang kosong setelah meninggalnya Ginsburg. [mg/pp]

(Foto: Wikipedia)

(Sumber: Voice of America)

Tim Konde.co

Konde.co lahir pada 8 Maret 2016 untuk mengelola ruang publik dari sudut pandang perempuan dan minoritas sebagai bagian dari kesadaran dan daya kritis, menghadirkan penerbitan artikel di website, produksi video/ film, dan informasi/ pengetahuan publik. Kini dikelola oleh individu-individu yang mempunyai kesamaan dalam memandang perempuan dan minoritas.

Let's share!

Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin
Share on whatsapp
Share on email