Stop Janda Shaming : Apa yang Salah Jika Saya Seorang Janda?


Membuka status janda kepada publik atau lingkaran perkawanan bukanlah perkara mudah. Para perempuan janda harus berhadapan dengan stigma sosial yang melekat: sebagai penggoda suami orang, perempuan murahan yang pandai dalam aktivitas seks, dan lainnya. Bahkan stigma di masyarakat ini kadang lebih berat daripada harus menanggung perceraian itu sendiri. 

Tika Adriana- Konde.co

Rika Rosvianty, Founder perEMPUan merasakan stigma yang dirasakannya ketika ia memutuskan bercerai dari suaminya.

“Dulu pas awal-awal menuju cerai, aku enggak bisa menyebut kata cerai karena kata yang terstigma, kata-kata yang sangat negatif. Aku berproses, kemudian berelasi dan berada di relasi beracun (toxic relationship) yakni janda shaming karena ada yang malu kalau aku janda,” ujar Rika Rosvianti yang akrab disapa Neqy dalam diskusi daring “Coming Out” yang diselenggarakan Organisasi Save Janda melalui Instagram @Save_Janda (14/7/2020).

Bersama Mutiara Prohoeman, founder dari Save Janda, mereka membahas tentang kehidupan pasca membuka status perceraian mereka ke publik.

Janda shaming, seperti yang disebutkan Neqy, tak hanya dilakukan oleh pacar para janda setelah mereka bercerai dari suami, tapi juga dilakukan oleh lingkungan, dan sekitar. Dampaknya, banyak laki-laki yang tak serius ketika menjalin relasi dengan janda. Ada juga pengalaman para perempuan janda yang kemudian ditolak oleh keluarga pacarnya karena alasan ini.

Buruknya stigma sosial merupakan proses tambahan bagi para janda, selain harus menata ulang hidupnya setelah bercerai. Tak jarang pula Neqy harus menjawab pertanyaan orang yang sekadar ingin tahu urusan asmaranya, alih-alih membantu dia berproses, malah menanyakan status perkawinannya yang kadang membuatnya makin tak nyaman

“Kalau sekarang semenjak bercerai, aku lalu memilih siapa saja yang ada di lingkaranku. Jadi banyak orang yang tiba-tiba datang ke aku dan merasa berhak bertanya dan merasa berhak mendapat jawaban, ini yang enggak membantu, jadi aku yang milih siapa saja yang bisa ada di dekat aku,” tutur Neqy.

Stereotipe Janda Mempengaruhi Kehidupan Sosial Ekonomi

Berbeda dengan duda, Lyn Parker dan Helen Creese, dalam makalah berjudul “The Stigmatisation of Widows and Divorcees (Janda) in Indonesian Society” mengatakan bahwa stigma yang disematkan kepada janda membuat kehidupan pasca perceraian mereka menjadi sulit dan dikucilkan oleh lingkungan sosial.

“Yang kita tahu, perempuan Indonesia saat ini, mereka yang tidak bahagia karena pernikahannya, takut keluar dari pernikahan karena stigma perceraian, atau bercerai tetapi merahasiakannya karena malu. Ini makin ditambah dengan buruknya representasi janda dalam sinetron kontemporer, lagu pop, dan film,” tulis Parker dan Helen.

Kesulitan yang dialami para janda merupakan bentuk diskriminasi struktural pada perempuan, kondisi ini tak terjadi pada laki-laki. Laki-laki seringkali bebas dari kesalahan akibat kehancuran rumah tangga. Parker dan Helen menjelaskan dalam makalahnya, perempuan di Indonesia sering diharuskan terikat dengan laki-laki. Masalah ini menjadi salah satu penyebab dari stigma yang melekat pada janda. 

Selain itu, lingkungan sosial kita saat ini, masih mewajibkan perempuan sebagai pihak yang menurut, penyayang, dan teladan kebaikan. Mereka yang dianggap melenceng akan dihujani oleh stigma dari lingkungan sosial kita. Akibat dari stigma ini lah sejumlah perempuan berada dalam relasi beracun dan harus memilih untuk bertahan, padahal mungkin ini  bukan situasi yang mereka inginkan.

“Ada situasi di mana janda membina relasi dengan orang yang belum pernah menikah, lalu pasangan barunya ini akan sering bertanya, ‘kamu akan kembali lagi atau enggak sama suamimu?’. Trus ada juga stigma yang mengatakan bahwa janda ini dianggap enggak bisa berkomitmen karena dianggap pernah gagal membangun rumah tangga dengan bukti cerai. Ada juga ekspektasi dari pasangannya, kamu janda, harusnya lebih sabar, lebih ngemong. Kemudian ada tuntutan lain yakni pengalaman secara seksual,” ungkap Neqy.

Ekspektasi seksual yang melekat pada janda ini kemudian membuat mereka rentan terkena kekerasan seksual karena dianggap bisa memberikan pelayanan seksual. Tak jarang, para laki-laki mengejar janda karena menganggap janda merupakan orang yang terbuka dalam hubungan seksual.

Akhirnya karena stereotipe itu, para janda akhirnya memilih pergi dan menjauh dari lingkungan terdahulunya. Mereka pergi untuk menata kehidupan mereka agar lebih baik secara ekonomi maupun mental sambil mencari lingkungan yang nyaman

Mutiara Prohoeman menambahkan, stigma janda akan terus melekat pada perempuan yang pernah menjanda dan telah menikah lagi,  seperti yang pernah dialami Mutiara ketika dulu bercerai dari suaminya.

“Salah satu mantanku menghubungi, tanya kabar, pacarku siapa sekarang, obrolan basa-basi. Aku bilang udah menikah lagi, dia tanya, aku menikah dengan siapa, kerjanya apa. Dia kepo banget. Karena aku merasa aman dan enggak akan ada yang menggoda aku lagi karena sudah menikah, terus dia bilang, ‘oh kamu beruntung sekali ya’. Dia anggap aku beruntung karena bisa nikah lagi karena aku janda,” ungkap Mutiara.

“Ada salah satu founder dari @save_janda, dia cowok, ketika dia berteman dengan seseorang yang berstatus janda, akan selalu ditanya motifnya apa berteman dengan janda, dianggap pengin ‘asik-asik’, pengin bawa janda ‘tidur’. Dia merasa tersinggung. Kalau lagi dekat dengan temannya yang janda dan kebetulan punya duit, dia dianggap simpanan janda,” ujar Muti.

Untuk membantu proses kehidupannya, sejak sebelum bercerai hingga kini Neqy rajin konseling. Selain itu, ia juga membangun @nocturnal.qibla sebagai support group para janda. Melalui support group itu, Neqy menemukan cerita dari para janda yang akhirnya berani membuka status mereka karena menemukan tempat yang aman untuk bercerita dan membuka diri mereka.

“Aku juga suka doodling untuk membantu saya. Aku menyadari kalau lagi anxiety attack, energiku terlalu besar, kalau enggak disalurkan secara fisik, aku enggak bisa tidur. Kalau doodling itu kan menggambar garis berulang-ulang, mau enggak mau aku fokus,” kata Neqy.

“Atau hal lain, aku beli batu aquarium, harga Rp15.000,- sepaket, kalau lagi anxious, itu batu aquarium aku letakkan, terus aku kelompokkan per warna. Itu aku bisa dua jam fokus,” tambahnya

Stigma Juga Terjadi Pada Anak Janda

Ternyata tak hanya secara fisik perempuan janda mendapatkan stigma. Untuk soal anakpun, perempuan janda juga masih mendapatkan stigma.

Tak sedikit anak dari janda yang mengalami perundungan atau dijauhi oleh teman-teman dan guru di sekolah, bahkan dilecehkan karena ibunya berstatus janda. Sang ibu yang berstatus janda kerap kali dianggap sebagai perempuan murahan dan dianggap sebagai biang masalah dari perceraian.

Stigma ini juga dirasakan oleh beberapa perempuan janda di sekolah anaknya,” o, anak itu ya, yang ibunya janda khan?.”

Bahkan stigma di masyarakat ini kadang lebih berat daripada menanggung perceraian itu sendiri. 

Padahal seharusnya orang belajar memahami bahwa setiap orang punya ruang hidup dan ruang untuk memilih, dan tentu stop memberikan stigma pada apa saja yang menjadi pilihan hidup seseorang, termasuk untuk bercerai, berpisah atau menjadi janda 

(Foto/ Ilustrasi: Pixabay)

Tika Adriana, jurnalis perempuan yang sedang memperjuangkan kesetaraan gender dan ruang liputan yang aman bagi semua jurnalis. Saat ini managing editor Konde.co

Tim Konde.co

Konde.co lahir pada 8 Maret 2016 untuk mengelola ruang publik dari sudut pandang perempuan dan minoritas sebagai bagian dari kesadaran dan daya kritis, menghadirkan penerbitan artikel di website, produksi video/ film, dan informasi/ pengetahuan publik. Kini dikelola oleh individu-individu yang mempunyai kesamaan dalam memandang perempuan dan minoritas.

Let's share!

Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin
Share on whatsapp
Share on email