Aktivis: Sejumlah Perempuan Alami Pelecehan Seksual Dalam Aksi Tolak UU Cipta Kerja

Sejumlah aktivis dan organisasi perempuan yang tergabung dalam Koalisi Masyarakat Sipil Anti Kekerasan Seksual (KOMPAKS) menemukan adanya pelecehan seksual yang terjadi pada beberapa aksi penolakan terhadap UU Omnibus Law Cipta Kerja yang dilakukan pada 8-13 Oktober 2020.

Tim Konde.co

Data ini didapatkan ketika KOMPAKS membuka pengaduan kekerasan seksual melalui Platform Instagram @Perempuan_Pekerja

Kekerasan Seksual selama aksi “BatalkanOmnibuslaw” terjadi di berbagai daerah di Indonesia, seperti di Semarang, Tegal, Jakarta, Gorontalo, Surabaya dan Yogyakarta dan banyak kota lainnya

Hingga 13 Oktober 2020, Tika Ayu mewakili Perempuan Pekerja yang dihubungi Konde.co pada 14 Oktober 2020 mengatakan,  telah menerima sebanyak 17 laporan melalui Direct Message (DM) dengan sebagian besar korban adalah perempuan yang berasal dari masa aksi, anggota tim medis dan jurnalis. 

“Korban terdiri dari laki laki dan perempuan meskipun laporan paling banyak berasal dari perempuan.”

Adapun aduan kekerasan seksual ketika aksi yang dilaporkan itu antaralain kekerasan seksual (fisik), seperti disentuh/diremas di bagian tubuh (payudara, pantat dan punggung) secara sengaja, lalu kekerasan fisik seperti diseret paksa dan didorong hingga terjatuh.

Lainya, pelecehan seksual non fisik seperti catcalling, tatapan mesum, menertawakan cara berpakaian, mengobyektifikasi bagian tubuh, melontarkan kata-kata mesum, kata-kata tak senonoh dan seksis, penguntitan atau diikuti orang tidak dikenal, pengambilan foto tanpa izin dan komentar seksis di media sosial

Dan yang keempat adalah KBGO (Kekerasan Berbasis Gender Online) seperti doxing (penyebaran informasi pribadi tanpa kepada orang lain di media sosial) dan morphing (merekayasa foto menjadi bernuansa seksual dan bertujuan untuk mengolok-olok, mempermalukan dan merugikan korban).

Dalam pernyataan pers yang diterima Konde.co, KOMPAKS menuliskan dari laporan yang diterima, pelaku terdiri dari tiga golongan, yaitu dari polisi, dari masa aksi sendiri  yang diduga adalah mahasiswa, serta dari orang yang tidak diketahui perannya namun ada di lokasi aksi. 

“Pada tiap laporan, korban mampu menjelaskan secara detail ciri-ciri pelaku, seperti pakaian yang dikenakan pelaku pada saat kejadian. Akan tetapi korban sulit mengenali wajah pelaku. Hal ini disebabkan karena kekerasan seksual yang dialami oleh korban terjadi di tengah aksi yang tidak kondusif,” kata Tika Ayu

Atas aduan tersebut, maka KOMPAKS sebagai koalisi yang berfokus dan menyuarakan isu-isu terkait kekerasan seksual dan peduli akan keadilan dan pemulihan bagi korban melakukan pengecaman segala bentuk Kekerasan Seksual yang dilakukan selama aksi “BatalkanOmnibuslaw.”

“Kami juga sangat mengapresiasi keberanian para korban kekerasan seksual yang berani bersuara dan melapor melalui platform Instagram @Perempuan_Pekerja.”

KOMPAKS juga menuntut polisi serta tiap-tiap organisasi/ kolektif gerakan rakyat, organisasi/ kolektif masyarakat sipil dan BEM Mahasiswa agar membuat prosedur aksi pencegahan dan mitigasi kekerasan seksual, dengan seminimalnya dengan menjamin perlindungan kepada korban kekerasan yang sudah berani melapor, mengupayakan penyelesaian kasus melalui pembukaan saluran pelaporan bagi korban

“Kami sebagai perempuan pekerja, rakyat Indonesia juga marah atas sikap-sikap yang melanggengkan kekerasan seksual. Terlebih lagi sikap aparat keamanan dan para pihak yang menutup mata atas kekerasan seksual yang terjadi pada saat aksi.”

KOMPAKS kemudian juga menuntut Dewan perwakilan Rakyat/ DPR untuk menjadikan Rancangan Undang-Undang/ RUU Penghapusan Kekerasan Seksual sebagai program legislasi nasional periode 2021 dan mengajak seluruh masyarakat untuk mencegah, berpartisipasi dan tidak diam saat melihat kekerasan seksual terjadi di sekitar kita

(Foto/ Ilustrasi: Pixabay)

Tim Konde.co

Tim Konde.co

Konde.co lahir pada 8 Maret 2016 untuk mengelola ruang publik dari sudut pandang perempuan dan minoritas sebagai bagian dari kesadaran dan daya kritis, menghadirkan penerbitan artikel di website, produksi video/ film, dan informasi/ pengetahuan publik. Kini dikelola oleh individu-individu yang mempunyai kesamaan dalam memandang perempuan dan minoritas.

Let's share!

Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin
Share on whatsapp
Share on email