Awas, Penipuan Online: Ada Yang Berkedok Cinta


Ken Rotenberg, Keele University

Ketika bintang film Inggris Dame Helen Mirren mengaku telah menjadi korban dari sebuah penipuan yang “memalukan” pada jamuan kepada media untuk film terbarunya (secara kebetulan di film itu ia berperan sebagai korban dari suatu kebohongan), hal ini menekankan bahwa semua orang perlu waspada dari gerak-gerik penipu.

Bahkan keluarga anggota kerajaan Inggris pun tidak luput, seperti Pangeran Charles yang menjadi korban dalam sebuah skandal benda seni palsu yang cukup besar.

Tapi apa yang memotivasi para penipu, selain dari ketamakan? Saya yakin jawabannya dapat ditemukan dengan mencari tahu alasan di balik mengapa manusia berbohong. Penipu di dunia maya menggunakan berbagai strategi menipu yang mutakhir dan sangat terencana untuk menjalankan aksinya.

Hal ini termasuk penipuan berkedok cinta yakni korbannya ditarik untuk memberikan uang demi membangun sebuah hubungan asmara palsu. Pun dalam bentuk lotre, undian berhadiah, dan situs lelang palsu. Hadiah yang cukup menggiurkan akan diberikan jika korbannya mengirimkan uang terlebih dahulu.

Para penipu selalu menciptakan jebakan yang lebih mutakhir seiring dengan meningkatnya kesadaran dan kecerdasan dari para calon korban.

Misalnya, beberapa penipuan dibuat sepersonal mungkin dengan mencantumkan nama-nama yang dikenal oleh korbannya atau dengan menargetkan pekerjaan sang korban.

Kebohongan Berkedok Penipuan

Penipuan dijalankan dengan cara-cara yang hampir tidak dapat dilacak sehingga pelakunya tidak dapat dikenal, meskipun berbagai upaya dilakukan oleh aparat penegak hukum untuk menemukan dan menghukum pelakunya. Pengetahuan dari beberapa disiplin (etologi, psikologi sosial, dan kriminologi) dapat membantu kita untuk memahaminya.

Penipuan Agar Dapat Bertahan

Etolog mengkaji perilaku hewan. Mereka mengamati bahwa makhluk hidup, termasuk manusia, telah mengembangkan cara-cara yang kompleks untuk mengibuli mangsanya agar mereka dapat bertahan hidup.

Misalnya, berbagai etolog telah mengidentifikasi bentuk-bentuk penipuan yang kompleks yang dilakukan oleh makhluk hidup lainnya, seperti laba-laba peloncat yang menggunakan pendekatan meniru perilaku. Hal ini membuat laba-laba peloncat dapat hidup bersama semut dan kemudian memakan mereka.

Bisa dikatakan perilaku ini cukup mirip dengan manusia yang melakukan penggelapan dengan cara memanfaatkan akses istimewa dan reputasi yang dimilikinya untuk mengambil uang secara ilegal dari orang lain.

Kebohongan altruistik?

Psikolog sosial menemukan bahwa ketika manusia berbohong untuk tujuan-tujuan altruistik atau kepentingan kelompoknya, kebohongannya lebih sering mendapat pujian daripada dipandang sebagai sesuatu yang rendah atau hina.

Misalnya, bahkan anak kecil berusia antara lima hingga tujuh tahun menunjukkan keinginan untuk mengutarakan “kebohongan putih” untuk membuat orang lain merasa lebih baik.

Sementara penelitian lain menunjukkan bahwa orang dewasa memandang bahwa tindakan berbohong yang menguntungkan orang lain (karena terkadang kebenaran melukai) lebih “etis” daripada pernyataan jujur.

Berbohong pada umumnya dan kebohongan serius 

Penelitian psikologi sosial menunjukkan bahwa berbohong adalah bagian normal dalam kehidupan. Orang-orang kerap berbohong dengan mengutarakan hal-hal yang sifatnya tidak berbahaya.

Kebanyakan dari kebohongan jenis ini bertujuan untuk menguntungkan diri sendiri, tapi ada pula yang dibuat untuk menguntungkan orang lain.

Orang-orang biasanya “berbohong serius” kepada orang-orang terdekatnya. Mereka berbohong serius untuk menghindari hukuman, melindungi diri dari konfrontasi, tampil sebagai orang yang sangat diminati, melindungi orang lain, dan juga untuk melukai orang yang dibohonginya.

Pembohong, Penipu dan Korupsi

Penipuan adalah sebuah kumpulan perilaku memperdaya yang rumit dan berkembang dari niatan untuk menipu.

Tentu saja hal ini merupakan sebuah perbuatan pidana yang sangat dipahami oleh para kriminolog. Kebanyakan pelaku tindak pidana biasanya adalah laki-laki yang memiliki orang tua yang pernah melakukan tindak pidana, teman sebaya yang badung, pernah ditahan saat masih muda, dan berasal dari daerah miskin dengan tingkat kriminalitasnya lebih tinggi.

Kebanyakan penipuan di dunia maya dewasa ini dilakukan oleh orang-orang di negara-negara miskin. Negara-negara tersebut beserta pejabat pemerintahnya biasanya dianggap korup oleh berbagai indeks korupsi internasional.

Korupsi tersebut menunjukkan bahwa menipu adalah strategi yang diminati. Kemiskinan yang dibarengi dengan korupsi yang tinggi mengakibatkan meningkatnya motivasi untuk mengibuli orang lain agar dapat bertahan hidup.

Pelakunya cenderung memiliki sifat-sifat yang ada dalam psikopati dan gangguan kepribadian antisosial. Dalam sebuah penelitian yang mengkaji pengunduhan secara ilegal dan peretasan yang dilakukan oleh remaja dari 30 negara berbeda menunjukkan bahwa “penyimpangan maya” biasanya dilakukan oleh lelaki dan orang-orang yang mengalami “disorganisasi di sekolah” (mencuri dan melakukan perusakan) dan “disorganisasi di lingkungan rumah” (memiliki tetangga yang tidak bisa dipercaya atau bahkan melakukan tindak pidana).

“Penyimpang maya” cenderung memiliki kemampuan kognitif yang tinggi, dan tentunya memiliki akses terhadap komputer dan teknologi. Penipuan yang dijalankan biasanya terencana dengan baik dan pelakunya menggunakan berbagai taktik menipu.

Operasi reWired FBI menargetkan para penipu yang menyamar sebagai petinggi perusahaan, rekan kerja atau vendor yang meminta transfer pembayaran. FBI/Twitter

Hukum berusaha untuk terus mengawasi orang-orang seperti ini. Pada September 2019, Operasi reWired di Amerika Serikat berhasil memidanakan 281 penipu via surel dari berbagai negara.

Namun banyaknya penipu yang menggabungkan berbagai strategi menipu yang rumit telah membuat pengawasan terhadap tindak pidana jenis ini sangat sulit untuk dilakukan. Oleh karena itu memahami bagaimana cara berpikir dan modus operandi para penipu tersebut adalah hal yang penting agar tidak menjadi korban penipuan.The Conversation

(Foto/ Ilustrasi: Pixabay)

Ken Rotenberg, Professor in Psychology, Keele University

Artikel ini terbit pertama kali di The Conversation. Baca artikel sumber.