Menikah Di Usia Anak? Bisa Kehilangan Waktu dan Kesempatan

Ini cerita tentang Aminah. Umur 15 tahun, Aminah sudah menikah dan punya anak. Ia merasa tak bahagia karena banyak kehilangan waktu dan kesempatan. Perkawinan anak selalu mengabaikan hak perempuan, apalagi bagi anak-anak perempuan. Pengalaman anak-anak perempuan di Lombok, NTB karena harus menjalani merarik kodek membuktikannya

Mulyadi Fajar- Konde.co

Hari Minggu lalu, saya pergi ke Pengansing, Desa Pandan Wangi,  Kabupaten Lombok Timur. Di jalan, tidak sengaja saya bertemu Aminah, bukan nama sebenarnya. Aminah masih berumur 15 tahun dan sudah punya anak.  

Aminah baru pulang kerja ketika kami berpapasan. Sehari-hari ia bekerja di sawah sebagai buruh tani.  Sambil berjalan, ia bercerita tentang pekerjaan kesehariannya sebagai  ibu rumah tangga, mengasuh anak dan sebagai buruh tani.

“Kawin Kodek itu tidak ada gunanya, kawin masih kecil tidak ada nikmatnya, justru malah selalu membawa sengsara dan sengsara,” kata Aminah sedih.

Kawin kodek adalah kawin dimana jika ada anak perempuan yang sudah keluar malam bersama teman laki-lakinya, maka ia harus segera dikawinkan. Ini merupakan budaya di Lombok yang terjadi dari dulu hingga kini.

Aminah terus bercerita tentang betapa tidak enaknya menikah di usia anak-anak seperti dirinya, ia seperti kehilangan kesempatan yang bisa dimiliki anak-anak lain seusianya. 

Tidak terasa kami sudah sampai dirumahnya. Selesai bercerita, Aminah menangis sedih, menangisi tentang nasibnya yang tak juga berubah. 

Tiap hari ia harus terus bekerja, menggendong anak, menyusui anak dan bekerja memetik tembakau, bergelantang daun tembakau dari oven tembakau yang satu ke oven tembakau yang lain demi memenuhi kebutuhan uang belanja anaknya yang masih berumur 4 tahun. 

Aminah awalnya berpikir, kawin lebih cepat dibawah umur akan lebih bahagia,  tetapi kenyataannya yang didapat adalah kesedihan, kesengsaraan, apalagi ia sering dimarahi suaminya.

Saya membantunya mengambilkan tikar, Aminah mempersilahkan saya duduk. Aminah masuk ke dalam rumah dan tidak lama kemudian keluar dengan membawa segelas kopi hitam yang biasa disediakan pada tamu yang datang, layaknya yang dilakukan di Pulau Lombok. 

Di Lombok, setiap tamu datang, ibu-ibu disini cepat pergi ke dapur dan membuatkan kopi untuk para tamunya. Cerita Aminah membuat sedih.

Selanjutnya aku bertanya pada Aminah: dimana suaminya?. 

Suaminya ternyata belum pulang dari memancing di laut. Dalam sehari kadang suaminya hanya mendapatkan ikan yang dijual dengan harga Rp.25 ribu- Rp.40 ribu.  

“Uang itu saya gunakan untuk beli cabai dan kebutuhan dapur, lalu sisanya aku siapkan untuk belanja anak,” kata Aminah lirih.

Sekali-kali aku minum kopi hitam yang telah dibuatkan oleh Aminah. Aku duduk sambil menunggu suaminya pulang. Sampai kurang lebih 15 menit menunggu, tepatnya mau menjelang Magrib suaminya pun pulang membawa hasil pancingannya.

Aku turun dari tikar melihat hasil tangkapannya dan menyalaminya.

“Banyak banget dapatnya hari ini, ndi? (Andi bukan nama sebenarnya).”

“Alhamdulilah banyak, bisa dijual Rp. 100 ribu,” kata Andi.

Andi mengangguk dengan wajah senang. Aminah keluar menyambut suaminya.

“Masakkan ikan ini sebagian, dan sisanya baru dijual. Ayo, kamu lekas memasak, yang datang ini adalah tamu, maka harus kita hormati,” kata Andi menyuruh Aminah memasak. Andi tidak pernah bertanya, apakah Aminah sedang lelah atau sedang tidak enak badan. 

Saya jawab tidak usah, karena lebih baik dijual saja atau dimasak untuk konsumsi keluarganya. Tapi Andi terus menyuruh Amnah memasak, sehingga Aminah langsung berjalan dengan cepat mengikuti saran suaminya, masuk ke dapur dan melakukan perintah suaminya. 

Saya melihat Aminah terburu-buru pergi dengan wajah ketakutan. Saya bisa melihat ini secar sepintas di wajahnya. Kasihan Aminah.

“Sejak kapan mas Andi dan Aminah menikah mas?,” tanya saya tiba-tiba.

Andi menjawab ia menikah sekitar umur 18 tahun. Saya banyak bertanya tentang bagaimana kehidupan mereka sehari-hari, apakah senang ataukah susah?. Andi menjawab biasa- biasa saja, katanya. 

“Biasa-biasa saja maksudnya gimana nih, mas?,” tanya saya sambil tertawa kecil. Untuk menghilangkan kesan bahwa saya sedang ingin tahu dan bahkan ingin menyelidikinya. Sejak Aminah menangis tadi, saya tak pernah lupa dengan kesedihannya. 

“Ya, kadang susah, kadang senang, tapi mungkin lebih banyak susahnya kali, ya?,” ucap Andi.

“Kenapa?.”

Andi menjawab bahwa  ia harus bekerja tiap hari mencari uang kesana kemari untuk memenuhi kebutuhan keluarga. Ia bercerita bahwa harus bekerja keras untuk mencukupi kebutuhan dapur. Sama seperti yang dilakukan Aminah.  Aminah juga melakukannya. Namun sayang, sepertinya Andi punya sifat agak temperamental. Banyak marah sama Aminah dan menyuruhnya mengerjakan sesuatu tanpa tahu kondisi Aminah. Ini yang membuat Aminah sedih dengan perkawinan ini. Kasihan Aminah.

Andi dan Aminah di usianya yang sekarang juga masih tergolong usia anak-anak, yang satu berumur 15 dan 18 tahun. Mereka harus bekerja keras untuk keluarga dan anak mereka. Tak bisa sekolah, Aminah juga harus kerja keras menjadi buruh tani di saat anak-anak lain seumurnya bisa sekolah. 

Aminah selalu sedih, meratapi nasibnya. Saya ingin membantunya, saya juga ingin membantu anak-anak lain agar tak menikah muda karena ini akan membuat mereka sedih dan meratapi nasib. 

(Foto/ Ilustrasi: Pixabay)

Mulyadi Fajar, Aktivis di Lembaga SANTAI di Lombok, Nusa Tenggara Barat (NTB)

Tim Konde.co

Tim Konde.co

Konde.co lahir pada 8 Maret 2016 untuk mengelola ruang publik dari sudut pandang perempuan dan minoritas sebagai bagian dari kesadaran dan daya kritis, menghadirkan penerbitan artikel di website, produksi video/ film, dan informasi/ pengetahuan publik. Kini dikelola oleh individu-individu yang mempunyai kesamaan dalam memandang perempuan dan minoritas.

Let's share!

Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin
Share on whatsapp
Share on email